
Semua nya berjalan dengan lancar.
Adita berhasil keluar dari tuduhan yang Iris lakukan.
Tapi tidak dengan Iris, ia mendapat kan beberapa cibiran karena perbuatan nya itu.
Adita sengaja mengunjungi Iris ke rumah sakit.
Adita hanya ingin tahu, bagaimana kondisi nya sekarang. Bagaimana mental nya setelah berita nya muncul di seluruh jagat raya, hanya butuh 2 hari membersihkan nama nya, dan sekarang, iris yang menjadi bulan bulanan mereka. Adita tidak tahu, siapa yang menyebar berita nya dengan Iris. Tapi Adita yakin itu adalah kerjaan salah satu anak buah Arion, Adita berpikir, jika keluarga suami nya yang akan mencari gara gara dengan nya.
Yang akan mengganggu nya selama suami nya pergi tapi, sampai detik ini, keluarga dari suami nya tidak pernah muncul. Apalagi yang membuat masalah.
Adita tidak pernah berpikir, jika Iris akan menyerang nya di dalam rumah nya sendiri, di hadapan ke dua orang tua nya dan dengan bodoh nya mereka juga menyalahkan Adita padahal saat itu mereka sedang berada di meja makan.
Sekalipun mereka tidak melihat jelas apa yang terjadi setidak nya cari tahu terlebih dahulu bukan selalu menghakimi nya seperti itu, bukan selalu menyalahkan nya seolah-olah dia memang tidak penting di dalam keluarga itu.
Adita masuk ke dalam ruangan nya Iris, tidak ada orang tua nya, hanya ada iris yang menatap mya penuh benci.
''Puas sekarang, kamu sudah membuat nama ku hancur,'' bentak Iris.
Adita diam, dia tidak membalas apapun.
Adita sengaja membiarkan nya, karena ini semua untuk mengakhiri semua nya.
Adita ingin pergi setelah cacian yang ia terima, sudah cukup selama ini ia diam, sudah cukup selama ini ia mengalah.
''Apa aku berbuat salah iris kenapa kamu selalu menyalahkan ku, aku sudah cukup sabar selama ini, tapi selama aku diam kamu semakin ngelunjak,'' ucap Adita.
''Kamu tidak akan mengerti bagaimana jadi aku,'' teriak iris.
Saat Adita akan menjawab pintu ruangan itu langsung di buka, dan itu sang mama dengan sang papa.
Tanpa peduli apapun sang mama langsung mendorong Adita, tapi untung lah Adita dapat menyeimbangi nya, kadi ia aman.
''Ada apa sayang,'' tanya sang mama dengan penuh kasih sayang pada Iris.
__ADS_1
''Dia mengolok olok ku ma," jelas Iris.
Mama nya yang langsung menatap Adita datar dan detik berikut nya.
Plak.
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Adita.
Adita diam.
Iris tersenyum senang.
''Bekum cukup kah selama ini kau membuat mental nya down,'' tanya sang mama pada Adita.
Adita hanya diam.
Sesuai apa yang sudah ia rencana hari ini ia akan menampung semua nya agar ia bisa pergi dengan tenang.
Adita sedang menyiapkan semua nya.
''Tapi sayang nya aku memang putih kalian,'' ucap Adita dengan kecewa.
''Akan lebih baik jika aku tidak pernah hadir di dalam keluarga ini, karena aku merasa aku lah yang benalu di dalam rumah itu, kalian menyalahkan aku dengan semua hal yang berkaitan dengan Iris yang kalian pikir kan hanya tentang iris, dan iris tidak kah kalian sedikit saja memikirkan bagaimana perasaan ku,'' tanya Adita.
''Tapi mungkin ini moment yang pas, sekarang iris sudah mengandung, dan dia akan melahirkan cucu pertama untuk kalian, maka dari itu tugas ku sebagai anak dari keluarga fanghoten sudah selesai, biar kan dia yang menjadi penerus keluarga fanghoten," jelas Adita.
Adita mengeluarkan berkas lagi.
''Ini saham ku yang sudah aku alihkan dengan nama Iris kredit aku merasa aku sudah tidak berhak dengan itu, dan ini surat mengundurkan ku dari perusahaan, dan kedepannya semoga kita masih menjadi partner yang baik, sekalipun tidak dengan status orang tua, dan anak, jaga diri mu baik baik Iris, aku menyerah semua nya untuk mu, orang tua ku, perusahaan, marga aku melepaskan semua nya, bahagiakan keluarga mu mulai sekarang, jangan bersikap seolah olah kmu yang paling tersakiti, jangan berpikir jika mereka hanya menyayangi ku, percaya lah mereka hanya memberikan ku rasa sakit yang berkepanjangan, kamu tidak perlu khawatir aku tidak akan menyinggung mu di masa depan, jika pun kita bertemu anggap lah kita tidak pernah kenal,'' ucap Adita.
Tidak ada air mata yang keluar, hanya terdengar suara yang tidak stabil.
''Aku tidak membawa apapun dari kediaman Fanghoten, dan untuk berita yang tersebar aku berani bersumpah aku tidak ada hubungan nya dengan itu, tapi jika kalian tidak percaya aku tidak apa-apa, itu sudah hal biasa.''
Dan setelah itu Adita melepaskan jepit rambut nya, dan dengan kasar ia melukai tangan nya.
__ADS_1
Dan itu membuat sang mama berteriak histeris.
''Biarkan aku pergi, biar kan aku mencari kebahagiaan ku sendiri, sudah cukup rasa sakit yang aku terima sekali ini, sudah cukup aku menanggung semua kesalahan yang tidak aku perbuat, biar kan aku bebas hanya itu yang aku minta, jaga iris dengan baik, karena jika tidak kalian akan menyesali nya, kalian sudah kehilangan satu putri hanya karena putri yang lain nya, jangan lakukan itu lagi karena aku tidak tahu dia bisa sanggup menghadapinya atau tidak.''
Saat Adita hendak pergi ia memberikan sebuah flashdisk pada sang papa.
''Itu CCTV yang ada di rumah, di dalam CCTV itu adalah kebenaran.'' ucap nya.
''Jadilah kepala keluarga yang bijaksana, dan bertanggung jawab.''
Setelah itu Adita pergi.
Dan siapa sangka di luar diri nya sudah di tunggu oleh keluarga Gunawan.
Adita langsung mendapat kan memeluk dari mereka semua.
Intan yang nangis karena melihat tangan saudara nya berdarah.
Papa Gunawan yang memeluk nya erat, dan mama Inay yang membalut nya luka nya dengan hati hati.
Dan setelah itu mereka semua pergi.
Seperti itu kah keluarga bagi Adita, ada satu untuk yang lain nya.
Saling menjaga, dan menghargai perasaan satu satu lain.
Lanjut besok ya bestie.
Jangan lupa dukungan nya lik, komet, dan vote.
Author ucap kan terima kasih pada kalian yang sudah menunggu cerita dari author sekali pun masih jauh dari kata bagus.
Ada yang kangen Arion gak?
Komet di bawah ya.
__ADS_1