Kutukan Cinta Dosen Tampan

Kutukan Cinta Dosen Tampan
BAB 4


__ADS_3

“Jerry, kenapa kamu baru pulang?” tanya Nyonya Rita.


“Aku ambil kerja tambahan, Bu.” Kata Jerry sambil melirik kearah Rhea. Jerry kemudian berlalu menuju kamarnya. Rhea paham arti lirikan mata Kakaknya itu.


“Semua orang menjadi susah karena kamu, Rhea. Ayahmu juga belum pulang dari kedai. Mau Ibu ajak tutup tapi Ayahmu melanjutkan dagang entah sampai jam berapa.” Marah Nyonya Rita pada putri bungsunya itu. Rhea hanya bisa terdiam sambil membantu membuat adonan mie.


“Rhea salah, Bu.” Jawab Rhea dengan suara merendah. Nyonya Rita memilih diam dan melanjutkan pekerjaannya.


Selesai mandi, Jerry kembali keluar untuk menyusul Ayahnya ke kedai mie-nya.


“Mau kemana lagi Jer?” tanya Nyonya Rita yang melihat putra bungsunya berjalan kearah luar.


“Mau menyusul Ayah ke kedai, Bu. Jerry pergi dulu.”


“Tapi kamu baru saja pulang dan besok harus mengajar lagi.”


“Tidak apa-apa Bu. Jerry pergi ya.”


“Hati-hati, nak.”


“Iya Bu.”


Sesampainya di kedai mie, Jery langsung membantu Ayahnya yang tampak sibuk melayani pembeli. Ternyata semakin malam kedai itu semakin ramai. Setelah suasana sepi pembeli, Jery dan Ayahnya duduk berhadapan sambil menikmati secangkir kopi.


“Ayah mau tutup jam berapa?”


“Nanti lah, Jer. Ayah mau tidur disini saja. Kamu juga kenapa malah menyusul kemari? Dan Ayah lihat, kamu juga baru pulang kan? Kamu darimana?”


“Jery part time di sebuah restoran, Yah. Supaya kita bisa dapat uang banyak dan menebus sertifikat rumah.”


“Rasanya kenapa jauh sekali ya Jer?”


“Jauh bagaimana maksudnya Yah?”


“Kita mana bisa mengumpulkan uang lima ratus juta dalam waktu satu bulan. Sedangkan bunga terus berjalan. Apalagi Rhea belum membayar angsurannya sepeser pun. Bulan depan rumah dan kedai kita ini pasti akan di ambil oleh mereka. Mungkin juga besok mereka akan kemari untuk meminta bunganya.” Ucap Tuan Panji dengan suara memelas. Tampak wajahnya terlihat lelah dan banyak beban.


“Ayah, kita pasti bisa membayar hutang-hutang itu. Aku akan mengusahakannya.”


“Jery, seharusnya di usia mu saat ini, kamu sudah harus memikirkan kehidupan berumah tangga, bukannya malah memikirkan hutang akibat ulah adikmu ini.”

__ADS_1


“Tapi dengan keadaan seperti ini, siapa yang mau dengan Jery, Ayah. Jery masih ingin sekolah lagi dan mendapat gelar itu.”


“Tapi adikmu malah mengacaukan semua rencanamu itu kan?”


“Jujur saja aku marah dan kecewa dengan Rhea. Dia begitu bodoh dengan melakukan tindakan itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Yah. Kita harus yakin bisa melalui semua ini.”


“Maafkan Ayah ya. Karena Ayah gagal untuk mendidik adikmu.”


“Bukan salah Ayah juga. Dia sudah dewasa seharusnya bisa berpikir secara rasional. Sebaiknya kita bersih-bersih dan istirahat. Aku akan menemani Ayah untuk tidur di kedai.”


“Ya baiklah, kalau kamu memaksa.”


Akhirnnya setelah selesai bersih-bersih, Jery dan Ayahnya tidur di kedai mie berukuran 3x6 meter itu. Jery tidak tega jika harus meninggalkan Ayahnya seorang diri.


Keesokan harinya, terdengar suara orang berteriak sambil menggedor pintu roling door kedai mie. Jery dan Ayahnya terkejut, mereka pun terbangun.


“Siapa sih yang gedor-gedor pintu?” teriak Jery sambil mengucek matanya.


“Pasti rentenir itu Jer.” Sahut Tuan Panji. Jery kemudian beranjak dari kursi kayu tempat ia tidur. Ia lalu membuka pintu itu. Dan benar saja empat pria bertubuh kekar dan besar sudah berdiri di depan kedai dengan sorot mata penuh kemarahan.


“Ada apa bang pagi-pagi kemari?” tanya Jery.


“Ini kalian bawa, kami hanya ada ini. Besok kalian datang lagi, kami akan mencicilnya semampu kami.” Kata Tuan Panji dengan gugup.


“Ingat ya utang kalian setiap harinya berbunga dan sekarang sudah menjadi 600 juta.”


“APA? Enam ratus juta?” Jery terkejut. Matanya membulat sempurna.


“Iya enam ratus juta. Kalau ingin hutang kalian lunas, berikan gadis muda dirumahmu untuk bos kami.” Kata salah satu dari mereka dengan senyum menyeringai.


BUG! “Jaga ucapanmu.” Jery melayangkan pukulan ke wajah  preman rentenir itu.


“Sialan ya lo! Sudah ngutang, masih berani mukuli orang. Hajar dia!” Mereka berempat lalu menghajar Jery dengan brutal. Beberapa kali Jery bisa menangkis dan melawan pukulan mereka namun tetap saja Jery akhirnya tersungkur. Ujung bibirnya berdarah dan wajahnya tampak memar.


“CABUT!” seru ketua preman rentenir itu seraya berlalu setelah puas mengeroyok Jery. Tuan Panji, dengan mata berkaca-kaca membantu Jery berdiri.


“Seharusnya kamu jangan lawan mereka nak! Cukup melawan dengan mulut saja.”


“Ayah tidak dengar, kalau dia mau mengambil Rhea sebagai pelunas hutang? Meskipun aku kesal dengan Rhea, tapi aku juga tidak bisa melihat adikku disakiti.”

__ADS_1


“Ya sudah, sebaiknya kita pulang dan obati luka kamu.”


Sesampainya dirumah, Jery dan Ayahnya melihat rumah mereka berantakan. Kali ini anak buah rentenir itu membawa kursi dan meja mereka. Jery melihat Ibu dan adiknya berpelukan. Tampak ujung bibir keduanya terluka.


“Ibu... Rhea... kalian kenapa? Kenapa kalian terluka?” tanya Tuan Panji dengan panik.


“Ayah, mereka mau mengambil Rhea sebagai jaminan hutang. Kami berusaha melawan dan akhirnya mereka membawa meja dan kursi sebagai pembayaran.” Tangis Nyonya Rita.


“Mereka juga datang ke kedai dan memukuli Jery,” kata Tuan Panji. Nyonya Rita dan Rhea lalu melihat wajah Jery yang babak belur. Mereka berdua lalu memeluk Jery.


“Kak, maafkan aku. Aku tidak mau menikahi rentenir itu. Aku hanya dijadikan budak nafsu mereka saja. Setelah itu aku mau di jual dan dengan itu hutang kita lunas.” Isak tangis Rhea dalam dekapan sang Kakak. Rhea merasa trauma dengan kejadian tadi. Jery tidak tega melihat keluarganya menderita seperti ini. Ia bingung dan pikirannya semakin kalut.


“Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?” gumam Jery dalam hati.


“Sebaiknya kita pikir dulu nanti. Aku harus ke kampus karena hari ini ada kuis."


“Tapi nak,,,” cegah Nnyonya Rita.


“Tidak apa Bu, aku tidak bisa melepaskan tanggung jawabku begitu saja.”


“Ya sudah, Ibu bantu obati lukamu.”


Setelah urusan rumah selesai, Jery lalu pergi ke kampus seperti biasa dengan wajahnya yang membiru. Rendi terkejut melihat wajah Jery babak belur.


“Jer, elo kenapa? Kenapa pada bonyok begini?” tanya Rendi sambil menggerakkan pelan wajah Jeri kesamping kanan dan kiri, memastika luka di wajah sahabatnya tidak serius.


“Udah nggak apa-apa. Nanti gue ceritain. Gue buru-buru mau ke kelas dulu ya. Ada kuis soalnya.” Ucap Jery dengan langkah terburu.


Selesai mengajar, Jery dan Rendi pergi ke kantin bersama.


“Sekarang elo cerita kenapa?”


“Anak buah rentenir itu datang. Ya gue sempat baku hantam karena mereka mau Rhea sebagai jaminan. Ya akhirnya gue di keroyok. Gue bingung mesti ngapain. Jual ginjal laku berapa ya?” seloroh Jery.


“Udah jangan aneh-aneh pikiran elo, Jer. Kalau elo jual ginjal, bukannya hutang lunas, elo malah sakit-sakitan karena ginjal cuma satu. Rumit juga masalah elo.”


“Huft, ya udahlah, gue pasrah kalau harus seumur hidup kerja buat bayarin hutang rentenir itu.” Jery mendesah pasrah. Pasrah dengan nasib.


“Sabar Jer, gue yakin elo bisa lalui itu semua.” Rendi berusaha menenangkan sahabatnya itu.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2