Lentera Pengganti

Lentera Pengganti
Bab 01. Lentera Pengganti


__ADS_3

"KAK KENZOOO!!!"


Pekikan keras terdengar dari bibir Vanessa. Gadis cantik itu kini berlari menghampiri sebuah mobil sport yang baru saja berhenti di depan rumah besar milik keluarga Halian. Semua penjaga di sana seketika menoleh, meskipun sebenarnya hal ini bukanlah sebuah pemandangan baru di rumah itu. Setidaknya, semenjak kepergian Tuan Kenzie, si pemilik rumah, ke negara Swiss beberapa bulan yang lalu.


"Jangan lari-lari gitu, nanti jatuh!" peringat Kenzo yang sudah keluar dari mobil sportnya.


Tanpa menjawab ucapan Kenzo, Vanes langsung membenturkan tubuhnya dan memeluk pria itu dengan erat. "Kak Kenzo lupa ya, aku 'kan sudah dewasa sekarang. Lihat!"


Vanes memundurkan tubuhnya selangkah, kemudian berputar di hadapan pria yang dicintainya itu. Penampilannya memang terlihat cukup dewasa, meski masih menggunakan seragam sekolah SMA. Semua itu ia lakukan demi mendapatkan cinta dari Kenzo. Vanes rela merubah penampilan dan kepribadiannya menjadi jauh lebih dewasa dari anak remaja seusianya.


Lucu sekali bukan?


Hal itu ia lakukan agar Kenzo tidak merasa malu memiliki kekasih gadis belia seperti dirinya. Dengan jarak usia mereka yang terpaut sebelas tahun, Vanes merasa harus merubah penampilannya, agar bisa sedikit menyamai usia Kenzo. Hebatnya, gadis itu mampu melakukannya dan berhasil membuat Kenzo mencintainya.


"Baiklah, kamu memang sudah dewasa!" Kenzo tersenyum bangga, kemudian mengusap puncak kepala Vanesa sekilas.


"Tapi menurutku seperti ada yang kurang." Vanes mengerucutkan bibir, menatap bagian tubuh yang kurang memuaskan menurut pandangannya. "Haruskah aku membesarkannya?"


Kenzo mengernyit bingung. "Apa?"


"Dadaku!" Vanes menjawab kontan, tanpa rasa malu, yang seketika membuat Kenzo melongo, tercengang. "Kemarin aku lihat tetangga baru operasi buah dad emph."


"Jangan macam-macam, kamu itu masih sekolah! Fokuslah dengan sekolahmu dan jangan memikirkan hal lain!" tegur Kenzo setelah membungkam mulut Vanes dengan tangannya.


"Oh ayolah Kak, hasilnya bagus kok, Kakak pasti suka nanti!" bujuk Vanes setelah menepis tangan Kenzo. Lalu bergelayut manja di tangan besar itu, berharap kali ini Kenzo akan setuju.


"Are you crazy?" Kenzo melepas tangan yang masih bergelayut di lengannya. Operasi? Semakin lama permintaan Vanes semakin aneh saja. Kenzo sendiri tidak tidak paham dengan jalan pikiran gadis itu. "Untuk apa melakukan operasi? Sekarang saja sudah sebesar ini, memang mau sebesar apa lagi? Buah kelapa?"


Ia masih tidak habis pikir, mengapa Vanes selalu meminta sesuatu yang jauh dari apa yang seharusnya gadis delapan belas tahun minta pada umumnya?


Apa yang kuharapkan? Melihat yang sekarang saja belum pernah, bagaimana aku bisa menyukainya! Dasar anak kecil satu ini!


"Ya nggak sebesar itu juga!" Vanes kembali mengerucutkan bibir, kesal. Tidak tahu saja Kenzo, sekecil apa miliknya sekarang. Vanes bahkan harus menggunakan pengganjal busa agar kedua peliharaannya itu terlihat lebih berisi.


Kenzo hanya mampu menggeleng tidak habis pikir. Begitu terobsesinya Vanes untuk menjadi dewasa, hingga semua hal akan gadis itu lakukan agar bisa menjadi pasangan yang sempurna untuk dirinya. Jika Kenzo tidak melarang dengan keras, mungkin Vanes sudah melakukan banyak perubahan pada tubuhnya melalui operasi.


Beruntungnya, Kenzo mampu menahan rasa keingintahuan Vanes. Hingga detik ini, gadis itu belum pernah melakukan operasi untuk mengubah bentuk tubuhnya. Hanya saja, gadis itu selalu melakukan apapun agar tubuhnya terlihat perfect. Ia bahkan selalu memakai sesuatu yang akan membuatnya terlihat jauh lebih dewasa dari usia sebenarnya.


Apa boleh buat? Kenzo menyadari itu memang kesalahannya. Seandainya dulu ia tidak menolak cinta gadis keras kepala itu dengan alasan perbedaan usia, mungkin sekarang Vanes tidak akan pernah terobsesi dengan kata dewasa.


Sebelum kepergian kedua orang tua Vanes dulu, Kenzo memang selalu menganggap Vanes hanyalah sebatas adik. Selain karena usianya yang terpaut sebelas tahun, sejak kecil, Kenzo memang sudah menganggap Vanes sebagai adik. Itu semua karena ia sudah dianggap anak oleh kedua orang tua Vanes bahkan sebelum Vanes terlahir ke dunia.


"Sudahlah, tidak perlu membicarakan itu lagi. Masuk mobil sekarang, nanti kamu terlambat sekolah!" titah Kenzo seraya membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Ah elah, Kak Kenzooo...," rengek Vanes. Mau tidak mau ia harus masuk ke dalam mobil, sebelum Kenzo marah.


Tanpa mau mendengarkan rengekan gadisnya, Kenzo menutup pintu dan memutari mobil. Waktu sudah semakin siang, ditambah kondisi jalanan yang terkadang macet, Kenzo tidak ingin hal itu membuat Vanessa terlambat datang ke sekolah.


"Haruskah aku memotong rambutku?" Vanes bertanya sembari menata rambutnya, di depan kaca yang tersedia di dalam mobil.


"Tidak!"


"Aku rasa ini kurang menarik," kata Vanes.


"Kata siapa?"


"Aku."


"Rambutmu sudah cukup pendek, lalu mau sependek apa lagi? Kamu tahu aku tidak suka—"


"Astaga, aku lupa! Terus gimana dong? Kak Kenzo kan suka cewek rambut panjang!" Vanes bermonolog dengan heboh, hingga tak sadar telah memotong ucapan Kenzo. Tentu saja ia panik, setelah menyadari seperti apa tipe rambut wanita yang Kenzo sukai.


Menyadari dirinya telah salah berkata, Kenzo hanya mampu memejamkan mata seraya merutuki dirinya sendiri. Bodoh!


"Aduh! Kok gue bisa lupa sih, gimana ya. Nggak nggak nggak, gue harus cari cara. Gimana kalo gue pake wig aja?" pikir Vanes cepat.


"Ssssttt Vanes hentikan!" Kenzo menempelkan jari telunjuk ke bibir, menyuruh Vanes untuk diam. "Kamu nggak perlu pake wig atau apalah itu, kamu udah cantik apa adanya. Nikmati masa mudamu dan bersikaplah selayaknya anak SMA!"


"Nggak bisa gitu dong Kak. Aku pengen cepet dewasa, kalau aku diem aja, nanti kapan Kak Kenzo bakal nikahin aku!"


Mobil yang ditumpanginya tiba-tiba berhenti, Vanes terdorong ke depan karena Kenzo mengerem secara mendadak. Pria itu terkejut setelah mendengar ucapan Vanes, bisa-bisanya gadis itu terpikirkan untuk menikah di saat usianya yang masih terbilang muda.


"Nikah?" Bahkan Kenzo saja belum terpikirkan untuk menikah. Namun dengan mantap, Vanes justru mengangguk membenarkan.


"Iya, aku mau Kakak nikahin aku secepatnya! Kalau bisa, hari ini juga boleh."


Vanes menyengir lebar. Sudah sejak lama, ia ingin sekali bisa menikah dengan Kenzo. Ia merasa belum puas dengan hubungannya yang sekarang. Mereka memang terlihat seperti sepasang kekasih, meskipun sebenarnya Kenzo belum mengkonfirmasinya secara terang-terangan pada semua orang.


"Vanessa Halian." Kenzo menatap dalam mata gadis di hadapannya.


"Iya," sahut Vanes antusias. Jika sudah memanggil nama lengkapnya, biasanya Kenzo akan membicarakan suatu hal yang penting. Mungkin saja Kenzo akan mengatakan keputusannya untuk segera mungkin menikahi dirinya.


"Lipstikmu berantakan," ucap Kenzo.


Seketika Vanessa membulatkan mata, lalu dengan cepat menatap ke arah kaca. Nyatanya, apa yang dikatakan Kenzo tadi tidaklah benar. Lipstik yang dipakainya tidak berantakan apalagi kelebihan warna. Mana mungkin? Ia selalu memakai warna lipstik yang pas ketika di sekolah, meskipun tetap saja akan ketahuan oleh guru BK.


"Jangan membicarakan hal yang aneh-aneh, kamu belum lulus sekolah!" lanjut Kenzo seraya menyentil kening Vanes.

__ADS_1


"Tapi Kak, sebentar lagi aku ...."


"Aku akan menikahimu, tapi ...." Kenzo menggantungkan ucapannya.


"Tapi?"


"Setelah kamu sudah siap!" jawab Kenzo. Ia kembali melajukan mobilnya, tanpa melihat bagaimana ekspresi wajah gadis di sampingnya.


"Dan aku sudah siap, jadi ... ayok kita menikah!" Senyum kebahagiaan terukir di bibir Vanes.


"Belum, kamu belum siap!" ucap Kenzo.


Kita belum bisa menikah sekarang, sayang. Tunggu saja, aku pasti akan menikahimu setelah lulus sekolah nanti!


Kenzo tersenyum tipis, menatap Vanes yang sedang mengomel setelah mendapat penolakan untuk kesekian kalinya. Tampaknya gadis itu sudah tidak sabar untuk segera menikah. Kenzo masih memperhatikan tingkah gadis itu. Bibir mungilnya masih terus bergerak, seiring dengan kalimat kekesalan yang ia lontarkan.


"Sampai kapan aku harus menunggu, Kak Kenzo? Aku sangat mencintaimu, tapi ...."


Ucapan Vanes terhenti. Di depan sana, terlihat seorang gadis berseragam sekolah sedang berjalan menyeberang. Vanes merasa seperti mengenali wajah gadis itu. Sementara ia tidak menyadari, mobil yang dikendarai Kenzo masih melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.


"KAK, ITU VINCIE!" Vanes menoleh, menyadari perkataannya tak mampu menyadarkan pria di sampingnya. "KAK KENZO, AWAAAASSSSSS!"


Kali ini teriakan Vanes mampu menyadarkan Kenzo dari lamunan. Namun sayangnya, terlambat, jarak antara mobil dan gadis berseragam sekolah itu sudah sangat dekat. Tidak ada kesempatan bagi Kenzo untuk mengerem tanpa melukai gadis itu. Di situasi mengejutkan seperti ini, Kenzo hanya mampu memutar setirnya ke sembarang arah.


"Aaaaaa....."


Mobil melintas tak terkendali. Hampir menabrak beberapa kendaraan yang melintas berlawanan arah. Terdengar beberapa kali benturan keras ketika mobil menyerempet pembatas jalan, dan berkelok-kelok tak tentu arah.


Hingga akhirnya, mobil berhenti malang melintang di jalan secara mendadak, setelah sebelumnya menyerempet pembatas jalan. Tidak di sangka hal itu membuat Vanes terpelanting keluar dan memecahkan kaca mobil bagian depan. Kenzo terkejut, ternyata sejak tadi Vanes tidak menggunakan sabuk pengamannya.


"VANESSAAAAA...!"


Terlambat, gadis itu sudah tergeletak di tengah jalan dalam kondisi berlumuran darah.


Sementara di sisi lain, gadis yang tertabrak mobil Kenzo tadi pun berada di posisi yang sama. Hanya saja, luka di tubuhnya tidak terlalu parah. Sampai ketika seorang wanita menghampiri gadis itu, dibalik kerumunan yang mulai memenuhi jalanan.


"Kamu baik-baik saja, Lentera?"


Sambil meringis merasakan sakit di beberapa bagian tubuh, gadis itu bertanya dengan bingung. "Anda tahu nama saya?"


Wanita itu tersenyum seraya melirik nama panjang yang tersemat di baju putih gadis itu. "Lentera Putri Permana, itu namamu bukan?"


🎀🎀🎀

__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita Lentera Pengganti selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2