
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Akan pergi berkencan dengan Whisky Woods?" tanya Zenneth ketika mendapati Haz senang menatapnya dari ambang jalan masuk ke dapur yang tidak berpintu.
"Hanya makan malam biasa. Setelahnya, kami akan pergi ke sewer untuk mendapatkan beberapa informasi dari sana—menurut arahan dari Tyas Reddish," jawab Haz.
"Kamu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tyas Reddish?" Zenneth mengambil sekotak susu coklat dingin dan sebuah gelas kaca. Dia menuangkan susu ke dalam gelas dan meneguknya dengan cepat sambil menatap Haz yang memandangi kotak susu coklat dengan perasaan tidak suka.
"Aku harus pergi melihat-lihat," kata Haz.
"Aku memang mendapatkan beberapa sinyal dari sewer," ujar Zenneth. Dia menuangkan susu coklat ke gelas lagi. "Tapi, aku merasa itu hanyalah sinyal palsu. Akan ada bahaya yang menimpa kalian jika kalian benar-benar pergi ke sana. Meskipun hanya perasaanku saja, tapi setidaknya berhati-hatilah."
"Tentu saja aku akan berhati-hati. Aku juga tahu Tyas Reddish itu mantan narapidana. Jika saja dia berani bermacam-macam, aku doakan semoga punggungnya tidak akan sembuh dalam jangka waktu bertahun-tahun," kata Haz. Dia cukup yakin untuk pergi ke sewer.
"Terserah kamu saja, Hazelia Lify. Jika ada apa-apa, jangan lupa untuk langsung kabur." Zenneth memperingatkan.
"Sinyal apa yang kamu dapatkan dari sewer?" tanya Haz. Dia ikut-ikutan mengeluarkan susu low fat dari kulkas dan menuangkannya ke gelas. Dia tergoda ketika melihat Zenneth sudah meneguk dua gelas.
"Tidak begitu jelas. Mungkin sinyal radio? Atau komputer? Yang jelas aku akan mencari tahu apakah itu rekayasa atau bukan. Aku akan memberitahumu paling lama jam sembilan malam ini," jawab Zenneth.
Haz menatap Zenneth dan berkata, "Terima kasih. Kamu memang bisa diandalkan, Zen."
"Tentu saja. Sudah berapa lama kamu mengenalku? Apakah aku adalah orang yang tidak bisa berbuat apa-apa sama seperti orang yang kamu anggap sahabat itu?" Zenneth menyindir Jel terang-terangan.
"Tidak ada yang salah dengan Jelkesya." Haz membela Jel. Dia sudah mengenal Jel semenjak Taman Kanak-Kanak. Dia juga bisa memaklumi sifat Jel yang mungkin sedikit manja. Tidak semua orang bisa cocok berteman dengan Jel.
"Kamu akan mengerti kenapa aku tidak menyukainya, meskipun bukan sekerang. Tapi, beberapa hari atau beberapa minggu lagi, kamu akan mengerti. Dia hanya akan mengecewakanmu sebagai seorang sahabat," kata Zenneth.
"Aku sudah memperingatkanmu. Jadi, jangan salahkan waktu ataupun keadaan. Apalagi menyalahkan diri sendiri. Kamu adalah orang yang suka menyalahkan diri sendiri jika ada hal yang terjadi dan tidak berjalan sesuai harapan," lanjut Zenneth.
"Jika ada hak yang berjalan tidak sesuai harapan, itu adalah resiko yang harus ditanggung. Mungkin aku melakukan kesalahan yang tidak seharusnya kulakukan," ujar Haz sambil memasukkan kembali kotak susu ke dalam kulkas.
"Kesalahan itu sebenarnya bagus. Itu membuktikan bahwa seseorang setia atau tidak. Tulus atau tidak. Percayalah, Hazelia Lify. Liulaika Jelkesya, meski telah membantumu dulu, tidak selamanya dia itu baik. Akan ada saatnya dia mengkhianati dirimu," kata Zenneth.
"Aku akan memikirkan rasa sakitnya ketika aku mengalaminya. Setiap orang pasti akan pergi pada akhirnya. Aku tidak akan melarang jika itu adalah yang terbaik untuk Jelkesya," ujar Haz. "Sekarang sudah jam lima sore. Aku akan pergi bersiap-siap dulu. Kamu juga, sekali-sekali ajak Darren jalan-jalan. Kalian pacaran, tapi tidak terlihat seperti orang berpacaran."
__ADS_1
"Bagaimana mengajaknya jalan-jalan? Kamu kan juga tahu dia sedang sibuk belajar menjadi dokter. Sudah cukup mendapatkan penolakan setiap kali aku mengajaknya keluar. Dia bahkan berkata bahwa aku mengganggu konsentrasi belajarnya." Zenneth berkata dengan kesal.
"Aku mengerti. Tidak mudah mendapatkan perhatian dari orang dingin seperti Darren. Lalu, kenapa kamu masih ingin melanjutkan hubungan dengannya?" tanya Haz.
"Tidak ada alasan khusus. Sudah, kamu mandi sana. Aku tidak ingin disalahkan olehmu karena kamu keasyikan berbicara denganku. Hus! Hus! Pergi sana!"
***
Ponsel Haz berdenting nyaring ketika dirinya sedang mengikat rambutnya dan berkaca di depan cermin. Ada sebuah pesan yang masuk ke dalamnya. Dia pun melihat layar ponselnya yang hidup. Tertera jelas nama Whisk di sana.
~
Whisk: Apakah kamu sudah selesai berdandannya, Lady?
~
Haz mengabaikannya karena terlalu sibuk mengikat rambutnya sendiri. Wanita itu harus mengulang kembali dari awal jika ikatan rambutnya terlepas.
~
~
Haz memutar bola mata malas. Dia kembali menatap pantulan diri di cermin. Ayo Hazelia Lify, sedikit lagi kamu akan berhasil merapikan rambutmu! batinnya menyemangati diri sendiri.
"Akhirnya!" Haz berteriak kegirangan ketika dia berhasil mengikat rambutnya dengan pola yang cukup rumit namun unik.
"Kecilkan suaramu Hazelia!" seru Zenneth dari luar sana tepat beberapa detik setelah Haz berteriak.
"Iya!" Haz balas berseru.
Haz langsung menyambar ponselnya dan membalas pesan dari Whisk.
~
Haz: Apa? Aku baru saja selesai.
__ADS_1
~
Tidak sampai tiga puluh detik, sebuah balasan langsung masuk ke ponsel Haz dan dia langsung membacanya.
-
Whisk: Aku tahu.
(Whisk sedang mengetik ....)
Whisk: Kamu berteriak kegirangan seperti orang gila.
Whisk: Aku sudah ada di depan bersama dengan Zenneth.
Whisk: Aku juga tahu kamu sedang mengikat rambutmu tadi.
Whisk: Aku hanya ingin menggoda dirimu saja.
~
Sialan! Ternyata sedari tadi dia sudah tahu bahwa aku seperti orang gila yang sedang menata rambut, batin Haz.
Haz menyambar tas ransel mini yang sudah diisi baju ganti pilihan Zenneth dan beberapa barang berguna lain. Dia langsung berlari-lari kecil dari kamar menuju ke ruang depan.
Ketika sampai di ruang depan, Haz bisa melihat Whisk dan Zenneth sedang duduk dan bercengkrama ringan.
"Itu pacarmu sudah selesai. Berteriak kegirangan seperti orang gila di kamar hanya karena menata rambutnya yang sulit dibereskan itu." Zenneth meledek Haz, sebagai tanda bahwa dia akan mengakhiri percakapannya dengan Whisk saat itu juga.
"Ya. Aku tahu. Dia memang gila, tapi itu yang membuatku semakin suka padanya," gombal Whisk.
"Kamu menjijikkan. Sudahlah. Jangan memamerkan kemanisan kalian kepada orang jomblo yang satu ini. Aku juga ingin bahagia dengan diriku sendiri. Oh ya, jangan lupa kalian boleh pergi ke sewer ketika aku sudah memberitahu kepada kalian sinyal apa yang kudapat dari tempat itu," kata Zenneth.
"Kamu," kata Zenneth sambil menunjuk kepada Whisk. Dia menatap tajam. "Harus menjaga si nakal keras kepala yang satu ini untuk tidak memaksamu pergi ke sewer sebelum ada pernyataan dariku. Awas saja kalian berdua jika berani-beraninya pergi ke sana tanpa seizin diriku. Akan ku tandai kalian berdua, terutama kamu Hazelia Lify."
Haz terkekeh gugup.
__ADS_1
"Baiklah. Akan ku jaga iblis kecil ini. Aku dan dia tidak akan pergi ke sewer sebelum ada aba-aba darimu, Miss Zenneth."