Lentera Pengganti

Lentera Pengganti
Bab 12. Lentera Pengganti


__ADS_3

Bell pulang sekolah berbunyi nyaring, memenuhi seantero sekolah. Lentera mengemasi buku dan peralatan lainnya, setelah guru mengakhiri kegiatan belajar–mengajar hari ini. Satu persatu siswa tampak mulai meninggalkan kelas. Lentera memutuskan menunggu sejenak, agar tidak berdesakkan dengan yang lain.


"Gue denger tangan lo lagi sakit?"


Suara lembut Lily mengalihkan perhatian Lentera. Rupanya di belakang masih ada Bagas, Haris dan Boy yang masih duduk santai di tempatnya. Sementara Lily masih duduk di kursi tepat di sampingnya. Gadis itu tersenyum manis, sembari memegang bahu Lentera yang memang sedang sakit.


"Cuma sakit biasa kok, paling berapa hari lagi juga sembuh."


Lentera tersenyum tipis. Terhitung sudah dua hari sejak ia pindah sekolah, dan sejauh ini, baru Lily yang mau berteman dengannya. Kepribadian Lily memang ramah dan selalu murah senyum pada semua orang. Mungkin itu sebabnya Lily banyak disukai siswa dan guru di sekolah, tidak termasuk Lentera sendiri. Entah mengapa hatinya merasa ragu akan kebaikan itu.


"Emang lo abis ngapain, sih? Kok bisa sakit gitu?" Lily segera menarik tangannya, ketika menyadari  ada semburat kesakitan dan raut tidak nyaman di wajah Lentera, ketika bahunya dipegang.


"Cuma kecelakaan kecil, bentar lagi juga sembuh."


Membutuhkan beberapa hari lagi hingga bahu kirinya benar-benar pilih. Dokter Findrilia juga menyarankan agar tidak memberikan beban berlebih pada bahunya untuk sementara waktu. Namun meski tampak baik-baik saja, sebenarnya Lentera cukup kesulitan beraktivitas sejak kemarin.


Mata Lily membulat, setelah mendengar jawaban Lentera. "What? Lo abis kecelakaan?" tanyanya heboh.


Sekilas Lentera mengalihkan pandangan ke sekeliling. Ia tak boleh berlama-lama di sini. Lily memang anak paling ramah yang ia kenal di sekolah, tapi bukan berarti harus dipercaya. Apalagi baru dua hari sejak mereka berkenalan.


"Iya, sekarang nggak papa kok. Aku pulang duluan ya!"


Lentera buru-buru meraih tas, lalu memakainya di pundak sebelah kanan. Kata mayoritas siswa, Lily suka mengumpulkan berita heboh untuk bahan gosip seluruh anak sekolah. Karena itu, akan lebih baik menghindari Lily, daripada meladeni setiap pertanyaannya.


"Lo yakin, Van?" Lily ikut beranjak, yang seketika menghentikan pergerakan Lentera.


Sejenak Lentera terdiam, kemudian menatap Lily datar. "Maaf, tapi namaku Lentera."


Lily memang tampak baik, tapi tetap saja masih salah dalam memanggil namanya. Sebenarnya bukan hanya Lily, siswa lain pun melakukan hal yang sama. Mereka serentak salah memanggil nama Vanessa, padahal nama lengkapnya sudah tersemat jelas di seragam sekolah.


"Eh iya, maksud gue, Lentera." Lily menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedikit merasa tidak enak. "Abis lo mirip banget sama Vanes, sih. Gue sempat mengira kalau kalian saudara kembar tauk. Apa jangan-jangan iya, ya?"


Lagi-lagi Lily berspekulasi semaunya sendiri. Lentera bahkan tidak pernah kepikiran memiliki saudari kembar rahasia. "Nggak mungkin! Kita aja belum pernah ketemu sebelumnya!"


Lentera menggeleng, saat Lily justru terkekeh. Sebelum meninggal, Ayah dan Ibu tidak pernah membahas anak selain dirinya. Mbok Arum juga tidak pernah membahasnya, jadi mana mungkin kalau ia memiliki saudari kembar. Lentera sudah mengatakan sebelumnya, tapi tetap saja Lily masih berusaha mencari tahu.


"Mungkin aja kembar yang terpisah, tapi ...."


Tiba-tiba Lily menggeleng, seolah tak yakin dengan dugaannya. Menurut berita yang beredar, Vanessa memang memiliki saudari kembar, tapi sudah lama meninggal. Ia pun tidak yakin bagaimana cerita sebenarnya.


"Tapi nggak mungkin juga sih kalau kalian saudara kembar, secara, sifat kalian aja beda jauh!" kata Lily.


Lentera mengangguk, kemudian pergi setelah berpamitan. Sangat tidak baik jika terus berdekatan dengan Lily, mengingat banyaknya rumor yang sedang beredar di sekolah sekarang. Karena kemiripannya dengan Vanessa, beberapa siswa masih mengira Lentera benar-benar Vanessa yang sudah merubah penampilan.


Tidak jarang ada juga yang mengira Lentera adalah pengganti keberadaan Vanessa di sekolah. Apalagi, dulu Vanessa juga berasal dari kelas yang sama dengan kelas Lentera sekarang. Sungguh kesialan yang tak berujung, hingga entah sampai kapan nama itu akan terus mengusik kehidupannya.


"Vanessa!

__ADS_1


Langkah Lentera terhenti tepat di ambang pintu, ketika beberapa gadis tiba-tiba berdiri menghalangi jalannya. Dilihat dari wajah-wajahnya, mereka jelas bukan siswi kelas XII IPA 3. Pantas saja mereka masih salah memanggil namanya.


"Lo dicariin Elvan!" kata salah satu gadis yang berdiri paling tengah.


"Namaku, Lentera. Bukan Vanessa!"


Dengan cuek, Lentera berjalan menepis segerombolan cewek di hadapannya. Kesabarannya sudah berada di ambang batas. Daripada marah-marah tidak jelas, akan lebih baik ia segera meninggalkan sekolah.


"Heh, nggak usah belagu deh! Kalau bukan Elvan yang nyuruh, gue juga males kali repot-repot manggil lo ke sini!"


Langkah Lentera terhenti, ketika gadis berkuncir kuda itu memegang ujung tasnya. Lentera menghela nafas berat, sulit sekali baginya untuk bernafas lega akhir-akhir ini. Siapa yang mengira, kehidupannya akan terus terbelenggu oleh nama gadis yang bahkan sudah pergi dari sekolah ini. Gadis yang bahkan belum pernah ia temui sebelumnya.


"Udah ku bilang sebelumnya, namaku bukan Vanessa!"


Lentera menepis tangan gadis itu dengan kasar. Menatap keempat gadis itu dengan marah, rahangnya mengeras saking gemasnya. Bukannya mengerti, mereka justru tertawa kencang. Lentera semakin kesal dibuatnya. Pasti mereka tidak akan berhenti sampai di sini.


"Gue nggak peduli! Lo udah ditungguin sama Elvan di lapangan basket! Awas aja lo kalau nggak dateng!"


Keempat gadis itu segera pergi menuju lapangan, meninggalkan Lentera yang kini dilanda kebingungan. Kebanyakan siswa akan mengalami hari yang buruk jika sudah berurusan dengan Elvan, begitu menurut informasi yang beredar di kalangan para siswa.


"Gue saranin lo harus hati-hati sama Elvan!"


Dari arah pintu, Lily datang lalu menepuk sekilas lengan Lentera. Di belakangnya masih ada Boy, Bagas dan Haris yang baru keluar dari kelas. Mereka hanya menatap sekilas, solah tidak mengenal satu sama lain.


Kini Lentera paham, di sekolah ini tidak ada yang namanya teman. Mereka datang hanya untuk belajar dan mempertahankan diri masing-masing. Siapa yang dapat bertahan, itulah pemenangnya.


Lentera mengepalkan tangan, meyakinkan diri. Ia bukan gadis bodoh yang bisa dengan mudah dibully. Soal panggilan Elvan tadi, anggap saja sebagai angin lalu. Ia bahkan belum pernah bertemu Elvan sama sekali di sekolah ini.


"Hai, Lentera!"


Lentera mendongakkan kepala cepat. Baru kali ini ada orang yang memanggil namanya dengan benar. Namun setelah melihat orangnya, ia justru bingung, lantaran belum pernah melihat wajah itu sebelumnya.


"Maaf, kamu siapa?"


Lentera menatap bingung cowok di hadapannya. Postur tubuhnya yang tinggi membuat Lentera sedikit kesulitan melihat seperti apa struktur wajahnya. Beruntung langit kali ini tidak secerah wajahnya saat habis gajian, sehingga wajah cowok itu tidak akan tertutup siluet langit di sore hari.


"Jangan buat dia takut!"


Suara cowok dari belakang mengalihkan perhatian keduanya. Kening Lentera mengernyit ketika melihat cowok tampan itu tersenyum seraya mendekat padanya. Lentera akui, penampilan cowok cukup keren. Minimal, sebelah dua belas dengan Boy.


"Riki! Lo nggak macem-macem, kan?" Tatapan cowok itu masih tertuju pada Lentera, ketika tangannya mendorong cowok yang sebelumnya menghalangi jalan—Riki namanya. "Mending lo jaga gerbang! Biarkam dia jadi urusan gue!"


Elvan? Jadi dia, cowok yang sering dibicarakan itu?


Lentera menelan saliva. Rupanya cowok di hadapannya itu bernama Elvan. Ia pikir panggilan dari para cewek tadi hanya main-main. Sekarang harus apa? Lentera saja tidak tahu di mana letak kesalahannya, sehingga Elvan tertarik untuk bermain-main dengannya.


"Bisa kita bicara sebentar?" Raut wajah Elvan berubah serius, masih kesal karena Lentera mengabaikan panggilan di lapangan sebelumnya.

__ADS_1


"Ogah!" Kata penolakan itu terdengar kasar setelah terucap, Lentera sedikit menyesalinya. Sebelum suasana semakin kacau, lebih baik ia segara pergi dari hadapan cowok itu.


Melihat Lentera hendak pergi, Elvan dengan cepat meraih tangannya dengan kasar. "Siapa yang izinin lo pergi?"


"Buat apa izin?" Lentera berkata tegas, lalu menepis tangan Elvan yang tadi memegang tangannya. "Aku nggak butuh izin dari siapapun!"


"Jangan macam-macam! Buat satu kesalahan lagi, maka lo akan tau akibatnya!" Suara Elvan menggema di sekitar area gerbang. Sorot matanya tajam menatap Lentera, tangannya terkepal kuat hingga tampak jelas garis tonjolan otot-ototnya.


"Mau kamu apa, sih?" Lentera tidak mengerti. Baru saja bertemu, Elvan sudah ingin membuat keributan dengannya. Bukannya takut, hanya saja ia tidak ingin memiliki banyak masalah di sekolah baru. "Kenal juga enggak, udah main kasar aja!"


Lentera ingin pulang, sekitar satu jam lagi ia harus sudah sampai di toserba tempatnya bekerja part time. Dua cowok tadi masih berjaga di gerbang. Elvan seolah sengaja tidak memberikan kesempatan bagi dirinya untuk kabur.


Senyum manis tiba-tiba yang terukir di bibir Elvan tak lantas membuat Lentera merasa lega. Yang terjadi justru sebaliknya, gadis itu malah merasa takut dibuatnya.


"Gue cuma penasaran aja, cewek kayak apa yang bisa bikin Boy jatuh cinta? Dan ternyata nggak ada bedanya sama Vaness."


Elvan mencolek dagu Lentera, lalu mengedipkan mata sembari tersenyum menggoda. Bukannya tergoda, Lentera justru ingin muntah melihatnya. Pikir Lentera, pasti cowok itu sudah melihat apa yang terjadi di kolam tadi, sehingga terjadi kesalahpahaman ini.


"Kayaknya kamu salah paham, aku sama Boy nggak ada hubungan apa-apa!" ucap Lentera.


"Oh ya?" Wajah Elven dibuat seolah terkejut, lalu terkekeh. "Sayang sekali, padahal gue kira kalian udah pacaran."


Bagaimana mau pacaran, sementara Boy saja sangat pendiam dan suka menyendiri. Jangankan disentuh, berdekatan saja cowok itu tidak mau. Lentera masih tidak habis pikir, bagaimana bisa ada cowok seperti Boy di sekolah elit seperti ini. Ia pikir manusia kalem hanya berlaku untuk siswa terlantar yang sering dibully.


"Kita nggak ada hubungan apa-apa! Permisi!"


Merasa sudah tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Lentera melangkahkan kaki meninggalkan Elvan. Namun siapa sangka, Elvan yang melihat kehadiran Boy di sana malah iseng menekel kaki Lentera dari belakang.


Alhasil, Lentera seketika kehilangan keseimbangan tubuh. Gadis itu tersungkur, darah segar keluar dari lutut yang telah mencium kasarnya permukaan paving blok. Lentera meringis merasa perih pada lutut dan bahu kirinya.


"Kamu gila ya?!" Bukan hanya merasakan sakit, Lentera juga malu setelah menyadari ada banyak orang yang menonton adegan dirinya saat terjatuh.


Boy mengepalkan tangan, tanpa aba-aba langsung mendekati Elvan dan mencengkeram kerah bajunya. Tatapannya begitu tajam, sarat akan kemarahan pada cowok di hadapannya. Sikap implusif  Boy tak ayal membuat Elvan takut. Justru kemarahan Boy lah yang sedang ia cari.


"Wow, apa seorang Boy sedang marah sekarang?" Elvan bertepuk tangan, lalu melirik Lentera yang masih berada di tempatnya. "Jadi ternyata benar, kalau lo suka sama dia?"


"Itu bukan urusan lo!" Boy kembali menarik kerah baju Elvan. "Jangan ganggu dia kalau lo cuma mau mengusik kehidupan gue! Dia nggak ada hubungannya dengan masalah kita!"


Sebenernya Boy sangat ingin memukul wajah menyebalkan itu. Senyum yang masih terukir di bibirnya selalu berhasil memancing kemarahan Boy. Namun ia sadar, Elvan bersikap seperti ini juga karena dirinya.


"APA-APAAN INI? BUBAR SEMUA!"


Pekikan seorang guru berhasil mengalihkan atensi mereka. Para siswa yang tadinya berkumpul, kini berangsur membubarkan diri. Sebagian tidak mau ikut mendapat masalah hanya karena melihat perkelahian antara Boy dan Elvan.


🎀🎀🎀


Follow IG : @smiling_srn27

__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita Lentera Pengganti selanjutnya 👋🏻...


... ...


__ADS_2