Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
160 : Krisis Kepercayaan


__ADS_3

#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Kamu tak perlu takut," Whisk menepuk pelan pundak Haz untuk meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja. "Aku yakin dengan keputusanmu. Maka dari itu, kamu juga harus percaya dengan pilihanmu sendiri."


"Fanolize, kamu adalah seorang detektif, kamu pasti mengerti perasaan ketika rekanmu adalah seorang penjahat. Atau, bicaralah mengenai keluargamu sendiri," kata Haz. "Begitu pula dengan perasaanku saat ini. Aku tahu Nich adalah orang baik. Tapi, selalu saja ada hal tak disangka yang muncul ketika kita mempercayai seseorang. Yang salah di sini adalah adanya krisis kepercayaan."


"Haz, aku mengerti!" bentak Whisk. "Justru karena aku mengerti…, justru aku mengerti perasaan itu, makanya aku berani mengatakan kepadamu untuk tidak perlu takut."


"Kamu mungkin berpikiran, 'Oh, dia adalah orang yang tidak bisa dipercaya', atau 'Oh, lihatlah dia, akhirnya mengakui sebuah kebenaran yang mengerikan juga'. Tapi, tidak ada salahnya percaya sekali lagi kepadanya."


"Kita bisa mengirimkan berkas-berkas ini tanpa ketahuan oleh keluarga Hassan. Apa pun yang terjadi, apa pun yang dipilih oleh Nicholas, itu merupakan urusannya. Setidaknya kita sudah berusaha, Haz," Whisk tampak menunjukkan betapa emosionalnya dirinya. Karena dia sudah mengalaminya, dan dia menyesalinya, maka dari itu, dia tidak ingin ada Detektif Whisky Woods gagal yang kedua. Bedanya, ini adalah Hazelia Lify, orang yang sangat disukainya.


"Aku tidak akan membuat kamu menyimpang dari niat awalmu, Haz. Lakukan saja, kirim berkas data itu ke kantor polisi," bujuk Whisk. "Masalah Nicholas ingin membuangnya atau membakarnya, atau lebih baik lagi, menggunakannya, semua bergantung pada dirinya sendiri. Yang penting kamu sudah memenuhi tugasmu."


Haz terdiam selama beberapa saat. Dia sedang berpikir bagaimana baiknya. Melakukan seperti yang dikatakan oleh Whisk, atau egois dengan pendiriannya sendiri.

__ADS_1


"Baiklah," Haz berkata pada akhirnya. "Aku akan melakukan seperti yang kamu katakan, Fanolize. Terima kasih karena sudah memberikan saran yang bagus."


Whisk tersenyum, kemudian menepuk pelan kepala Haz. "Karena kamu sudah mengatakan kamu akan mengirimkan datanya untuk Nicholas, maka kirimkan saja dengan menggunakan driver online. Kita tidak perlu bertatap muka lagi dengannya," usulnya.


Haz menganggukkan kepalanya dan meminta Whisk untuk mengambil ponselnya. Dia mengirimkan pesan untuk Nich. Sebelumnya, dia membuka blokir kontak terlebih dulu.


「Hazelia Lify : Aku akan mengirimkan data yang telah kami kumpulkan. Terserah kamu ingin membuangnya, membakarnya, atau menggunakannya dengan bijak. Pilihan ada di tanganmu. Jika kamu merasa kalau kamu adalah polisi yang baik, maka begitulah kamu. Dan, jika kamu merasa kalau kamu adalah polisi yang buruk, maka begitulah juga kamu. Sampai jumpa kembali, Nicholas.」


"Kamu pasti pernah mendengar deretan kalimat oleh Jonstein Gaarder ini, Haz. Spesies kita memiliki ketertarikan aneh terhadap kata 'terakhir' dan 'hilang'. Asyiknya suatu pengalaman yang masih dapat dinikmati generasi-generasi mendatang sama sekali tidak sebanding dengan melihat sesuatu yang tak lama lagi bakal hancur. Dia yang terakhir melihat, akan melihat yang terbaik. Sama seperti anggota keluarga yang berkabung berdebat tentang siapa yang terakhir berbicara dengan sang almarhum. Aku sebenarnya kurang setuju. 'Melihat sesuatu yang sebentar lagi akan hancur' itu adalah sebuah pengalaman. Kemudian dia mengatakan bahwa itu 'tidak sebanding' padahal dia sudah mengatakan kalau 'generasi mendatang bisa menikmati pengalaman itu'," Whisk terkekeh pelan. Kemudian melanjutkan, "Mungkin tidak asyik baginya karena dia sudah pernah mengalaminya satu kali. Tapi bagi generasi mendatang, itu juga akan menjadi sebuah pengalaman yang tidak terlupakan. Aku memikirkannya ketika sedang menaiki pesawat dari Paris ke Indonesia. Lebih tepatnya, ke Kualanamu, Medan. Aku pernah mengalaminya, melihat 'sesuatu yang sebentar lagi akan hancur'. Bagiku, itu adalah pengalaman sudah yang terjadi berulang kali selama aku menjadi seorang detektif. Kamu akan mengetahuinya jika benar-benar berniat menjadi seorang detektif, Haz."


"Hazelia Lify, apa yang kamu pikirkan tentangku?" tanya Whisk. Mendadak sekali, seperti sebuah quiz dadakan saja.


"Entahlah. Tapi ada satu hal yang pasti, yaitu: kamu tidak ingin menerima dirimu yang sebenarnya," jawab Haz. "Kamu tahu, Fanolize? Kamu akan lebih menghargai jika kamu bisa menerima sisi terburukmu, Fanolize Jacqueline Rosewoods, yang terus-terusan kamu hindari dengan alasan bahwa kamu bisa menciptakan yang terbaik dari Whisky Woods. Pemikiran itu sama sekali salah. Kamu tidak akan pernah terlepas dari lingkaran setan yang kamu buat untuk dirimu sendiri. Sama seperti perkataanmu, aku sudah pernah mengalaminya. Jadi, aku tidak berbohong atau menyesatkanmu."


"Aku hanya belum ingin mengakuinya, Haz," kata Whisk.

__ADS_1


"Makanya… makanya kamu harus mencobanya, Fanolize…," Haz meyakinkan Whisk. "Cobalah untuk hidup sebagai Fanolize. Kamu adalah berkah—setiap orang adalah berkah," dia menggenggam erat tangan Whisk.


"Aku tidak percaya pada Fanolize Jacqueline Rosewoods, Hazelia. Aku tidak bisa percaya kepadanya," Whisk masih teguh pendirian, tidak ingin mengakui kebenaran akan dirinya sendiri.


"Tidak akan ada orang yang percaya kepadamu kalau kamu terus seperti ini, Fanolize. Aku pun begitu. Selain aku, masih ada James Stetson dan Whitney Carmilla Walker. Selebihnya, ada Liulaika Jelkesya dan Alkaf Houka. Menurutmu, apakah kami bisa sepenuhnya percaya denganmu jika saja kamu tidak percaya sepenuhnya dengan dirimu sendiri?" tanya Haz, setelah menjelaskan panjang lebar. Sebetulnya, dia lelah dan tidak suka dengan orang yang tidak bisa mempercayai dirinya sendiri. Di sanalah krisis kepercayaan itu muncul. Di satu sisi, dia menyadarinya beberapa saat yang lalu, ketika Whisk berceramah panjang tentang pilihan yang harus diambil olehnya. Namun di sisi lain, dia juga tahu kalau pria bersurai kemerahan sedang memiliki krisis kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Dia hanya ingin membantu. Namun Whisk begitu keras kepala. Jika saja dia sedang berada dalam mood yang tidak baik, rasanya dia ingin meninggalkan Whisk seorang diri saja.


Kabar buruknya, Haz memang sedang dalam keadaan mood yang tidak bagus akibat mood-swing yang dimilikinya. Namun, kabar baiknya, dia sama sekali tidak akan meninggalkan Whisk seorang diri merenung di ruang kerjanya yang dingin itu—selama pria itu ingin berusaha untuk mempercayai identitasnya sendiri.


Haz tahu kalau tidak mudah bagi orang yang membenci identitasnya sendiri berubah seratus delapan puluh derajat secara langsung. Namun pikirkanlah hal terbaiknya, Whisk tidak perlu hidup dengan krisis kepercayaan terhadap diri sendiri lagi.


Haz hanya ingin Whisk bisa keluar dari lingkaran setan yang membuatnya mengalami krisis kepercayaan atas jati diri. Seburuk apa pun jati diri seseorang, pasti ada hal baik yang mengikutinya dari belakang.


Haz ingin percaya kepada Whisk jika pria itu ingin percaya kepada dirinya sendiri. Namun dia tidak ingin hal itu menjadi dorongan bagi Whisk untuk 'terpaksa' mempercayai diri sendiri, hanya karena menyukainya.


Segala hal harus dimulai dari diri sendiri untuk membuahkan hasil yang baik.

__ADS_1


__ADS_2