Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
89 : There's An Impostor!


__ADS_3

#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Sementara Haz menunggu di depan lift yang dikerumuni orang-orang, dia memainkan ponselnya sambil memantau sekitarnya. Dia bisa melihat kerumunan orang-orang berwajah bosan, kemudian pandangannya beralih ke arah lantai bawah dari kaca transparan. Sejauh matanya memandang, dia menemukan seseorang dengan gelagat aneh.


Apa lagi permainan yang diciptakan untukku? Orang di bawah sana terlihat sangat mencurigakan, batin Haz.


Haz berusaha mengabaikannya. Namun tetap saja dia tidak tenang.


Saat Haz melirik ke arah orang aneh itu lagi, tatapan mereka bertemu di satu titik. Sialnya lah. Orang tersebut buru-buru pergi dari tempatnya karena ketahuan. Namun Haz tidak langsung panik dan mengejarnya. Dia masih menunggu lift.


Lift akhirnya sampai di lantai tujuh. Kerumunan orang-orang keluar dari sana, banyak yang masuk hingga rasanya sempit dan sesak.


Hah ... menunggu lift memang hanya menghabiskan waktu saja. Lebih baik aku mengalah dan memakai elevator untuk turun ke lantai dua, pikir Haz.

__ADS_1


Akhirnya, Haz memutuskan untuk keluar saja dari lift. Menurutnya, memakai elevator lebih praktis. Selain tidak berebut dengan orang lain, dia juga bisa memantau sekitarnya. Jika di dalam lift, terlalu banyak orang, keadaan yang tidak begitu bagus. Bisa saja dia berada dalam bahaya dan tidak bisa kabur karena ruang gerak yang terbatas.


Yang benar saja, Haz selamat dari ancaman yang dipikirkannya. Di dalam lift ada seseorang bermasker yang menatap tajam ke arahnya seolah mengatakan pada wanita berambut panjang gelombang, "Kau beruntung."


Memang tidak boleh mengabaikan insting.


Haz menghela napas lega. Dia tidak habis pikir bahwa ada orang yang nekad melakukan aksi di depan banyak orang.


There's an impostor among us, everybody!—Ada impostor (penipu) di antara kita, teman-teman!—Untung saja aku selamat. Yang tadi itu nyaris, kata Haz di dalam hati sambil menatap ke arah pintu lift yang tertutup. Dia tersenyum dan melambaikan tangan pada orang yang menatap tajam ke arahnya.


Pintu lift pun tertutup rapat.


Hazelia Lify, kamu sudah gila. Lebih baik kamu mencari Whisky Woods di dalam Gramedia, kemudian bersama-sama dengannya pergi ke tempat Zenneth.

__ADS_1


Bohong sekali kalau mengatakan Haz tidak tahu dengan orang itu. Dia 'sedikit' takut. Barangkali saja orang itu seorang profesional, mengingat dia sudah memiliki rencana berani bermacam-macam di depan banyak orang di dalam lift.


Haz akhirnya masuk ke dalam Gramedia, menyusuri setiap lorong yang dihimpit oleh rak-rak buku yang menjulang tinggi. Akhirnya, wanita berambut panjang gelombang menemukan Whisk terduduk di ujung salah satu lorong, di sebelah tembok. Dia jadi merasa bersalah.


Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu kepada Whisk. Tapi, aku tidak bisa memberikan harapan palsu. Aku ... masih belum memiliki perasaan terhadapnya. Kemarin-kemarin, mungkin aku hanya baper, batin Haz.


Haz tidak memiliki pilihan lain selain mendekati Whisk dan bercerita kepada pria bersurai kemerahan.


"Hei!" panggil Haz sembari duduk di sebelah Whisk.


Whisk yang menemukan Haz datang, kaget. Dia langsung membenarkan ekspresi wajahnya dan berlagak biasa saja, walau tidak bisa menutupi semuanya, seperti hidungnya yang memerah.


"Eh ... em ... uh? Ada apa?" tanya Whisk gagap. "Untuk apa kamu kembali?"

__ADS_1


Aku tidak tega. Lebih baik berbohong dulu dan temani dia di sini.


"Aku hanya ingin minta maaf dan menemanimu. Maaf karena telah menyakitimu."


__ADS_2