
“Anda, tidak apa-apa Nona?” ucap Jery seraya membantu Yura berdiri kembali.
“Tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolongku.” Ucap Yura dengan sedikit gugup.
“Sama-sama. Permisi, saya harus mengajar dulu.”
“Eh tunggu!” cegah Yura.
“Ada apa Nona?”
“Ummm... siapa namamu? Dan apa kamu dosen disini?”
“Nama saya Jery dan ya, saya dosen disini.”
“Wah, dia adalah pria yang tepat untuk dijadikan suami.” Gumam Yura dalam hati dengan senyuman penuh arti.
“Bisa mengobrol sebentar?” tanya Yura. Jery lalu melihat learah jam tangannya.
“Saya punya waktu lima menit.” Ucap Jery.
“Baiklah, aku to the point saja. Kamu mau menjadi suamiku?”
Sontak ucapan Yura membuat Jery terkejut.
“Maaf Nona, saya tidak ada waktu untuk menanggapi hal konyol seperti itu. Permisi!” Jery berlalu begitu saja karena menganggap Yura itu gila.
“Aku serius!” teriak Yura. Namun Jery tidak menghiraukan teriakan Yura. Yura yang penasaran memutuskan untuk tetap di kampus, memperhatikan Jery yang sibuk mengajar. Yura bahkan rela menunggu sampai Jery selesai mengajar.
Namun tiba-tiba ponselnya berdering, panggilan masuk dari asistennya.
“Halo, Nona Yura dimana? Rapat akan segera di mulai.”
“Undur saja setelah jam makan siang. Ada hal penting yang tidak bisa aku tinggalkan.”
“Tapi Nona…..,” panggilan pun di akhiri begitu saja oleh Yura. Adel hanya bisa mendengus dan pasrah dengan sikap atasannya yang seenaknya itu.
Selesai mengajar, Jery terkejut melihat Yura yang ternyata masih menunggunya di depan kelas.
“Untuk apa wanita ini masih disini?” gumam Jery dalam hati. Ia memilih mengabaikan Yura dan berlalu begitu saja. Namun Yura yang sudah melihat Jery, buru-buru mengejar Jery.
“Pak Jery, berhenti! Kita harus bicara.” Suara lantang Yura akhirnya menghentikan langkah Jery.
“Maaf Nona, aku sangat sibuk dan tidak ada waktu.” Ucap Jery dengan menahan segala kekesalannya.
“Aku serius Pak Jery. Aku ingin kamu menjadi suamiku. Anda mau kan menjadi suamiku?”
__ADS_1
“Maaf Nona, aku tidak mau! Sebaiknya anda pergi dari sini dan jangan mengangguku. Permisi!” Jery kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Yura.
“Menyebalkan sekali, beraninya dia menolakku. Aku harus mencari tahu dulu siapa dia, siapa tahu dia punya kelemahan yang bisa aku manfaatkan.” Gumam Yura dalam hati.
-
“Kusut amat Jer,” celetuk Rendi, sahabat sekaligus dosen kesenian di universitas tersebut.
“Tidak apa-apa.” Ucap Jery sambil mengaduk-aduk minumannya.
“Tapi tidak biasanya elo kusut setelah mengajar. Pasti ada sesuatu yang mengganggu.”
“Ren, apa elo ada uang?”
“Uang? Butuh berapa? Tumben-tumbenan seorang Jery butuh uang.”
“Elo punya 500 juta?” ceplos Jery. Rendi terkejut sampai menyemburkan minumannya mendengar nominal uang yang di sebutkan oleh Jery.
“Gue mana ada uang sebanyak itu, Jer. Elo kan tahu kalau kita ini seperjuangan. Darimana gue dapat uang segitu. Gue aja kadang ngutang sama elo. Emang ada masalah apa sih? Sampai elo butuh uang segitu banyaknya?”
Jery menghela. “Semua itu karena Rhea.”
“Rhea? Kenapa Rhea?”
“Lagian si Rhea, ngapain juga nurut sih. Lagian bukannya kuliah yang bener malah pacaran sama orang nggak jelas. Terus sekarang apa yang mau elo lakuin sekarang?”
“Nggak tahu. Yang jelas selesai ngajar, gue mau part time. Pokoknya apa ajalah supaya bisa nebus sertifikat rumah. Rhea juga mau coba kasbon sama bosnya, dia selesai kuliah kan juga kerja di hotel meskipun jadi office girl.”
“Nyusahin aja si Rhea. Terus pacarnya itu gimana? Apa sudah ketemu?” Rendi pun ikut kesal dengan sikap Rhea yang begitu ceroboh.
“Ternyata pacarnya juga DPO, korbannya juga bukan cuma Rhea.”
“Wah, kalau kayak gitu alamat zonk, Jer.”
“Entahlah Ren. Gue juga bingung mesti gimana. Sedangkan tiap bulan bunga rentenir itu semakin besar. Apalagi hutang itu sudah terhitung 6 bulan ini. Mau pecah kepala gue.” Jery frustasi sambil mengacak rambutnya.
“Gue ada sepuluh juta kalau mau elo pakai, Jer. Setidaknya bisa membayar bunganya dulu lah.”
“Serius Ren?” Jery seolah mendapat angin segar dari Rendi.
“Iya serius. Elo kan juga sering bantuin gue jadi elo ambil aja. Nanti gue transfer ke rekening elo ya.”
“Thanks banget ya Ren. Sorry kalau gue malah ngrepotin elo. Tapi gue belum tahu mau balikinnya kapan.”
“Ya udahlah santai saja. Elo balikin pas udah ada aja.”
__ADS_1
“Sekali lagi thanks ya, Ren.”
“Iya sama-sama Jer.”
Selesai mengajar, Jery langsung pergi menuju restoran. Ia segera mengganti pakaiannya dengan pakaian pelayan.
“Cita-citaku adalah menjadi dosen dan ingin mendapatkan gelar doctor dan juga profesor. Tapi hari ini aku harus memakai pakaian pelayan demi rentenir sialan itu,” gerutu Jery dalam hati. Akhirnya Jery hanya bisa pasrah bekerja menjadi pelayan disana dan menanggalkan profesi dosennya untuk sementara.
Tak terasa langit mulai petang, pengunjung restoran semakin padat. Meskipun lelah, Jery tetap merasa senang karena restoran sangat ramai dan itu artinya dia akan mendapat bonus.
“Silahkan Nona!” ucap Jery seraya meletakkan pesanan diatas meja. Mata Jery membulat ketika tamu yang ia layani adalah Yura.
“Hai Pak dosen? Sudah alih profesi kah?” goda Yura dengan senyum dan kerlingan mata genitnya.
“Permisi!” Ucap Jery seraya berlalu. Yura tersenyum kecut mendapat reaksi menyebalkan dari Jery. Namun Yura tidak patah semangat, ia memilih menunggu Jery sampai restoran itu tutup. Setiap makanannya habis, Yura pesan lagi dan begitu terus sampai restoran tutup. Sekalipun Yura berusaha menganggunya, Jery tetap tidak peduli. Ia tetap melayani Yura seperti tamu-tamu yang lain. Karena saat ini yang ada di pikirannya adalah bekerja untuk melunasi hutang pada rentenir. Godaan, kedipan mata genit Yura, bahkan siulan sekalipun tidak membuat Jery terpengaruh.
“Aku ingin tahu, mau sampai kapan kamu bersikap dingin kepadaku PAK DOSEN?” gerutu Yura dalam hati.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sudah waktunya untuk pulang. Setelah menerima upah hariannya, Jery memutuskan pulang lewat belakang supaya tidak bertemu Yura.
Namun Jery salah, ia tidak tahu jika sedang berhadapan dengan seorang wanita yang cerdik. Yura justru sudah menunggu Jery di pintu belakang tersebut. Jery sampai melonjak kaget melihat Yura sudah berada disana.
Jery menghela. “Apa yang Nona inginkan?”
“Aku sudah bilang, aku ingin kamu menjadi suamiku. Menikahlah denganku, dan aku lunasi semua hutangmu.”
Jery semakin terkejut, dari mana Yura mengetahui kalau dirinya sedang terlilit hutang.
“Aku sudah tahu semua masalahmu, Pak Jery. Adikmu meminjam uang seratus juta pada rentenir dan uang itu berbunga sampai menjadi lima ratus juta. Bahkan sertifikat rumahmu, diambil oleh mereka. Mencari tahu tentang dirimu tentu sangat mudah. Tidak butuh waktu lama untuk mengetahui latar belakang keluargamu. Kamu hanya perlu menikah denganku dan berikan aku anak.” Jelas Yura panjang lebar.
“Maaf Nona, aku tidak bisa melakukan hal konyol seperti itu. Aku masih bisa membayar semua hutang-hutangku. Masih banyak pria lain yang mau menerima tawaranmu.”
“Aku hanya mau dirimu. Kamu mempunyai bibit unggul yang pantas untuk aku jadikan suami sekaligus untuk memberikan ku anak.”
“Maaf Nona! Aku hanya akan menikah dengan wanita yang aku cintai. Permisi.” Ucapnya seraya berlalu.
“Kalau begitu cintai aku, mudah kan?” celetukan Yura membuat langkah Jery terhenti. Jery lalu berbalik badan menatap Yura.
“Maaf Nona, cinta itu bukanlah sebuah permainan. Tapi cinta itu datang dari hati. Kalau anda ingin memiliki anak, adopsi saja anak di panti asuhan.” Jery kemudian benar-benar berlalu dan tidak menghiraukan panggilan Yura.
“Benar-benar wanita aneh,” gerutu Jery.
“Menyebalkan. Susah sekali menaklukkannya. Aku hanya mau dia!” gumam Yura dengan penuh ambisi.
Bersambung....
__ADS_1