
Memasuki area sekolah, Lentera melangkah melewati koridor yang sudah sepi. Bagaimana tidak? Jam pelajaran sudah dimulai sekitar satu jam yang lalu. Area sekolah yang sangat luas membuat Lentera cukup kesulitan mencari ruangan guru.
Hanya ada beberapa siswa laki-laki yang terlihat berlari mengitari lapangan. Dapat ditebak, mereka sedang dihukum karena melakukan suatu kesalahan. Terlambat mungkin? Beruntungnya ia sekarang, sehingga tidak harus menjalani kewajiban itu, pikirnya.
Terlalu lama menggerakkan kaki membuatnya sedikit kelelahan, rasa sakit pada tubuh benar-benar menggangu kebebasan bergerak. Lentera memilih menghentikan langkah di depan sebuah kelas. Memijat sejenak bahunya yang terasa nyeri, lalu merogoh saku untuk mengambil ponsel.
"Astaga! Ternyata sudah hampir jam sembilan!"
Bola mata Lentera membulat sempurna. Tertera di layar ponsel, jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih empat puluh lima menit. Lentera benar-benar terkejut, itu tandanya, sekitar lima belas menit lagi para atlet renang sudah harus berkumpul di ruang klub renang.
Bibir Lentera kini membulat, dengan pandangan terkejut ke arah layar ponsel yang baru saja bergetar. Benar 'kan dugaannya? Pelatih renang baru saja mengirimkan pesan melalui grup yang ia ikuti. Menghimbau para atlet renang untuk datang tepat waktu dalam waktu lima belas menit.
Lentera menekan salah satu nomor bertuliskan Pak Rudy, hendak mengirimkan pesan untuk menanyakan dimana keberadaan ruang atlet renang. Namun tiba-tiba, seorang cowok datang menghampiri dirinya dengan kening berkerut. Guratan penuh pertanyaan dapat Lentera lihat di wajahnya.
Tatapan remeh itu membuat Lentera menaikkan salah satu alis, seolah bertanya karena heran. Anehnya, tanpa mengatakan sepatah katapun, cowok yang sedang ngemut permen itu langsung pergi meninggalkan Lentera. Memang aneh!
"Tunggu sebentar!" Suara Lentera seketika menghentikan langkah cowok itu. Terpaksa Lentera mengangkat kaki menghampiri, karena cowok itu tidak bergerak dari tempatnya. Sombong sekali! Jangankan mendekat, bahkan berbalik badan saja ia tidak mau.
"Bisakah kamu membantuku?" tanya Lentera, bersikap sesopan mungkin.
Cowok itu hanya diam, membuat Lentera semakin merasa canggung dengan sikapnya. Pandangan cowok itu terlihat cuek, apalagi setelah melirik ponsel jadul yang sedang Lentera genggam.
Merasa ponselnya dilirik, Lentera dengan cepat menyembunyikan ke belakang, seraya tersenyum kaku. Tidak bisa dipungkiri, saat ini ia merasa sangat canggung. "Ekhem ... aku sedang mencari ruang atlet renang, apa kamu tau?"
Cowok itu seketika menutut mulut, dengan tangannya yang tampak jauh lebih besar dari tangan Lentera. Mencoba menahan tawa setelah mendengar pertanyaan gadis itu. Sikapnya itu seakan sudah saling mengenal, padahal keduanya baru pertama kali bertemu. Meskipun begitu, Lentera masih menantikan adanya sebuah jawaban. Hingga akhirnya cowok itu menunjuk arah memalui dagunya, lalu pergi begitu saja.
"Aneh banget tuh cowok!"
Lentera bergumam sembari menggeleng kecil, lalu kembali melangkahkan kaki sesuai arah yang ditunjuk cowok tadi. Namun setelah berjalan cukup jauh, ia justru tidak menemukan apapun, kecuali hanya beberapa ruang kelas sepuluh yang tengah sibuk dengan jam pelajaran masing-masing.
Ah sial! Aku dikerjain!
Baru Lentera sadari, sedang dipermainkan setelah melihat ada gudang di ujung koridor. Lentera menghela nafas, mencoba membuang rasa kesalnya. Terpaksa ia menghubungi Pak Rudy, sebagai pelatih renang yang merekomendasikan dirinya untuk pindah kemarin.
Untungnya tidak perlu menunggu lama. Dalam beberapa detik, Pak Rudy langsung membalas pesan Lentera. Setelah mengetahui letak ruangan Swimming club, Lentera langsung menuju tempat tujuan. Namun lagi-lagi, sesampainya di ruang atlet, ia justru tidak melihat satu orang pun di sana.
Lentera melongokkan kepala ke dalam, pandangannya mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Ruang atlet yang begitu besar, jauh lebih besar dari ia duga. Menyadari tidak ada siapapun di sana, Lentera memilih untuk melihat kolam renang besar yang tersedia di samping ruang atlet.
Waaahhhh gede banget!
Mulutnya sontak berdecak kagum. Bola mata Lentera berbinar melihat birunya air, di kolam renang besar itu. Jika tidak sedang terluka, ingin rasanya ia berenang saat ini juga. Lentera mengulurkan tangan, mencoba untuk menyentuh air bening itu barang sejenak.
"NGAPAIN LO DI SINI?"
Lentera tersentak kaget, hampir saja ia terjatuh ke dalam kolam mendengar suara tiba-tiba itu. Untunglah kakinya yang terkilir belum sempat macam-macam padanya. Hampir-hampir jantungnya melompat, jika ia tidak cepat menahan sambil bersimpuh di pinggiran kolam. Lentera menoleh dengan cepat. Tiga orang cowok kini berdiri di hadapannya, membawa tatapan tidak ramah.
__ADS_1
Menyadari posisinya masih duduk, Lentera segera beranjak menghadap tiga cowok itu. "Eum itu, cuma mau liat kolam sebentar kok."
Lentera menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa jadi canggung begini? Tatapan tiga cowok itu seolah sedang mengintrogasi. Lentera merasa sedikit tidak nyaman, padahal ia tidak melakukan kesalahan apapun. Selain terlambat datang ke sekolah tentunya.
"Di sini bukan tempat lo, sana pergi!" usir cowok yang berdiri paling tengah.
"Tuh kan Boy, gue bilang juga apa! Makin aneh kan dia?" sahut cowok yang berada di samping kiri, Bagas namanya.
"Mungkin dia abis kecelakaan, makanya otaknya makin miring." Haris, cowok berambut ikal yang berdiri di sebelah kanan itu ikut menyahut. Tatapannya memojokkan, seolah sudah lama mengenal sosok Lentera.
Melihat cowok yang berdiri di sebelah kiri itu, seketika Lentera menjadi kesal. Benar, cowok aneh itu yang telah mengerjai dirinya tadi.
"Kamu! Bukanya tadi kamu yang ngerjain aku?" Lentera berkata dengan nada marah, sambil menunjuk ke arah Bagas.
Bukannya takut, cowok itu justru kembali menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. "Lo kenapa sih, Van? Aneh benget! Bahasa lo, ppffttt ... astaga, kita nggak sedeket itu kalau lo lupa!" Ia kembali menahan tawanya.
βVan? Siapa Van?β Lentera mengerutkan kening, βEmang bahasa ku kenapa?"
"Udah deh, nggak usah kebanyakan acting! Mentang-mentang nggak pakai make up, terus lo pikir kita nggak bisa ngenalin lo gitu!" Haris datang mendekat, lalu mengacak rambut Lentera yang dikuncir. Sedikit berantakan setelah melalui banyak masalah pagi ini.
"Hah? Pura-pura?" Lentera menepis tangan cowok itu, lalu merapikan kembali tatanan rambutnya. Ia benar-benar tidak paham dengan arah pembicaraan tiga cowok itu.
"Vanessa Halian! Gue tanya sekali lagi, ngapain lo di sini? Bukanya lo paling nggak suka sama tempat ini?" Kali ini Boy, cowok yang berdiri paling tengah itu bertanya dengan nada dingin. Dari tatapannya, sudah dapat ditebak kalau cowok itu sangat terganggu dengan keberadaan Lentera di sana.
"Iyalah! Jangan bilang lo mau pura-pura lupa ingatan. Udah ya, Van. Gue males ladenin lo, sumpah!" kata Haris menggebu. Selama mengenal Vanessa, ia selalu saja mendapatkan sial karena tingkah bar-bar cewek itu.
"Tapi aku bukan Vanessa Halian!" Lentera menjawab dengan bingung. Ia jadi teringat dengan pria yang baru ditemuinya tadi pagi. Sama seperti tiga cowok itu, pria itu juga mengatakan hal yang sama padanya.
Siapa sebenarnya Vanessa Halian itu?
Terlihat Bagas dan Haris menghela nafas. Namun tidak dengan cowok yang berdiri di tengah itu. Lentera melirik nama yang tersemat di bajunya. Fiere Boy Pradana. Tatapan cowok itu masih saja datar, dengan kedua tangan yang terlipat di depan membuatnya terkesan seperti cowok yang dingin dan tak tersentuh.
"Kalian semua kenapa masih di sana? Ayo masuk, meeting akan dimulai!" Terdengar teriakan Pak Rudy dari arah pintu. Setelah menyuruh siswanya, pria itu langsung masuk ke dalam ruangan diikuti beberapa anak lainnya.
"Siap Pak!" Bagas menyahut dengan semangat, lalu mengajak kedua sahabatnya. "Kuy masuk!"
Melihat ketiga cowok itu berjalan menuju ruangan, Lentera pun mengikuti dari belakang. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti, ketika Boy mendadak menghentikan langkah dan menatap kesal padanya.
"Ngapain lo ikut?" tanya Boy tidak ramah.
"Tadi 'kan disuruh masuk!" jawab Lentera dengan bingung.
"Yang boleh masuk itu cuma anggota swimming club!"
"Tapu aku juga anggota swimming club!"
__ADS_1
"Sejak kapan seorang Vanessa Halian suka renang? Lo nggak takut make up lo luntur?"
Sampai sekarang, Boy masih saja tidak suka dengan Vanessa. Meskipun saat ini terlihat tidak sedang menggunakan makeup, tapi yang ia ingat, penampilan cewek itu sangat berlebihan selama ini. Bahkan Vanessa pernah mengatakan tidak suka dengan olahraga renang, karena berenang hanya akan merusak penampilan dan make-upnya.
"UDAH AKU BILANG, AKU BUKAN VANESSA!" bentak Lentera. Sudah berkali-kali ia mengkonfirmasi bahwa dirinya bukan Vanessa, tapi tetap saja mereka semua menganggap dirinya adalah Vanessa. Nama seseorang yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Buset! Dia marah!" ucap Bagas lirih.
"Udahlah Boy, biarin aja dia!" ucap Haris melerai.
"Kalau lo bukan Vanessa terus siapa?"
"Lentera! Namaku Lentera, apa kamu buta?" Lentera menunjukkan nama yang tersemat di bajunya. Seketika membuat Boy, Bagas dan Haris terdiam. Sedikitnya, mereka masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan cewek itu.
"Lentera? Ppffftttt bahaha." Seketika tawa Bagas dan Haris pecah, mereka masih mengira semua itu hanyalah sebuah candaan saja.
"Iya! Namaku Lentera! Kenapa?"
"Kenapa harus Lentera? Kenapa bukan Lilin aja?" kata Haris lalu kembali tertawa.
"Lilin? Kayak lagu! Lilin-lilin putih berilah terangmu, lilin-lilin putih temanilah aku." Tiba-tiba Bagas bernyanyi, mengacungkan dua jempol tangan sambil meliuk-liukkan badan.
"Aseekk!" sahut Haris ikut berjoget-joget.
"Sepi sendiri di malam ini, tiada kasih yang menemani."
Plakk! Plakk!
Tepukan keras mendarat di kepala Bagas dan Haris, seketika menghentikan tarian dan nyanyian dua cowok itu. Boy kesal. Di saat seperti ini, bisa-bisanya temannya yang freak itu malah bernyanyi tidak karuan. Masih baik kalau suaranya enak di dengar. Suara mereka saja sudah seperti orang terkena asma, terdengar ngik ngik, seperti meja yang sedang digeser di atas lantai.
"Diem lo bedua!" bentak Boy.
"Kalian masih nggak percaya?" Melihat tiga cowok itu masih meragukan dirinya, Lentera segera membuka tas. Mengambil selembar kertas berisi data dirinya, lalu menyerahkannya pada Boy. "Ini bukti kalau aku bukan Vanessa, seperti yang kalian bilang itu!"
Boy mengambil kertas tersebut, kemudian membacanya dengan teliti. Sama halnya dengan Bagas dan Haris, Boy juga terkejut melihat data itu. Namanya memang Lentera Putri Permana, biodatanya bahkan sangat lengkap. Kini Boy mengerti, Lentera adalah siswi pindahan yang telah Pak Rudy beritahukan sebelumnya.
"Jadi nama lo, Lentera? Bukan Vanes?" tanya Haris bingung.
Bukan hanya Haris, kedua sahabatnya juga masih bingung dengan kenyataan itu. Bagaimana tidak? Semua yang ada pada Lentera itu begitu mirip dengan Vanessa, hanya penampilan dewasa dari Vanessa saja yang membedakannya. Akan sulit bagi orang lain untuk tidak salah paham setelah melihat gadis itu.
"Bukan! Namaku Obor!" Lentera menjawab dengan kesal, mengingat ejekan Haris dan Bagas sebelumnya. Ia merebut kembali kertas miliknya, lalu berjalan meninggalkan tiga cowok itu menuju ruangan.
πππ
...Sampai bertemu di cerita Lentera Pengganti selanjutnya ππ»...
__ADS_1