
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Kembali ke keadaan panas Hazelia Lify―sebagai 'top'―dan Whisky Woods―sebagai 'bottom' ....
"Hazelia Lify, jangan bergerak-gerak!" seru Whisk tertahan saat Haz ingin memajukan duduknya. Dia masih memegangi pinggul Haz untuk menahan tubuhnya di posisi semula.
"Kenapa, Whisky Woods? Bukankah kamu menyukai diriku?" tanya Haz dengan nada yang sangat lembut dan menggoda. Sepertinya wanita berambut panjang gelombang membiarkan Ziesya muncul dan menggoda Whisk.
"Aku memang menyukai dirimu. Tapi, aku tidak ingin melakukan hal memalukan ini dengan seseorang yang bukan istriku!"
Whisk semakin terdesak oleh perlakuan Ziesya yang mengambil alih tubuh Haz. "Sekarang, aku perintahkan untuk balik ke tempat duduk mu sebelum ada orang yang mengarahkan senter atau mengintip dari luar," titah pria bersurai kemerahan. Bukannya senang, dia malah risih. Dia tahu itu Ziesya.
Ziesya memasang tampang kecewa di wajah Haz. Dia ahli dalam dunia 'flirt' dan romantisme. Biasanya, dia membantu Fabel untuk menulis adegan-adegan panas dan romantis di novel milik Haz, Resplendent Nephila.
Benar, Fabel adalah kepribadian yang juga menuliskan cerita-cerita di dalam novel yang diterbitkan oleh Haz, terkadang wanita berambut panjang gelombang sendiri yang menuliskannya. Meski tanpa bantuan Fabel, Haz memiliki bakat alami untuk menulis cerita.
Ziesya langsung duduk manis di kursi penumpang sesuai dengan perintah Whisk. Pria bersurai kemerahan akhirnya bisa bernapas lega. Digoda sedikit lagi, Whisk mungkin akan kehilangan akal sehatnya dan langsung menyambar Haz tanpa memperdulikan di depan sana masih banyak polisi dan reporter yang berjaga. Iman Whisk kuat juga.
Untung saja Ziesya yang ada di tubuh Haz sudah duduk manis. Dan, tubuh Haz diambil alih oleh pemiliknya kembali. Ada seseorang yang mengarahkan senter ke dalam mobil. Dia tersenyum ketika melihat Haz dan Whisk yang normal-normal saja.
"Bagaimana tadi?" tanya Haz, sengaja menggoda Whisk yang terlihat frustasi.
"Buruk sekali. Aku tidak suka," jawab Whisk dengan jujur. Dia memang tidak terbiasa melakukan hal 'intens' dengan wanita. Bukan berarti dia melakukannya kepada pria. Maaf saja, pria bersurai kemerahan masih lurus dan menyukai wanita.
"Kuat juga dirimu menahan godaan, Tuan Woods," puji Haz.
Entah harus dianggap pujian atau ejekan kalimat Haz yang satu itu. Whisk hanya tersenyum canggung dan menjawab sesingkat-singkatnya, "Harus."
Haz mematahkan batang coklat yang diberikan oleh Whisk beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
"Berikan satu untukku," pinta Whisk.
Haz melirik ke arah Whisk dan memberikannya. Dia mengemut coklat dengan sangat pelan.
Suasana canggung menyelimuti mereka berdua.
"Anyway, Whisk. Aku ingin bertanya kepadamu. Tapi, aku lupa terus," kata Haz, mencairkan suasana canggung yang menyelimuti mereka. Dia tidak ingin hal itu terjadi berlarut.
"Ya? Ada apa?" tanya Whisk.
"Bagaimana kamu tahu kalau kita harus ke sini?" Haz bertanya balik kepada Whisk.
"Palang iklan itu." Whisk menunjuk ke sebuah palang iklan, lalu melanjutkan perkataannya, "Aku melihatnya di televisi Rumah Sakit tadinya. Dan, aku bisa mengingat jalan yang pernah ku lewati."
"Oh, ternyata kamu memperhatikan beberapa detail juga ya," kata Haz sambil menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja aku memperhatikan detail. Aku tidak mau merepotkan dirimu," ujar Whisk.
Whisk menerimanya dengan senang hati dan mengemut suplemen itu seperti mengemut permen. "Terima kasih. Aku masih sangat ngantuk. Makanya dari tadi aku tidak pergi dari mobil," jawab pria bersurai kemerahan.
"Ya sudah, kita di sini saja dulu selama beberapa waktu ke depan, bagaimana?" tanya Haz.
"Boleh-boleh saja, asalkan mereka yang ada di sana tidak berpikiran yang macam-macam." Whisk menunjuk ke arah kerumunan, yang dua-tiga orangnya sedang mengawasi mobil yang dikemudikan oleh pria bersurai kemerahan.
"Kita pindah tempat saja kalau begitu. Lokasi sewer juga masih dijadikan TKP. Bagaimana kalau kita pergi ke Cafe kemarin? Ini hari Jumat, setiap hari Jumat dan weekend mereka buka saat sore dan tutup di pagi hari," kata Haz, menjelaskan jadwal Cafe yang pernah mereka datangi.
"Begitu juga boleh, walau rute yang harus dilalui cukup jauh dari sini," ujar Whisk.
"Tidak masalah bagi kamu kan, Whisk?" Haz bertanya untuk memastikan bahwa Whisk baik-baik saja dan masih sanggup untuk menyetir mobil.
__ADS_1
Haz tidak bisa menyetir mobil atau menaiki kereta sama sekali. Dia hanya bisa mengayuh sepeda. Itu sebabnya dia selalu mengandalkan Jel saat kerja atau kuliah dulu untuk mengantarkannya. Sebenarnya, wanita berambut panjang gelombang pernah belajar menyetir mobil dan menaiki kereta. Hanya saja ada kecelakaan kecil yang membuatnya menjadi tidak ingin mengendarai keduanya. Jadi, dia pun lebih memilih sepeda sebagai alat transportasinya―itu jika dia ingin pergi entah kemana.
"Seharusnya tidak masalah," jawab Whisk. "Tapi, Haz, maaf jika pertanyaan ini menyinggung dirimu."
Tentu saja Haz tahu apa yang akan ditanyakan oleh Whisk. Pria bersurai kemerahan pasti akan bertanya mengapa dia tidak pernah terlihat menyetir mobil.
"Kenapa kamu tidak mencoba untuk menyetir?" tanya Whisk.
Sesuai dengan dugaan Haz, Whisk memang bertanya tentang hal itu. Dia hanya bisa menghela napas dan menjawab, "Em ... itu ... ada sebuah kecelakaan kecil yang menyebabkan aku tidak ingin menyetir. Kalau dikatakan kecelakaan kecil, juga sebenarnya termasuk serius. Hehehe."
Whisk yang mendengar kekehan Haz di akhir kalimatnya, menjadi merasa bersalah karena bertanya. Karena dia tidak tahu, dia merasa bahwa dirinya sudah menyinggung dan membuka luka lama yang disimpan oleh Haz.
"Maaf, aku tidak tahu. Tidak seharusnya aku bertanya demikian."
"Tidak masalah, Whisky Woods. Aku hanya memerlukan lebih banyak waktu untuk tidak merasa bersalah atas apa yang pernah kulakukan. Setidaknya, sekarang aku merasa lebih baik setelah mengatakannya."
"Kamu terlihat sangat kacau, Haz."
"Dan, kamu terlihat lebih kacau lagi, Whisk. Insomnia yang menyerang dirimu, apakah masih mengganggu?"
"Lapor, tidak begitu mengganggu lagi. Semenjak mengenalmu dan mencoba beberapa saran darimu, aku bisa tidur dengan nyenyak. Terima kasih, Dokter."
Haz terkekeh geli. Dia sedikit tersipu karena ternyata dia bisa berguna bagi orang lain―Haz selalu menganggap dirinya tidak berguna dan hanya bisa menyusahkan orang lain seperti yang pernah dikatakan oleh Alkaf. Dia tertunduk.
"Aku tidak membantu apa pun, Whisky Woods. Aku hanya menyampaikan apa yang orang lain sampaikan kepadaku." Haz yang masih diselimuti perkataan Alkaf yang mengatakan dirinya tidak berguna hanya bisa menolak pujian yang disampaikan untuknya.
"Hei, jangan terlalu insecure dan menganggap diri sendiri itu rendah. Kamu lebih dari itu, Haz. Kamu hebat, kamu tahu itu." Whisk mencoba untuk menenangkan Haz yang merendahkan dirinya sendiri. Dia tidak begitu suka jika ada orang yang menganggap dirinya tidak berguna bagi orang lain.
Berguna atau tidaknya, hanya orang-orang yang pernah menerimanya yang tahu. Selebihnya, seseorang harus bisa menerima pujian yang baik bagi dirinya.
__ADS_1
"Terima kasih, Whisk. Ayo pergi dari tempat ini," pinta Haz "Tatapan orang-orang itu membuatku tidak nyaman."