Lentera Pengganti

Lentera Pengganti
Bab 03. Lentera Pengganti


__ADS_3

Ganteng sih, tapi sayang, aneh!


Di tepi jalan raya depan area rumah sakit, pikiran Lentera kembali tertuju pada pria aneh yang baru ditemuinya. Awalnya memang sedikit kasihan melihat penampilannya, tapi dengan perilakunya seketika membuat Lentera kesal. Beraninya memeluk, padahal tidak saling mengenal satu sama lain.


Pandangan Lentera mengedar, mencari kendaraan yang bisa mengantarkan dirinya ke sekolah. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan, ia tahu ini sudah sangat terlambat untuk datang. Tapi tidak ada pilihan lain. Bukankah terlambat itu lebih baik daripada tidak datang sama sekali? Baiklah, setidaknya motto itu yang harus dipegang erat saat ini.


Sebuah mobil berhenti tepat di depan Lentera. Terlihat asing, membuat Lentera seketika berwaspada. Detik berikutnya, kaca mobil bagian belakang berangsur turun, memperlihatkan sesosok pria yang telah lancang memeluknya tadi.


"Mau saya antar?"


Pria di dalam mobil itu sudah merubah tampilan. Lentera akui itu terlihat jauh lebih tampan dari sebelumnya. Apabila sudah saling mengenal, mungkin akan lebih mudah baginya untuk menerima penawaran itu. Namun, bagaimanapun juga, Lentera harus pandai menjaga diri di kota besar ini.


"Nggak perlu, makasih!"


Kata-kata itu terdengar lebih menyakitkan setelah terucap, Lentera sedikit menyesalinya. Padahal ia sedang sangat membutuhkan tumpangan. Simpanan uangnya sudah berkurang setelah membayar biaya rumah sakit tadi. Terpaksa Lentera mengangkat kakinya yang terkilir untuk segera meninggalkan tempat. Daripada semakin menyesali penolakan itu nantinya.


"Ikuti!"


Bukan Kenzo namanya jika menyerah begitu saja. Meskipun kesal dengan penolakan itu, Kenzo tetap memerintahkan asistennya untuk mengikuti gadis itu. Dalam diam, ia mengawasi gadis yang telah memilih berjalan menyusuri jalan daripada menerima tawarannya.


"Apa kita akan terus mengikutinya, Tuan?" Jeff bertanya tanpa mengurangi tugasnya sebagai supir. "Bagaimana dengan Nonaβ€”"


"Stop! Hentikan mobilnya!"


Sesuai perintah, Jeff menghentikan mobil dengan cepat. Sementara Kenzo langsung keluar begitu saja, tanpa mengatakan apapun lagi. Di luar mobil, Kenzo tiba-tiba menarik Lentera tanpa permisi, dan membawanya masuk ke dalam mobil dengan kasar.


"Jalan!" titah Kenzo, setelah berhasil membuat Lentera dibingungkan situasi.


"Om ngapain? Kenapa tarik-tarik saya?" Lentera memberontak hendak keluar dari mobil. Namun sayangnya, mobil sudah lebih dulu berjalan. Dan tangan itu, Kenzo masih mencengkramnya dengan sangat erat.


"Dengar! Saya sangat tidak suka dengan penolakan! Katakan ke mana tujuanmu, dan saya akan antarkan dengan selamat!" ucap Kenzo tegas.


"Turunkan saya, atau saya teriak sekarang juga!"


Lentera mengancam, tidak semudah itu baginya untuk percaya begitu saja. Bagaimanapun juga, ia tidak mengenal dua pria dihadapannya itu. Bisa saja mereka hendak berbuat jahat padanya, setidaknya itulah yang dipikirkan Lentera saat ini.

__ADS_1


"Teriaklah sesukamu!"


Kenzo menyandarkan tubuh dan memejamkan mata. Sedikit menyesal karena telah memaksa gadis itu masuk ke dalam mobil. Entahlah, ia juga tidak mengerti kenapa rasanya ingin sekali membantu gadis itu. Seperti ada ikatan yang membuatnya tidak tega membiarkan gadis itu pergi sendirian, apalagi dengan kondisi tubuhnya yang diselingi beberapa luka yang di perban.


"Hentikan mobilnya!" pinta Lentera tegas.


"Tetap jalan!" sahut Kenzo.


"Om bukan orang jahat kan?" Lentera bertanya penuh kesal. Apa yang harus dilakukan? Ia sadar dengan berteriak tidak akan membuatnya bisa bebas begitu mudah.


"Katakan saja ke mana tujuanmu, tidak perlu banyak bicara!" cetus Kenzo.


"SMA Galaxy." Tidak ada pilihan lain, Lentera menghempas tangan Kenzo yang masih memeganginya. Kemudian, ia menyandarkan tubuh dan menatap keluar jendela mobil.


Arrgghhhh kenapa sial banget hidupku? Udahlah terlambat, harus ketemu dua orang aneh pula!


Beberapa menit kemudian, mobil sudah sampai di depan SMA Galaxy. Sesuai dugaan, gerbang sekolah sudah tertutup rapat. Karena memang, waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih. Namun Lentera tidak peduli, bagaimanapun caranya, ia harus bisa masuk untuk menghadiri pertemuan para atlet renang.


Lentera mengeluarkan lembaran seratus ribu, lalu meletakkannya di samping Kenzo. Setelah dipikir-pikir, ia tidak ingin merasa berhutang budi pada siapapun. Ia langsung keluar dari mobil tanpa mengatakan sepatah katapun. Menghampiri pintu gerbang tanpa peduli dengan reaksi Kenzo ketika melihat uang tersebut.


Bertanya-tanya sambil menahan kesal, lirikan mata Kenzo begitu tajam ke arah Lentera yang tampak sedang berbicara dengan satpam di gerbang sekolah.


"Sepertinya dia sedikit kesulitan, Tuan!" ucap Jeff. Sejak tadi ia masih mengamati Lentera dan penjaga sekolah dari dalam mobil.


"Biarkan saja, cepat jalan!" titah Kenzo.


"Anda ... yakin, Tuan?" tanya Jeff memastikan.


"Untuk apa bertanya?" Nada kesal terdengar dengan jelas. Namun anehnya, Kenzo justru keluar dari mobil untuk menghampiri gadis itu. Memang aneh, Jeff hanya bisa menggeleng melihat tingkah tuannya.


Tidak perlu menunggu lama, Kenzo sudah kembali masuk ke dalam mobil, setelah berhasil membantu Lentera masuk ke dalam sekolah. Tidak sulit bagi Kenzo untuk melakukannya. Selama ini, ia memang sudah dikenal baik oleh semua pengurus di sekolah itu, termasuk penjaga sekolah tadi. Apalagi ia juga termasuk salah satu alumni yang cukup terkenal di sekolah itu dulu.


"Ada apa dengan gadis itu, Tuan?" Jeff bertanya, seraya mengambil minipad yang terletak di sampingnya.


"Aku melihat Vanes dalam dirinya," jawab Kenzo lirih. Pandangannya kosong, menatap ke depan. "Entahlah, aku merasa, dia seperti Vincie!"

__ADS_1


Ingatan Kenzo kembali berputar ke masa lalu, sekitar sebelas tahun silam. Masa ketika Vincie, saudari kembar Vanessa masih ada di dunia. Gerak-gerik, tatapan mata, suara dan caranya memberanikan diri untuk melawan dan bertahan. Semua itu sangat mirip seperti Vincie dan Vaness.


Entahlah! Atau mungkin itu hanya perasaanya saja. Perasaan rindu pada Vincie dan Vanes yang kini sudah tidak ada dalam jangkauannya.


Jeff mengangguk mengerti. Faktanya ia tidak pernah tahu bagaimana sosok Vincie, tapi jika benar-benar sama seperti Vanes, sedikitnya ia cukup paham mengapa Kenzo merasakan demikian pada gadis yang baru ditemuinya itu.


"Sepertinya saya harus mengatakan ini, Tuan." Jeff masih menatap layar minipad dengan sedikit keraguan untuk berbicara. "Malam ini, Tuan Kenzie akan membawa Nona Vanessa pergi!"


Raut wajah Kenzo seketika berubah, meskipun sebenarnya ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Sedih? Terpukul? Tentu saja. Namun, semua ini memang kesalahannya, dan kepergian Vanessa sudah menjadi konsekuensi baginya. Kenzo kembali teringat dengan ucapan Papa Kenzie ketika di rumah sakit tadi.


Jika tidak bisa menjaga putriku, maka jauhilah dia! Apa tidak cukup kamu membuat keluarga saya hancur? Sudah cukup saya kehilangan Shena dan Vincie! Apa kamu juga akan menghilangkan Vanes dariku?


Hingga kini masih terasa sakit di pipi Kenzo, setelah Papa Kenzie memukul wajahnya di depan ruang UGD. Namun rasa sakit itu tidak seberapa, dibandingkan rasa sakit di hatinya.


Pergilah! Mulai sekarang, jangan pernah dekati putriku lagi!


Itulah kata terakhir Papa Kenzie yang masih terngiang di telinga Kenzo. Dan sekarang, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Kenzo tahu Papa Kenzie tidak pernah berniat menyinggung penyebab kematian Mama Shena dan Vincie sejak dulu. Namun setelah mendengar Vanessa beresiko mengalami koma karena kecelakaan itu, Papa Kenzie jadi semakin marah padanya.


"Tuan, sepertinya Anda juga harus tahu tentang ini!"


Meskipun sedikit ragu, Jeff tetap mengulurkan tangannya, menyerahkan minipad yang memperlihatkan sebuah video. Kenzo dengan malas menerimanya, lalu memutar video tersebut.


"Jadi gadis itu, penyebab kecelakaan ini terjadi?" Sorot mata Kenzo menajam, tangannya mulai mengepal dengan kuat. Ternyata gadis yang baru ditemuinya itu adalah penyebab utama kecelakaan terjadi. "Jangan biarkan siapapun tahu soal ini, termasuk Papa Kenzie!"


"Baik Tuan!"


"CARI TAHU TENTANG SIAPA GADIS ITU!" titah Kenzo masih mencoba meredam amarahnya.


Mulai sekarang, kamu akan menjadi tawananku!


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


Cast Kenzo Arvino


__ADS_1


Sampai bertemu di cerita Lentera Pengganti selanjutnya πŸ‘‹πŸ»


__ADS_2