Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
35 : His Name is Lazul


__ADS_3

#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


[NOTE : MEREKA MEMAKAI BAHASA INGGRIS KETIKA BERBINCANG!]


Alkaf melanjutkan kembali kisah Haz kecil yang tertunda ...


Haz kecil mengambil koran dan majalah hari ini yang tergelatak di perkarangan panti asuhan. Dia menepuk-nepuk koran dan majalah, menghindarkannya dari debu. Lalu, membawanya masuk ke dalam panti asuhan.


Haz kecil meletakkan koran dan majalah di atas meja, di hadapan Tuan dan Nyonya Li. "Silahkan baca koran dan majalah hari ini jika Anda berdua bosan. Aku akan buat kopi dan teh." Setelah berkata begitu, dia bergegas menuju ke dapur untuk menyediakan kopi dan teh.


Tidak sembarangan kopi maupun teh. Kopi hitam yang akan disajikan oleh Haz kecil merupakan sebuah kopi hitam berkualitas bagus yang langsung dikirim dari Brasil oleh seorang saudagar kaya yang tak sengaja terselamatkan dari sebuah kecelakaan kecil karena kepintaran Haz kecil. Sebagai ucapan terima kasih, dia akhirnya menghadiahkan beberapa bungkus kopi Brasil. Dia juga menghadiahkan sepasang cangkir bermotif bunga mawar, yang berguna sekali sebagai wadah untuk menjamu orang-orang kaya, seperti Tuan dan Nyonya Li.


Teh yang akan disajikan Haz kecil juga bukanlah teh yang biasa disajikan di restoran bintang tiga hingga warung-warung makan kala itu, melainkan teh beraroma chamomile yang sedang marak diperjualkan di pasar. Harganya melambung tinggi selangit. Merupakan usulan darinya untuk menyediakan teh di panti asuhan, untuk menjamu tamu-tamu penting yang datang. Teh tersebut tiga hari yang lalu dibeli Bunda Shinta, dia mengocehkan harga yang mahal—padahal saat itu sudah ada beberapa lembar uang merah di tangannya, sebagai uang muka Tuan dan Nyonya Li ketika ingin mengadopsi Haz kecil, sisanya akan dibayar jika mereka sudah mendapatkan hal yang mereka inginkan.


Haz kecil pernah membaca panduan untuk membuat kopi dan teh yang benar ala restoran bintang lima. Dia mencoba meraciknya, barang kali rasanya jauh dari kata buruk.


Haz kecil membawa 'racikannya' ke ruang tamu, untuk menjamu Tuan dan Nyonya Li. Dia meletakkan masing-masing cangkir dengan keadaan terbalik—Tuan Li mendapatkan cengkir berisikan teh dan Nyonya Li mendapatkan cangkir berisikan kopi. Bukan tanpa alasan dia meletakkannya dalam posisi terbalik. Instingnya yang mengatakan untuk menempatkan cangkir pada posisi terbalik. "Silahkan."


Haz kecil kembali menyusuri ruang tamu, berpindah ke ruang belajar kakak-kakaknya di panti. Dia mengambil sebuah novel dari atas salah satu meja belajar kakaknya. Aku pinjam sebentar ya kak! gumamnya dalam hati. Lalu, membawanya ke ruang tamu.


"Hei, anak kecil!" panggil Nyonya Li saat Haz kecil sudah menempatkan dirinya di posisi duduk yang paling nyaman.


"Maaf, Lady. Namaku Hazelia Lify. Anda boleh panggil aku Hazelia atau yang lebih singkat Haz," kata Haz kecil engan kesal. Dia menatap Nyonya Li sesaat, lalu, mengalihkan pandangannya ke arah novel yang dipegangnya.


Hazelia? batin Nyonya Li. Anak tidak tahu sopan santun. Aku tak sudi punya keponakan seperti ini!


"Oh. Kamu Hazelia?" tanya Tuan Li, tidak percaya dengan keajaiban yang dilihatnya sekarang—bahwa seorang anak berusia empat tahun bisa menyeduh kopi dan teh yang disesuaikan dengan selera orang dewasa, memberikan koran dan majalah, sekarang, anak tersebut sedang membaca sebuah novel rumit karya penulis klasik terkenal JONSTEIN GAARDER, dengan teka-tekinya yang sulit dipecahkan.


"Tidak bisakah kita mengadopsi anak lain selain dia?" Nyonya Li bertanya, menggeram marah karena perlakuan Haz kecil yang dianggapnya tidak sopan, tidak pantas menjadi anggota keluarga Li.


"Bicara apa kau?" bentak Tuan Li pada istrinya sendiri. "Kau tidak memahami situasi bahwa dia adalah anak dari Jonathan Li, saudara kandungku, abangku sendiri!? Lagi pula, kita kan sudah sepakat, kita mengadopsinya hanya untuk membalas budi abang, bukan benar-benar menjadikannya anak!"


Dasar orang dewasa! Tidak bisakah mereka kecilkan volume suara mereka saat berbicara sesuatu di hadapan anak kecil yang mengerti perkataan mereka?! Atau mereka sengaja agar aku dengar itu?! batin Haz kecil dengan kesal.


Haz kecil mengabaikan pembicaraan orang dewasa—khususnya tentang bisnis—di antara Tuan dan Nyonya Li. Dia cukup tahu diri, sebagai anak kecil cerdas, dia tidak boleh mencampuri urusan orang dewasa.


Haz sepertinya membaca buku yang tepat.


DUNIA SOPHIE. Buku itu menceritakan seorang gadis berumur empat belas tahun bernama Sophie Amundsen, yang hidup normal seperti anak-anak seusianya, hingga suatu hari, dia dikirimi sebuah surat misterius yang berisi filsafat-filsafat.


Haz kecil membaca novel sampai bagian tersebut. Dia merasa, Sophie sangat mirip dengannya. Namun, dalam sisi yang berbeda.


Sophie adalah anak berusia empat belas tahun, bisa dinalari dengan akal sehat jika dia pandai, umurnya sudah mencapai usia remaja. Tapi, Haz kecil? Dia masih berusia empat tahun! Memiliki kecerdasan dan sikap dewasa seperti ini menjadi sebuah masalah yang sangat serius untuk dirinya, juga untuk orang-orang di sekitarnya.


Alkaf menghentikan ceritanya sebentar, karena dia sedang mengunyah mi ...


"Tuan Pendeta bervegetarian bukan?" tanya Andrian.


"Aku cukup pandai, tidak mungkin aku membiarkan pacarku yang satu ini makan daging ataupun bawang." Jel bahkan lebih sensitif dibanding Milla, yang ketika mendengar Haz berkata bahwa James terlibat dalam tragedi yang menimpa keluarganya, wajahnya berubah menjadi pucat pasi tanpa berkata apa pun.


"Saya tidak bermaksud menyinggung Anda, Nona," kata Andrian, mengangkat bahunya dan memasang tampang polos di wajahnya, seolah-olah dia merasa tidak berdosa.

__ADS_1


"Tak perlu minta maaf karena cepat tersinggung. Kamu akan lebih menyesal lagi ketika bertemu dengan seorang anak berusia empat tahun, dengan gaya bahasa seperti orang dewasa. Ketika kamu membuatnya jengkel, dia akan membuatmu tiga kali lebih jengkel, daripada yang kamu lakukan terhadapnya," ujar Haz. Dia sudah memakan setengah dari porsi large soba noodles yang dibeli Jel.


"Hah. Aku tidak bisa membayangkannya! Tapi, sehebat apa sih Papa dan Mamamu hingga bisa melahirkan anak semengerikan ini?" tanya James.


"Tidak hebat. Mereka hanya orang jenius yang menjadi pebisnis yang baik hati. Setidaknya, meskipun mereka mengalami kecelakaan pesawat yang tidak sengaja, mereka meninggalkanku di rumah salah satu sahabat. Mereka berjanji hanya meninggalkanku sekitar seminggu. Tapi, dua bulan mereka tak kunjung kembali. Terpaksa sahabat itu harus mengirimku ke panti asuhan, karena sudah membaca berita tentang kecelakaan pesawat yang sangat terlambat itu. Mereka masih membiarkanku hidup dengan layak. Dalam hidup, manusia hanya punya dua pilihan; jalani atau akhiri." Haz mengibas poninya yang berantakan, "cukup mudah bukan?"


"Saya merasakan firasat buruk dari perkataan Nona Hazelia ...." Andrian melirik ke arah Haz sebentar. Lalu, berpaling ke arah soba noodles-nya yang tinggal seperempat. Dia segera menghabiskan makanannya.


Whisk tidak berkomentar apa pun. Dia menunggu lanjutan cerita Haz kecil.


"Baiklah! Ayo lanjutkan!" seru Alkaf semangat. Dia sudah menghabiskan makanannya.


"Wo ... tunggu sebentar!" Milla menyela, "Apakah di sini tidak ada jadwal yang membatasi kunjungan pasien?"


"Senor, hanya sebagian kecil dari rumah sakit yang menerapkan sistem seperti itu. Kebanyakan dari mereka mengabaikannya, karena banyak faktor yang memengaruhi. Pertama, kekurangan tim medis. Kedua, jadwal tidak akan berlaku di negara berkembang, dengan orang-orang keras kepala. Sekarang, kamu paham mengenai keadaan di sini?" jelas Haz.


"Ya ampun, berantakan sekali sistem di sini!" pekik Milla


"Sebenarnya, negara ini sudah berada di zona merah. Jalanan juga sepi. Tapi, jika dipancing menggunakan umpan sedikit saja, orang-orang akan langsung berbondong-bondong meramaikan kembali kota ini. Tidak ada yang betah disuruh berlama-lama tinggal di dalam rumah," kata Alkaf.


"Sebenarnya, berkumpul pun tak menjadi masalah," Haz menghabiskan makanan berukuran porsi besarnya. Lalu, melanjutkan perkataannya, "sistem imunitas tubuh manusia bisa diperkuat dengan cepat. Namun, yang menjadi masalah sekarang adalah stok barang tersebut ada di dalam kantorku di rumah sakit sialan itu. Aku menghabiskan pengeluaran berjuta-juta dari uang yang kuhasilkan dan dengan bodoh bisa-bisanya aku meninggalkan barang berharga tersebut di dalam kantor rumah sakit. Andai saja pria brengsek ini tidak menggangguku," dia menatap ke arah Ric, orang paling menyedihkan yang terkapar di hospital bed sekarang, "aku mungkin sudah menyelamatkan dunia!"


"Oh. Maksudmu, dia yang menyebarkan berita konyol ini?" tanya James sambil memperlihatkan sebuah artikel yang sudah pernah dibaca Haz.


Haz mengangguk. "Tidak salah," jawabnya, "beruntung sekali aku bukan termasuk seseorang yang suka memendam dendam kepada orang lain sepertinya. Atau contoh lain; Thomas Bara. Aku cukup sadar bahwa aku memerlukan pundak orang lain untuk hidup—bersandar sejenak dari ujian hidup."


"Aku paham. Lanjutkanlah ceritamu, Tuan Pendeta."


Ketika Bunda Shinta pulang dari pasar ...


Kret!


Pintu panti akhirnya dibuka. Di sana, tampaklah wajah masam Bunda Shinta. Haz kecil bisa mengasumsikan bahwa Bunda Shinta mengalami kejadian yang sangat buruk di pasar tadi. Pastinya itu soal pelanggan ataupun saingan-saingan yang membuatnya kesal.


Tapi, wajah masam itu berubah menjadi ceria seketika, melihat Tuan dan Nyonya Li sudah datang dan tengah duduk di dalam. Tak tahukah dia mereka telah menunggu selama kurang lebih satu jam hanya untuk menunggu orang tak penting seperti dirinya?


Dan sekarang, dengan wajah tak tahu malunya, dia buru-buru berjalan dan duduk di hadapan Tuan dan Nyonya Li. Tanpa berbasa-basi sedikit pun, dan dengan wajah bahagianya yang menjijikan itu, dia berkata, "Kita boleh membahas lanjutan persoalan kemarin, Tuan dan Nyonya."


"Tak tahu malu sekali kau ya! Sudah membuat orang menunggu begitu lama, masih ingin mengambil keuntungan secepatnya! Wanita j*han*m!" bentak Nyonya Li. Oh, astaga ... dia mengeluarkan kata-kata yang tak seharusnya didengar oleh anak kecil!


Tapi, Haz kecil terlihat tidak masalah dengan perkataan Nyonya Li. Dia, dengan raut wajah datarnya, masih serius membaca novel karya JONSTEIN GAARDER di tangannya.


Sesaat sebelum akhirnya Bunda Shinta membentaknya untuk melampiaskan kekesalan, "Anak kecil untuk apa mendengar pembicaraan orang dewasa?! Sana pergi!"


Teriakan Nyonya Li dan Bunda Shinta cukup menjadi alarm untuk semua anak di dalam panti, memaksa mereka bangun, karena penasaran dengan keributan yang sengaja di buat—hal yang lumrah ketika seorang drama queen bertemu dengan drama queen lainnya.


"Tidak perlu teriak pun, aku ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini. Lanjutkanlah pembicaraan orang dewasa antara Anda sekalian. Usahakan tidak teriak atau anak-anak akan bangun dan buat kalian repot—aku tidak akan membantu," kata Haz. Dia, dengan buku yang masih melekat di tangan, mata yang masih terpaku pada satu objek, dan otak cerdasnya yang tengah mencerna kata-kata dalam novel, melangkah pergi meninggalkan ketiga manusia yang menetap di ruang tamu. Yang satu menatap kagum ke arah sosok kecilnya, dua lainnya merupakan orang idiot yang melanjutkan argumen tak penting mereka.


Tuan Li menatap putri abangnya kagum. Jika saja dia bisa memiliki anak seperti Haz kecil, alangkah bagusnya. Tapi, dia melihat istrinya sendiri melakukan hal tak penting di sebelahnya. Aku tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk mendapatkan anak sepintar putri abang, pikirnya.


"Bisakah kalian diam?!" teriak Tuan Li, yang terdengar sampai ke kamar anak-anak panti, juga sampai telinga Haz kecil.

__ADS_1


Dasar para orang dewasa. Sudah kuperingatkan jangan buat keributan. Mereka masih saja tidak dengar perkataanku! batin Haz kecil.


Haz kecil mengabaikan apa yang akan terjadi di tempat itu, dipenuhi berbagai pasang mata anak kecil yang membuat mereka merasa tak nyaman. Dia lebih memilih menyantaikan dirinya di bangku meja makan.


"Hazelia?" Sebuah suara memanggilnya. Itu Lazul.


Di panti asuhan, yang menjadi pengurus selain Bunda Shinta, adalah Lazul. Sayangnya, Lazul akan pindah ke New York. Dia mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di sana. Betapa beruntungnya dirinya!


"Selamat pagi, kak Lazul. Abaikan keributan yang ketiga manusia besar buat, mereka akan marah pada kakak jika ada di dekat sana. Oh ya, aku pinjam ini ya!" Haz kecil menunjukan buku milik Lazul, yang trngah dibacanya.


Lazul mengacak-acak rambut Haz kecil. "Untukmu saja, Hazelia. Aku sudah selesai membacanya."


Benar kata Haz kecil, semenit kemudian, mereka mendengar bentakan Bunda Shinta dan tangisan beberapa anak.


"Biarkan saja kak. Dia yang mulai, dia juga yang harus akhiri," kata Haz kecil pada Lazul.


"Benar. Tapi, mereka tidak memiliki kepandaian seperti Hazelia. Ayo! Bantu kakak ya?" bujuk Lazul.


Lazul paham sekali mengapa Haz kecil tidak menyukai Bunda Shinta. Mana ada orang yang ingin seenaknya diperlakukan seperti barang, bahkan seorang anak kecil pun paham. Melakukan transaksi jual-beli pada seorang anak? Itu sungguh tidak bermoral.


"Hah ... baiklah. Karena kakak yang minta, aku akan bantu. Ayo!"


Suasana di ruang tamu sangat ricuh. Bunda Shinta memarahi anak-anak yang menangis, membuat tangisan mereka kian menjadi. Lazul menghela napas panjang melihat suasana seperti itu. Haz kecil memasang tampang datar.


Lazul mencoba menenangkan Bunda Shinta, sedangkan Haz kecil menggiring anak-anak yang menangis dan yang masih menguping masuk ke dalam kamar mereka.


Haz kecil meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya. "Shttt!" Dia mengisyaratkan kepada anak-anak yang masih menangis dan yang lainnya untuk diam. "Nenek sihir akan tangkap kalian kalau kalian ribut."


Ajaib sekali, yang menangis, langsung terdiam. Yang takut, langsung penasaran.


"Kita main nenek sihir dan anak-anak ya," ajak Haz kecil.


"Ayo!" seru anak-anak lain semangat.


Lazul masuk ke dalam kamar setelah urusannya dengan Bunda Shinta selesai.


"Kak Lazul jadi nenek sihirnya!" seru Haz kecil.


Anak-anak langsung berpencar dan tertawa riang.


"Sembarangan! Kakak jadi kakek sihir dong! Masa nenek sihir?" canda Lazul.


"Kakak harus tangkap kami! Kami itu anak-anak," kata Haz kecil.


Kembali ke kamar pasien ...


"Singkatnya mereka memainkan permainan konyol itu untuk menyenangkan anak-anak kecil lainnya," ujar Alkaf.


Selama nostalgia tentang masa kecilnya, Haz tersenyum mengingat dia dan Lazul bermain dengan anak-anak lain. Wajah tampan pria berdarah Dayak kental itu masih terpapar jelas di dalam ingatannya. Pasti kak Lazul sudah berkeluarga di New York sana, pikirnya.


Haz tertawa ketika film bernuansa sephia itu terputar di kepalanya; Dia berlari dari kejaran Lazul dan pada akhirnya tertangkap dan diberi hukuman, digelitik.

__ADS_1


"Hazelnut? Sehat?" tanya Alkaf ngeri, melihat Haz tertawa sendiri.


"Sehat, sehat sekali, Alkaf ...."


__ADS_2