
"Nggak bukan gitu, cuma dia lagi ngak mau diganggu. jadi lebih baik nanti aja mommy nemuin Alesha, biar dia bisa istirahat dulu" Ryder meyakinkan Mommynya agar tidak masuk dan melihat keadaan Alesha yang sebenarnya. "Mampus gue, semoga aja mommy percaya" kata Ryder dalam hati.
"Ya udah, kalau gitu. kebetulan mommy ada arisan, mommy harus segera berangkat" Petty bernjak pergi.
Ryder bernapas lega, karena boroknya tak terbongkar. Tangannya terulur mendorong gagang pintu, handak masuk kekamar.
"Oh ya Ry ..." Petty berbalik menaiki tangga.
Ryder cepat cepat menutup pintu itu kembali. ia berusaha bersikap tenang, seperti tak terjadi apa apa. "Ada apa mom?" "Semoga mommy ngak berubah pikiran" kata hati Ry.
"Mommy cuma mau bilang, nanti jangan lupa bilang sama sarah buat anterin makanan kekamar Alesha" Sarah adalah kepala pelayan disini, dia adalah asisten rumah tangga yang sangat profesional, tak heran jika Harry dan Patty selalu mengandalkannya.
__ADS_1
Ryder tersenyum kaku "Tanpa mommy suruhpun aku bakalan lakuin"
"Ya udah mommy pergi dulu ya"
Setelah memastikan mommynya sudah benar benar pergi, Ryder segera masuk ke kamarnya. Dia melihat seorang wanita tengah duduk memeluk lututnya, rambut acak-acakan, mata sembab, dengan kantung mata hitam, terlihat begitu menyedihkan. Tapi di mata Ryder ini hanyalah trik sandiwara agar dia iba pada gadis 19 tahun itu.
Ryder menutup pintu, meski dirumah hanya ada pelayan tapi tetap saja ia tak ingin jika ada yang mendengar percakapannya dengan Alesha.
Ryder berjalan mendekati ranjang. Spontan Alesha menjauh, bayang bayang dimana ia dipaksa melayani Ryder layaknya pemerkosaan suami istri masih menari di benaknya.
"Lo nggak perlu menghindar, semalam gue cuma icip-icip aja, karena gue penasaran" dusta Ry, jelas jelas semalam ia memaksa Alesha sampai beberapa ronde.
__ADS_1
"Lagian kalo emang gue mau ngulangin kegiatan semalam, gue juga nggak bakalan ngulangin sama lo kali, tobuh lo yang jelak dan ngak menarik itu rasanya ngak enak, nyesel gue semalam ngelakuin sama lo. jadi kagak usah kegeeran deh" sambung Ryder, yang tentu saja berdusta. karena semalam ia begitu menikmati permainan liarnya. dengan brutal ia memompa tubuh Alesha tanpa menghiraukan istrinya yang terus menangis sesenggukan, meminta secuil kelembutan darinya. tapi apa? dia malah egois mementingkan kepuasannya sendiri, tak menghiraukan betapa tersiksanya Alesha.
Karena Alesha tak merespon ucapan Ry, pada akhirnya Ryder mengambil sebuah dompet dari saku celananya. Ia mengeluarkan beberapa kertas berwarna merah. "Nih buat lo" Ryder menyodorkannya pada Alesha, tapi yang diajak bicara tak merespon.
"Kurang? nih gue tambahin" Ryder melaporkannya pada wajah Alesha. "Gue rasa uang segitu cukup lah, buat apresiasi akting lo yang gue anggap ya lumayan"
"Ngomong ngomong soal akting, kenapa lo nggak jadi aktris aja. Lo berbakat, bahkan saking berbakatnya, semua orang hampir terkelabui sama akting lo. ya hampir, karena gue ngak"
"Gue tarik kata kata gue. Kalo lo jadi aktris bisa bisa cameraman nya katarak lagi, tiap hari harus berhadapan sama lo. Ngak kebayang gimana nanti penonton tiba tiba buta setelah nonton senetron yang lo peranin" Ry berkata panjang lebar, berniat agar istrinya sakit hati dan pergi sejauh mungkin dari rumah ini. namun tetap saja tak ada respon dari Alesha.
"Mendingan gue cabut, begonya gue harus ngebuang buang waktu berharga gue sama wanita ular. ya nggak dipungkiri, anak sama bapak sama aja. sama sama penjilat ..."
__ADS_1
Plakkk