Kutukan Cinta Dosen Tampan

Kutukan Cinta Dosen Tampan
BAB 7


__ADS_3

''Bunuh diri?'' Rendi tercekat mendengar cerita yang di alami oleh Jery dalam waktu semalaman saja.


''Iya, Ren. Makanya gue pindah jam mengajar siangan dikit. Sumpah, gue nggak habis pikir Rhea bisa senekat itu.''


''Ya ampun, Rhea-Rhea. Elo yang sabar ya. Tampaknya akhir-akhir ini kehidupan elo sedang mendapat ujian yang sangat berat, Jer.''


''Bukan hanya berat tapi amat sangat mengganggu ketenangan hidup gue. Gue udah lega banget, perlahan-lahan gue bisa memperbaiki kehidupan keluarga gue. Eh tiba-tiba ada sandungan batu sebesar ini. Dan itu sama sekali nggak terpikir dalam hidup gue.''


''Terus apa yang mau elo lakuin sekarang untuk nyelametin keluarga elo, Jer? Serem banget terlibat sama rentenir.''


''Belum tahu, Ren.'' Singkat Jery. Jery tidak mungkin mengatakan pada Rendi kalau ia menjadi suami kontrak untuk melunasi semua hutangnya.


Seusai mengajar, Jery kembali ke rumah sakit. Jery merasa lega dan bersyukur saat melihat Rhea sudah sadarkan diri.


''Kak, maafkan aku.'' Lirih Rhea saat melihat kakaknya baru saja masuk.


''Sssttt jangan banyak bicara lagi.'' Kata Jery. Jery kemudian memeluk adiknya. Rhea menangis dalam pelukan Kakaknya.


''Nasi sudah menjadi bubur, Rhea.''


''Tapi aku takut, Kak. Seharusnya Kakak membiarkan aku mati daripada aku hidup bersama rentenir tua itu.''


''Kakak tidak akan membiarkanmu di bawa oleh mereka. Fokus saja pada kesembuhanmu dan jangan melakukan hal bodoh lagi.''


''Iya.''


Hari berikutnya, Jery dan Yura sudah duduk saling berhadapan disebuah restoran. Jery tampak sibuk membaca surat kontrak yang terdiri beberapa lembar itu.


''Katakan saja jika ada yang perlu di ubah.'' Ucap Yura.


''Maksud Nona dengan inseminasi bagaimana?''


''Iya, kita tidak usah kontak fisik untuk mempunyai anak. Jadi kamu tetap aman begitu juga denganku. Kita nanti akan tinggal di rumahku karena aku di rumah tinggal sendiri. Aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya, aku menunggu sampai kamu siap untuk melakukan proses inseminasi itu. Kamu juga tidak usah pusing untuk menafkahi aku. Ya, karena aku tahu berapa gaji yang kamu dapatkan tiap bulannya.''


''Kenapa harus aku Nona? Anda sudah tahu kalau aku bukanlah pria kaya yang bisa memenuhi kebutuhan dan gaya hidup anda.''


''Aku sudah mempunyai semua itu jadi aku tidak butuh pria kaya. Aku hanya membutuhkanmu. Kalau memang tidak ada yang keberatan, silahkan kamu tanda tangani.''


''Lalu bagaimana dengan hutang-hutangku?''


''Setelah kamu menandatangani, aku pastikan hutangmu juga sudah lunas.'' Kata Yura dengan sorot mata tajamnya. Jery menghela, ia lalu menandatangani perjanjian kontrak itu.


''Oh ya, ingat ya jangan panggil aku Nona. Kita harus seperti kekasih sungguhan yang sedang di mabuk cinta. Kita butuh waktu satu bulan untuk berlatih akting menjadi sepasang kekasih, setelah itu kita menikah. Sudah aku jelaskan dalam kontrak itu juga.''


''Iya aku sudah membacanya, Nona.''


''No! No! No! Jangan panggil aku Nona. Mulai sekarang berlatihlah memanggilku Yura. Ayo coba, aku ingin mendengarnya.''


''Baiklah Yura.'' Ucap Jery ragu-ragu.


''Oke, good! Setelah ini akan aku bawa kamu untuk menemui orang tuaku. Pastikan berakting senatural mungkin seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.''


''Tap-tapi Nona, umm... maksudku Yura. Aku sebelumnya belum pernah pacaran jadi aku tidak tahu harus bagaimana.''


''Hah? Are you serious? Seorang dosen hebat sepertimu belum pernah pacaran? Kalau jatuh cinta atau sekedar menyukai perempuan, sudah pernah kan?''


''Kalau seperti itu sepertinya pernah, Yura.''


''Ya ampun! Tapi syukurlah setidaknya kamu normal. Aku pikir kamu kaum pelangi.''


''Hah? Kaum pelangi? Maksudnya?''


''LGBT! Tahu kan?''


''Oh itu, tentu saja bukan. Aku masih normal, hanya saja tidak ada waktu untuk urusan cinta. Karena aku lebih mencintai belajar daripada harus pergi pacaran yang membuang-buang waktu.''


''Ya, ya, ya, aku sudah bisa menebak kalau kamu ini kutu buku dan selalu menjadi juara di kelas. Tidak aneh juga sih kalau kamu tidak pernah memikirkan soal asmara. Tapi kamu bisa akting kan? Pura-pura?''


''I-iya, akan aku coba.''

__ADS_1


''Sebentar, aku akan menunjukkanmu sesuatu.'' Yura kemudian menunjukkan sebuah rekaman vidio, dimana ia dan anak buahnya menandatangani pelunasan hutang milik Jery. Yura juga membawa pengacaranya, supaya para rentenir itu tidak berani macam-macam. Dan sentuhan terkakhir, Yura melayangkan tinju ke wajah rentenir itu. Jery tentu saja terkejut dengan aksi berani Yura. Ia tidak menyangka kalau wanita di hadapannya itu sungguh berani.


''Bagaimana? Apa sudah puas? Aku jamin, mereka tidak akan menganggumu lagi dan adikmu juga aman.''


''Terima kasih Yura.''


''Sama-sama. Baiklah, sekarang kita harus mulai berkencan?''


''Berkencan? Untuk apa?''


''Huft, kamu lupa ya? Untuk ke naturalan hubungan kita.''


''Tapi Yura, aku harus kembali ke kampus untuk mengajar.''


''Oke nanti jam makan siang aku akan menjemputmu. Kita makan siang sama-sama. Aku juga harus pergi untuk meeting, hampir saja lupa.''


''Baiklah kalau begitu.''


''Ingat ya, sebelum jatuh tempo tiga tahun, kamu harus sudah memberiku anak karena kalau tidak, kamu akan di kenakan denda dan juga kamu harus mengembalikan uang yang sudah aku berikan oada rentenir itu.''


''Iya Yura, aku mengerti. Aku sudah membaca isi kontraknya.''


''Oke, bye!" pamit Yura seraya mengerlingkan mata genitnya pada Jery.


''Hati-hati.'' Pesan Jery.


''Apa yang harus aku katakan pada Ayah dan Ibu ya? Apa mereka percaya kalau aku tiba-tiba punya pacar? Ah, sebaiknya aku mengajar dulu. Itu urusan nanti.'' Gumam Jery dalam hati.



Saat jam makan siang, Jery memilih untuk pergi ke rumah sakit menengok adiknya. Namun baru juga keluar dari pintu utama gedung kampus, Yura sudah berada di depan sana menunggu Jery. Ia melambaikan tangannya pada Jery dengan senyum sumringahnya. Jery menghela, ia tidak percaya jika Yura benar-benar akan menemuinya. Jery tidak bisa menghindar karena ia sudah menandatangani kontrak itu.


''Hai,'' sapa Yura.


''Hai juga.''


''Kita mau makan siang dimana?'' tanya Yura.


''Oke, aku ikut ke rumah sakit. Aku akan memperkenalkan diriku sebagai kekasihmu. Bukankah itu ide yang bagus?''


''Ap-ap?'' Jery terkejut.


''Kenapa terkejut begitu? Ingat ya kontrak itu.'' Kata Yura.


''Oke baiklah.'' Jery hanya bisa pasrah.


''Kamu bisa menyetir kan?''


''Bisa.''


''Ya sudah, kamu yang menyetir, kita pergi dengan mobilku.'' Ucap Yura seraya memberikan kunci mobilnya pada Jery. Yura dan Jery segera masuk ke dalam mobil dan Jery segera melajukan mobilnya.


''Apa makanan kesukaan adikmu? Dia sudah bekerja atau masih kuliah?''


''Dia masih kuliah dan dia juga bekerja paruh waktu. Dia suka makan apa saja asal tidak yang berbau ikan.''


''Oke baiklah, sepertinya aku tahu harus membawakannya apa.''


''Apa harus seperti ini Nona? Mmm maksudku Yura.''


''Kenapa kamu kaku sekali sih? Panggil nama saja ya, jangan sampai keceplosan. Dan jangan terlalu formal. Ingat, aku ini calon istrimu.'' Tegas Yura.


''Maaf.'' Singkat Jery. Yura kemudian meminta Jery untuk berhenti di sebuah restoran mewah. Yura memesan enam porsi beef steak untuk adik Jery dan keluarganya. Yura sendiri juga ingin ikut bergabung makan siang bersama mereka. Jery terkejut saat Yura dengan mudahnya membayar makanan yang hampir menghabiskan dua digit angka di depannya.


''Kamu seharusnya tidak usah membeli makanan mahal Yura.'' Kata Jery.


''Tenang saja. Aku hanya membeli berdasarkan kemampuanku saja, oke.'' Kata Yura dengan entengnya.


''Iya, aku tahu kamu banyak uang tapi.....,''

__ADS_1


''Ssstttt jangan berisik.'' Ucap Yura sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Jery. Jery terkejut! Kedua mata mereka saling bertatapan untuk sesaat. Menyadari tangannya masih menempel di bibir Jery, Yura segera melepaskan tangannya.


''Kita kerumah sakit sekarang.'' Ucap Yura. Jery hanya mengangguk pelan seraya mengikuti langkah kaki Yura.


Sesampainya di rumah sakit, kedua orang tua Jery dan juga Rhea sangat terkejut melihat Jery membawa seorang wanita. Seorang wanita yang sangat cantik dan begitu sempurna. Mata mereka bertiga menatap Yura mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki tanpa berkedip.


''Halo Ayah-Ibu dan adik iparku.'' Sapa Yura dengan senyum ceria. Sontak, mata Jery membulat sempurna mendengar apa yang Yura katakan.


''Jery, kamu sudah punya calon? Kenapa tidak pernah cerita pada Ayah dan Ibu?'' sahut Tuan Panji.


''Iya, Jery. Kenapa kamu diam saja? Punya calon secantik ini.'' Sambung Nyonya Rita.


''Perkenalkan namaku, Yura.'' Yura menjabat tangan kedua orang tua Jery secara bergantian. Sementara Jery hanya diam mematung melihat sikap Yura yang menurutnya sok akrab pada keluarganya.


''Kita lanjutkan kenalannya nanti ya. Aku sudah membawa makanan untuk kalian semua. Rhea, kamu juga harus banyak makan, supaya kamu segera pulih.''


''Terima kasih Kak Yura.'' Ucap Rhea. Dan mereka kemudian makan siang bersama. Jery tidak menyangka keluarganya mudah sekali menerima Yura. Apalagi Yura yang begitu cepat akrab dengan keluarganya.


''Jery, kamu dari tadi diam saja. Kenapa tidak bilang pada kami kalau kamu sudah punya pacar.'' Tegur Nyonya Rita.


''Begini Ibu, Jery ini sangat tertutup. Masalah sebesar ini dia bahkan memendamnya sendiri. Sampai akhirnya aku mendesaknya untuk cerita.'' Kata Yura.


''Kak Yura bertemu dengan Kak Jery dimana?'' tanya Rhea.


''Kami bertemu di kampus. Lebih tepatnya adikku kuliah disana. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.'' Ceplos Yura apa adanya.


''Wah, Kakak termasuk berhasil ya menaklukkan kutub utara ini? Dia sangat dingin pada wanita. Bahkan kami sempat berpikir Kak Jery tidak menyukai wanita.'' Seloroh Rhea.


''Hah? Serius? Aku bahkan juga sempat berpikir seperti itu. Karena ini pengalaman pertamaku mengejar seorang pria. Biasanya aku yang biasa di kejar,'' ucap Yura terkekeh.


''Jery memang begitu Non Yura. Tapi dia sangat baik. Hobinya memang belajar.'' Sahut Nyonya Rita.


''Ibu, panggil namaku saja, Yura. Aku saja memanggil Ibu, bukan memanggil Tante. Santai saja.'' Kata Yura.


''Iya Yura.'' Jawab Nyoya Rita.


''Terima kasih untuk makan siangnya ya Yura. Ini enak sekali. Dagingnya empuk tidak alot dan tidak membuat gigi sakit saat di gigit.'' Sahut Tuan Panji terkekeh.


''Sama-sama Ayah. Aku juga senang melewatkan makan siangku bersama dengan kalian.'' Ucap Yura.


''Oh ya apa kamu juga dosen di kampus tempat Jery mengajar?'' tanya Nyonya Rita.


''Tidak Bu. Aku mempunya perusahaan sendiri, lebih tepatnya perusahaan keluarga, Luxury Group.''


''APA? Luxury Group?'' ucap Tuan Panji, Nyonya Rita dan Rhea bersamaan. Mereka benar-benar terkejut mendengar ucapan Yura.


''Iya Ayah-Ibu. Kenapa memangnya?''


''Bahkan alat elektronik kami dari perusahaan itu. Kamu sungguh pemiliknya?'' Nyonya Rita berusaha meyakinkan.


''Pemiliknya adalah Ayahku tapi sejak lulus kuliah, Ayah memintaku untuk membantu mengurus perusahaan karena aku anak pertama.''


Tuan Panji menelan ludah. ''Bagaimana putraku akan menghidupimu nak Yura? Sedangkan gajinya tidak seberapa.''


''Berapapun yang diberikan oleh Jery, aku akan menerimanya Ayah. Yang aku butuhkan Jery berdiri disampingku dan selalu ada untukku.'' Ungkap Yura.


''Jery, kamu ini dari tadi diam saja. Kamu tidak punya cerita apa-apa? Masa dari tadi nak Yura yang bercerita.'' Sahut Nyonya Rita.


''Apa yang harus aku ceritakan Ayah, Ibu. Tidak ada yang menarik juga dengan kehidupan kita yang mendadak terlilit hutang rentenir,'' kesal Jery.


''Iya juga ya. Kami sedang terlilit hutang nak Yura. Sebaiknya kamu tinggalkan Jery dan cari pria yang sepadan denganmu saja ya. Kalian terlalu berbeda.'' Kata Nyonya Rita.


''Lho-lho, aku tidak apa-apa, Bu. Aku akan membantu Jery. Aku tulus mencintai Jery. Kami sudah saling mencintai dan tidak akan terpisahkan.'' Kata Yura seraya menginjak kaki Jery, memberi kode supaya Jery bicara. Jery meringis menahan sakit saat heels Yura menginjak kakinya.


''I-iya Bu. Aku juga sudah mencintainya. Pertemuan kami singkat tapi Yura sudah benar-benar membuatku jatuh cinta.'' Ucap Jery.


''Lalu bagaimana dengan orang tuamu nak Yura?'' tanya Tuan Panji.


''Ayahku adalah Ayah terbaik jadi dia tidak akan melarangku. Aku berencana ingin mengajak Jery menemui Papa. Karena kami ingin segera menikah dan tidak ingin berlama-lama pacaran. Apalagi usia kita sudah sangat matang menuju sebuah pernikahan.'' Kata Yura.

__ADS_1


Tuan Panji dan Nyonya Rita saling melempar pandangan. Mereka ragu merestui keduanya. Apalagi melihat status sosial Yura yang lebih segalanya dari Jery.


__ADS_2