
"Nggak usah ge'er! Kalau bukan karena Elvan salah paham, gue juga ogah bantuin lo sampai ke rumah sakit kayak gini! Nyusahin aja!"
Lentera membuang muka. Baru ia sadari sejak tadi tak melepaskan pandangan dari Boy, sedikitpun. Mungkin itulah sebabnya Boy berbicara demikian, agar Lentera sadar bahwa pertolongan tadi hanya sebatas rasa kasihan.
"Bagaimana keadaanya, Dok?"
Seperti biasa, bahkan pada Dokter Findrilia pun Boy masih tetap memasang wajah datar. Dokter Findrilia sempat terkejut, lalu mencoba bersikap profesional selayaknya Dokter pada umumnya.
"Lentera baik-baik saja, untung kamu cepat membawanya ke sini."
Tadi, begitu anak-anak membubarkan diri, Boy langsung menarik Lentera dan membawanya ke rumah sakit. Lentera juga sedikit heran. Tanpa diberitahu, Boy langsung membawa Lentera ke ruangan Dokter Findrilia.
"Baguslah," ucap Boy tanpa mengubah ekspresi wajah.
"Apa kamu mengenalnya?" Dokter Findrilia bertanya, mentatap Boy yang kini duduk di hadapannya.
"Tidak."
Dokter Findrilia tersenyum. "Ah benar! Sepertinya kalian teman satu sekolah, atau, satu kelas mungkin."
"Itu bukan urusan Anda!" sela Boy.
"Baiklah, baiklah." Dokter Findrilia terkekeh. "Bahu Lentera masih belum pulih benar, jadi untuk beberapa hari ke depan tidak boleh beraktifitas terlalu berat. Minggu depan datanglah ke sini untuk melakukan pemeriksaan lagi."
Lentera mengangguk, meski sedikit bingung melihat interaksi antara Boy dan Dokter Findri yang tidak biasa. Jika dilihat dengan seksama, wajah keduanya ada sedikit kemiripan. Hanya perbedaan usia dan gender yang membuat keduanya jadi terlihat berbeda.
"Apa semua sudah selesai?" Melihat Dokter Findri mengangguk, Boy melirik pada Lentera. Sudut matanya mengisyaratkan Lentera untuk segera turun dari brankar dan pergi dari ruangan.
"Terima kasih, Dokter!" ucap Lentera.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka ketika Boy dan Lentera hendak keluar. Dua orang pria berjas rapi kini berdiri di ambang pintu, dan salah satunya mengernyit menyadari adanya Lentera di dalam ruangan.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Kenzo?" Dokter Findri selaku pemilik ruangan datang dan menyapa pria itu. Awalnya Dokter Findri memang tidak mengenal Kenzo. Namun setelah mencari tahu, rupanya Kenzo adalah CEO dari perusahaan Viance Grup. Perusahaan itu juga bekerja sama dengan perusahaan Ayah Dokter Findri.
__ADS_1
"Lentera?" Bukannya menjawab, tatapan Kenzo justru hanya tertuju pada gadis di belakang Boy. "Sedang apa kau di sini?"
Lentera mematung, tak tahu harus melakukan apa. Pertanyaan Kenzo seolah menandakan bahwa mereka sudah saling mengenal dengan baik. Hal itu justru membuat Lentera sedikit risih dan bingung, mengingat hutang yang belum mampu ia bayar.
"Lo kenal dia?" tanya Boy. Lentera hanya menggeleng, tidak tahu harus mengatakan apa.
"Kenapa diam?" Kenzo mengangkat salah satu alisnya, lalu meraih tangan Lentera "Ayok pulang!"
"Tunggu!" Tidak tinggal diam, Boy ikut memegang tangan Lentera. Menghentikan Kenzo yang hendak menarik paksa gadis itu.
"Ada apa lagi? Lepaskan tangannya!" bentak Kenzo.
"Kenapa saya? Bukankah harusnya Anda?" Boy menarik tangan Lentera hingga terlepas dari Kenzo. "Dia datang bersama saya, jadi sudah seharusnya saya yang mengantarkannya pulang!"
"Memangnya kau itu siapa?"
"Saya ...."
"Om kenapa sih suka banget tarik-tarik tangan saya? Tangan saya itu bukan tali rafia kalau Om lupa!"
"Apa itu tali rafia?" Kenzo mengerutkan kening, tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Ish masa Om nggak tau tali rafia sih?" Lentera mendengus. Setelah dipikir-pikir, mana mungkin orang kaya seperti Kenzo mau berurusan dengan tali apalagi mengingat nama-namanya. Mereka orang-orang kaya hanya sibuk dengan berkas-berkas di kantor dan laptop, seperti Ayah Lentera dulu.
"Sudahlah, lupakan!"
Di tengah lorong rumah sakit, Lentera menghempaskan tangan Kenzo dengan kasar. Hampir saja pergelangan tangan kanannya membiru jika saja Lentera tidak berani menentang perbuatan pria itu.
"Jangan memancing kemarahanku!" Kenzo kesal, beraninya Lentera menghempaskan tangannya.
"Memangnya kenapa Om marah?" jawab Lentera dengan berani.
"Sedang apa kau di sini, hah?" Rahang Kenzo mengeras mengingat kesalahan Lentera sebelumnya. Tadinya, ia sengaja datang ke rumah sakit untuk memastikan perihal tes DNA. Namun, ia justru mendapati Lentera sedang di ruangan Dokter Findri. Dan lebih parahnya lagi, bersama seorang anak laki-laki yang menurutnya sangat menyebalkan. "Siapa yang mengizinkanmu pergi bersama anak ingusan itu?"
__ADS_1
Lentera mengerutkan kening. "Memang siapa yang melarang saya pergi bersama orang lain?"
Kenzo terdiam. Sebelumnya ia memang belum pernah memberikan larangan pada siapapun, termasuk Lentera. Dan lagi, kenapa Kenzo begitu marah melihat Lentera pergi dengan laki-laki lain?
"Dengar! Mulai sekarang, kau tidak boleh pergi ke manapun. Dengan siapapun, termasuk anak ingusan itu!" ucap Kenzo dengan tajam.
"Memangnya siapa Om? Dan lagipula, memangnya Om kenal dengan Boy?" Lentera berkata dengan nada kesal. Baru kali ini ada pria gila yang berani mengatur kehidupannya.
"Aku tidak peduli siapa Boy yang kau katakan itu. Yang aku pedulikan adalah kau sendiri, karena kau adalah Vincie!"
Lentera mengernyitkan dahi, semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan pria itu. "Vincie? Siapa Vincie?"
Kenzo menghela nafas. Tangannya menengadah ke arah Jeff, meminta berkas yang telah disiapkan sebelumnya. Untung saja, Jeff selalu siap sedia kapanpun di butuhkan. Begitu dapat, Kenzo langsung menyerahkannya pada Lentera.
"Baca dan pahami, maka kau akan tau bahwa kau adalah Vincie, saudari kembar Vanessa yang telah lama hilang."
"Saudari kembar Vanessa?" Lentera memejamkan mata. Lagi-lagi ia harus berurusan dengan nama Vanessa. Ia bosan, bahkan sejak kemarin ia selalu berurusan dengan nama itu. "Bisakah Om tidak mengungkit nama itu lagi?"
"Aku tidak peduli seberapa bosan kau mendengar namanya, karena mulai sekarang nama itu akan selalu ada dikehidupanmu. Dia Kakak kandungmu, Vincie!"
Sebenarnya, Lentera malas menerima berkas data yang diberikan Kenzo. Namun, melihat mata Kenzo yang semakin lama semakin tajam, Lentera mulai merasakan adanya sinyal bahaya yang akan terjadi.
Helai demi helai kertas Lentera baca dengan seksama. Di dalam sana, tertera beberapa buah foto berisikan dua anak kecil yang sedang tersenyum dengan gembira. Wajahnya begitu mirip. Lentera masih ingat betul wajah anak itu sangat mirip dengannya saat kecil.
Begitu membaca seluruh data yang ada, Lentera begitu terkejut. Benarkah ia memiliki saudari kembar? Hingga sekarang bahkan wajahnya masih ada kemiripan dengan Vanessa. Pantas saja, seluruh siswa di sekolah selalu salah dalam memanggil namanya.
Begitu selesai membaca, Lentera menutup berkas di dalam map berwarna coklat itu. Semua ini tidak mudah untuk dipercayai begitu saja. Ketika masih hidup, Ayah dan Ibu tidak pernah membicarakan perihal saudari kembar padanya. Semua orang juga tahu bahwa Lentera adalah anak satu-satunya dari keluarga Permana.
"Apa Om pikir saya akan percaya begitu saja?"
🎀🎀🎀
...Sampai bertemu di cerita Lentera Pengganti selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1