
Sebelum pulang, Tuan Bayu mengajak Jerry bicara empat mata. Keduanya berdiri diteras samping rumah, menatapan hamparan taman bunga yang indah dengan sorot cahaya bulan yang begitu indah malam itu.
“Jerry, terus terang saja, Om menyukaimu. Om menyukai kesederhanaan dan kejujuranmu. Tapi Om juga sangat paham bagaimana watak dan karakter Yura. Yura tidak melakukan sesuatu untuk memaksamu datang kemari kan?”
Jerry tentu saja dibuat cukup terkejut dengan ucapan Tuan Bayu karena Tuan Bayu seoalh bisa membaca keadaan antara dirinya dan Yura sebenarnya.
“Tentu saja tidak, Om. Yura memanglah wanita yang unik. Dia adalah cinta pertama bagi saya, Om.” Ya, Jerry terpaksa berbohong. Ancaman Yura yang selalu meminta uangnya kembali menjadi momok yang begitu mengerikan. Tuan Bayu tersenyum sambil memegang pundak Jerry.
“Om harap kamu bisa lebih sabar menghadapinya. Karena dia terkadang begitu liar dan susah dikendalikan. Jaga Yura ya. Kalau dia memang melakukan sesuatu yang terkesan mengancam, katakan saja pada Om. Dia selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.”
“Iya Om, saya pasti akan menjaganya dan tentunya akan sabar menghadapinya.”
“Om percaya padamu, terima kasih.”
“Iya Om sama-sama. Memang sudah seharusnya seperti itu.”
Setelah berbicara serius, Yura dan Jerry pun berpamitan. Dan kini keduanya sedang dalam perjalanan.
“Ke pantai yuk!” Ajak Yura tiba-tiba.
“Untuk apa? Ini sudah malam.”
“Baru juga jam 9. Aku ingin minum kelapa muda dan jangung rebus disana. Jangan banyak tanya dan arahkan mobil kesana.” Perintah Yura.
“Iya-iya.” Jerry pun hanya bisa pasrah menuruti perintah Yura.
Keduanya kini telah sampai dipantai. Yura dengan santai duduk diatas kap mesin mobilnya sambil menikmati hangatnya jagung rebus dan kelapa muda.
“Duduklah disini.” Ucap Yura sambil menepuk tepat kosong disisinya. Jerry mengangguk dan menurut.
“Oh ya, apa yang Papa bicarakan padamu?”
“Tidak ada.” Jawab Jerry singkat.
“Pasti ada. Jangan berbohong padaku.”
“Hanya obrolan biasa saja. Tidak ada yang penting.” Imbuhnya sambil menyantap jagung rebus ditangannya.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan berusaha percaya padamu. Jujur saja aku marah padamu.”
“Kenapa lagi?”
“Pakai tanya lagi. Ya, karena kamu tidak mau mengikuti aturan mainku. Kamu mengatakan semuanya pada Papa tentang latar belakang keluargamu.”
“Lalu, aku harus menjawab apa? Memang itu kenyataannya. Sudah cukup kita berbohong soal pernikahan ini. Jadi aku tidak mau berbohong untuk latar belakang keluargaku. Tidak mungkin juga aku harus meminta orang tuaku untuk berbohong. Yang ada mereka akan berpikir buruk tentang keluargamu. Dan bisa jadi mereka melarangku untuk berhubungan denganmu karena perbedaan kita terlalu jauh.” Jelas Jerry. Yura kemudian tertawa. Membuat Jerry menatap heran kearah wanita super unik yang ada disampingnya.
“Apa yang lucu?” ketus Jerry.
“Akhirnya aku mendengar Pak Jerry bicara panjang lebar.”
“Aku akan banyak bicara jika itu dirasa penting. Aku seorang dosen, sudah pasti aku akan banyak bicara tapi hanya untuk hal-hal yang penting saja.”
“Iya, baiklah Pak Jerry. Kamu terlalu serius. Santai sedikit sajalah.” Ucap Yura sambil mendorong pelan bahu Jerry.
“Oh ya, sebenarnya aku tidak menyangka kalau Papa akan percaya padamu dan mendukung hubungan kita. Tapi Papa memang bukan tipe orang matrealistis sih. Tapi bagus juga sih, kita tidak perlu berbohong. Kamu hebat bisa meyakinkan Papa. Bahkan Papa langsung klik denganmu.”
“Memang sebelumnya tidak ada pria yang datang menemui orang tuamu?”
“Seorang Nona besar seperti dirimu, apa tidak pernah berhubungan dengan pria?”
“Tentu saja pernah. Tapi dia pergi bersama wanita lain. Aku hanya atm berjalan untuknya. Ah, kenapa jadi curhat? Jangan tanya lagi. Nanti rem ku blong.” Celotehnya yang entah kenapa Jerry merasa kalau Yura itu lucu dan menggemaskan. Yura kemudian terdiam sejenak. Yura memejamkan matanya, mendongakkan kepala keatas. Menikmati betapa segarnya udara malam itu. Meskipun dingin tapi sangat menenangkan baginya. Jerry melirik sekilas kearah Yura yang mendadak diam. Untuk sesaat, Jerry terjebak untuk menatap wajah cantik Yura.
“Jangan terlalu lama menatapku. Nanti jatuh cinta.” Celetuk Yura tiba-tiba yang sungguh membuat Jerry terperanjat. Buru-buru ia mengealihkan pandangannya dan kembali fokus pada jagung rebus yang ada ditangannya.
“Aku tidak menatapmu. Hanya saja aku melihat butiran biji jagung di bawah bibirmu.” Ucap Jerry dengan sedikit gugup. Jerry lega, setidaknya ada sebuah kebetulan yang membuatnya beralasan. Mendengar ucapan Jerry, Yura langsung membuka matanya. Tangannya meraba diarea bawah bibirnya dan benar ada sisa butiran jagung dibibirnya. Ia mendecih dan melirik kesal kearah Jerry.
“Setelah ini kita pulang. Aku masih banyak pekerjaan. Ada tugas yang harus aku koreksi.” Ucap Jerry.
“Iya. Besok jam makan siang aku jemput.”
“Tidak usah.” Tukas Jerry.
“Kenapa? Aku ini calon istrimu.”
“Iya tapi hanya kontrak. Kita tidak perlu se-intens itu. Lagi pula besok aku akan menghabiskan waktuku dikampus.”
__ADS_1
“Memang ada apa?”
“Memberi jam tambahan pada mahasiswaku. Ada dua kelas yang harus aku ajar. Jadi kemungkinan aku pulang jam 5 sore.”
“Baiklah, aku akan ke kampus dan membawakan makan siang untukmu. Ingat ya, sekarang Darren tahu hubungan kita. Setidaknya kita harus meyakinkan semuanya. Dan yang pasti sekarang Darren akan menjadi mata-mata Papa. Kamu juga harus jaga sikap.”
“Aku tidak pernah aneh-aneh.”
“Pasti banyak gadis yang menggodamu kan? Jadi jangan sampai terpengaruh.”
Jerry tersenyum miring. “Nona besar sepertimu saja aku tidak terpengaruh apalagi para mahasiswaku.”
“Wah, sombong sekali anda. Merasa sangat tampan dan hebat?”
“Aku tidak pernah merasa seperti itu. Aku hanya ingin fokus pada tujuanku saja. Aku sedang mencari beasiswa untuk pergi ke Amerika.”
“Sudah aku bilang, aku akan membiayai keberangkatanmu.”
“Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri. Sudah cukup kamu menyelamatkan kami dari kejaran rentenir. Untuk pendidikan, biar menjadi urusanku.”
“Oke baiklah, terserah saja. Oh ya dan untuk biaya pernikahan, biar aku yang mengurusnya. Karena semua sudah ada dalam kontrak. Jadi kamu tidak usah memusingkan itu. Karena ku tahu keadaanmu saat ini sangat sulit.”
“Sebaiknya kita menikah secara tertutup saja. Hanya keluarga inti saja.”
“Iya, aku mengerti. Aku juga tidak mau melakukan itu. Mengingat hubungan kita hanya sekedar hitam diatas putih.”
“Terima kasih.” Singkat Jerry.
Setelah puas menikmati malam dipinggiran pantai, akhirnya Jerry sampai di rumah juga.
“Hati-hati, Yura. Jangan pergi ke bar sendiri.” Pesan Jerry sebelum ia turun dari mobil.
“Pak dosen mulai perhatian nih,” goda Yura sambil mencolek dagu Jerry. Membuat Jerry sedikit salah tingkah. Ia kemudian buru-buru keluar dari mobil Yura. Tanpa berbalik, Jerry masuk ke dalam gang rumahnya.
“Ih, keterlaluan banget tuh si Pak dosen. Nengok balik aja nggak lho. Untung cuma nikah kontrak, kalau nikah beneran, aku bisa makan hati punya suami dingin seperti dia.” Yura mendumel sendiri dengan sikap Jerry yang keterlauan. Ia pun bergegas memutar balik mobilnya dan pergi.
Bersambung...
__ADS_1