
Zico berbalik, mendengar suara pintu yang dibuka. "Alesha" mata Zico berbinar, karena pikiran buruknya ternyata salah. Senyum yang ada diwajah Zico, seketika redup setelah melihat wajah Alesha yang tampak pucat, mata sembab, kantung hitam di bawah mata, dan yang membuatnya semakin teriris adalah sebuah bekas luka disudut bibir wanita pujaan hatinya.
"Ada apa?"
"Ini bibir kamu kenapa? kok bisa berdarah gini?"
"Ini ..." ucapan Alesha tergantung, tak mungkin ia mengatakan jika ini adalah ulah Ryder. Kalau dia menceritakannya, yang ada Zico malah curiga kenapa Ryder bisa membuatnya terluka, bagai mana kronologi kejadiannya.
"Ini tadi jatuh di kamar mandi" jawab Alesha terpaksa berbohong. ia tak ingin memperpanjang masalah dengan memberi tahu zico.
"Ya udah gue obatin ya"
"Ngak usah, ini cuma luka kecil kok"
"Udah, lo ngak usah sungkan. mau luka kecil atau besar, harus diobati biar nggak infeksi"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Akhh ..." Alesha meringis saat Zico mengobati sudut bibirnya.
"Maaf maaf"
Alesha menatap haru Zico yang sedang mengobatinya "Andai aja kak Ryder sebaik dan setulus Zico, aku pasti bahagia. tapi sayang, kak Ry ngak pernah mengharapkan aku. bahkan menganggap aku sebuah aib yang harus disembunyikan. Selalu menghina, menacaci, merendahkan aku. tapi kenapa Zico yang orang luar begitu menyayangi aku. disaat suami aku justru membuangku bak barang tak berharga" kata hati Alesha.
Zico mengibaskan tangan didepan wajah Alesha "Alesha Alesha"
__ADS_1
"Ah iya kenapa" Alesha tersadar dari lamunannya.
"Kamu mikirin apa sih? aku perhatiin kamu kaya lagi sedih gitu. ada masalah? cerita aja"
"Ngak kok, ngak ada masalah. aku cuma rindu sama ayah aku aja" kata Alesha berdusta, tak mungkin menceritakan yang sebenarnya.
"Oh iya, aku sampe lupa. Om Eddy mana? dari tadi aku nggak lihat. Apa Om Eddy kerja? tapikan ini hari Minggu. atau lagi kerja sampingan?" Zico memborong semua pertanyaan, memang begitulah dia, bicara seperlunya pada orang lain dan mendadak cerewet jika berhadapan dengan orang yang ia sayang.
"Ayah udah ngak ada"
"Maksud kamu om Eddy ..."
Alesha mengangguk "Ayah udah pergi sebulan yang lalu"
"Sorry, aku nggak tahu. karena waktu itu aku masih di luar negeri sama mommy"
"Tapi gimana om Eddy bisa meninggal?" Alesha tak langsung menjawab, ia menimbang nimbang apakah sebaiknya ia jujur atau tidak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Duh, siapa sih yang nelfon. ganggu orang tidur aja" Ryder meraih benda pipih disaku celananya. Niat untuk merijek panggilan VC terurungkan setelah melihat siapa nama penelfon.
"Honey" Ryder merubah posisi duduknya.
"Sayang, kamu kok ngak berangkat. aku kangen tahu" kata Mora dengan nada manja.
__ADS_1
"Maaf ya honey, tadi aku kesiangan makannya aku nggak berangkat. lagian kan baru semalam kita ngak ketemu, udah kangen aja"
"Ya dong, soalnya tuh kamu ngangenin"
"bisa aja" Ryder terkekeh mendengarnya.
"Sayang, aku kok ngak boleh dateng kerumah kamu lagi sih? aku pengen kesana" rengek Mora. Ryder terdiam, memikirkan kata kata yang tepat untuk dijadikan alasan.
"Gimana kalo kita jalan jalan. kepuncak atau kemana gitu" Ryder mengalihkan pembangunan, tak mungkin jika Mora datang kesini, yang ada rahasianya yang sudah menikah terbongkar.
"Ngak, aku maunya ke mall" Mora mengerucutkan bibirnya, dan berhasil membuat seorang Ryder luluh.
"Ya udah terserah kamu aja, aku akan turutin semua permintaan kamu"
"Ya udah aku tunggu ditempat biasa ya, by" mora memutus sambungan Vc.
"Gimana ra?" tanya Jill yang sudah tak bisa membendung rasa keponya.
"Berhasil" jawab Mora girang.
"Yes" Yuri dan Jill bersorak senang.
"Eh gue jangan lupa beliin tas Gucci yang lagi viral dong ra" kata Yuri
"Gue juga, beliin heels yang lagi hits dong" Kata Jill.
__ADS_1
"Tenang aja, gue bakalan beliin apa aja yang kalian mau. selama Ryder masih digenggaman gue, semua yang gue mau bakalan terwujud" Mora tersenyum penuh arti.