Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
99 : Wanita Paruh Baya


__ADS_3

#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Cyan datang dan membuka pintu kamar pasien dengan napas terengah-engah. Meskipun sempat terjafi keributan kecil antara dirinya dan polisi yang berjaga di depan ruangan, dia akhirnya bisa masuk secara paksa ke dalam sana.


Haz langsung menyuruh rekan Nich untuk tidak menangkap Cyan karena mereka adalah teman dan mengatakan bahwa Cyan adalah kekasih Zenneth.


Untungnya, rekan Nich mengerti dan segera menepi. Tidak mempermasalahkan apa yang sudah terjadi, antara dirinya dengan Cyan.


"Polisi yang menjengkelkan," cemooh Cyan dengan bibir manyun.


"Beruntung sekali kamu cepat sampai. Zenneth tidak apa-apa, hanya kehilangan darah. Terlebih golongan darahnya adalah yang paling mudah dicari," kata Haz.


"Karena kamu sudah datang, lebih baik jika kamu menjaga Zenneth. Aku akan keluar untuk mencari angin. Kamu tahu, aku tidak bisa berlama-lama di dalam sini. Terlebih lagi yang terbaring adalah orang yang ku sayangi."


Haz membuka pintu ruangan. Sebelum wanita berambut panjang gelombang keluar, dia berkata, "Aku sudah menjelaskannya secara detil melalui voice note. Buka saja chat mu."


Sosok Haz menghilang dari balik pintu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Whisk pun pamit kepada Cyan untuk menyusul Haz. Dia takut terjadi apa-apa kepada wanita itu. Jika boleh jujur, dia takut sakit hati melihat Haz dan Nich sedang berduaan membahas hal apa pun itu.


Whisk menemukan Haz di taman rumah sakit, sedang berbincang ringan dengan seorang pasien. Padahal panjang waktu Whisk dan Haz keluar tidaklah lama, tapi, wanita itu sudah mendapatkan lawan bicara saja.


Secepat apa kakinya melangkah? pikir Whisk.


Whisk mendatangi Haz dan lawan bicaranya. Dia duduk di sebelah Haz dan tersenyum hangat kepada wanita paruh baya yang menjadi lawan bicara wanita berambut panjang gelombang.


"Oh? Apakah kalian sepasang kekasih?" tanya wanita paruh baya.


"Kami teman, Bibi." Whisk yang menjawab.


"Oh, begitu ya. Padahal dilihat-lihat, kalian sangatlah manis."


Haz dan Whisk tersipu. Secara bersamaan, tentu saja.


"Terima kasih, Bibi. Tapi, kami belum ada pikiran untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius." Bohong. Whisk berbohong ketika mengatakan hal itu. Meskipun Haz belum ada pikiran untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius, tapi, dia sudah memikirkannya.

__ADS_1


Haz merasa semakin bersalah.


Whisk menepuk punggung tangan Haz untuk mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Masih ingin melakukan pendekatan ya?" Wanita paruh baya tersenyum. Dia juga tahu maksud dari perbuatan Whisk kepada Haz. Dia mengerti bahwa satu pihak belum siap untuk memiliki hubungan yang serius.


Haz dan Whisk mengangguk secara bersamaan.


"Semoga hubungan kalian bisa berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Aku bisa melihat bahwa kalian adalah pasangan yang sangat serasi. Tidak untuk sekarang. Tapi, di kemudian hari."


Sekali lagi, Haz dan Whisk merona. Hanya karena mendengar perkataan dari seorang wanita paruh baya.


"Baiklah, anak-anak muda. Terima kasih karena sudah ingin mengajak orang tua sepertiku berbicara. Aku akan kembali ke ruangan ku."


Haz dan Whisk tersenyum hangat. "Terima kasih juga, Bibi."


Sepeninggalan wanita paruh baya, Haz dan Whisk terdiam. Canggung. Tidak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


Apa yang harus kukatakan kepada Whisk/Haz?


__ADS_2