
Disebuah jalan, suasana tengah ramai dengan adanya para penonton yang antusias menyaksikan balap liar dipinggir jalan. Dimana ditengah arena (jalan) sudah ada lima anak laki laki yang sudah bersiap dengan motornya masing masing.
"Ready ... Go" teriak seorang wanita seksi, melemparkan bendera balap keudara. Dan saat yang bersamaan, kelima motor itu melaju dengan kecepatan tinggi, membelah jalan tanpa memikirkan risiko yang akan terjadi.
Brumm brumm brumm
"Ryder"
"Ryder"
"Ryder"
seru penonton antusias menyemangati pria berjaket hitam dengan motor sport warna senada.
"Semangat bro" teriak Raymond sahabat Ry, menyemangati.
Ryder, pria tampan berusia 20 tahun kini sedang sibuk menyalip pembalap lainnya. Acuh pada para wanita yang dari tadi menyemangati, padahal mereka rela datang kesini hanya untuk menyemangati sang pangeran kampus.
Bukan masalah uang yang membuatnya ingin memenangkan pertandingan ini, karena keluarganya adalah keluarga terkaya di Jakarta. Tapi masalah gengsi yang sudah mendarah daging, sehingga ia hanya anggap nasihat dari Harry hanyalah angin lalu.
Bruummmm, Ryder meningkatkan kecepatan motor sportnya hingga ia berhasil menyalip Andrew, kini ia berada diposisi paling depan saat ini.
"Makan tuh asap" teriak Ryder yang kini sedang memalingkan wajahnya kebelakang.
Namun disaat ia memalingkan wajahnya, seorang pria paruh baya yang entah sejak kapan berdiri di jalan tiba-tiba....
Bruukkkk, Ryder jatuh membentur aspal. Namun ia baik baik saja karena ia memakai helm yang dirancang khusus, yang memberikannya ekstra perlindungan.
Namun ia tak yakin dengan keadaan pria paruh baya itu karena tubuh pria itu terpental membentur tiang lampu dengan cukup keras, bahkan darah mengalir membanjiri tubuh pria yang sudah tak sadarkan diri itu.
Sedangkan Andrew yang melihat itu menghentikan motornya. "Gue bantu aja dia, gimana juga kalau bukan duit dari dia gue dah mati kelaparan" gumam Andrew membuka helm dan hendak turun.
Namun niatnya terurungkan saat pembalap lain mengemudikan motornya dengan kecepatan ekstra. Yang diikuti suara sirene polisi yang makin terdengar jelas.
"ndrew bantuin gue" gumam Ryder dengan suara serak.
"Sorry Ry, gue ngak bisa bantu lo. Gue takut mendekam dibalik jeruji besi" Andrew buru buru memakai helm dan pergi meninggalkan Ryder yang tergeletak lemah masih tertindih motor sportnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ryder membuka matanya perlahan, dan terlihat wajah wajah yang begitu ia kenal sudah berdiri mengepungnya dengan raut kecewa yang terpancar jelas tertuju kepadanya.
__ADS_1
"mom, ded, brother" kata Ryder lirih, menatap satu persatu wajah kecewa, marah, sedih mereka.
Plaakkkk, tamparan keras mendarat di pipi Ryder yang baru sadarkan diri. Karena ia sempat tak sadarkan diri setelah Andrew meninggalkannya dan polisi yang membawanya kerumah sakit.
"Anak kurang ajar, sudah berapa kali daddy peringatkan. Jangan pernah ikut balap liar lagi. nyatanya apa? kau justru menyia nyiakan kesempatan yang daddy berikan! Apakah kau sedang mempermainkan daddymu?"
" dad, bersabarlah Ryder baru sadar. Jangan langsung kasar padanya" Petty berusaha menennagkan Harry meski ia sendiri juga kecewa pada anak bungsunya.
"Tidak bisa mom, anak ini harus diberi pelajaran agar tidak bertindak seenaknya" kata Harry yang tak sanggup menahan emosinya.
"daddy, daddy tenang dulu. apa yang dibilang mommy benar. lebih baik aku aja yang ngomong sama Ry" kata Alan menengahi.
"Ry gue bener bener kecewa sama lo. bisa bisanya lo tetap ikut balapan, padahal gue yakin lo masih ingat kejadian tiga bulan yang lalu diamana lo bikin anak kecil koma sampai sekarang"
"ya... ya... gue inget. di bahas terus"
"Gue bahas ini karena..."
"udahlah ngak usah dibesar besarin. lagi pula gue ngak kenapa napa. nih liat, kaki sama tangan gue ngak kenapa napa, masih bisa digerakin" kata Ryder menggerakkan tangan dan kakinya.
"lo emang ngak kenapa napa tapi orang yang lo tabrak..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Maafkan ayah nak, karena ayah tidak bisa menjaga kamu lagi" kata Eddy lirih.
"Tidak, ayah jangan berkata begitu. sebentar lagi ayah pasti sembuh" kata Alesha menggenggam erat tangan pucat Eddy yang terasa sedingin es.
"waktu ayah tingal hitungan jam, ayah berharap ada pria baik yang bersedia menjagamu untuk ayah" kata Eddy yang membuat buliran bening semakin deras membasahi wajah cantik Alesha.
"Tidak, ayah tidak boleh berkata seperti itu" Alesha menggelengkan kepalanya cepat.
Ceklek, pintu terbuka. terlihat empat orang dengan pakaian mahal masuk, terkecuali pria yang sedang duduk di kursi roda.
"ka... kalian siapa?" kata Alesha berusaha terlihat tegar, meski buliran bening tak dapat berhenti membasahi pipinya.
"Perkenalkan, saya Harry dan ini..."
"Petty" kata Eddy menatap lekat wanita paruh baya yang tadi mendorong kursi roda.
"Mas Eddy" kata Petty yang baru tahu kalau korban yang telah ditabrak putra bungsunya adalah mantan kekasihnya dulu sewaktu SMA.
__ADS_1
"Kalian saling kenal?" tanya Harry menatap istrinya penuh tanda tanya.
"ee.. iya. nanti aku ceritakan. sekarang kita fokus masalah Ryder"
"Saya sebagai orang tua Ryder, saya mohon maaf sebesar besarnya. Saya berjanji saya akan menanggung biaya rumah sakit anda sampai sembuh" kata Eddy.
"Anda tidak perlu menanggung biaya rumah sakit, karena waktu saya sudah tidak banyak"
"Lalu apa yang anda inginkan? supaya anda mau memaafkan kesalahan putra saya?"
"palingan juga minta harta yang banyak, dasar munafik" gumam Ryder yang ternyata didengar Al.
"akhh" Ryder meringis saat Al mencubit tengkuknya.
"Saya tahu permintaan yang saya ini sangat lancang. tapi tidak ada lagi yang bisa menjaga putri saya jika ssya pergi"
"Katakan saja, apa yang anda inginkan" kata Harry yang belum paham dengan maksud perkataan Eddy.
"Saya ingin putra anda bertanggung jawab dengan cara menikahi pitri saya. karena saya ingin, sebelum saya pergi ada sosok yang menjaga putri saya dengan baik" jawab Eddy lirih.
Harry menatap istrinya, yang mengangguk sebagai tanda setuju. "Baiklah, saya akan menikahkan putra saya Ryder dengan putri anda sekarang juga" jawab Harry tanpa meminta persetujuan Ryder.
"Tapi saya ... akhh" ucapan Ryder menggantung di udara karena Al menginjak kakinya.
"Maaf, kita keluar sebentar. Sepertinya kaki Ry masih sakit" kata Al yang mengerti tatapan semua orang yang tertuju pada mereka berdua.
"Berenti bang, lo apa apaan si? nginjek kaki gue segala. sakit tau" kata Ryder setelah keluar dari kamar inap pak Eddy.
"biar mulut lo ngak nerocos"
"Bodo, lagi pula gue tu ngak mau nikah sama cewek kampungan kaya dia. udah miskin burik lagi. Ngak level sama gue."
"Ngak level, ngak level. Jangan suka mandang orang dari fisik sama kasta"
"Ya terus?"
"Ya... lo kan belum kenal sama dia nih. siapa tau nanti setelah lo nikah sama dia lo bakal jantuh cinta karena hatinya dia."
"Hatinya dia? emang kenapa sama hatinya?"
"ih.. gitu aja ngak bisa mikir. Ya siapa tau dia itu cewek baik yang bakalan cintai lo dengan tulus. dan bisa ngerubah lo biar ngak berandalan lagi"
__ADS_1