Kuyup

Kuyup
Ketahuan?


__ADS_3

Ceklek


pintu terbuka, kamar tampak gelap karena lampu belum dinyalakan.


Alesha meraba tembok, berusaha mencari keberadaan sakelar lampu. Belum sempat ia menggapai sakelar, tiba tiba lampu sudah menyala menyinari seluruh isi kamar sehingga terlihat sosok laki laki tampan berdiri di dekat sakelar.


"Wahh, si cewek burik dah pulang nih. gimana, enak jalan jalannya?" Ryder melipat tangannya menatap Alesha penuh intimidasi, layaknya tersangka yang sedang di interogasi.


"Jalan jalan" dahi Alesha mengkerut tak mengerti apa yang diucapkan Ryder.


"Udah deh, lo tuh nggak usah sok lugu. gue tau kok, sebenarnya lo tadi sadar kalo gue tadi di restoran yang sama, dengan restoran kalian pacaran. terus kalian mesra mesraan bikin gue panas, dan setelah itu gue bisa ceraikan lo. Abis tuh lo bisa hidup bahagia dengan harta gono-gini yang ngak sedikit dari gue"


Alesha menggeleng cepat, "itu ..."

__ADS_1


"Itu bener? lo nggak perlu kaget kenapa gue tahu semua rencana lo? Alesha Alesha, tampangnya aja lugu, otak lebih berbisa dari ular" Ryder bertepuk tangan karena rencana busuk istrinya berhasil mengelabui semua orang. "Tapi sayang banget, gue udah tahu semua rencana busuk lo, sebelum lo dapetin harta keluarga Richardo" sambung Ryder, berjalan mendekati istrinya.


"Astaghfirullah, aku bener bener ngak ..."


"Udah deh, lebih baik lo ngaku aja. udah ketahuan masih juga ngelak"


"Sumpah kak, aku nggak pernah sedikitpun punya niat jahat sama kakak ataupun keluarga ini" Mata Alesha berembun, sangat sakit dituduh begini. padahal ia masuk kerumah ini karena Ryder yang telah membuatnya kehilangan keluarga satu satunya. tapi mengapa sekarang ia malah dituduh ingin menguasai harta keluarga ini? kalau tahu begini, lebih baik ia membawa masalah ini ke jalur hukum, tapi sayangnya Eddy menolak karena tidak mau memperpanjang permasalahan ini.


"Emang gue percaya sama akting lo? meskipun lo keluarin tangisan buaya lo seliterpun, gue nggak bakalan terpengaruh sama rayuan lo yang mematikan" Ryder berkacak pinggang, menatap istrinya penuh kebencian. "Dan gue peringatin ke lo, jangan pernah lo main main sama keluarga gue. atau lo bakalan gue jadiin perkedel"


"Ee .... itu" Ryder menggaruk lehernya yang tak gatal, mencoba merangkai kalimat yang cocok untuk dijadikan alasan. "Mampus gue, gue alasan apaan coba. pasti kalo gue jawab jujur, Al ngak bakal percaya. secara nih cewek udah ngeracunin pikiran orang-orang" kata Ryder dalam hati.


"Dasar adek laknat"

__ADS_1


"Ngak .... gue bisa jelasin, ini semua ngak kaya yang lo pikirin kok. sebenarnya ...."


"Lo emang bener bener ya. makan perkedel ngak bagi bagi. udah tahu abang lo suka banget makan perkedel" Ryder bernapas lega, ternyata Alan tak mendengar semua percakapannya barusan, namun ia berusaha agar terlihat biasa didepan Al.


"Sorry, lo lambat si pulangnya. makannya gue habisin sendiri sama bini gue. ya kan honey" Ryder memberikan kode pada Alesha. Tapi Alesha yang masih sedih, tak merespon ucapan Ryder barusan.


"Tunggu, tuh adek ipar napa? nunduk terus"


"Ngak papa, katanya kepalanya agak pusing"


"Gimana kalo gue anterin ke klinik" Alan melangkahkan kakinya masuk, berniat ingin mengantarkan iparnya ke klinik.


"Ngak usah" jawab Ryder cepat membuat langkah Alan terhenti.

__ADS_1


"Why"


"Tadi gue udah tawarin ke bini gue, katanya dia mau istirahat aja. dia juga udah minum obat" Ryder berusaha meyakinkan kakaknya, agar tak masuk dan curiga melihat istrinya menangis sesenggukan. "Semoga aja dia percaya" kata Ryder dalam hati.


__ADS_2