Last Human Return: Daybreak

Last Human Return: Daybreak
Bab 4 - Latihan


__ADS_3

Feyn pindah ke tempat pelatihan yang berada di pusat kota. Dari luar, Feyn bisa melihat jika banyak Player lain yang menggunakan tempat latihan ini. Menurut informasi yang beredar di internet, memukul boneka besi meningkatkan experience seseorang. Namun, jumlahnya tidak banyak. Karena itu, banyak Players yang tidak berani melawan Monster, datang ke sini untuk naik level setidaknya satu level.


Namun, Feyn bukan salah satunya. Tujuan Feyn datang ke sini adalah, untuk membiasakan diri dengan statusnya. Ya, ada perbedaan performa antara tubuh asli dan tubuh virtual. Untuk kasus Feyn, ini adalah penurunan performa. Jadi, Feyn harus membiasakan diri bergerak dengan kapasitas tubuh virtualnya demi mendapatkan hasil terbaik saat bertarung.


Seorang pria dengan tubuh tinggi besar. Mungkin, sekitar dua meter mendekati Feyn.


"Selamat datang. Apakah kamu ingin menggunakan tempat pelatihan?" tanya pria itu.


Feyn tidak langsung menjawab. Dia melihat otot lengan, dada, dan bawah pria itu. Otot-ototnya sangat menonjol dan berminyak. Itu benar-benar gambaran sempurna seorang binaragawan. Feyn merasa matanya ternoda.


Feyn mendapatkan kembali fokusnya dan berdehem pelan. "Ehem. Tentu, berapa biaya yang diperlukan?" tanya Feyn.


Pria itu memandang Feyn sebentar, sebelum tersenyum lebar. "Untuk menggunakan tempat pelatihan ini, bayar 100 zenny untuk satu hari!" ucapnya sambil mengangkat jari telunjuknya.


Feyn lumayan kaget dengan harganya. Cukup murah untuk sewa satu hari. Feyn tadi melihat, player lain membayar 150 zenny untuk masuk. Namun, dia mendapatkan potongan harga 50 zenny.


Apakah efek judul [Unnamed Hero]?


[Unnamed Hero] membuat kesukaan NPC pada pemilik judul meningkat. Feyn merasa bersyukur. Judul itu jauh lebih berguna dari yang Feyn kira. Kemudian, Feyn mengeluarkan 100 zenny dari inventory dan menyerahkannya pada pria otot itu.


Pria itu menerimanya, dia kemudian menepi mempersilahkan Feyn lewat. "Silahkan."


Feyn mengangguk dan masuk ke tempat latihan tanpa berkata-kata.


***


Di jam 17.00 WIB, Feyn keluar dari Ke-I. Dia keluar dengan keadaan tidak berbusana. Jadi, Feyn berjalan menuju ke tempat pakaiannya digantung sebelumnya.


Namun, ketika Feyn hendak mengenakan pakaian, Ke-I lain di sebelahnya terbuka. Feyn berbalik untuk melihat Alice yang keluar dari sana tanpa sehelai benang sama sekali. Itu adalah cuci mata yang bagus untuk Feyn, yang satu hari ini, hanya melihat Gorul dan pria otot.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Feyn meletakkan kembali pakaiannya. Masih dengan telanjang bulat, dia berjalan mendekati Alice. Alice, yang menyadari kedatangan Feyn, hanya diam saja menatap Feyn yang masih tanpa busana, seolah sudah terbiasa dengan itu.


Feyn tanpa kata-kata memeluk Alice. Alice tidak melawan dan hanya diam saja.


Alice balik memeluk Feyn. Dia kemudian bertanya dengan lembut. "Ada apa, Feyn?"


Feyn hanya diam saja dan memperkuat pelukannya sehingga kulit mereka saling bersentuhan satu sama lain. Alice tidak merasa terganggu, dia justru penasaran apa yang Feyn lakukan di dalam game.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Namun, bagaimana jika kita mengenakan pakaian lebih dulu?" Alice berbicara dengan lembut. Alice sudah berpengalaman. Dia merasakan firasat buruk sekarang ini.


Namun, kata-kata Alice hanya jatuh di telinga tuli. Justru, tangan Feyn mulai turun- turun terus sampai ke gumpalan daging putih indah di atas paha Alice.


"F- Feyn-" Alice mencoba untuk menghentikan Feyn. Namun, sudah terlambat.


"Pegangan yang erat, Alice!" Firasat buruknya benar-benar terjadi. Feyn mencengkeram gumpalan lemak indah bagian belakang Alice dan mengangkat Alice.


"Kyaaa!?" Terkejut, Alice berteriak dan secara reflek memeluk leher Feyn.


"Tu-Tunggu! Itu menggesekku!" Alice berteriak ketika dia merasakan sesuatu di bawah sana, menggesek bagian sensitifnya.


Namun, Feyn tidak peduli dan membawanya ke kamar mandi yang ada di sudut ruangan.


"Kng! Ti-Tidak! Aku belum basah, bodoh!"


Suara-suara aneh dan berisik menggema di kamar mandi. Tidak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan saat ini.


***


Seperti biasa, setelah olahraga singkat dan sarapan, Feyn dan Alice kembali log in di dalam game. Karena mereka memiliki urusan masing-masing, Feyn dan Alice tidak akan bertemu di awal untuk sementara waktu ini.

__ADS_1


Feyn kembali respon di kamar tempatnya menginap. Daybreak mengharuskan player untuk log out di dalam penginapan atau rumah pribadi. Karena, jika mereka log out secara sembarangan, mereka bisa terbunuh. Penalti ketika mati sangat mengerikan, yaitu, pengurangan exp sebanyak 100%. Itu artinya, level berkurang sebanyak satu.


Feyn berjalan kembali menuju ke tempat latihan. Karena sisa waktunya masih ada 3 jam, Feyn tidak ditagih oleh instruktur berotot. Feyn masuk ke dalam, mencari boneka besi yang kosong. Untungnya, tempat latihan tidak lagi seramai kemarin. Jadi, Feyn dengan mudah menemukan boneka besi yang tidak digunakan.


Feyn berdiri di depan boneka kayu. Menarik Jian Sword dari sarungnya, Feyn mengambil kuda-kuda dengan posisi pedang menyamping.


"Hah …."


Sstt.


Pedang berayun dengan cepat ke arah leher dari boneka kayu. Kemudian, disusul dengan dua tusukan ke bahu kanan dan dada kiri. Feyn, bergerak seperti sedang menari-nari menggunakan pedangnya. 16 serangan berhasil diselesaikan hanya dalam waktu kurang dari 5 detik.


"Ini adalah batas karena status, ya?" gumam Feyn menatap tangannya.


Meskipun dia bisa menggunakan Void: Nothingness ketika di tutorial. Itu karena dia tidak merasakan batasan seperti saat ini. Feyn merasa itu seperti tubuh aslinya. Meski, tentu saja jauh lebih lemah dan lambat dari tubuh aslinya. Sekarang, pembatasan status sangat terasa. Feyn yakin dia tidak bisa menebas lebih cepat dari ini dengan statusnya yang sekarang.


Namun, berbeda dengan Feyn, player lain, yang melihat bagaimana Feyn bergerak dan menggunakan pedangnya, semuanya terpana dan tercengang.


"Ap- Apa-apaan itu? Skill apa yang begitu kuat?"


"Bukankah dia newbie seperti kita? Lalu, dari mana dia mendapatkan skill itu?"


Mereka berpikir jika gerakan Feyn tadi adalah, efek dari skill. Pikiran mereka wajar. Karena, secara akal sehat, tidak mungkin menebas 16 kali bahkan jika kamu manusia super. Itu akal sehat.


Feyn sama sekali tidak peduli dengan player lain. Feyn menatap boneka besi lagi. Kemudian, dia melakukan ayunan horizontal dan diagonal berulang kali. Itu menjadi sangat membosankan untuk ditonton. Player, mulai mengabaikan Feyn dan fokus pada apa yang sedang mereka lakukan.


Instruktur tempat latihan, memandang Feyn dari jauh dengan senyum kecil. Dia mengelus dagunya dan mengangguk beberapa kali.


"Siapa yang tahu akan ada Monster seperti itu di antara para penjelajah? Menebas 16 kali tanpa bantuan skill? Bahkan Dewa Perang saja tidak bisa melakukan itu."

__ADS_1


Instruktur itu menyimpulkan, bahwa, apa yang Feyn lakukan sebelumnya adalah teknik murni. Alasannya, dia tidak merasakan Mana ketika Feyn melakukan tarian pedangnya. Ketika skill digunakan, maka, mana yang sangat tipis akan mengalir. Namun, Feyn tidak seperti itu. Jadi, Instruktur itu benar-benar berpikir, jika Feyn, adalah seorang Monster yang belum memiliki taring.


__ADS_2