
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Ada apa?" tanya Whisk dengan sabar. "Apakah Jelkesya ingin mengatakan sesuatu kepada Hazelia? Kami baru saja menyelesaikan misi tadi."
"Sekarang, berikan saja telepon ke Hazelnut. Aku ingin bicara dengannya!" bentak Alkaf.
"Apa sih masalahmu? Jika memang Jelkesya menelepon Hazelia, Hazelia dan aku baru saja sampai di tempat istirahat. Hazelia bisa menelepon balik sekarang," balas Whisk dengan nada tidak suka. Dia tidak suka cara Alkaf, jika memang benar Jel yang memiliki kepentingan dengan Haz, seharusnya dia bisa mengerti bahwa jika Haz tidak menelepon balik berarti dia sedang sibuk atau melakukan sesuatu, sehingga tidak sempat melihat ponselnya.
"Berikan saja. Jel tidak akan menerima telepon darinya lagi," kata Alkaf. Dia terdengar sangat marah dari seberang sana.
"Whisky Woods, berikan kepadaku teleponnya." Haz mengulurkan tangannya ke hadapan Whisk, meminta ponsel pria tersebut.
Whisk pun dengan enggan memberikan ponselnya kepada Haz. Dia tidak akan memberikan benda itu jika saja Haz tidak memintanya.
"Halo?" Haz langsung menekan speaker mode on dan menyapa Alkaf dengan malas. Dia sudah tahu hal ini akan terjadi. Lagi. Untuk ke sekian kalinya. Dia sudah biasa menghadapi situasi seperti ini.
"Udah bermainnya? Tahu tidak dari tadi Jelly menelepon kamu?" tanya Alkaf.
Haz bisa menebak Jel bercerita kepada Alkaf dengan air mata yang mengalir, sehingga Alkaf bisa marah seperti itu. Yang wanita itu tidak mengerti adalah kenapa seseorang suka sekali mendramatisir keadaan yang sebenarnya normal. Jika saja Jel tidak bercerita dengan air mata yang mengalir, dia tidak akan terkena amarah seperti ya ... yang sekarang dialaminya.
__ADS_1
"Sudah kubilang. Jelkesya dan pacarnya itu sama saja," bisik Zenneth kepada Cyan dan Whisk. "Ini bukan pertama kalinya Haz mengalami hal seperti ini. Aku tidak tahu berapa kali tepatnya. Tapi, mungkin sudah lima kali atau lebih."
Haz melotot tajam ke arah Cyan, Whisk, dan Zenneth yang akan memulai pergosipan yang akan menyakiti kepalanya lebih dari sakit kepalanya terhadap amarah Alkaf yang dilampiaskan kepadanya.
"Aku tidak melihat handphone. Ada apa?" tanya Haz dengan kesabaran penuh. Baru saja mood-nya kembali, sepertinya akan rusak kembali—mengingat Haz bukanlah orang yang suka dimarahi, disarankan oleh Whisk dan Zenneth saja mood-nya berantakan apalagi harus benar-benar menjadi pelampiasan amarah seseorang yang tidak memiliki kepentingan dengannya.
"Jadi, itu alasanmu? Biasanya sepanjang hari kamu melihat handphone-mu. Kenapa saat dicari-cari malah tidak melihat? Apa kamu memiliki masalah dengan Jelkesya sehingga kamu rasa kamu tidak perlu melihat panggilan telepon darinya?" sindir Alkaf.
Haz menghela napas. Dia berusaha menjawab dengan tenang, "Aku bukannya sengaja tidak melihat handphone. Seperti yang dikatakan oleh Whisk. Aku dan dia baru saja sampai di tempat tujuan dari sebuah misi. Aku belum menyentuh handphone-ku sama sekali."
"Apakah kamu masih bisa menyebut dirimu sahabatnya?"
Sindiran Alkaf makin menjadi. Padahal Haz tidak melakukan kesalahan apa-apa, selain dia tidak mengangkat telepon dari Jel yang bahkan dia tidak tahu sama sekali.
"Aku juga memiliki kesibukan sendiri. Aku juga memiliki hobi tersendiri. Apakah jika saat aku menelepon Jel dan dia tidak mengangkatnya aku menuntutnya? Aku rasa aku tidak pernah melakukannya." Haz berkata, masih bisa menahan amarahnya. Ada beberapa alasan kenapa dia berusaha menahannya: Yang pertama adalah bahwa Alkaf merupakan seniornya, orang yang lebih tua darinya, sehingga dia masih bisa memaklumi dan bersikap sopan; Yang kedua, karena dia adalah pacar seorang Liulaika Jelkesya, maka wanita itu lebih menghargai lebih dari alasan pertama.
"Kamu tahu Jel orangnya bagaimana. Dia butuh perhatian lebih dan waktu dari seseorang. Selain itu, tidak ada. Kamu juga tahu ceritanya. Kamu juga sudah berjanji kepadanya," sosor Alkaf. "Perlukah dia menangis hanya karena mengemis perhatian darimu? Kamu bahkan terlihat tidak peduli. Aku juga sudah bilang padanya menjadikan dirimu sebagai sahabatnya adalah hal yang salah. Ini buktinya."
Cukup, pikir Haz. Dia menatap dingin ke arah layar ponsel Whisk yang menyala dan tertera nama Alkaf di sana.
__ADS_1
Cyan dan Zenneth paling tahu kalau Haz sudah menatap sesuatu dengan sangat dingin seperti itu. Yang ada di dalam pikiran mereka berdua hanya satu, yaitu: Sebentar lagi amarah Hazelia Lify akan meledak, tapi dalam perkataan yang sangat tenang dan sangat menusuk.
"Jadi, maksudnya aku tidak butuh perhatian dan waktu lebih dari seseorang?" tanya Haz.
Tanpa membiarkan Alkaf menjawabnya, Haz melanjutkan, "Aku tentu saja juga butuh, tapi aku tidak pernah mengemis perhatian dari siapa pun. SEBAGAI SEORANG ANAK SEBATANG KARA, aku tidak pernah melakukannya meskipun aku membutuhkan perhatian dan waktu lebih dari orang lain. Dan, kamu bilang cerita masa lalu? Apa kabar dengan masa laluku yang tak punya ayah dan ibu? Ingin membandingkan dengan masa laluku? Ayo saja. Kalau ingin bicara, tolong otak dan hatimu dipakai ya."
"Janji? Coba janji apa yang kubuat dengan Jel? Janji bahwa aku akan selalu memberikannya perhatian dan waktu lebih? Tidak ada. Aku tidak pernah berjanji kepada orang lain tentang hal itu. Karena secara sadar, aku adalah orang yang juga membutuhkan kedua hal itu."
"Tidak peduli? Coba kita lihat siapa yang terkadang tidak peduli. Ketika seseorang itu tidak peduli, aku selalu berkata pada Jelkesya untuk sabar dan tidak mengeluh. Kalau merasa aku tidak pantas ya terserah saja. Aku juga tidak pernah memaksakan kepada seseorang untuk mengerti. Bangssat!"
Haz langsung menutup telepon dari Alkaf setelah mengatakan kata penutup yang sangat ... sangat, ya, seperti itulah. Dia berpikiran bahwa dia sudah cukup menahan diri selama ini. Dia sudah cukup dimarahi oleh Alkaf karena Jel yang tiba-tiba saja menangis saat segala hal yang berhubungan dengan dirinya tidak dipenuhi olehnya.
Haz memejamkan matanya. Saat membuka matanya kembali, air mata jatuh membasahi pipinya.
Cyan, Whisk, dan Zenneth tertegun.
Zenneth langsung memeluk Haz.
"Tidak apa-apa. Bukan salahmu. Bukan salahmu. Jangan menangis. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Dia tidak pantas. Kamu sudah benar marah padanya. Apa yang kamu lakukan sudah benar. Jangan menyalahkan diri sendiri, oke?"
__ADS_1
Zenneth menepuk pundak Haz. Dia berusaha menenangkan wanita yang sedang dipeluknya itu.
"Aku sangat sadar ini bukan salahku. Tapi, apakah aku pantas berkata kasar?"