Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
132 : Kekacauan Menjadi Semakin Parah


__ADS_3

#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Keadaan Hazelia Lify di dalam mobil, ditemani oleh teman-teman imaginer-nya yang juga berusaha untuk membujuknya berbaikan dengan Liulaika Jelkesya ....


Haz memainkan ujung-ujung rambut panjang gelombangnya yang terlihat bercabang. Wajahnya masih saja kesal. Mengingat segala hal yang sudah terjadi sebelumnya, membuat raut wajahnya berubah, semakin dan semakin jengkel.


Haz memukul pahanya sendiri dan menatap kosong ke arah langit-langit hitam dengan awan-awan berwarna keabu-abuan yang menghiasinya. Mungkin sebentar lagi akan hujan.


Haz menghela napas. Seandainya Jel tidak berpikiran untuk datang ke tempat itu, wanita berambut panjang gelombang sudah sangat baik-baik saja. Bukannya membenci Jel, hanya saja dia masih tidak ingin menghadapi sebuah masalah dengan pacar Jel, yang tak lain adalah Alkaf.


Haz merasa apa yang dilakukannya tidak akan pernah benar di mata Alkaf. Begitu pun dengan Cyan, dia juga sama saja. Masing-masing orang yang dekat dengan sahabatnya, baik dekat dengan Jel maupun dengan Zenneth, semuanya berusaha menjauhkannya dari mereka.


"Kamu masih kesal, Haz?" Suara Fabel tiba-tiba saja muncul di dalam kepala Haz dan bertanya tentang keadaannya saat itu.


Sebenarnya, Fabel tidak perlu bertanya. Dia dan Haz itu satu-kesatuan. Mereka bisa mengetahui keadaan masing-masing. Pertanyaan itu hanyalah untuk menenangkan Haz.


"Menurutmu?" Haz menjawab dengan jutek. Dia sedang tidak ingin membicarakan apa pun. Terlebih lagi tentang keadaannya.


Namun Fabel tetap sabar dan membujuk Haz.


"Kamu dan Jelkesya sudah lama mengenal satu sama lain, Hazelia. Bahkan sudah mengenalnya sebelum dia mengenal Alkaf." Fabel mulai mengajak Haz untuk flashback sejenak.


"Aku sedang tidak ingin dibujuk, Fabella!" seru Haz. Dia benar-benar tidak bisa diajak berkompromi kalau sedang marah. "Diam atau aku akan mengunci akses kalian." Wanita berambut panjang gelombang selalu mengatakannya. Namun dia sebenarnya tidak tega untuk melakukannya. Meskipun dia mengunci akses Fabel, Qerza, dan Ziesya, dia tetap akan membukanya lalu meminta maaf kepada mereka.


"Benar, kamu sedang marah. Tapi, oh ... ayolah, Hazelia Lify. Kamu tahu alasan Jel memilih tempat ini dan tak sengaja bertemu denganmu. Kamu dan dia sering pergi ke tempat ini, baik ketika suasana hatinya sedang buruk atau suasana hatimu yang sedang buruk. Kamu tidak menyukai Alkaf, itu benar. Tapi, kamu bisa menepikan hal itu dulu," bujuk Fabel.


"Apa katamu?" tanya Haz, seolah seperti memiliki masalah dengan indera pendengarannya. "Menepikan katamu?" Sebentar lagi, wanita berambut panjang gelombang pasti meradang.


"Setelah semua yang DIA LAKUKAN KEPADAKU TANPA MEMINTA MAAF SAMA SEKALI, kamu menyuruhku untuk menepikannya?" Haz berkata dengan penuh penekanan, terutama di sebuah kalimat dimana dia menyatakan bahwa Alkaf tidak pernah meminta maaf kepadanya atas apa yang telah pria itu lakukan.

__ADS_1


Haz benar-benar meradang. "Aku masih manusia, Fabella! Hatiku bisa hancur. Tapi, orang-orang tidak pernah ingin, walau hanya sekedar mengetahuinya. Aku bisa menyimpan dendam, Fabella. Aku ini hidup! Aku bukan meja, yang kalau dipukul akan tetap diam. Aku bukan samsak, yang kalau ditinju akan bertahan. Aku itu manusia, Fabella! Aku itu manusia biasa!"


Fabel tetap diam mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Haz. Dia akan mendengarkan semua keluh kesah wanita berambut panjang gelombang, bersama Qerza dan Ziesya.


"Aku hanya ingin dihargai. Kamu kira enak menjadi seperti ini? Tidak enak, Fabel. Tidak sama sekali. Aku lelah. Sangat. Tapi, aku harus berpura-pura baik-baik saja di depan orang lain. Dan, aku merasa itu sangat tidak adil untukku."


Lagi-lagi Fabel terdiam. Dia tahu kalau keluhan Haz belum selesai. Jadi, dia pun memutuskan untuk diam dan mendengarkan ucapan Haz sampai habis.


"Aku sakit hati. Aku tidak punya tempat untuk bercerita selain kalian. Aku tidak punya Papa atau Mama yang bisa memelukku dan memberiku semangat. Aku tidak memiliki orang yang benar-benar ada di sisiku. Aku tidak punya yang seperti itu!"


Tangisan Haz pecah. Dia tidak memiliki siapa-siapa selain dirinya sendiri dan kepribadiannya untuk menyemangati.


Haz selalu melakukan semuanya sendiri, selalu menyelesaikan semua masalahnya sendiri, sampai semuanya, SEMUANYA menjadi serba salah. Hidupnya hancur, tapi dia dipaksa untuk terus melangkah ke depan. Dia sebenarnya sudah tidak sanggup melakukannya. Dia harus melakukannya.


Tangisan Haz makin menjadi hingga Fabel terdiam. Kepribadian Haz yang satu itu merasa bahwa dia sudah sangat keterlaluan. Dia hanya berusaha untuk membenarkan Haz, tapi tidak memikirkan tentang perasaannya. Dia buruk, sangat buruk. Dia menyesal karena telah membujuk Haz untuk berdamai dengan keadaan. Tidak pernah mengerti bahwa tidak ada yang bisa memeluk atau menyemangati Haz dalam keadaan terpuruknya. Padahal dia itu bagian dari Haz juga.


"Maaf. Ini semua salahku."


Tidak perlu dilihat pun Haz sudah tahu pesan itu dari siapa. Whisk, tentu saja.


Whisk: Kamu yakin tidak ingin berbicara dengan Jelkesya?


Haz membaca pesan itu. Air matanya semakin deras mengalir. Dengan terpaksa, dia pun membalasnya.


Haz: Perasaanku buruk.


Semenit kemudian, datang pesan balasan dari Whisk.


Whisk: (Reply message) Kita semua dalam perasaan yang tidak baik-baik saja, Haz. Bagaimana jika kamu masuk dan berbincang sebentar dengan Jelkesya? Dia membutuhkan dirimu.

__ADS_1


Haz hanya bisa tersenyum dan menatap nanar ke arah layar ponselnya.


Haz: Dia membutuhkan aku? Hah! Jangan bercanda. Sepertinya dia juga sudah bercerita tentang aku yang pernah diusir oleh Alkaf hanya karena tak sengaja menyiram kopi ke tangannya ya.


Haz: Tolong sekali. Kopi itu tidaklah panas. Kopi itu bahkan sudah dingin. Alkaf, orang yang berpikiran pendek itu, suka sekali melemparkan kesalahan yang tidak ada ke orang lain.


Haz: Tapi, aku tidak pernah menyarankan kepada Jelkesya *uppsss aku mendadak menjadi formal* untuk meninggalkannya.


Entahlah, mungkin Haz akan menyesal karena telah membalas demikian. Namun itulah yang sedang dirasakannya sekarang.


Whisk: Setidaknya dia menyesal.


Aku tidak butuh penyesalannya! seru Haz dalam hati.


Haz: Suruh dia menyimpan penyesalannya jangan untukku.


Whisk: Jangan seperti itu Haz ... aku tahu kamu marah sesaat.


Whisk benar, Haz memang terbiasa marah sesaat, tapi dia juga bukan sekuat yang dibayangkan oleh orang-orang. Hatinya sangat rapuh hingga mudah sekali untuk memainkan perasaannya.


Haz: Ya, aku memang marah sesaat. Tapi, aku bukan orang yang tak bisa menyimpan dendam. Aku masih manusia biasa, Whisky Woods.


Whisk: Aku tahu. Setidaknya, dengan berbincang, kalian akan menemukan titik tengahnya, Hazelia Lify.


Bahkan Whisk pun tak mengerti dengan keadaan Haz yang sangat dan sangat kacau saat itu.


Untung saja ego Haz tinggi, dia tak jadi pergi ke Cafe untuk menemui Jel dan Whisk. Alkaf terlihat di depan matanya. Mencari Jel mungkin.


Haz: Menjijikan perkataan mu, Whisky Woods. Kamu sengaja mengajakku ke dalam untuk mencari masalah ya?

__ADS_1


Whisk: Maksudmu?


Haz: Alkaf ada di Cafe sekarang. KAMU SENGAJA YA?


__ADS_2