
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Sulit sekali untuk menemukan bukti yang jelas dari sekedar hanya telepon, Jel," keluh Haz. Dia menggembungkan pipinya, kesal dengan teka-teki misterius yang baru saja didapatnya.
Lagipula, siapa Rael? Mengapa dia seperti mengenal Rael hanya dengan mendengar suaranya? Kata Andrian, suara Rael terkesan rendah dan lembut, namun di sela-sela berbicara dengan Jel di telepon, suaranya terkesan tinggi dan lembut. Wanita itu juga tidak bisa menuduh Andrian sembarangan jika begitu.
Semuanya begitu memusingkan kepala. Haz hanya berharap Whisk cepat sadar sehingga dia mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab sendiri olehnya—dia tahu Whisk melihat Rael.
Dokter yang bertugas tadi kembali keluar dari ruang UGD. "Siapa dari kalian yang merupakan wali Richard Vinzeliuka?" tanyanya menatap ke kerumunan mereka. Tidak ada yang menjawab sama sekali.
Pada akhirnya, Haz mengaitkan ibu jempolnya ke dada. "Aku," katanya. "Aku wali dari mereka berdua."
Dokter kemudian mengoceh panjang lebar soal keadaan Ric sekarang. Pria itu lebih buruk keadaannya dari yang dikiranya. "Jadi begitu," kata pria di hadapan Haz sebagai penutup.
"Mereka sudah bisa dipindahkan ke kamar pasien," lanjutnya.
Terlihat beberapa perawat pria mendorong dua hospital bed keluar UGD.
__ADS_1
Haz mengangguk singkat, paham dengan apa yang dikatakan oleh dokter. "Terima kasih, Dok, atas penjelasannya," ucapnya.
Dokter pun berlalu dari hadapan mereka bersama dua hospital bed yang menampung Whisk dan Ric. Dia akan memandu menuju kamar pasien.
Jel menggerutu, "Untuk apa kamu mengatakan kamu adalah wali dari seorang Tuan Muda Vinzeliuka?" Dia terlihat tidak senang dengan hal tersebut.
"Aku hanya menjalankan kebaikan, Nona Liulaika Jelkesya. Sekarang, dia di posisi paling membutuhkan supporter. Whisk juga demikian. Tapi, tidak akan ada yang peduli pada Ric seperti orang-orang peduli pada Whisk. Kamu kan tahu orang tuanya selalu sibuk akan berbagai macam hal, menelantarkan anak-anak mereka. Itu sungguh tidak bermoral," Haz berceramah.
"Ajarkan cara menjadi orang tua yang baik," kata Milla dengan mata berbinarnya kepada Haz.
"Lihat buku panduan menjadi orang tua yang baik," balas Haz. "Aku sering melihatnya, hingga aku muak. Semua yang ditulis di dalam hanyalah fiksi. Sebagian besar orang tua, jika ingin memiliki anak, harus paham apa itu definisi memiliki anak. Hah! Tapi, di zaman sekarang, mana ada orang tua yang menganggap anaknya sebagai manusia. Sebagian besar dari mereka hanya menganggap anak sebagai aset untuk meneruskan bisnis mereka, sebagian lainnya demi mendapatkan harta warisan dari orang tua mereka. Hanya sebagian kecil orang, yang pernah hidup susah, mendambakan anaknya menjadi seseorang yang sehat, kuat, tegar, dan panjang umur, atau setidaknya, tidak membebankan semuanya kepada mereka karena mengetahui bahwa mereka masih anak-anak. Tapi, apakah masih ada yang seperti itu? Satu banding seratus ribu. Aku bukannya menyalahkan mereka atas tanggung jawab mereka yang rendah—mengingat mereka yang mencari nafkah, tapi definisi memiliki anak adalah definisi menjadi orang tua yang baik, berlaku juga untuk orang yang akan mengadopsi anak."
"Baiklah. Tinggal menunggu kesadaran mereka saja. Jika ada apa-apa, langsung saja tekan bel di sebelah sana," kata dokter pada mereka, yang dibalas anggukan kepala dan ucapan terima kasih. Dokter pun pergi dari sana.
"Bagaimana rasanya?" tanya Haz.
Semua menoleh ke arahnya. Tidak ada yang mengetahui maksud dari wanita itu. Terkadang, dia terkesan aneh dengan pertanyaan yang dilontarkannya.
__ADS_1
"Maaf akan membuka dendam lama yang sudah terbalaskan. Bagaimana rasanya, Senor Milla?"
Milla menatap tajam ke arah Haz, walau matanya terkesan kosong karena dia adalah seorang tunanetra. Namun, Haz tahu, dia tengah mengutuk dirinya karena telah bertanya demikian.
"Aku tidak akan menganggap aku tidak bertanya apa pun. Aku itu orang yang bertanggung jawab hingga akhir. Bukankah saat kecil kamu tinggal di desa Locronan? Desa yang katanya merupakan desa terindah di Prancis, yang dibanggakan Britanny, dengan rumah-rumah megahnya yang dibangun sekitar abad ke-18. Bukankah bagimu desa itu adalah sebuah neraka?"
Mulut Milla terkatup rapat. Semua orang bisa tahu Milla sedang menahan kemarahannya, kesedihannya.
"Mademoiselle!—Nyonya!" bentak James. "Kamu membuka luka lama!"
"Dengan demikian, terjawab cara menjadi orang tua yang baik. Meski dia diperlakukan tidak baik oleh seluruh keluarganya, bukankah dia masih mencintai mereka ketika tragedi itu terjadi? Meraung seperti anak serigala yang kehilangan induknya di jalur bawah tanah atas petunjuk Mamanya," kata Haz.
"Darimana kamu tahu?" tanya Milla, menggeram marah. "Apa itu menyenangkan bagimu untuk membuka masa lalu orang lain hanya karena kamu tahu?"
Alkaf sedari tadi diam karena tahu arah jalan pembicaraan seorang Hazelia Lify. Dulu juga dia bertanya-tanya, mengapa Haz bisa tahu masa lalunya sedetail itu. Pada akhirnya, dia menemukan satu jawaban: Mata Kebenaran.
Di sampingnya, Jel juga ikutan diam. Bukan karena dia mengerti arah pembicaraan, namun karena dia tidak pernah mau belajar Bahasa Inggris. Menurutnya itu menyusahkan.
__ADS_1
"Kalau begitu, biar kukatakan padamu dengan jelas. Kamu tidak siap memiliki seorang anak pun," kata Haz. "Saranku selesai di sini. Aku sudah mengatakan, aku tidak akan berpura-pura tidak mengatakan apa pun. Aku tahu apa yang kamu pikirkan, 'Perempuan ini berbahaya. Whisky Woods tidak boleh dekat dengannya'. Oh, tentu saja. Aku tak akan mengatakan dengan kepercayaan selangit kepada kalian—Milla dan James—bahwa Whisk baik-baik saja dengan aku yang seperti ini. Kita boleh bertaruh, setelah Whisk sadar, dia akan mengalami Short-term Memory Lost atau SML yang dikenal sebagai lupa ingatan jangka pendek dalam dunia psikologi. Dia tidak akan ingat aku atau pun Jelkesya. Juga tidak akan pernah mengingat bahwa dia saat itu menemui Alkaf di bandar udara ibukota provinsi Sumatera Utara. Yang dia ingat adalah dia berada dalam pesawat dari Prancis menuju Indonesia."
Haz menarik napas sejenak. Dia mengedipkan matanya dan melanjutkan, "Aku adalah orang yang tidak memiliki hati nurani. Untuk pemindahan nama wali, kamu tenang saja, Senor. Aku tidak menuliskan namaku di atas arsip-arsip Whisk yang diberikan administrasi sana, melainkan namamu. Kamu tidak perlu repot mengecek apakah itu sebuah kebenaran atau tidak—waktumu berharga, tidak usah menyia-nyiakan untuk hal tak penting. Segera setelah Whisk membuka matanya dan kehilangan ingatannya, kamu boleh membawanya pulang ke Prancis, membuatnya seolah-olah tidak mengingat telah melakukan hal bodoh untuk seseorang bernama Hazelia Lify. Gampang sekali bukan? Aku tidak akan menyesali perkataanku sekarang. Harga diriku tinggi, aku tidak akan pernah menjilat ludah sendiri. Apa yang telah kukatakan sekarang, di tempat ini, begitulah seterusnya. Tidak akan berubah."