
...Ayah, Ibu, Kakak, maafkan atas semua kebodohanku. Sepertinya cara seperti ini bisa mengurangi beban kalian. Daripada aku hidup tapi hanya bisa menyusahkan saja. Aku sayang kalian semua. –RHEA-...
Begitulah isi secarik surat dari Rhea. Jery tidak menyangka jika Rhea malah memilih mengakhiri hidupnya.
“Rhea, kenapa kamu bodoh sekali, nak.” Isak tangis Nyonya Rita setelah membaca surat dari Rhea.
“Ayah khawatir sekali. Semoga Rhea kita selamat, Bu.” Ucap Tuan Panji sambil merangkul istrinya. Ya, kini Rhea tengah berjuang di dalam ruang ICU. Karena kehabisan banyak darah, Jery lalu mendonorkan darahnya untuk Rhea.
“Ya Tuhan, selamatkan adikku. Kenapa dia bisa melakukan hal bodoh ini?” gumam Jery dalam hati.
Setelah mendapatkan perawatan intensif, akhirnya Rhea bisa melewati masa kritisnya. Jery dan kedua orang tuanya merasa sangat lega karena Rhea masih bisa di selamatkan. Rhea juga akhirnya di pindahkan diruang rawat inap. Mereka bertiga pun terjaga demi menunggu Rhea tersadar.
“Sepertinya, aku harus menemui Nona Yura di kantornya. Aku tidak punya pilihan lagi. Sepertinya hutang itu akan terus berbunga. Aku juga tidak bisa membiarkan Rhea menjadi budak nafsu rentenir itu. Aku juga tidak mau Rhea menghukum dirinya seperti ini hanya karena rasa bersalah. Lebih baik aku yang berkorban untuk semuanya.” Gumam Jery dalam hati sambil menatap wajah adiknya yang masih terbaring lemah itu.
Esok hari pun akhirnya tiba, sinar mentari yang cerah, sepertinya tidak cukup mencerahkan hati Jery.
“Ayah, Ibu, aku harus tetap pergi mengajar. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku ya.”
“Iya nak.” Ucap Nyonya Rita. Setelah berpamitan, Jery bergegas pulang untuk mandi dan bersiap pergi ke kantor Yura.
“Demi keluargaku, aku harus merendahkan harga diriku,” gumam Jery dalam hati.
Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di kantor yang super besar dan mewah milik Yura.
“Besar sekali kantornya. Dengan wajah yang cantik dan kekayaan yang dia miliki, seharusnya Nona Yura mencari seseorang yang sepadan dengannya. Kenapa malah memilihku?” gumam Jery dalam hati. Jery dengan ragu melangkahkan kakinya memasuki gedung yang menjulang tinggi itu. Jery kemudian bertanya pada resepsionis.
“Permisi, apa Nona Yura ada di kantor?” tanya Jery.
“Apa anda sudah membuat janji Tuan?”
__ADS_1
“Belum, Mbak.”
“Maaf Tuan, anda tidak bisa masuk.”
Jery berpikir sejenak. “Begini Mbak, kemarin kami bertemu di sebuah kampus dan kebetulan saya ini dosen disana. Dan Nona Yura memberikan kartu namanya pada saya.” Kata Jery seraya menunjukkan kartu nama Yura pada resepsionis itu.
“Setidaknya sambungkan telponnya dan katakan kalau Pak Jery ingin bertemu. Saya mohon, Mbak.”
“Baiklah, saya akan menyambungkannya sebentar.” Kata resepsionis itu.
“Terima kasih, Mbak.” Ucap Jery. Resepsionis itu langsung menyambungkan teleponnya pada Yura.
“Tuan, silahkan masuk ke ruangan Nona Yura di lantai 10, CEO room. Nona Yura sudah menanti anda.”
“Iya Mbak, terima kasih.”
Jery kemudian segera naik lift menuju lantai 10 ruangan Yura. Sesungguhnya Jery merasa gugup, malu dan entah perasaan apa saja yang berkecamuk dalam hatinya. Di sisi lain ia ingin keluarganya bebas dari hutang tapi ia tidak tahu cara membayarnya. Untuk membayar bunganya, gaji Jery tiap bulannya tentu saja tidak mencukupi. Kini jalan keluar yang bisa ia ambil adalah menjadi suami kontrak Yura.
“Masuk!” sahut Yura. Begitu melihat Jery, senyum Yura menyeruak ke permukaan.
“Pak Jery!" Seru Yura dengan raut wajah antara pura-pura terkejut, sekaligus senang.
"Silahkan duduk Pak Jery." Sambung Yura. Jery hanya tersenyum tipis lalu duduk berhadapan dengan Yura.
"Mmmmm... sepertinya aku panggil nama saja ya supaya lebih akrab. Akhirnya kamu datang langsung kemari juga.” Ucap Yura dengan senyum sumringah.
“Maaf Nona, apa tawaran anda masih berlaku?” tanya Jery yang berusaha memutus urat malu dan harga dirinya sejenak. Tanpa ragu dan basa-basi Jery mengungkapkan maksud dan tujuannya.
Yura menaikkan alisnya mendengar ucapan Jery. “Tentu saja, Jery. Apa yang membuatmu berubah pikiran?”
__ADS_1
“Nona sendiri sudah tahu permasalahan yang sedang aku hadapi dengan rentenir itu. Dan tentu saja bunga hutang itu semakin bertambah. Mereka bahkan ingin mengambil adikku sebagai penebus hutang. Dan karena hal itu juga adikku nekat mengakhiri hidupnya.” Jelas Jery dengan suara lantangnya.
“Oh Tuhan, malang sekali nasibmu, Jery. Baiklah, aku akan membantumu dengan senang hati. Lalu bagaimana kabar adikmu?”
“Dia masih di rumah sakit dan belum sadarkan diri. Aku membawa diriku untuk Nona demi menjamin keluargaku.”
Yura kemudian bertepuk tangan seraya berdiri. Ia kagum dengan pengorbanan Jery untuk keluarganya.
“Ya, ya, ya... berurusan dengan rentenir memang sangat memuakkan. Kedatanganmu kemari adalah keputusan yang tepat.”
“Apakah Nona juga akan membungakan uang itu?”
Yura tertawa kecil. “Tentu saja tidak. Aku bukan rentenir. Oke baiklah, aku akan membuat surat perjanjian dulu dan besok kita bertemu di restoran sunshine jam 10 pagi. Jangan sampai terlambat!”
“Baiklah Nona. Kalau begitu aku permisi.” Ucap Jery tanpa banyak basa-basi.
“Hanya itu saja?” tanya Yura.
“Terima kasih untuk kebaikan anda Nona,” lanjut Jery. Jery kemudian meninggalkan ruangan Yura begitu saja.
Yura mendengus. “Astaga, baru kali ini aku bertemu pria yang sangat kaku dan dingin ini. Tapi tidak apa-apa, yang penting dia mau.”
Yura sebenarnya tidak ingin menikah apalagi menjalani hidup berumah tangga. Semua itu karena ia pernah memiliki sosok cinta pertamanya. Namun cinta pertamanya itu justru pergi dan menikah dengan wanita lain. Dan ternyata cinta pertamanya itu hanya menginginkan uangnya saja. Sejak saat itulah, Yura tidak percaya lagi dengan namanya cinta apalagi ketulusan seorang pria. Untuk itu saat mendapat desakan menikah, Yura lebih baik membayar seseorang untuk menjadi suaminya. Daripada ia harus terlibat lagi dalam sebuah kisah percintaan yang membosankan dan menyakitkan.
Sedangkan Jery, yang terlahir dari keluarga sederhana, sama sekali belum pernah merasakan indahnya jatuh cinta. Paling hanya sekedar memendam rasa aja karena ia merasa cukup sadar diri. Tentu saja wajahnya yang tampan dan otaknya yang encer, membuatnya menjadi idola para gadis. Namun semua gadis-gadis itu tidak ada yang bisa merobohkan dinding keangkuhan Jery. Karena yang Jery lakukan hanyalah belajar, belajar dan belajar untuk mengubah nasib keluarganya. Setidaknya dengan menjadi dosen di universitas ternama, banyak hal yang sudah Jery capai. Setidaknya Jery bisa merenovasi rumah lamanya yang dulu hampir ambruk tapi sekarang bisa berdiri kokoh meskipun tidak besar.
Selain itu Jery sudah bisa membeli sebuah toko kecil yang ia sulap menjadi kedai mie untuk orang tuanya, meskipun kedai itu tidak terlalu besar juga. Setidaknya dengan berjualan mie, kedua orang tua Jery bisa membesarkan dan menghidupi Jery dan juga adiknya selma ini. Jery juga sudah membeli sebuah mobil, meskipun itu hanya sebuah mobil bekas dan jadul. Tapi Jery lebih senang naik motor saat pergi kemanapun. Banyak sekali hal yang ingin Jery capai, salah satunya adalah persiapan S3-nya untuk meraih gelar doktor di Amerika.
Setelah itu ia ingin mengembangkan penelitian supaya ia bisa menjadi seorang professor di universitas tempat ia mengajar dan berharap bisa mengajar di universitas ternama dunia. Namun hal itu masih terganjal karena uang tabungan yang sedang ia siapkan, harus ia bayarkan pada rentenir, serta untuk mengganti kulkas dan televisi yang di ambil paksa oleh rentenir itu. Jery bahkan ingin menjual mobilnya namun ia mengurungkan niatnya karena mobil itu tentu sangat ia butuhkan.
__ADS_1
“Maafkan aku Ayah, Ibu. Anakmu ini harus mengambil jalan pintas seperti ini.” Gumam Jery dalam hati sepanjang perjalanan menuju kampus. Meskipun sedang menghadapi banyak masalah, Jery selalu memegang teguh jawabnya kepada para mahasiswanya.