
Pertemuan atlet renang akan diadakan pukul sembilan pagi, diharapkan semua anggota hadir tepat waktu. Silakan kalian izin kepada guru mapel masing-masing. Untuk informasi selanjutnya, akan saya sampaikan di pertemuan nanti.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, ketika Lentera hendak menyeberang jalan untuk menghampiri bus terakhir yang harus ia tumpangi, sebelum terlambat datang ke sekolah. Tidak mungkin ia telat di hari pertamanya masuk sekolah baru bukan? Belum lagi, ia juga harus menghadiri pertemuan dengan para atlet renang di sekolah barunya itu.
Ponsel berukuran mini sudah masuk ke dalam saku. Masih teringat jelas di benak Lentera. Tepat tiga minggu yang lalu, seorang pelatih renang menawarkan dirinya untuk pindah ke SMA Galaxy. Mengingat, fasilitas di sekolah lama tidak dapat menunjang bakat renang Lentera. Karena itu ia diminta pindah ke sekolah baru dengan fasilitas terbaik demi meningkatkan kemampuannya.
Lentera juga masih tidak menyangka, jalan untuk mencapai cita-citanya akan begitu dimudahkan. Sebagai seorang dengan finansial di bawah rata-rata, beasiswa menjadi faktor utama Lentera untuk menyetujui perpindahan sekolah ini. Ia bahkan rela meninggalkan desa tempat kelahiran dan Bibi yang selama ini merawat dirinya setelah kepergian kedua orangnya.
Dan hari ini, di tengah kota dengan kepadatan penduduk lebih dari lima belas ribu jiwa. Lentera melangkahkan kakinya seorang diri, dengan harapan baru untuk bisa menggapai cita-citanya yang hampir saja tertutup lantaran minimnya fasilitas di sekolah lama.
Lentera mengangkat tangan hingga sejajar dengan setengah badan. Menginstruksikan para pengendara agar sejenak memberikan luang untuk dirinya melintas. Ia harus menaiki bus yang akan berhenti di halte, tidak jauh di seberang jalan. Meskipun baru pertama kali menginjakkan kaki di kota, ternyata ia tidak begitu kesulitan untuk beradaptasi.
Sesekali tatapan Lentera mengedar ke sembarang arah, di jalan sebelah kanan masih banyak kendaraan saling bersimpangan. Tanpa Lentera sadari, sebuah mobil sport berkecepatan di atas rata-rata tengah bergerak ke arahnya. Lentera masih berjalan perlahan, ketika beberapa orang yang menyaksikan mulai meneriaki gadis itu.
"AWAAASSS ADA MOBIL!"
"ANEH BANGET TUH CEWEK!"
"HEY BOCAH, MINGGIR ADA MOBIL!"
Lentera mengerutkan kening, bingung melihat banyaknya orang berteriak padanya. Barulah ia menyadari ketika menoleh, sebuah mobil sedang melaju cepat ke arahnya. Sayangnya, jarak mobil itu sudah terlanjur dekat. Dengan sisa jarak yang ada, Lentera mencoba menghindar dengan cepat.
Mobil melintas tak terkendali. Hampir menabrak beberapa kendaraan yang melintas berlawanan arah. Terdengar benturan keras ketika mobil menyerempet pembatas jalan, dan berkelok-kelok tak tentu arah. Hingga akhirnya mobil itu berhenti malang melintang di tengah jalan.
Lentera terjatuh, salah satu kakinya sudah lebih dulu terserempet bagian depan mobil tadi. Ia meringis merasakan sakit di beberapa bagian tubuh, terutama kaki dan bahunya yang membentur sisi jalan. Beberapa orang mulai mendekat untuk menolong gadis itu. Namun, perhatian semua orang kini hanya tertuju pada mobil yang telah menabrak Lentera tadi.
"Kamu baik-baik saja, Lentera?"
Pertanyaan seorang wanita berhasil mengalihkan perhatian Lentera. Seketika suasana jalan menjadi jauh lebih ramai dari sebelumnya. Banyak kendaraan yang berhenti akibat kejadian ini. Lentera mengedarkan pandangannya dengan wajah bingung.
Apa semua ini terjadi karena dirinya?
Banyak orang mulai berdatangan dan mengerumuni mobil yang telah menabrak Lentera tadi. Gadis itu semakin tidak mengerti, saat terdengar jelas jeritan beberapa orang. Kumpulan orang-orang itu masih menghalangi pandangan, Lentera tidak dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi pada mobil itu atau bahkan pemiliknya.
"Anda tahu nama saya?" Lentera bertanya, sambil memegangi bahunya yang terasa nyeri.
"Lentera Putri Permana, itu namamu bukan?" Wanita itu tersenyum, bertanya seraya menunjuk nama yang tertera di seragam sekolah Lentera. "Kakimu terluka, biar saya antar kamu ke rumah sakit!"
"Bagaimana dengan mereka?" tanya Lentera.
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan, wanita itu langsung menarik Lentera keluar dari kerumunan. Pandangan Lentera masih tertuju pada mobil yang menabraknya tadi. Sekilas dapat ia lihat, seorang pria tengah menggendong seorang gadis dalam keadaan bersimbah darah.
Apa tadi? Darah? Jantung Lentera berdetak semakin cepat ketika melihat dua orang itu. Wanita tadi masih menggenggam tangannya yang mulai bergetar karena takut. Langkah kaki Lentera kini terhenti di depan sebuah rumah sakit. Entah itu sebuah keberuntungan atau sebuah kebetulan saja, ia mengalami kecelakaan tepat di depan rumah sakit.
Wanita itu kembali menarik Lentera masuk, kemudian memanggil petugas rumah sakit. Tangan dan kakinya terasa sakit, Lentera hanya menurut ketika wanita itu membawanya memasuki sebuah ruangan menggunakan kursi roda.
"Duduklah, biar saya periksa dulu!" Di atas meja, wanita itu mengambil beberapa peralatan kedokteran dan beberapa obat-obatan.
"Apa Anda seorang dokter?" Lentera beranjak mendudukkan diri di atas brankar, seraya menatap wanita yang kini sudah memakai jubah putih bersih. Tanpa dijawab pun sudah dapat disimpulkan, memang benar wanita itu seorang dokter.
"Saya tidak bisa berlama-lama, karena sebentar lagi ada jadwal operasi. Tahan ya, luka di kakimu cukup lebar." Wanita itu dengan cekatan membersihkan beberapa luka di tubuh Lentera.
"Dokter Findrilia?" Lentera menahan tangan dokter yang tengah mengobati lukanya, sambil membaca nama yang tersemat di baju dokter itu. "Apa Anda lihat apa yang terjadi pada pemilik mobil itu?"
Dokter Findrilia menggeleng, kemudian sedikit berfikir. "Entahlah! Mereka pasti juga terluka. Tapi lain kali, jangan pikirkan keadaan orang lain dulu. Kamu juga terluka, setidaknya pikirkanlah dirimu sendiri!"
"Selagi mereka bukan siapa-siapa, untuk apa kamu pusing memikirkannya!" gumam Dokter Findri.
Lentera mengangguk lalu meringis kesakitan, salah satu kakinya sedang diobati oleh Dokter Findrilia. "Apa lukanya parah?"
"Luka luarnya tidak terlalu, tapi kaki kiri mu sedikit terkilir. Kalau tidak banyak bergerak, mungkin dalam beberapa hari saja akan sembuh."
"Tidak perlu Dok, saya udah baik-baik saja kok." Secepatnya Lentera menolak, mengingat biaya rumah sakit ini mungkin sudah cukup banyak menguras sisa uangnya. Seingatnya uang sisa kemarin hanya tinggal lima ratus ribu. Jika mengikuti apa kata dokter, mungkin ia tidak akan punya simpanan uang lagi.
"Kamu yakin?" Lentera mengangguk.
Selesai mengobati kaki pasiennya, Dokter Findrilia mendudukkan diri di kursi dan menulis sesuatu di atas kertas. "Ada beberapa obat yang harus diminum, kamu bisa mengambilnya di apotek setelah ini."
"Terimakasih dokter!"
Di depan ruangan dokter, Lentera menghela nafas dalam melihat kertas resep obat yang harus ia beli. Uang di dalam dompetnya hanya tinggal lima ratus ribu. Jika memaksa membeli obat itu, bayangkan saja uangnya sisa tiga ratus ribu. Di sisi lain, belum ada pekerjaan yang bisa dilakukan untuk menjamin keuangannya nanti.
Haruskah menebus obat itu?
Memikirkan bagaimana mengelola keuangan memang membuat pusing kebanyakan orang. Seketika deretan rumus matematika muncul di otak Lentera. Selain menyukai renang, Lentera juga termasuk siswa pandai di sekolah. Karena itu, ia bisa dengan mudah mendapatkan beasiswa di sekolah ternama itu.
"Baiklah, lain kali aja aku beli. Sekedar terkilir nggak akan bikin aku mati kan?"
Lentera bertanya pada diri sendiri, kemudian dengan cuek melangkahkan kakinya pergi. Koridor rumah sakit cukup sepi, Lentera berjalan tertatih dengan sesekali berpegangan pada tembok. Ketika melewati sebuah pertigaan di koridor, terdengar benturan keras membuat langkah Lentera terhenti sebelum melewati.
__ADS_1
"PERGILAH! MULAI SEKARANG, JANGAN PERNAH DEKATI PUTRIKU LAGI!"
Mata Lentera membulat sempurna ketika melihat pertengkaran hebat dua pria dewasa itu. Salah satu pria terjatuh di depan Lentera, setelah mendapatkan sebuah pukulan. Pria berpenampilan kacau dengan pakaian penuh bekas merah darah. Tidak ada siapapun yang berani mendekat, bahkan para petugas rumah sakit pun memilih pergi. Begitu juga dengan pria tua yang telah memukulnya tadi.
"Anda baik-baik saja?" Lentera mendekat perlahan, mengulurkan tangan, mencoba membantu pria yang sedikit kesulitan untuk berdiri itu.
"Bagaimana mau membantuku, sementara kakimu saja pincang seperti itu!" Pria itu berkata pedas, tanpa mau menatap ke arah Lentera.
"Baiklah, terserah Anda saja!" Lentera cukup kesal mendengar ucapan pria itu, karenanya ia memilih pergi tanpa mau berdebat dengannya.
"Tunggu! Vanes?"
Pria itu mematung di tempat, menyadari ada sesuatu yang aneh. Suara itu membuatnya terbangun dari keterpurukan. Langkahnya cukup cepat menghampiri dan memegang tangan Lentera. Hingga pandangan keduanya saling bertegur sapa, dengan pertanyaan yang saling berlawanan.
"Tuan Kenzo!"
Panggilan sang asisten tidak dapat mengalihkan perhatiannya, Kenzo masih menatap mata gadis di hadapannya dengan penuh pertanyaan.
"Kamu baik-baik saja?" Tanpa basa-basi, Kenzo dengan lancang menarik Lentera hingga membentur dada. Pelukannya begitu erat, seolah enggan melepas untuk selamanya. "Syukurlah!"
"Om siapa?" Sekuat tenaga Lentera mendorong pria asing itu hingga pelukannya terlepas. Matanya terpejam sejenak, merasakan sedikit sakit pada bahu. Lalu dengan cepat, Lentera melirik tajam pria itu. "Kenapa Om tiba-tiba peluk-peluk saya?" Bertanya dengan nada marah.
"Kamu ... Vanessa?" Suara Kenzo tercekat, gadis di hadapannya ini sangat mirip dengan kekasihnya. Dari suara, postur tubuh dan sorot matanya. Hanya saja, struktur wajah mereka tidak begitu mirip. Kenzo masih meneliti, mencari kemiripan lain pada gadis di hadapannya dengan sang kekasih. "Apa saya tidak salah lihat?"
"Memangnya Om liat apa?" Lentera menepis kedua tangan Kenzo yang tiba-tiba memegang kedua bahunya. "Saya bukan Vanes seperti yang Om bicarakan itu!"
Kenzo mengusap wajah dengan kasar, lalu menjambak rambutnya. Begitu gilanya kah ia sekarang, hingga menganggap gadis itu mirip seperti Vanessa. Padahal sudah sangat jelas, ia melihat sendiri Vanessa sedang terbaring lemah di ruang UGD tadi.
Lentera hanya menggeleng tidak habis pikir, kemudian melenggang pergi meninggalkan pria tak dikenalnya itu. Sungguh, hari kesialan macam apa ini? Di hari pertama masuk sekolah, ia justru harus mengalami semua hal ini.
"Astaga! Aku kan harus ke sekolah!"
🎀🎀🎀
Cast Lentera Putri Permana
...Sampai bertemu di cerita Lentera Pengganti selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1