
Pintu lift terbuka lebar, Jeff melangkah keluar menuju ruangan kerjanya. Sepuluh menit yang lalu ia mendapat kabar bahwa Kenzo sudah sampai di perusahaan. Tidak seperti biasanya, Kenzo datang seorang diri tanpa menunggu jemputan darinya. Tampaknya hari ini ia akan mendapat banyak pekerjaan.
"Selamat pagi, Tuan!"
Jeff hanya mengangguk. Lalu kembali berjalan melewati Chika, asisten yang baru ia kerjakan beberapa hari ini.
"Tunggu!" Suara Jeff seketika menghentikan Chika yang hendak pergi. "Apa semua baik-baik saja?"
Jeff curiga. Bukan sesuatu yang wajar jika Kenzo datang ke perusahaan lebih awal dari biasanya. Dan firasatnya semakin benar, ketika melihat wajah Chika berubah dalam sekejap.
Chika mengangguk kecil, meskipun sebenarnya ia tidak tahu dengan pasti apa yang terjadi di dalam ruang CEO. Herannya, Jeff langsung pergi tanpa menunggu penjelasan darinya. Dalam sekejap, pria itu sudah menghilang dari pandangan.
Tangan Jeff sudah siap membuka pintu ruang CEO, ketika tiba-tiba pintu sudah lebih dulu terbuka dari dalam. Dua orang karyawan pria keluar dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin yang membasahi pelipis. Kedua pria itu langsung pergi begitu saja, setelah memberikan bow pada Jeff.
"Apa yang terjadi, Tuan?" Ruangan Kenzo tampak rapi, tidak seperti dugaan Jeff sebelumnya. Hanya Kenzo yang terlihat tidak biasa, dengan emosinya masih belum reda.
"Carikan pengganti untuk mereka berdua!" Kenzo bertolak pinggang, menghela nafas kemudian duduk di kursi kebesarannya.
"Anda memecat mereka, Tuan?"
"Untuk apa mempertahankan orang yang tidak becus dalam bekerja? Bukannya bekerja dengan baik, mereka malah mengambil yang bukan haknya!" Tatapan Kenzo tajam. Dua karyawan tadi memang sudah mengambil uang yang bukan haknya, secara diam-diam. Dan Kenzo sangat membenci hal itu. "Apa mereka pikir aku bodoh?"
"Maafkan saya, Tuan. Saya kurang teliti dalam bekerja!" Seketika Jeff merasa bersalah. Harusnya ia lebih mengawasi para bawahannya itu.
"Sudahlah! Lupakan saja!" Kenzo hendak mengambil berkas di atas meja, ketika tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. "Apa kau tau siapa wanita yang ada di luar itu?"
Awalnya, Jeff tidak mengerti maksud dari ucapan Kenzo. Namun setelahnya, ia teringat dengan Chika setelah Kenzo memberikan kode dari matanya. "Dia asisten saya, Tuan. Namanya Chika."
"Chika?" Kenzo masih setengah bingung. "Sejak kapan asisten punya asisten?"
"Sejak Anda memberikan semua pekerjaan Anda pada saya, Tuan. Saya tidak bisa mengerjakan semua tugas Anda secara bersamaan."
Pekerjaan Jeff memang sudah banyak, apalagi ditambah dengan pekerjaan Kenzo yang terkadang terbengkalai. Dulu Kenzo memang orang yang selalu mengutamakan pekerjaannya. Kenzo sangat disiplin. Semua itu sebelum ia memiliki hubungan dekat dengan Vanessa.
Kenzo terkekeh penuh ejek. Dulu Papa kandung Kenzo selalu membanggakan kemampuan Jeff, hingga mempercayakan Jeff untuk menjadi Asisten putranya. "Apa sekarang kemampuan seorang Jeff Lisette sudah mulai berkurang?"
"Saya akan memperbaiki semuanya, Tuan!"
"Apa tidak ada jawaban lain selain itu?" Jujur saja Kenzo bosan. Setiap kali melakukan kesalahan, Jeff pasti akan mengatakan hal itu hanya untuk menunjukkan rasa penyesalan. Dan kali ini, Jeff pun mengatakan hal itu lagi. Padahal Kenzo juga tidak sedang menyalahkan Jeff.
"Saya akan berusaha sebaik mungβ"
__ADS_1
"Sudahlah!" potong Kenzo sebelum Jeff menyelesaikan kata keramatnya. "Tidak bisakah kau bercanda sedikit? Hidupmu itu terlalu kaku!"
Cukup melelahkan ternyata, menghadapi Jeff yang selalu bersikap formal. Dulu Kenzo selalu berusaha untuk melakukan candaan konyol pada Jeff, hingga menganggapnya sebagai seorang teman. Namun sayangnya, usahanya itu tidak pernah membuahkan hasil. Alhasil, Jeff selalu menunjukkan wajah datar padanya.
"Apa Anda sudah sarapan, Tuan?" tanya Jeff setelah lama terdiam.
Sarapan? Kata itu tiba-tiba mengingatkan Kenzo pada seseorang. Seorang gadis yang rela masuk rumah sakit akibat tidak sarapan, dan malah mengisi perut kosongnya dengan cilok pedas. "Bagaimana dengan gadis itu? Apa kalian sudah mendapat informasi tentangnya?"
Tidak bisa dipungkiri, sejak semalam Kenzo terus dihantui rasa penasaran. Tentang bekas luka di bahu Lentera, itu sama persis dengan bekas luka milik Vincie. Bukan tidak mungkin jika ternyata masih tersimpan misteri di balik kecelakaan maut yang menimpa Vincie dan Mama Shena dulu.
"Bukan itu jawaban yang saya mau, Tuan." Bibir Jeff bergumam, untunglah Kenzo tidak mendengarnya. Ia mengambil minipad di dalam tas, lalu menyerahkannya pada Kenzo setelah membuka sebuah file.
"Namanya Lentera Putri Permana, putri tunggal dari keluarga Permana. Orang tuanya sudah meninggal enam tahun yang lalu, dan setelah itu dia tinggal bersama Bibinya. Lebih tepatnya, pembantu yang dulu bekerja di kediaman keluarga Permana."
Jeff menjelaskan beberapa data yang ia ingat. Meskipun sebenarnya masih banyak data tentang Lentera di dalam minipad itu. Kenzo masih membacanya dengan teliti sekarang.
"Lentera Putri Permana?" Kenzo berkata sambil menatap beberapa foto keluarga kecil Lentera. Bahkan ketika masih kecil, wajah Lentera sangat mirip dengan Vincie dan Vanessa. "Wajahnya benar-benar mirip dengan Vanessa."
"Tapi usia Lentera satu tahun lebih muda dari Nona Vanessa," sahut Jeff. Dari data yang sempat ia baca, Lentera memang masuk sekolah lebih awal dari anak-anak seusianya.
"Dia pernah mengalami kecelakaan sampai hilang ingatan?" Kenzo memicingkan mata, sedikit tertarik dengan fakta kehidupan Lentera. Sama dengan Vincie, Lentera ternyata juga pernah mengalami kecelakaan. Bahkan dinyatakan, gadis itu pernah hilang ingatan. Bukan tidak mungkin kalau Lentera memang benar Vincie.
"Apa kalian yakin?" Kenzo menatap serius ke arah Jeff. "Aku tidak ingin ada miss information dalam hal ini!"
Mereka sama-sama pernah mengalami kecelakaan. Jika itu terjadi di hari yang sama atau bahkan di tahun yang sama, mungkin saja memang benar bahwa Lentera adalah Vincie, saudari kembar Vanessa.
"Kami sudah melakukan yang terbaik, Tuan. Memang benar Lentera mengalami kecelakaan tepat satu tahun setelah Nona Vincie mengalami kecelakaan," jelas Jeff. "Karena kecelakaan itu, Lentera mengalami hilang ingatan. Selain itu, dia juga harus menjalani operasi pada wajahnya."
"Operasi?" Kenzo mengerutkan kening.
"Benar! Kecelakaan itu membuatnya mengalami kerusakan pada wajah, dan mengharuskan dia menjalani operasi," ungkap Jeff.
"Apa kalian dapat foto gadis itu sebelum operasi?" Baru Kenzo sadari, sejak tadi ia memang hanya melihat foto Lentera ketika usianya sudah menginjak sekitar delapan tahunan.
"Ada, Tuan. Tapi itu foto saat Lentera masih bayi." Jeff mengambil alih minipad itu, lalu mencari foto Lentera yang masih bayi. Hanya ada satu, karena memang cukup sulit bagi anak buah Jeff untuk mencari semua itu. Apalagi, dulu keluarga Lentera termasuk keluarga kaya raya dan cukup tertutup.
Kenzo menarik sudut bibirnya. "Ini bukan Vincie!"
Layar minipad masih menyala, menunjukkan foto balita berusia sekitar dua tahun. Kenzo masih ingat bagaimana wajah Vanes dan Vincie ketika masih bayi, dan itu sangat berbeda dengan balita di dalam foto itu.
"Karena memang Lentera bukan Vincie, Tuan!" gumam Jeff.
__ADS_1
"Maksudku bayi ini! Bayi ini bukan Vincie!" Suara Kenzo meninggi, sedikit kesal karena Jeff tidak mengerti dengan maksud dari ucapannya. Padahal ia sendiri yang salah menganggap seseorang. "Bagaimana dengan informasi sekolah dasar gadis itu?"
"Setelah kecelakaan, Lentera sempat pindah sekolah saat SD. Itu karena orang tuanya pindah kota, dan kami hanya menemukan data dari sekolah barunya."
"Bodoh! Kenapa mencari data saja kalian tidak becus?" omel Kenzo. Bisa-bisanya anak buahnya itu tidak bisa mengumpulkan data tentang Lentera di sekolah lamanya, saat masih duduk di bangku sekolah dasar atau pun saat masih di taman kanak-kanak.
"Kami sudah berusaha Tuan, tapi sepertinya keluarga Permana sangat mengutamakan privasi keluarganya."
"Bukankah itu cukup mencurigakan?" tanya Kenzo, sedikit curiga.
"Saya pikir tidak, Tuan. Sama seperti Anda, Tuan Permana juga pasti menginginkan yang terbaik untuk keluarganya. Apalagi dulu beliau juga bukan orang sembarangan," ungkap Jeff.
"Maksudmu?" Kenzo mengerutkan dahi, penasaran dengan apa yang Jeff katakan.
"Perusahaannya bergerak di bidang perikanan. Sebelum meninggal, banyak perusahaan lain yang berusaha menjatuhkannya. Persaingan di sana sangat ketat, mereka melakukan banyak cara untuk memenangkan persaingan. Mungkin karena itu, Lentera sampai menjadi korbannya."
Jeff melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Hanya untuk membahas Lentera saja sudah memakan cukup banyak waktu. Padahal masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini.
"Jadi dia bukan Vincie?" Kenzo meletakkan minipad setelah selesai membaca keseluruhannya. Gadis itu memang Lentera, bukan Vincie. Akan tetapi, hati kecil Kenzo masih tetap meyakini bahwa gadis itu tidak lain adalah Vincie.
"Saya rasa tidak mungkin kalau Lentera adalah Vincie, Tuan!"
"Why?"
"Anda masih mengira gadis itu adalah Vincie?" Dengan melihat raut wajah Kenzo saja, Jeff sudah dapat menebak jawabannya.
"Aku sangat yakin dia Vincie, tapiβ"
"Bukankah Anda menyaksikan sendiri saat Nona Vincie di makamkan?" Jeff memotong ucapan Kenzo. Padahal itu bukan karakter seorang Jeff yang selalu mendahulukan Kenzo dalam hal apapun.
"Memang benar, tapi saat itu tidak ada siapapun yang bisa mengenali jasadnya." Ingatan Kenzo kembali berputar ke masa lalu, saat Vincie dan Mama Shena dinyatakan meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. "Mobil itu meledak! Mama Shena terpelanting keluar, sementara tubuh kecil Vincie hangus terbakar di dalam mobil bersama supir."
Pandangannya kosong, tangan Kenzo mulai terkepal kuat. Mengingat kejadian itu selalu membangkitkan penyesalan terbesar di hati kecilnya. Karena itu, ia selalu menjaga Vanessa agar Mama Shena tenang bersama Vincie. Namun yang terjadi malah sebaliknya, ia telah membuat Vanessa celaka.
"Bagaimana dengan hasil autopsi?"
Kenzo menggeleng. "Papa Kenzie melarangnya, Papa hanya ingin Mama dan Vincie bisa istirahat dengan tenang." Kepalanya menunduk, Kenzo sangat menyesal hingga sampai sekarang. Karena dirinyalah penyebab kecelakaan itu terjadi.
πππ
...Sampai bertemu di cerita Lentera Pengganti selanjutnya ππ»...
__ADS_1