Last Human Return: Daybreak

Last Human Return: Daybreak
Bab 14 - Planning


__ADS_3

"Kamu log in sendiri hari ini. Aku tidak dalam kondisi baik." Alice berbicara begitu, ketika dia menutupi tubuhnya dengan selimut di kasur.


"Kenapa?" Feyn bertanya dengan bingung.


Namun, kata-kata Feyn membuat dahi Alice berkerut. Dia keluar dari selimutnya dan menunjuk Feyn dengan jari telunjuknya. "Tentu saja karena kamu! Bukankah kamu mengatakan hanya semalam? Namun, ini sudah hari ketiga! Tiga hari! Kamu tahu!?" Alice berteriak dengan kesal. Alice merasa akan menjadi gila hanya dengan melihat wajah Feyn.


"Ah …." Ekspresi pemahaman muncul di wajah Feyn mendengar penjelasan Alice.


Seperti yang dikatakan Alice, ini sudah hari ketika sejak mereka log in terakhir kali. Kenapa mereka tidak log in selama tiga hari? Hanya Feyn dan Alice yang tahu jawabannya.


Feyn menggaruk pipinya. "Maafkan aku. Aku akan membuatkanmu bubur nanti malam. Selain itu, apakah ada hal lain yang kamu mau?" tanya Feyn mencoba untuk membujuk Alice.


"Apakah aku terlihat bisa dibujuk hanya dengan makanan?" tanya Alice tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.


"Bagaimana dengan dua Lise Flurry?" Feyn menawarkan sesuatu yang sangat sulit untuk ditolak oleh setiap wanita.


Alice, yang seorang Vampire Ancestor, tidak terkecuali. Alice menjadi bimbang begitu Lise Flurry masuk ke dalam negosiasi.


Tiba-tiba saja, Alice menarik kembali selimutnya menutupi wajahnya. Sikap Alice membuat sedikit bingung. Namun, saat berikutnya, suara rendah Alice terdengar dari balik selimut. "Tiga dan Burger Cheese Large."


Feyn tersenyum pahit melihat kelakuan Alice. Namun, dia tidak kesal karena itu terlihat lucu.


"Baik. Tiga Lise Flurry dan satu Burger Cheese Large."


Alice tidak mengatakan apa-apa lagi. Artinya, negosiasi sudah berhasil. Melihat negosiasi berakhir, Feyn pergi ke depan komputernya.

__ADS_1


Baru saja menyalakan komputernya, Feyn salah fokus dengan ikon emailnya yang angkanya mencapai 99+. Feyn mengedipkan mata beberapa kali untuk memeriksa apakah dia salah melihat. Namun, angkanya tidak berubah entah berapa kali dia berkedip. Jadi, Feyn menekan emailnya dan menemukan pesan. Kebanyakan dari mereka adalah proposal menjadikan Feyn dan Alice menjadi brand ambassador brand mereka.


Yang membuatnya lebih mengejutkan, Feyn melihat beberapa brand besar, seperti Zion, Perusahaan Raksasa di bidang otomotif. Kemudian, Krisna, Perusahaan yang bergerak di bidang alat olahraga.


Feyn membaca isi penawaran mereka. Namun, tidak ada yang membuat Feyn tertarik. Bayarannya bahkan tidak sampai setengah dari pendapatan Feyn selama satu minggu.


"Hm?" Feyn menemukan sebuah nama brand yang membuatnya tertarik.


Feyn menekan emailnya. Dia membaca penawaran yang diberikan oleh brand itu dan tersenyum kecil. Kontraknya sangat tidak masuk akal. Mereka menawarkan 10% saham mereka di perusahaan. Ini adalah kontrak paling konyol yang pernah Feyn lihat. Namun, juga yang paling cerdas sejauh ini.


Feyn segera mengetik balasan kepada brand tersebut. Brand tersebut bukan brand besar. Namun, tidak lama lagi, itu akan menjadi jauh lebih besar dari brand lain. Feyn berani jamin tentang itu.


"Sekarang, ayo kita melihat-lihat trend di dalam game." Feyn kemudian pindah ke utas game untuk melihat-lihat trend yang terjadi setelah dia mengirimkan balasan terkait kontrak. Tentu saja, Feyn juga mengedit beberapa bagian sesuai dengan yang diinginkannya.


***


Triring.


Sebuah email masuk ke komputernya. Pria itu sedikit mengerutkan kening karena gangguan tidak menyenangkan itu. "Ck. Siapa orang yang berani menggangguku ketika menonton video dari God Feyn–" Pria itu menghentikan kata-katanya ketika melihat pengirim pesan.


[Feyn Austin]. Itu adalah alamat pengirim. Pria itu membeku selama beberapa detik. Sebelum tiba-tiba saja membanting mejanya dengan keras.


Brak!


"What!? G- G- God Feyn!?" Pria itu tidak mampu menahan teriakan histerisnya ketika melihat alamat pengirim.

__ADS_1


Pria itu tidak pernah bisa membayangkan bahkan di dalam mimpinya, Idolanya, mengirimkan sebuah email kepadanya. Pria itu dengan tangan gemetar, mengarahkan kursor ke email dan membuka pesan.


Matanya mulai membaca isi email. Isinya adalah, balasan mengenai email yang diberikan oleh pria itu mengenai kontrak menjadikan Feyn dan Alice sebagai brand ambassador, Perusahaan mereka. Namun, Feyn meminta 2,5% saham tambahan jika penjualan Perusahaan meningkat sebanyak 100% dalam waktu 6 bulan.


Pria itu memiliki wajah serius. Sekarang, pria itu benar-benar terlihat berbeda. Pikirannya dipenuhi dengan pertimbangan.


Setelah beberapa pertimbangan, pria itu mulai menuliskan balasannya dan detail kontak lebih lanjut dengan Feyn dan Alice.


***


Setelah kondisi Alice membaik, Feyn dan Alice log in kembali. Mereka berencana menuju ke Kota Sygg, Kota di Barat Laut dari Aman. Dari informasi yang Feyn dapatkan, Sygg adalah Kota dengan tambang terbesar di Kerajaan Aletheia. Rumornya, sekarang tambang dikuasai oleh koloni semut dalam jumlah yang cukup besar. Feyn mendengar ini dari Pria Kerdil Mitsukawa.


Selain itu, koin yang diberikan oleh Zeyn, memberikan sebuah misi untuk menemui Duke of Zigar, Sword Saint, yang dikatakan sebagai Swordsman Terkuat. Wilayah Duke of Zigar di Selatan Sygg, dia memimpin di Benteng Tours, Benteng yang bertugas untuk menahan serbuan Monster.


"Jadi, kapan kita akan pergi?" tanya Alice setelah mendengar rinciannya dari Feyn.


"Aku ingin pergi segera jika bisa …." Namun, Feyn harus menunggu senjatanya jadi lebih dulu. Itu membutuhkan lebih dari dua minggu. Sementara itu, tidak ada tempat berburu di sini yang mampu mengimbangi level Feyn dan Alice.


Melihat Feyn yang bimbang, Alice membuka mulutnya. "Kenapa kita tidak pergi ke Danau Cermin? Aku dengar di sana, ada Monster Unik." Alice memberikan sebuah saran.


Feyn mengedipkan matanya beberapa kali mencoba untuk mengulik informasi tentang Danau Cermin di otaknya. Menurut ingatan Feyn, tempat itu sangat dihindari oleh sebagian Player. Alasannya, karena terdapat Monster Nimph. Monster ikan yang bernafas dengan paru-paru dan makhluk bipedal. Mereka sangat mahir menggunakan tombak. Dan, yang paling membuatnya menyebalkan, mereka mampu mencuri status player secara acak setiap kali damage masuk. Alasan itu cukup untuk membuat player menghindari tempat tersebut.


Feyn mengangguk. Tidak ada tempat yang lebih cocok untuknya saat ini daripada Danau Cermin. Jadi, Feyn langsung bangun dari ranjang tempatnya duduk.


"Jika begitu, ayo kita menuju ke Danau Cermin." Feyn berjalan penuh dengan imajinasi pertarungan yang menantang.

__ADS_1


Alice hanya tersenyum lembut. Dia merasa kasihan pada Feyn. Karena, tidak ada musuh yang mampu untuk membuatnya puas dengan statusnya saat ini. Ditambah dengan kontrolnya sudah bukan sesuatu yang bisa dijangkau oleh Manusia.


Memikirkan itu, Alice bangun dan mulai berjalan lambat mengikuti Feyn dari belakang.


__ADS_2