
Pulang kampus, lagi-lagi Jery dikejutkan dengan kehadiran Yura yang sudah menunggunya. Yura tampak santai bersandar pada mobil mewahnya. Yura melambaikan tangannya saat melihat Jery berjalan keluar gedung. Jery menghela nafas kasar lalu mendekati Yura.
“Ada apa lagi Nona?” ketus Jery. Yura terkejut melihat wajah Jery yang babak belur.
“Astaga Pak Jery, ada apa denganmu? Kenapa wajahmu lebam seperti ini?” tanya Yura yang reflek memegang wajah Jery. Jery dengan pelan menyingkirkan tangan Yura dari wajahnya.
“Bukan urusan anda, Nona.”
“Ini kartu namaku. Pertimbangkan permintaanku. Kamu mau hidup tenang atau terus gelisah, semua keputusan ada ditanganmu. Kapanpun kamu datang, aku akan menerimamu.” Ucap Yura seraya mengerlingkan mata genitnya. Setelah memberikan kartu namnya pada Jery, Yura kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja.
Jery kini benar-benar menjadi bimbang. Jika di nalar secara logika, memang rasanya sangat berat membayar hutang sebanyak itu. Bisa-bisa hutang itu membengkak menjadi satu milyar bersama bunganya. Itulah yang ada di dalam benak Jery. Namun tidak mungkin juga ia menerima permintaan aneh dari Yura.
Satu minggu kemudian, para rentenir dan bosnya datang ke rumah Jery. Mereka kembali menagih hutang pada keluarga Jery. Jery sendiri kebetulan sedang tidak di rumah. Di hari libur, ia memilih mengajar les privat beberapa mahasiswanya.
“Jadi bagaimana Nyonya-Tuan? Sudah siap angkat kaki dari rumah ini? Rumahmu kalaupun di jual, harganya tidak akan sampai segitu. Atau putrimu ini, akan aku jadikan istriku. Dengan itu hutang kalian aku anggap lunas.” Ucap si bos rentenir itu dengan sorot mata menakutkan.
“Kami akan membayarnya semampu kami. Jangan ambil keduanya.” Kata Tuan Panji dengan tegas.
“Aku sudah menyegel kedai mie milik anda. Jadi kedai itu sudah menjadi milikku.” Ucap bos rentenir sambil menghisap cerutunya. Ia kemudian mendekat kearah Rhea. Ditatapnya Rhea dari ujung kaki sampai ujung kepala. Bos rentenir itu lalu membelai kepala Rhea.
“Oh, aroma perawan.” Ucap bos rentenir itu penuh nafsu. Rhea lalu menepis tangan rentenir itu dengan kasar.
“Jangan macam-macam tua bangka!” bentak Rhea. Bos rentenir itu lalu tertawa.
“Tua bangka? Tua bangka tapi kamu juga butuh uang ku kan? Kamu berikan kepada siapa uang sebanyak itu gadis manis? Aku bisa memberikanmu banyak uang dan kemewahan, asal kamu mau ikut denganku.”
__ADS_1
“Aku tidak sudi! Aku akan bekerja untuk membayar hutang-hutangmu.” Bantah Rhea.
“Mau bekerja sebagai apa? Bagaimana kalau keperawananmu jual kepadaku dan hutangmu lunas. Kamu yang memulai, kamu juga yang mengakhiri.”
“Kurang ajar!” Tuan Panji melayangkan pukulan ke wajah bos rentenir itu.
“Kalian sudah berani kepadaku? Kalian yang berhutang tapi kalian yang marah?” kata bos rentenir dengan suara meninggi.
“Karena itu tidak masuk akal.” Bantah Tuan Panji.
“Hei, putrimu ini sudah menandatangani perjanjian hutang piutang. Seharusnya dia juga tahu segala konsekuensi dan resikonya termasuk menyerahkan dirinya saat dia tidak bisa membayar hutangnya.”
Rhea lalu memeluk lengan Ayahnya. “Ayah, Rhea tidak mau. Rhea takut.”
“Lepaskan!” teriak Rhea meronta.
“Lepaskan putriku!” teriak Tuan Panji berusaha menarik paksa Rhea tapi Tuan Panji justru di dorong sampai tersungkur di lantai. Nyonya Rita pun juga kena amukan karena berusaha menyelamatkan Rhea sampai kepalanya terbentur dinding.
“Jangan bawa putriku Tuan!” ucap Tuan Panji sambil memeluk kaki bos rentenir itu, berusaha menahannya. Bos rentenir itu yang sudah marah bukan bukan kepalang, mendorong dan menendang tubuh senja Tuan Panji.
“AYAH!” Teriak histeris Rhea saat melihat Ayahnya ditendang dengan kejam oleh bos rentenir itu. Namun Rhea tidak bisa berkutik. Keempat pria berotot itu memegang kuat tubuhnya.
Saat sudah sampai di depan pintu, Jery akhirnya datang.
“Lepaskan adikku!” teriak Jery.
__ADS_1
“Adikmu, milik Tuan kami!” kata salah satu anak buah si rentenir.
“Lepaskan adikku! Aku akan melunasi hutang bulan depan.” Kata Jery dengan suara tegasnya.
“Aku sudah muak mendengar janjimu anak muda.” Kata bos rentenir itu.
“Aku benar-benar janji! Bulan depan aku lunasi beserta bunganya tapi lepaskan adikku.”
“Hutang adikmu ini menunggak terlalu lama. Dan aku sudah banyak memberimu kesempatan. Terlalu lama jika bulan depan. Aku tunggu minggu depan. Kalau minggu depan janjimu tidak terpenuhi, aku pastikan rumah dan kedaimu aku ambil alih, begitu juga dengan adikmu ini. Dia akan menjadi milikku untuk selamanya. Bagaimana?” tantang bos rentenir itu.
“Baiklah! Minggu depan aku akan membayar semuanya. Tapi aku minta lepaskan adikku.”
Bos rentenir memberi kode pada anak buahnya untuk melepaskan Rhea.
“Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku!” Bos rentenir menegaskan kembali ucapannya sambil menunjuk wajah Jery. Mereka semua kemudian pergi meninggalkan rumah Jery. Rhea lalu menghambur kepelukan Jery dan menangis. Jery tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa memeluk dan menenangkan adiknya. Jery lalu mengajak Rhea masuk ke dalam rumah dan mendapati Ayah dan Ibunya terluka. Sungguh sakit hati Jery melihat kondisi rumah dan juga kondisi orang tuanya.
Malam itu setelah selesai bekerja paruh waktu direstoran, Jery pergi menenangkan diri menuju sebuah pantai. Ia termenung duduk sendiri ditepi pantai. Ia lalu mengambil sebuah kartu nama di saku celananya. Kartu nama Yura. Ia mengusap kartu nama itu sembari mencoba mempertimbangkan tawaran dari Yura.
“Apa aku harus menemuinya dan menerima tawarannya? Ya Tuhan, tidak bisakah kau memberiku jalan lain selain menikah dengan Nona ini? Karena aku sungguh tidak mau mempermainkan sebuah pernikahan, apalagi sekedar pernikahan kontrak. Aku juga masih ingin meraih cita-citaku untuk mendapat kedua gelar itu. Lalu bagaimana nasib keluargaku setelah aku menikah? Dan meskipun kontrak, bukankah aku juga harus menafkahinya? Sedangkan gaji yang aku dapat tentu tidak sebanding dengan penghasilannya setiap bulan. Apalagi dia seorang CEO. Ya Tuhan, berikan aku petunjuk untuk melewati semua ini. Aku juga tidak ingin keluargaku menderita. Apalagi adikku, Rhea. Meskipun aku kesal dan marah padanya tapi tetap saja aku tidak bisa membiarkan rentenir itu menikahinya.” Gumam Jery dalam hati dengan segala kerisauan hati yang ia rasakan saat ini.
Setelah cukup lama berdiam diri di pantai, Jery akhirnya memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah, Jery menengok Ayah dan Ibunya di kamar. Tampak wajah Ayah dan Ibunya terluka akibat pukulan rentenir dan anak buahnya itu. Jery kemudian menuju kamar Rhea. Jery terkejut, melihat Rhea tergeletak dengan pergelangan tangan bersimbah darah.
“RHEA!” Teriak Jery malam itu. Kedua orang tua Jery terbangun dari tidurnya dan segera menuju kamar Rhea. Mereka berdua histeris melihat kondisi Rhea. Jery melihat secarik kertas di atas tempat tidur dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Dan dengan sigap Jery menggendong Rhea dan segera membawanya menuju rumah sakit. Berharap Rhea selamat meskipun denyut nadi Rhea mulai melemah.
Bersambung…. Apakah Rhea akan selamat? Dan apa yang akan di lakukan oleh Jery?
__ADS_1