
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
[Hazelia Lify]
Haz mendobrak masuk ke dalam rumah berpagar hijau yang berada tepat di seberang rumah sakit, milik Zenneth. Dia terlihat tidak sabaran dan siap untuk memulai perburuan barang bukti yang berada tepat di tempat pembuangan. Dia harus mengambilnya sebelum barang bukti tersebut dihancurkan dan digiling hingga menjadi bubuk-bubuk tak berguna.
Haz melihat Zenneth sedang duduk santai di atas sofa mini kesayangannya sambil menikmati drama dari televisi yang menyala dan memakan camilan. Sungguh santai hidupnya.
Lalu Haz melemparkan pandangan pada sisi lain ruangan. Tepat di sudut sebelah kiri sana, sudah terpapar tas olahraga mini, sebuah sepeda, setelan pakaian olahraga yang ketat dan menarik perhatian, serta wig pirang yang dikuncir dua.
Haz tidak jadi marah atas kesantaian Zenneth.
"Tumben sekali," celetuk Haz pada Zenneth. "Biasanya kamu tidak akan secepat ini menyediakan barang-barang yang ku minta, apalagi jika waktunya terlalu terpepet."
"Selesaikan misimu. Jangan ganggu aku." Begitu kata Zenneth. Dia melambaikan tangannya kepada Haz tanda dia tidak ingin mendengar apa yang akan keluar dari mulut Haz selanjutnya.
"Terima kasih."
Haz mengambil perlengkapan yang disediakan oleh Zenneth, pergi ke kamar ganti, lalu pergi begitu saja. Tak lupa dia menutup kembali pintu rumah, atau lebih tepatnya kantor, Zenneth.
Si gila itu ... batin Zenneth menatap kepergian Haz, semoga saja dia tidak melakukan hal yang dapat membahayakan dirinya sendiri.
Bak seorang turis asing, Haz mengayuh sepedanya melewati jalan yang disesaki oleh mobil-mobil dan sepeda-sepeda motor. Padahal di masa itu masihlah masa pandemi. Namun orang-orang kelihatan tidak sabar sekali untuk berpergian. Wajar saja, tidak ada yang ingin dikurung di dalam rumah. Pastilah sangat membosankan.
Dengan menggunakan headset wireless, Haz mendengar lagu-lagu slow yang disukainya. Perhatian orang-orang tertuju padanya. Itu membuatnya tidak nyaman, tapi dia sadar bahwa setelan yang dikenakannya terlalu terbuka.
Haz mengabaikan tatapan dan pikiran orang-orang.
Aku bisa sakit kepala jika tahu apa yang mereka pikirkan. Kemampuan perkiraan ini sudah melewati batasannya ....
__ADS_1
Ban sepeda menimbulkan suara decitan yang cukup keras ketika Haz menekan rem nya. Wanita itu melihat gerbang tinggi yang sudah tua yang berada tepat di hadapannya. Dia mengembuskan napas panjang.
Seandainya kejadian drama ini tidak menimpaku, aku lebih memilih untuk bersantai di rumah, menikmati secangkir teh hangat, dan menonton drama, pikir Haz.
Haz memarkirkan sepedanya di balik sebuah pohon dengan batangnya yang besar dan lebar. Selesai melakukannya, wanita itu melihat kompas dari ponselnya. 256° Barat. Begitu yang tertera di layar ponselnya saat mengarahkannya ke arah pintu gerbang tua yang sudah berkarat.
Baiklah. Ayo mulai!
Haz mengenakan sarung tangan karet yang disediakan di dalam tas olahraga mini yang diberikan oleh Zenneth untuknya. Dia melihat ke arah pagar yang menjulang tinggi, lalu tak sengaja melihat sebuah lubang di sisi lain pagar yang cukup untuk dimasuki oleh pria dewasa berbadan bongsor seperti Thomas Bara.
Haz jadi curiga bahwa si kembar Rika dan Riko sudah tahu bahwa dia akan ke tempat pembuangan. Dia lebih memilih untuk memanjat pagar daripada masuk melalui lubang itu.
Suara bedebum yang cukup keras berbaur dengan suara mesin-mesin pemotong dan pembakar di tempat pembuangan, sehingga ketika Haz mendarat tidak terdengar apa pun yang akan menarik perhatian.
Haz melihat truk pembuangan sudah ada di sana. Ini sekitar pukul tiga di sore hari. Truk akan berangkat lagi saat pukul empat, dan wanita berambut panjang gelombang harus segera menemukan barang bukti.
Haz mengingat rute-rute yang digambarkan oleh Zenneth dengan jelas di dalam sebuah peta mini. Dia tidak membawa peta itu. Dia dapat mengandalkan ingatannya.
Aku berharap aku bisa keluar dari tempat ini secepatnya, pikir Haz. Aku butuh refreshing. Menelepon si manusia menyebalkan itu adalah pilihan terbaik. Dia mengerti apa yang kuinginkan. Sebelum itu aku harus memberitahunya bahwa si sialan Nicholas Qet Farnaz atau siapa pun namanya itu adalah bagian kelompok si kembar. Beruntung sekali Tyas Reddish ada di pihak kami.
Haz mengeluarkan ponselnya dan memainkan jemarinya di atas layar. Dia mengirimkan pesan untuk Whisk.
~
Haz: Setelah kamu pergi, aku mendapat sebuah jawaban dari Tyas Reddish.
Whisk: Apa yang kamu dapat?
Haz: Sesuatu yang mengejutkan.
__ADS_1
Haz: Tentu saja.
Haz: Aku tahu kamu berniat datang kembali saat malam hari dan itu adalah sebuah keputusan yang sangat bagus. Sekarang, cepat-cepat pergi dari sana.
~
Apa sekalian ku telepon saja?
Akhirnya, Haz pun memutuskan untuk menelepon Whisk. Beberapa detik kemudian, teleponnya diangkat oleh pria di seberang sana.
"Kamu sudah pergi dari sana?" Haz langsung menyambar ketika Whisk mengangkat teleponnya dari seberang sana.
Suara mesin-mesin di sini mengganggu sekali, pikir Haz sambil memutari gunungan sampah yang tidak dipisah sekali antara sampah basah dan kering. Astaga, bagaimana cara menemukan benda itu jika seperti ini? keluhnya.
"Aku baru saja pergi dari apartemen. Ada apa?" Suara Whisk yang khas terdengar dari telepon. Haz memakai headphone, tetapi suara deru mesin pemotong dan pembakar di tempat pembuangan masih bisa terdengar di telinganya.
"Jangan ke sewer dulu," kata Haz, "lihatlah di belakang mobilmu. Pasti ada yang mengikuti. Lebih baik kamu mengajak Alkaf dan Jelkesya pergi ke kafe atau kamu sendiri pergi ke sana. Dia tidak akan berani beraksi ketika berada di tempat dengan banyak orang."
Haz memicingkan mata ketika dia menatap punggung seseorang dari kejauhan. Kemudian dia menyadari sesuatu. Firasatnya benar ketika akan masuk ke dalam tempat pembuangan. Si kembar Vinzeliulaika telah merencanakan semuanya. Itu Thomas Bara!
"Langsung saja ke intinya, Hazelia Lify. Apa yang kamu tahu?" tanya Whisk.
"Oh tidak!" seru Haz. Dia langsung menunduk dan bersembunyi di balik gunungan sampah-sampah.
"Ada apa?" tanya Whisk.
"Thomas Bara ada di sini. Sial sekali. Dua rubah berkulit anjing pelacak itu benar-benar memperhitungkan segalanya," jawab Haz sambil mengintip. Dia bisa melihat Thomas Bara celingak-celinguk, sedang mencarinya.
"Apakah kamu baik-baik saja?"
__ADS_1
Haz tidak membalas pertanyaan konyol Whisk. Tentu saja dia tidak baik-baik saja! Namun ada satu hal yang membuat Haz tenang, yaitu: Whisk membukakan lagu jazz milik Olivia Ong untuknya.
Terima kasih, pria menyebalkan! gumam Haz dalam hati. Dia tersenyum dan bersyukur ada yang mengerti dirinya. Benar, yang paling dia butuhkan adalah lagu yang mengalun tenang sekarang.