Last Human Return: Daybreak

Last Human Return: Daybreak
Bab 5 - Hidden Quest


__ADS_3

[Anda melakukan 10.000 pukulan pada boneka besi latihan.]


[Anda mendapatkan Title: Never Give Up.]


[Never Give Up.


Rank: Rare.


Anda memiliki semangat pantang menyerah dalam proses menjadi kuat!


Efek:



Meningkatkan Endurance + 5 dan Spirit + 5


Meningkatkan resistensi mental(low).


]



Di hari ketiga Feyn di tempat latihan. Feyn mendapatkan pesan sistem yang mengejutkan. Feyn berhenti mengayunkan pedangnya dan membaca isi pesan tersebut.


Sudut bibirnya naik secara alami. "Ini bagus."


Lagi dan lagi, Feyn mendapatkan judul yang bagus. Statusnya sekarang sudah berada di level yang tidak lagi sama dengan para player lain.


"Tersenyum seperti itu, apa yang terjadi?" Seseorang berbicara dengan nada jijik ketika Feyn sedang menatap layar statusnya.


Berhenti menatap layar status, Feyn melirik ke arah sumber suara. Di sana, seorang gadis kecil setinggi 155 cm, dengan rambut perak panjang dan mata merah, berdiri. Dia memegang, sebuah sabit hitam yang ukurannya sedikit lebih tinggi darinya.


"Tidak ada. Aku hanya sedang memeriksa Title yang baru aku dapatkan," jawab Feyn dengan senyum kecil kepada gadis itu.


"[Never Give Up]?" tanya gadis itu memiringkan kepalanya.


"Benar. Apakah kamu juga mendapatkannya, Alice?"


Gadis itu, yang merupakan Avatar Alice, mengangguk kecil. "Ya. Itu cukup bagus."


Saat itu, Instruktur tempat latihan ini, seorang pria berotot yang Feyn lihat di hari pertamanya, datang mendekati Feyn dan Alice.


"Kalian berdua, ada sesuatu yang ingin aku tawarkan pada kalian. Aku jamin, ini membuat kalian menjadi lebih kuat." Instruktur langsung membicarakan tujuannya.

__ADS_1


Feyn dan Alice saling memandang. Ini adalah sebuah Quest. Feyn dan Alice belum satu kali pun, menjalankan sebuah Quest. Jadi, mereka cukup beruntung mendapatkan Quest di tempat yang tidak terduga ini.


Feyn kembali menatap instruktur. "Bolehkah kami tahu tawaran yang anda sebutkan?" Feyn mengajukan pertanyaan yang sangat berdasar.


Instruktur itu tersenyum lebar. Feyn dan Alice entah bagaimana merasakan firasat buruk dari senyum itu.


"Ini adalah latihan tingkat ke-2. Jika di sini, kamu berlatih mengayunkan senjata. Pada tingkat ke-2, kamu akan berlatih menggunakan senjata pada pertarungan. Bukankah bertarung adalah cara paling efektif untuk menjadi kuat, selain membentuk otot?" Instruktur itu dengan bersemangat menjelaskan dan memamerkan otot-ototnya yang menonjol ke arah Feyn dan Alice.


Feyn menutup mata Alice ketika Instruktur itu mulai melakukan hal aneh. Feyn tidak ingin saat mereka melakukan hubungan intim, Alice akan membayangkan pria berotot besar ini.


"K-Kami mengerti. Lalu, apa yang harus kami lakukan?" Feyn mencoba sebaik mungkin untuk tidak memukul kepala Instruktur. Bukan karena Feyn sabar. Namun, dia sadar tidak akan menang sekarang melawan Instruktur itu.


Instruktur itu tersenyum. "Ikut aku. Aku akan menunjukkan jalannya." Instruktur berbalik dan mulai memimpin jalan. Tidak menyadari Feyn dan Alice yang tertinggal.


"Feyn, apakah ini baik-baik saja? Maksudku, hanya sekilas saja aku melihat, itu membuat seluruh tubuhku merinding, kamu tahu?" Alice bertanya pada Feyn dengan berbisik.


"Ini akan baik-baik saja … mungkin." Feyn menjawab dengan tidak yakin.


Pada akhirnya, meskipun mereka memiliki rasa penolakan dalam hati, tetapi, Quest masih terlalu menggoda bagi mereka. Karena itu keduanya pergi menyusul Instruktur yang sudah berjalan cukup jauh dari mereka.


***


"Tempat apa ini?" Feyn bertanya ketika dia melihat sekelilingnya. Hanya ada jalan satu arah, di mana itu terus turun ke bawah. Ditambah, tempat itu sangat gelap dan juga lembab membuat bulu kuduk siapapun bisa merinding.


Feyn dan Alice mengangguk. Mereka terus berjalan turun ke bawah tanah. Entah sejauh apa mereka akan turun, Feyn dan Alice merasakan sedikit kecemasan dan antusias ketika sesuatu yang tidak mereka ketahui akan terjadi.


Ketika sampai di anak tangga terakhir, mereka disambut dengan sebuah gerbang besi hitam polos. Itu terlihat sangat rapuh dari luar. Namun, Feyn yang pernah terjun ke Dunia Blacksmith, tahu besi itu cukup kuat untuk menahan serangan terkuat dari Monster level A, seperti Cyclop Cyclone.


"Apakah kita akan masuk ke dalam sini?" Alice bertanya kepada Instruktur.


"Ya. Tugasmu adalah, mengalahkan semua musuh yang ada di dalam sana."


Feyn dan Alice tidak bisa menahan rasa tidak nyaman ketika mendengar konten misinya. Semakin sederhana misi, maka, semakin sulit kemungkinan untuk diselesaikan. Ini adalah, naluri dari seorang gamer dan petarung.


"Jika begitu, aku mendoakan yang terbaik untuk kalian." Instruktur mendorong gerbang. Gerbang terbuka dan memperlihatkan ruangan gelap gulita tanpa adanya sumber cahaya sama sekali.


Feyn dan Alice menghela nafas. Mereka lalu masuk ke dalam gerbang dengan wajah penuh percaya diri.


Bam!


Saat Feyn dan Alice masuk, pintu kembali tertutup dengan keras, tidak membiarkan Feyn dan Alice untuk lari. Feyn dan Alice tidak terkejut. Mata mereka fokus pada apa yang ada di depan mereka saat ini.


Puluhan pasang mata, bersinar merah menatap dalam kegelapan ke arah Feyn dan Alice. Tidak ada niat membunuh. Namun, Feyn dan Alice tidak merasa pemilik mata merah itu bersahabat. Jadi, keduanya bersiap dengan senjata mereka.

__ADS_1


[Hidden Quest.


Misi: Kalahkan seluruh Robot Petarung.


Zeyn, yang melihat potensimu, mencoba untuk memberikan kamu ujian! Kalahkan semua robot yang ada di tempat ini dan mendapatkan pengakuan dari Zeyn, sang Demon Fist!


Reward:



???


???



Progres: Musuh saat ini (100/100).


]


Melihat konten misi, Feyn mencoba yang terbaik untuk tidak menyumpahi developer game.


"Hey, Alice, ingin bertaruh siapa yang membunuh paling banyak?" Feyn mencoba untuk mengalihkan pikirannya dan bertaruh dengan Alice.


"Apa taruhannya?" tanya Alice.


"Pecundang harus mengabulkan satu permintaan pemenang, bagaimana?" tanya Feyn dengan senyum percaya diri.


Alice mengerutkan keningnya. Dia tahu betul apa yang Feyn minta ketika menang. "Jika begitu, ayo kita lakukan itu."


Feyn tersenyum lebar. "Jika begitu, jangan minta aku berhenti nanti, ya." Feyn langsung menendang tanah mengambil langkah untuk mendekati robot secara langsung.


Alice hanya mendengus. Namun, Alice masih diam di tempatnya tidak mengejar Feyn. Gaya bertarung secara langsung seperti itu, sangat tidak cocok dengan Alice. Jadi, Alice berjalan dengan santai ke tengah-tengah kumpulan robot. Mata merahnya bersinar dalam gelap memberikan kesan menakutkan dan dingin.


***


Di luar, Zeyn, mengamati pergerakan Alice dan Feyn dari sebuah kristal. Dia benar-benar takjub dengan apa yang dilihatnya. Feyn, bergerak menghindari semua serangan dari para robot. Entah itu dari belakang, atas, atau depan, semuanya dihindari. Feyn seolah-olah dapat melihat masa depan. Bukan hanya itu, teknik pedangnya juga tidak kalah luar biasa. Feyn menyerang tanpa keraguan ke bagian lemah setiap robot. Seharusnya, ini pertama kalinya Feyn bertarung dengan para robot itu. Namun, dia berhasil menemukan setiap celah dari mereka.


"Bukan hanya pria itu yang anomali, gadis itu tidak kalah mengerikan." Zeyn mengalihkan perhatiannya kepada Alice sekarang.


Memanfaatkan sepenuhnya keuntungan sabit, Alice melakukan zoning terhadap para robot. Dia melakukan serangan besar untuk mencegah para robot mendekat yang di mana, itu adalah, kekurang dari sabit. Ketika dirinya akan diserang secara bersamaan, Alice dengan tenang, memutar sabit dan tubuhnya seolah itu adalah, satu bagian yang sama. Gerakannya sangat gesit, seolah beban dari sabit sama sekali tidak terasa.


"Keduanya benar-benar konyol." Zeyn harus mengakui, keduanya sudah berada di level yang berbeda dalam segi teknik. Saat mereka mulai mendapatkan taring mereka, tidak ada yang bisa menghentikan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2