
Plakk
Ryder memegang pipinya yang memerah, ia berbalik menatap tajam Alesha.
"Wow, punya nyali juga lo"
"Aku selama ini diam bukan karena aku lemah kak, tapi aku diam karena aku menghargai kakak sebagai suami aku. Kakak boleh hina aku sepuas hati kakak, tapi jangan pernah kakak menghina orang tua aku. Mereka ngak salah"
"Jadi menurut lo gue yang salah"
"Iya, tentu aja kakak yang salah. karena kakak udah bunuh ayah aku. kakak yang buat aku sebatang kara. tapi apa? kakak malah menghina aku dan keluargaku. Seolah aku lah penjahatnya"
"Apa gue udah keterlaluan?" kata hati Ry merasa tak enak. Ry menggelengkan kepala "Ngak, gue ngak boleh kemakan sama sandiwaranya"
"Kalau kakak emang pengen aku pergi, aku akan pergi. karena memang aku nggak pernah mengharapkan pernikahan ini. aku menikah sama kakak, karena itu permintaan terakhir ayah. dan kalau kakak pengen tahu, aku juga nggak mau punya suami pembunuh kaya kakak"
Ryder melipat tangan "Bagus deh, kalau lo mau pergi. gue nggak perlu susah susah ngusir lo"
"Ya udah tunggu apa lagi? sana pergi" usir Ry karena Alesha diam saja.
Alesha menghapus air matanya kasar, ia cepat cepat turun dari ranjang untuk mengemasi semua barang barangnya meski ia tak bisa berjalan dengan baik karena selangkangannya masih perih.
__ADS_1
Sedangkan Ryder memilih duduk disofa melipat tangan, memperhatikan Alesha. siapa tahu wanita itu membawa barang barang berharga dirumah ini.
Alesha menatap sekilas pada Ryder, laki laki yang masih sah menjadi suaminya.
"Aku pergi"
"hm" Ryder menjawab tanpa menoleh.
"Hah, akhirnya ngak ada lagi yang bisa nganggu ketenangan gue. gue bebas sekarang" Ryder merebahkan dirinya di sofa dan memutuskan untuk tidur kembali, masa bodoh dengan kuliah. yang jelas ia ingin menikmati hari bahagia ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di parkiran
"Duh Alesha, sebenarnya kamu dimana si. Jam segini belum datang. mana handphonenya ngak aktif lagi" Zico mengacak rambutnya frustasi.
"Seharusnya kemarin gue langsung ungkapin aja perasaan gue ke dia, ketimbang gue uring uringan gini"
"Gue mau kok jadi pacar lo"
Zico memalingkan pandangannya, terlihat Mora cs berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Lo"
"Ya gue, gue bersedia jadi pacar lo" ulang Mora.
"Dih, siapa juga yang suka sama lo"
"Udah deh, Zi. gue tahu kok orang yang lo maksud tadi gue. secara gue adalah bidadari di kampus ini" kata Mora penuh percaya diri, tapi memang benar apa yang dikatakannya. dia adalah bidadari kampus, yang sangat digilai kaum adam.
"Percaya diri banget lo"
"Ya wajar lah mora percaya diri, diakan cewek tercantik disini" Jill membela sahabatnya.
"Terus itu cukup buat bikin gue ngelirik lo? lo emang cantik, tapi hati lo busuk"
Mora menghentak hentakan kakinya tak terima. "sombong banget lo, semua cowok disini pada tergila gila sama gue. bahkan si Ryder cowok terganteng disini bertekuk lutut sama gue. dan lo, ngak tertarik sama gue? mustahil"
"Itu dia kelemahan Ryder, bisa bisanya dia dibegoin sama cewek ular kaya lo. gue ngak abis pikir, bisa bisanya orang orang pada ngejar lo. lo pake pelet apaan sih?"
"Zico zico. gue ngak pake peletpun udah cantik sejak lahir. emang mata lo aja yang ngak bisa lihat kecantikan gue. Dan gue saranin ke lo, ketimbang lo sok nolak gue padahal mau. mendingan lo jadi selingkuhan gue. gue bakalan kasih lo jatah yang sama kaya Ryder. bedanya kita harus lakuin diam diam. gimana?"
"Iya, mendingan lo terima aja. ketimbang lo nyesel nanti" Yuri memprovokasi.
__ADS_1
"Sori ya, gue ngak bisa nerima cinta cewek murahan kaya kalian" kata Zico meninggalkan Mora cs.
Mora menghentak hentakan kakinya, penuh kekesalan. jangan panggil gue Mora Wang kalo ngak bisa bikin lo bertekuk lutut dihadapan gue. gue pastiin lo bakalan ngemis ngemis mengharap cinta gue. Liat aja nanti" kata hati Mora, menatap penuh arti punggung Zico yang semakin menjauh.