Kutukan Cinta Dosen Tampan

Kutukan Cinta Dosen Tampan
BAB 8


__ADS_3

''Ayah-Ibu, jangan pikirkan itu! Meskipun penghasilanku lebih besar dari Jery, aku tetap akan menghormati Jery. Aku tidak butuh harta Jery karena aku sudah punya segalanya. Yang aku butuhkan hanyalah cintanya saja.'' Ucap Yura yang berusaha meyakinkan kedua orang tua Jery.


''Ayah dan Ibu tidak usah khawatir. Aku akan bahagia bersama dengan Yura. Yura adalah wanita yang sangat baik. Dia mau menerima semua kekuranganku dan tentunya aku akan berusaha untuk membahagiakannya.'' Ucap Jery.


''Bukankah kamu ingin mengejar gelar doktormu nak? Bagaimana impianmu itu?'' sahut Nyonya Rita.


''Masih dua bulan lagi Bu, aku berangkat.''


''Kamu mau kemana?'' tanya Yura.


''Ke Amerika. Setidaknya aku dua tahun disana.''


Yura terdiam sejenak. ''Bagaimana aku bisa hamil kalau seperti ini? Dia juga pasti tidak mau melakukan inseminasi.'' Gumam Yura dalam hati.


''Ayah, Ibu, aku tidak akan menghalangi karir Jery. Aku akan mendukungnya. Aku juga sangat bangga memiliki seorang suami yang pintar. Jadi tolong restui dan dukung hubungan kami.'' Kata Yura.


''Ayah, Ibu, apa yang kalian pikirkan? Bukankah Ayah dan Ibu juga ingin segera memiliki cucu? Ini kan yang Ayah dan Ibu nantikan? Melihat Kak Jery menikah.'' Sahut Rhea.


''Rhea, kenapa kamu ikut campur? Penyebab semua ini adalah dirimu,'' gerutu Jery dalam hati. Yura tersenyum lebar kearah Rhea karena ucapan Rhea sangatlah benar untuk mendukung keputusannya.


''Tapi nak Yura, kamu benar-benar serius dengan Jerry kan?''


''Iya Ayah, aku serius. Aku tidak main-main. Aku juga akan membuat janji pertemuan antara Ayah dan orang tuaku setelah Rhea sembuh.'' Kata Yura. Yura melirik kearah Jery, untuk membantunya meyakinkan kedua orang tua Jery.


''Iya Ayah-Ibu. Cinta kami serius. Yura adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatku jatuh cinta.'' Ucap Jery dengan sangat terpaksa.


Tuan Panji menghela. ''Iya baiklah. Kalau kalian saling mencintai, kami bisa apalagi selain merestui hubungan kalian.''


''Terima kasih Ayah-Ibu. Aku janji akan menjaga Jery.'' Kata Yura dengan begitu antusias.


''Bukankah kata-kata itu yang seharusnya di ucapkan seorang pria pada wanitanya?'' gumam Nyonya Ratih dalam hati dengan penuh rasa heran.


Setelah selesai menjenguk dan makan siang bersama keluarga Jery, Yura berpamitan dan kembali menuju kampus mengantar Jery.


''Bagaimana dengan pernikahan kita kalau kamu dua bulan lagi akan pergi ke Amerika?''


''Sepertinya aku akan membatalkan itu.''

__ADS_1


''Membatalkan? Memang kenapa?''


''Uang tabunganku yang seharusnya aku pakai untuk meneruskan gelar doktorku, aku bayarkan hutang pada rentenir itu.'' Jawab Jery dengan wajah lemasnya.


''Memangnya butuh berapa lama di Amerika?''


''Dua tahun.''


''Sebaiknya kita menikah dulu. Dua minggu lagi kita menikah."


"Hah? Apa? Kenapa secepat ini?" Jerry tentu saja terkejut dengan permintaan Yura.


"Aku malas mendengar ocehan Papa. Dan setelah menikah, kamu bisa berangkat dan setelah gelar doktormu selesai, baru kita proses membuat anak. Karena sebenarnya aku juga tidak mau buru-buru punya anak. Apa kamu setuju?''


''Bb-baiklah, aku setuju saja. Tapi aku sudah tidak ada biaya. Mungkin aku akan menjual mobilku saja. Apalagi aku harus mengumpulkan uang untuk waktu persiapan yang singkat itu."


''Eh, jangan! Biar aku yang membiayai kuliahmu disana. Anggap saja sebagai bayaran suami kontrak. Yang aku butuhkan saat ini hanya status menikah. Nanti jelaskan pada Ayahku kalau kamu akan menempuh pendidikan doktor disana. Serahkan semua urusanmu padaku termasuk biaya pernikaha. Yang penting sah saja."


''Kamu serius?''


''Iyalah, aku serius. Ya nanti aku tengokin kamu lah disana kalau aku sedang libur. Sebagai alasan kalau aku merindukanmu. Dengan fokus menyelesaikan pendidikan, Ayahku tidak akan menuntut kita untuk segera punya anak.''


''Oke, aku akan mengurus tempat tinggalmu disana. Pastikan pilih kampus terbaik disana.''


''Aku sendiri mendapat beasiswa tapi untuk biaya hidup, sudah jelas aku butuh banyak. Dua tahun bukanlah waktu yang sedikit jika di Amerika. Biaya hidup disana sangat mahal. Jadi aku disana juga akan mengambil bekerja paruh waktu.''


''Memang apa yang ingin kamu lakukan dengan semua gelar yang kamu miliki? Aku saja cuma kuliah S1 saja tapi nyatanya aku bisa memimpin perusahaan.''


''Aku ingin juga mendapat gelar profesor dengan penelitian yang sedang aku lakukan. Aku menyukai belajar dan aku ingin ilmuku bermanfaat untuk semua orang. Tentu saja aku ingin sekali menjadi seorang rektor di sebuah universitas ternama.''


''Hanya itu saja cita-citamu? Tidak ingin lebih?''


''Untuk orang sepertiku, cita-citaku sudah terlalu tinggi. Bahkan sepertinya sangat sulit untuk di gapai. Semua orang mempunyai patokan sendiri dalam hidupnya. Berbeda dengan dirimu yang dari lahir sudah memiliki segalanya.''


''Iya juga sih. Tapi tetap saja mengurus perusahaan bukanlah suatu hal yang mudah. Belum lagi banyak orang yang ingin menjatuhkanku dengan cara yang curang. Apalagi nasib ribuan karyawan ada di pundakku. Kalau Papa tidak membantu,aku juga  pasti akan kesulitan. Sebenarnya aku hanya wakil CEO saja sedangkan pemiliknya tetap saja Papa.'' Ucap Yura seraya tersenyum lebar.


''Tapi sepertinya hidupmu baik-baik saja dan menjalaninya dengan santai.''

__ADS_1


''Itu yang kamu lihat, Jer. Tapi aku ini atasan yang super galak.'' Sambung Yura terkekeh.


''Apapun itu, aku salut denganmu. Pemimpin wanita itu sangat jarang sekali. Tapi kamu bisa mengendalikan semuanya termasuk mengendalikan hidupku sekarang.''


''Ah sudahlah jangan membahas itu. Semuanya impas. Hanya tiga tahun saja, Jer. Setelah itu, kamu bebas menentukan hidupmu, begitu juga denganku.''


Setelah lama berbincang akhirnya mereka sampai juga di kampus.


''Oh ya, katanya adikmu kuliah disini? Dia fakultas apa?''


''Manajemen bisnis tapi dia begitu mencintai musik. Entahlah, aku pusing memikirkannya.''


''Ya sudah, aku turun dulu. Hati-hati.''


''Oke. Terima kasih untuk makan siangnya.''


''Seharusnya aku yang bilang terima kasih.'' Ucap Jery. Jery kemudian turun dari mobil Yura.


''Woi Jer, sama siapa lo?'' teriak Rendi saat turun dari mobil mewah Yura. Jery tersenyum lalu mendekat kearah Rendi.


''Apaan sih? Cuma teman doang.''


''Teman? Cewek apa cowok?'' selidik Rendi.


''Cewek. Udah ya gue ke kelas dulu.''


''Eh-eh tunggu dulu. Cewek yang mana? Sejak kapan elo teman cewek?''


''Emangnya elo aja yang bisa punya teman cewek?'' ucap Jery sambil menepuk bahu Rendi.


''Aneh aja, seorang Jery bersama seorang wanita. Apalagi naik mobil mewah. Apa itu sugar mommy ya?'' selidik Rendi.


''Husss! Jaga ucapan elo. Masa iya sugar mommy? Ya nggak lah.''


''Ya siapa tahu elo frustasi terus jadi simpanan tante-tante buat bayar hutang.'' Celetuk Rendi asal.


''Astaga mulut elo! Gue orang berpendidikan dan menjaga integritas gue sebagai dosen terbaik. Jadi gue nggak mungkin nglakuin hal rendahan seperti itu. Udah ah gue mau ke kelas. Kalau elo mau cabut, cabut aja.'' Ucap Jery seraya berlalu.

__ADS_1


''Wah gila si Jery. Diam-diam punya gebetan. Kayaknya sih tajir. Wah-wah gue kira dia cupu tapi ternyata suhu.'' Gumam Rendi. Antara bahagia karena Jery tidak sendiri namun juga ada rasa heran dalam benaknya.


__ADS_2