
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Saat aku ingin masuk ke dalam lift tadi, aku melihat seseorang sudah berada di dalam sana dan mengintai diriku. Jadi, tanpa berpikir panjang, aku langsung mengurungkan niat untuk menaikkinya dan menemui dirimu," kata Haz menjelaskan.
"Jadi, maksudmu ada orang yang ingin membunuhmu di dalam lift?" tanya Whisk.
Haz mengangkat bahunya dan membalas, "Mungkin seperti itu. Gelagatnya sangat mencurigakan. Dia bahkan menatap tak suka ke arahku. Aku ingin tahu a-"
"Ah!" Sebuah teriakan keras menggema di setiap sudut ruangan. Whisk dan Haz tentu langsung kaget dan berlari keluar dari dalam Gramedia.
Saat kedua orang itu menatap ke bawah sana, sudah banyak orang yang berkerumun dan sedang memotret atau ingin membantu.
Dari mata Whisk yang bagus, dia bisa melihat kengerian. Dimana Zenneth, teman baik dari Hazelia Lify sudah bersimbah darah. Pria itu langsung melirik ke arah Haz yang juga sedang meliriknya.
"Apa itu?" tanya Haz dengan polosnya.
Mau bagaimana pun, Whisk tidak akan bisa membohonginya. Dia berada di antara dilema, ingin memberitahu Haz atau tidak.
__ADS_1
"Whisky Woods, jangan buat aku bertanya berulang kali. Apa itu?" tanya Haz, sekali lagi.
"Kamu tahu?" Whisk malah berbalik tanya kepada Haz, membuat wanita berambut panjang gelombang semakin kebingungan.
"Jika aku tahu, Whisk ... aku tidak akan bertanya seperti ini kepadamu," balas Haz. Dia memelototi Whisk, meminta penjelasan dengan apa yang sebenarnya terjadi di bawah sana.
"Itu ... Zenneth berdarah ...."
Yang benar saja, setelah Whisk mengatakan hal itu kepada Haz, mimik wanita itu langsung berubah.
Dan, seperti kehilangan akal sehatnya, Haz langsung berlari menuruni eskalator. Whisk berusaha mengejarnya, tapi tak bisa.
Whisk tahu betapa berharganya Zenneth bagi Haz. Setara dengan betapa berharganya Liulaika Jelkesya baginya. Meskipun wanita berambut panjang gelombang tidak menunjukkannya secara langsung. Bukannya dia tak bisa, tapi dia sudah terbiasa melakukannya.
Haz yang sampai di tempat yang dikerumuni orang-orang, langsung memeluk tubuh yang bersimbah darah itu. Dia tak peduli dengan bajunya yang kotor terkena noda darah.
Zenneth masih bernapas! Begitulah yang ada di dalam pikiran Haz, membuatnya sedikit lega. Namun perasaan bersalah menguasai dirinya.
__ADS_1
Tidak seharusnya kubiarkan Zenneth seorang diri seperti ini. Hebat sekali mereka langsung mengincar orang yang ku sayangi, kata Haz di dalam hati, menyesal telah meninggalkan Zenneth seorang diri. Sebenarnya, siapa mereka?
Whisk tiba di tempat itu satu menit sebelum polisi dan ambulans tiba.
Sekali lagi, polisi yang bertugas menangani kasus itu adalah Nicholas Qet Farnaz. Dia sama kagetnya seperti Haz, ketika mereka melihat masing-masing pihak. Entah itu disengaja atau tidak.
"Aku curiga, Nicholas Qet Farnaz," kata Haz terang-terangan ketika petugas rumah sakit mengangkat tubuh Zenneth ke atas tandu dan membawanya pergi.
Haz berjalan mengimbangi tandu, begitu juga dengan Nich.
"Apa yang kamu curigai, Nona Hazelia?" tanya Nich, acuh tak acuh. Dia tidak ingin menciptakan pertengkaran di tempat umum.
Sementara Haz dan Nich berada di situasi yang sangat panas, Whisk menepuk pundak Haz dan menenangkan wanita itu. Dia seolah berkata, "Pria di hadapanmu adalah seorang polisi, jangan gegabah."
Haz, yang kekesalannya sudah ada di ubun-ubun, seperti memancing Nich dengan berkata, "Kasusku, kamu yang menangani. Sekarang kasus temanku, kamu juga yang menangani. Bagaimana aku tidak curiga?"
"Pikiranmu terlalu banyak. Aku hanya kebetulan menerima panggilan. Aku tidak mungkin tidak menyelamatkan Nona ini," balas Nich.
__ADS_1
"Kecuali jika ada yang kamu sembunyikan, bekerja sama dengan orang yang ingin mengincar nyawaku atau nyawa Zenneth ku, misalnya."