
"Dengar-dengar, mau ada siswa baru di kelas kita?"
Suara lembut Lily terdengar jelas di telinga. Hanya dengan satu kalimat saja, Lily sudah mampu membuat rasa penasaran anak satu kelas. Anak-anak yang sebelumnya sibuk dengan gadget masing-masing, kini mulai mengerubungi bangku gadis itu.
"Serius Ly, gue tadi juga nggak sengaja liat ada anak cowok di ruang guru. Sumpah, ganteng banget!" Salah satu anak perempuan menyahut dengan heboh. "Atau jangan-jangan, itu anak baru yang lo maksud?"
Lily mengangguk, lalu melirik Lentera yang tampak tidak tertarik dengan berita yang ia bawa kali ini. "Ra? Apa lo udah tau, bakal ada siswa baru di kelas kita?"
"Hah?" Lentera menoleh, menghentikan tangannya yang sedang asik menggambar abstrak di atas buku. "Entahlah, aku juga nggak tau!"
Lentera tersenyum kaku. Sebenarnya, ia tidak terlalu suka mengurusi kehidupan orang lain. Baginya, mau ada atau tidaknya siswa baru, semua sama saja. Situasi kehidupannya tidak akan berubah, apalagi dengan kondisi keuangannya.
Lentera kembali berkutat dengan gambar abstrak di dalam bukunya. Membiarkan anak-anak lain kembali membicarakan anak baru yang mereka maksud. Hingga bell jam pelajaran berdering, baru mereka kembali ke bangku masing-masing.
Tidak berapa lama, Bu Anni masuk bersama cowok dengan tinggi sekitar enam kaki. Meski bersembunyi dibalik kaca mata, parasnya yang tampan mampu membuat kelas riuh dengan teriakan kagum. Untungnya, wali kelas XII IPA 3 itu mampu menangani para siswa hanya dengan mengangkat tangan.
"Selamat pagi anak-anak!" sapa Bu Anni.
"Pagi Bu!"
"Hari ini kita kedatangan teman baru," Bu Anni menunjuk ke arah cowok yang kini berdiri di depan kelas. "Silakan perkenalkan diri kamu."
"Nama gue, Kenzo! Gue nggak suka pertemanan, jadi kalian nggak usah repot-repot mau tau tentang gue."
Kalimat datar meluncur begitu saja dari bibir Kenzo, yang seketika membuat para cewek bersorak kecewa. Memang siapa yang tidak terpesona dengan ketampanan Kenzo? Hidung mancung dan rahang tegasnya terpahat indah bersama kulit wajah yang putih bersih.
"Baik, cukup sekian perkenalannya. Silakan duduk Kenzo!" Bu Anni menunjuk bangku kosong yang terletak paling belakang. Tepat di sebelah Bagas.
"Maaf Bu, boleh saya duduk di sana?" Kenzo menunjuk bangku yang sedang di duduki Lily, membuat semua siswa menatap dengan bingung. Begitu pula dengan Lentera yang kini duduk tepat di sebelah Lily."Mata saya minus, tidak bisa melihat dengan jelas dari jarak jauh."
Melihat kaca mata yang bertengger di wajah Kenzo, Bu Anni mengangguk mengerti. Lalu menyuruh Lily pindah ke barisan paling belakang tepatnya di sebelah Bagas. Haris hanya mampu mengulum senyum melihat raut kekesalan di wajah Lily.
__ADS_1
"Sabar Ly, lo nggak sendirian kok!" Haris berkata lirih, menunjuk Jasmine dengan sudut matanya.
Lily tak menggubris. Jujur ia tidak begitu suka dengan Jasmine. Sikapnya yang cuek dan sedikit jutek sangat tidak cocok dengan Lily yang gampang terbawa emosi. Meskipun terkenal ramah, Lily juga memiliki tingakatan kesabaran yang mudah berubah-ubah.
Di saat Lily merasa kesal, Kenzo justru tersenyum penuh kemenangan. Melihat Lentera duduk di sebelahnya, Kenzo merasa setengah tujuannya sudah tercapai. Setelah bersusah payah mengubah diri menjadi anak SMA kembali, ia tak ingin satupun rencananya gagal.
Setelah semua yang kulakukan, jangan harap kau bisa lepas dariku, Lentera!
Beberapa cewek masih menatap Kenzo tanpa berkedip. Merasa Dewi keberuntungan kini berpihak pada Lentera. Di saat anak-anak lain ingin duduk di sebelah Kenzo, berbeda halnya dengan Lentera yang justru merasa risih.
Siapa yang tidak risih? Sejak tadi Kenzo menatap Lentera sambil senyum-senyum tidak jelas. Jika boleh dikatakan, sebenarnya Lentera lebih nyaman duduk bersama Lily daripada cowok baru di sebelah. Meski sebenarnya, tempat duduk mereka tidak menyatu dalam satu meja.
Hingga jam istirahat dimulai, Lentera masih diam mengabaikan Kenzo. Kepribadiannya yang introvert memang tidak mudah untuk memulai sebuah pertemanan. Daripada memulai, Lentera lebih suka menghindari sebuah konflik.
"Mau ke mana?" Melihat Lentera hendak pergi, Kenzo ikut beranjak dan mengikutinya. "Sorry, gue anak baru jadi belum tau soal apapun di sekolah ini."
"Emang kamu mau ke mana?" Lentera mencoba ramah, meskipun sedikitnya ia cukup tahu apa yang diinginkan pria di sebelahnya. Setelah diamati, cowok itu hampir mirip dengan seseorang.
Sepanjang koridor, Kenzo terus mengikuti Lentera. Mengabaikan tatapan haus para siswa yang terkagum-kagum dengan ketampanan Kenzo. Hingga sampai di taman kecil samping sekolah, Lentera mendudukkan diri di sebuah bangku.
"Sampai kapan kamu bakal pura-pura?" Lentera memulai percakapan, mengejutkan Kenzo yang tengah asik menikmati keindahan taman.
"Maksudnya?" Kenzo mengerutkan dahi.
"Apa Om pikir saya nggak tahu?"
Lentera beranjak, menatap Kenzo dari atas sampai bawah. Rambut yang dibuat menutupi jidat dan kacamata yang bertengger di wajah, tadinya Lentera hampir tidak mengenalinya. Namun setelah mendengar suaranya, Lentera akhirnya paham siapa pemilik suara itu. Suara seseorang yang sejak kemarin mengusik kehidupannya.
Jeff, perjuanganmu tidak ada gunanya! Kenzo mencopot kaca mata dan terkekeh. Gagal sudah rencananya menyamar sebagai anak SMA. "Ah sial, ternyata kau pintar juga mengenaliku."
Sebelumnya Kenzo sudah memastikan pada semua orang, dan tidak ada yang mengenalinya. Jeff juga terheran-heran begitu melihat wajah Kenzo yang awet muda, masih seperti anak SMA walau sudah beberapa tahun lamanya. Namun tidak disangka, Lentera justru bisa dengan mudah mengenalinya.
__ADS_1
"Mau Om apa, sih?" tanya Lentera.
"Ssstttt, panggil saja, Kenzo!" peringat Kenzo. Sedikitnya, ia takut ada orang lain yang mendengar dan mengetahui rahasianya.
"Apa kamu takut sekarang? Setelah hal gila yang kamu lakukan?" Lentera menggelang heran. Bisa-bisanya pria itu kepikiran untuk menyamar menjadi anak SMA di saat umurnya sudah hampir memasuki kepala tiga. Namun yang lebih aneh, wajah Kenzo yang sekarang justru terlihat sangat cocok sebagai anak SMA.
"Ini semua karena kau tidak mau mendengarkanku!" ucap Kenzo.
"Apa yang harus aku dengar darimu?" Lentera bertanya dengan nada kesal, "Tentang Vincie lagi?'
Lentera menggeleng tidak mengerti. Sejak kemarin Kenzo terus mengatakan dan meyakinkan bahwa dirinya adalah Vincie. Namun Lentera tetap tidak percaya. Mungkin itulah sebabnya Kenzo memutuskan menyamar menjadi anak SMA hanya untuk meyakinkan dirinya.
"Sudah aku katakan, namaku Lentera, bukan Vincie apalagi Vanessa!" ucap Lentera.
"Kau ingat dengan kecelakaan beberapa hari yang lalu?" Kenzo membuka ponsel, memutar sebuah video lalu menunjukan pada Lentera. "Di sini terlihat jelas bahwa kau adalah penyebab kecelakaan itu terjadi. Kau pikir apa yang akan terjadi jika aku menyerahkannya pada polisi?"
Lentera terpaku. Itu adalah video saat dirinya hampir tertabrak mobil beberapa hari yang lalu. Entah siapa yang salah? Namun sebagai golongan anak yang masih di bawah umur, tentu Lentera takut jika harus berurusan dengan polisi tanpa adanya wali. Masuk penjara bukan tujuan Lentera datang ke kota ini.
"Aku sedang memastikan DNAmu dengan Vanessa, hasilnya akan keluar minggu depan. Dan selama itu, aku tidak akan membiarkanmu lepas dari jangkauanku. Aku bisa saja menyerahkan video ini pada polisi sekarang, jika kau tetap tidak mau mengikuti perintahku!"
Kenzo terpaksa, hatinya merasa tidak tenang setelah melihat Lentera pergi bersama seorang laki-laki kemarin. Ditambah lagi, ia melihat laki-laki itu ternyata berada satu kelas dengan Lentera sekarang.
"Lancang sekali Anda!" ucap Lentera marah.
"Setelah kau membuat Vanessaku pergi, aku merasa aku harus melakukannya. Agar aku tau, apa yang apa yang akan aku lakukan jika kau benar-benar bukan Vincie!"
"Lalu jika hasilnya negatif?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja, Lentera sedikit menyesalinya. Ia tidak yakin dengan jawaban yang akan Kenzo berikan.
"Maka kau akan merasakan nikmatnya bertahan dibalik jeruji besi!"
🎀🎀🎀
__ADS_1
...Sampai bertemu di cerita Lentera Pengganti selanjutnya 👋🏻...