Kutukan Cinta Dosen Tampan

Kutukan Cinta Dosen Tampan
BAB 14


__ADS_3

“Untuk apa kamu tahu, Darren. Lagi pula aku dan Jerry tidak bertemu di kampus. Kami bertemu dijalan. Kita kan punya urusan masing-masing jadi kamu tidak perlu tahu. Atau…” Yura memberikan sorot mata penuh arti pada Darren. Darren menangkap sinyal kalau Kakaknya itu akan membongkar rahasianya.


“Hehehehe… iya juga sih, Kak. Aku sibuk kuliah dan sudah pasti tidak ada waktu untuk mengurus semua itu.” Darren buru-buru menjawab ucapan sang kakak. Membuat ekspresi tegang Tuan Bayu dan Nyonya Dania menjadi kembali tenang.


“Pah-Mah, Pak Jery ini dosen yang terkenal di kampus dan sangat dikagumi. Bukan sekedar tampan saja.” Imbuh Darren dengan begitu antusias.


“Benarkah? Baiklah, sebaiknya kita lanjut di meja makan saja. Kita ngobrol sambil makan.” Ucap Tuan Bayu dengan sikap ramahnya. Jery hanya mengangguk dengan senyum tipisnya.


Kini mereka sudah duduk bersama di meja makan. Nyonya Dania menyambut Jery dengan ramah. Nyonya Dania bahkan menuangkan nasi ke dalam piring Jery bersama dengan sayur dan lauknya. Yura menatap kesal Nyonya Dania yang bersikap sok perhatian.


“Jadi, sudah berapa lama kamu menjadi dosen Jery?” tanya Tuan Bayu.


“Sekitar 7 tahun, Tuan.” Jawab Jery.


“Jangan panggil, Tuan. Panggil Om, saja.”


“Iya Om.”


“Oh ya, berarti kamu jadi dosen sejak usia 20 tahun? Masih sangat muda sekali. Pasti kamu sangat hebat.” Tuan Bayu kembali melanjutkan obrolannya.


“Iya Om. Kebetulan dulu saya ikut kelas akselerasi. Saya lulus SMA usia 16 tahun. Saat usia 18 tahun saya sudah menyelsaikan S2 dan saat usia 20 tahun saya diangkat menjadi seorang dosen.” Jelas Jery dengan sikapnya yang begitu tenang. Meskipun sebenarnya ia merasa sangt gugup. Karena untuk pertama kalinya, ia berkunjung kerumah seorang wanita. Bahkan untuk pertama kalinya langsung berhadapan dengan kedua orang tua sang wanita.


“Wah-wah, kamu hebat sekali Jerry. Sudah tampan, pintar lagi. Yura, kamu pintar sekali mencari calon suami.” Sahut Nyonya Dania. Yura hanya memberikan senyum kecilnya pada Nyonya Dania.


“Om bangga sekali padamu, Jerry. Jarang sekali ada ank muda seperti dirimu dijaman sekarang. Lalu, apa pekerjaan kedua orang tuamu? Mereka juga pasti sangat hebat ya. Dan mereka pasti juga bangga memiliki seorang putra yang hebat seperti dirimu.”


Belum juga menjawab, Yura mencubit paha Jery. Memberi kode pada Jery  untuk mengatakan apa yang sudah mereka rencanakan siang tadi. Jery meringis menahan sakit saat Yura mencubit pahanya. Ia melirik kesal kearah Yura, sementara Yura memberikan senyum lebarnya pada Jery. Jery menggeleng sambil mengelus pahanya yang terasa sakit karena cubitan Yura yang cukup keras.


“I-iya, Om tentu saja. Kedua orang tua saya memang orang tua yang sangat hebat. Saya ini hanyalah seorang anak dari penjual mie ayam, Om.” Mendnegar pengakuan Jery, membuat Yura menyemburkan makanan yang sedang dikunyahnya.

__ADS_1


“Yura, kamu ini tidak sopan!” tegur Tuan Bayu.


“Ma-maaf, Pah.” Yura buru-buru menyambar tisu dihadapannya untuk menyeka mulutnya. Ia lalu melirik tajam Jery namun Jery tidak peduli lirikan tajam itu.


“Oh, ternyata orang tua kamu penjual mie ayam? Apa mempunya sebuah restoran mie ayam yang besar?” Tuan Bayu kembali melanjutkan pertanyannya.


“Tidak, Om. Hanya sebuah kedai berukuran 3x6meter saja. Dulu Ayah dan Ibu jualan keliling dengan gerobak mie ayam. Kami dari keluarga sederhana, Om. Kami bukan dari keluarga pengusaha atau pebisnis. Maaf, kalau saya lancang mendekati Yura bahkan nekat ingin menikahinya.” Ucap Jery dengan penuh ketenangan. Membuat semua orang justru begitu antusias mendengarkan ucapan Jery. Yura juga tidak menyangka kalau Jery akan berkata jujur bahkan menambahkan kalimat yang cukup membuat Yura tersentuh. Tuan Bayu tersenyum mendengar kejujuran Jerry.


“Berarti kedua orang tua kamu lebih dari hebat, Jerry. Memiliki seorang putra sepertimu, tentu menjadi sebuah kebanggan bagi mereka. Om menghargai kejujuran dan keberanian kamu malam ini. Om tidak masalah dengan latar belakang keluarga kamu. Yang terpenting kamu tanggung jawab pada Yura. Dia terkadang ya begitulah, susah diatur dan suka pecicilan.”


Yura tidak percaya kalau Papanya akan menyetujui hubungannya dengan Jerry. Bahkan sama sekali tidak mempermasalahkan status keluarga Jerry.


“Pak Jerry sangat hebat ya ternyata. Tidak salah menjadi idola kampus.” Sahut Darren.


“Kamu juga harus seperti Jerry, Darren. Kamu dengarkan? Kalau usia 16 tahun saja sudah lulus SMA. Kamu harus lebih seamngat.” Kata Tuab Bayu.


“Iya, Papa tenang saja.”


“Iya, tentu saja. Kenapa tidak? Ngomong-ngomong sudah berapa lama kalian dekat?”


“Satu minggu.” Jawab Jerry.


“Tiga bulan.” Jawab Yura. Mereka berdua menjawab bersamaan namun dengan jawaban yang berbeda. Lagi, membuat semua orang menatap heran dan penuh selidik. Dan sudah pasti jawaban yang benar adalah jawaban Jerry.


“Jerry, ihhh. Kenapa jadi begini?” gerutu Yura dalam hati. Yura mengatur nafas, ia kemudian menggenggam tangan Jerry.


“Pah, maksud kami, kami sudah dekat selama tiga bulan satu minggu. Iya kan sayang?” Yura mengarahkan pandangannya pada Jerry sambil mencengkeram kuat-kuat tangan Jerry. Jerry megeratkan gigi menahan sakit dan juga kesal pada wanita yang duduk disampingnya.


“Iya, Om. Maksud saya juga begitu. Maaf, jadi tidak fokus begini. Mendadak memikirkan materi ujian praktek minggu depan.” Kali ini Jerry terpaksa berbohong.

__ADS_1


“Oh… iya-iya tidak apa-apa. Tentu saja kamu sangat sibuk. Lalu, kapan kalian akan tunangan? Atau mungkin rencana menikah?”


“Pah, Jerry dua bulan lagi akan ke Amerika untuk melanjutkan S3-nya. Jadi sebaiknya santi saja dulu.” Sahut Yura yang berharap pernikahan itu benar-benar diundur.


“Lho, kita ajukan saja pernikahannya. Lebih cepat lebih baik.” Kata Tuan Bayu. Kali ini ucapan Tuan Bayu membuat Jery yang makan menjadi tersedak. UHUK! UHUK! UHUK!


“Ya ampun sayang, kamu hati-hati.” Ucap Yura sambil menepuk punggung Jery. Yura dengan sigap menyodorkan minuman pada Jerry. Jerry lalu menenggak minuman yang diberikan oleh Yura.


“Maaf…” ucap Jerry.


“Pah, kenapa harus buru-buru?”


“Tidak perlu lama-lama juga Yura. Nanti kalian bisa sekalian bulan madu disana. Papa mendukung keputusan Jerry untuk melanjutkan S3-nya.”


“Om maaf tapi dua bulan itu persiapan yang singkat. Saya hanya pria biasa yang tidak memiliki banyak uang, Om. Jadi saya hanya bisa menggelar acara pernikahan sederhana saja.” Ungkap Jerry dengan segala kejujuran dan kepolosannya. Tuan Bayu tertawa kecil mendengar ucapan Jerry.


“Om menyukaimu, Jerry. Baru kali ini Om bertemu dengan pria yang jujur dan apa adanya seperti dirimu. Biasanya mereka begitu gengsi mengakui kekurangan mereka tapi kamu benar-benar apa adanya. Kami tidak keberatan jika pernikahan diadakan secara sederhana dan keluarga terdekat saja.”


“Iya Jerry, tidak perlu yang mewah yang penting sah.” Nyonya Dania ikut menimpali.


“Tapi Papa belum bertemu dengan orang tua Jerry.”


“Ya sudah, ajak kedua orang tua Jerry kerumah untuk melamar resmi kamu, Yura.” Ucap Tuan Bayu. Yura menghela nafas panjang. Ia dan Jerry saling melempar pandangan sesaat.


“Baik Om, saya akan membawa kedua orang tua saya untuk menemui Om dan juga Tante.”


“Baiklah, Om akan menunggu kedatangan kedua orang tua kamu.”


Dan acara makan malam itu berjalan dengan lancar. Yura sangat senang karena Papanya menerima Jerry apa adanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2