
Butuh waktu dua hari bagi Kenzo untuk mempersiapkan penyamaran. Semua tak lepas dari kerja keras seorang Jeff. Namun tidak disangka, Lentera justru dengan mudah mengenali hanya dengan mendengar suara berat Kenzo.
Tak ingin perjuangannya sia-sia, Kenzo terpaksa mengancam Lentera. Hanya itu kesempatan terakhir yang dapat ia lakukan, meski awalnya Kenzo tidak ingin mendapatkannya secara paksa.
Dipikir-pikir, tidak ada salahnya juga. Buktinya, kini Lentera berada satu mobil dengannya, sedang menuju ke kediaman Kenzo. Daripada berurusan dengan polisi, Lentera jelas lebih memilih menuruti segala keinginan Kenzo.
Termasuk, tinggal bersama? Entahlah, Lentera tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kini ia tak memiliki pilihan lain, selain menuruti keinginan Kenzo. Meski Lentera tidak tahu, akan sampai kapan bisa bertahan.
Hanya hasil tes DNA yang dapat menentukan nasib hidupnya sekarang. Penjara atau menjadi saudari kembar Vanessa? Hati kecilnya berkata, Lentera tidak ingin menjadi saudari kembar siapapun. Namun logika mengatakan sebaliknya, Lentera tidak ingin masuk penjara atas kekuasaan dan kegilaan Kenzo.
Hidupnya sudah cukup rumit saat ia menjadi anak satu-satunya dari keluarga Permana. Lalu apa yang akan terjadi jika Lentera benar-benar saudari kembar Vanessa yang telah lama hilang?
Mobil berhenti di pekarangan rumah mewah milik Kenzo. Lentera tersentak kaget ketika seseorang memegang bahunya. Tidak terasa, selama perjalanan pulang sekolah hanya ia lalui dengan lamunan.
"Apa yang kau pikirkan? Ayok masuk."
Halus dan penuh perhatian. Sejak tadi nada lembut itu yang terus menerus keluar dari bibir Kenzo. Hampir saja Lentera terlena, jika saja tidak mengingat bagaimana cara Kenzo berusaha memanipulasi dirinya dan mengendalikan kehidupannya.
"Masuklah," Kenzo berjalan menuju ruang tamu, lalu menunjuk sebuah ruangan yang berada di lantai dua. "Mulai sekarang kamar itu akan menjadi kamarmu."
"Apa aku benar-benar akan tinggal di sini?" tanya Lentera pasrah.
Kenzo mengangguk. Ia tidak rela membiarkan Lentera tinggal di kontrakan kecil yang kedap udara. Yaa, Kenzo memang sempat mendatangi kontrakan kecil yang di tinggali Lentera sebelumnya. Bahkan lima menit saja, Kenzo tidak tahan berada di ruangan kecil itu.
Selain kecil, kontrakan Lentera juga tidak memiliki sirkulasi udara yang baik. Langit-langitnya sedikit lebih rendah dari kontrakan sebelahnya. Dengan kemampuan finansialnya, mungkin hanya kontrakan kecil itu yang mampu Lentera sewa.
"Lalu, bagaimana dengan tempat tinggalku?"
__ADS_1
"Lupakan kontraka kecil dan kumuh itu, mulai sekarang kau akan tinggal di rumah ini bersamaku." Kenzo beranjak duduk melihat Jeff baru saja sampai.
"Tapi, baju-bajuku masih ada di sana?" Bukan hanya baju, masih ada beberapa barang kenangan orang tua yang masih tertinggal di sana. Sebenarnya Lentera juga belum siap jika harus berada satu rumah dengan Kenzo.
"Kau bisa mengambilnya lain waktu, sekarang masuklah ke kamarmu. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku." Tanpa mengubah penampilan, Kenzo beranjak menuju ruang kerja. Diikuti Jeff dari belakang dengan wajah datarnya.
Melihat ruangan sudah sangat sepi, Lentera menghela nafas. Nasib sial terus mengikuti sejak ia bertemu dengan Kenzo. Sekarang bagaimana dengan nasib kontrakannya? Lentera bahkan sudah membayar lunas hingga satu bulan ke depan.
Uang sewaku terbuang percuma, huftt... . Baiklah, lain kali aku akan mengambil barang-barangku.
Sampai di dalam kamar, Lentera cukup tercengang dengan keadaan di dalamnya. Semua memang tertata dengan rapi, ada meja belajar berisi buku-buku yang sudah lama Lentera rindukan. Namun, warna kamar pink cerah dan putih yang memenuhi sudut ruangan hampir membuatnya tersedak.
Bahkan cangkir di atas meja pun senada dengan selimut yang terbentang di atas kasur. Pink dengan beberapa gambar hello Kitty di dalamnya. Lentera tercengang, hingga menjatuhkan tas. Beberapa orang mungkin akan kepalang senang saat mendapat kamar ini, tapi tidak semua perempuan menyukai warna pink.
Daripada pink, Lentera sebenarnya lebih menyukai nuansa kamar hitam putih. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerima kamar ini. Tidak mungkin juga ia meminta Kenzo untuk mengganti kamarnya dengan warna yang ia suka.
"Baiklah, sekarang kau tidak bisa memilih apapun yang kau mau. Hidupmu sudah bukan dirimu lagi yang mengendalikannya, Lentera."
Lentera menjatuhkan tubuh di atas kasur. Sekarang harus apa? Sebelumnya Kenzo sudah melarang dirinya pergi ke manapun. Maka tidak ada yang kewajiban yang harus Lentera lakukan selain tidur dengan perut kosong.
Hingga satu jam berlalu, Lentera terbangun akibat perut yang sudah sangat keroncongan. Diliriknya jam di dalam layar ponsel, waktu menunjukkan pukul lima sore. Lentera beranjak duduk.
"Apa dia belum selesai bekerja?"
Sambil memegangi perut yang keroncongan, Lentera diam-diam berjalan keluar. Lentera lapar, tetapi tidak ada siapapun di ruang tengah yang bisa ia tanyai. Tampaknya Kenzo belum selesai dengan pekerjaannya.
"Lapar, tapi tidak ada yang bisa dimintai tolong." Lentera mendengus, ide gila tiba-tiba melintas di benaknya. "Haruskah aku mencuri makanan?"
__ADS_1
"Ah tidak-tidak! Mencuri itu perbuatan tidak baik!" Lentera menggeleng cepat. "Tapi aku lapar, tidak tahu juga di mana ruangan Kenzo."
Di rumah sebesar ini, Lentera tentu sedikit kesulitan mencari ruangan. Herannya, tidak ada siapapun yang terlihat. Padahal waktu sudah sore.
"Haiss kenapa Kenzo belum juga kembali? Apa mereka nggak lapar?"
Lentera memejamkan mata. Dengan kekuatan penciumannya, Lentera berusaha mencari di mana letak dapur berada. Jika tidak ada nasi dan lauk setidaknya masih ada buah atau cemilan yang tersimpan di kulas.
Rupanya tidak sia-sia Lentera mengandalkan indra penciuman. Setelah melewati satu ruangan, akhirnya ia menemukan kulkas besar yang ada di dalam dapur. Tanpa ba-bi-bu, Lentera langsung membukanya.
Tidak di sangka, ada banyak sayuran segar dan satu jenis buah di dalamnya. Demi mengganjal perut, Lentera memutuskan mengambil sebungkus anggur. Tidak mungkin Lentera makan sayur mentah bukan?
"Apa yang Anda lakukan, Nona?"
Lentera tersenyak, kepalanya terbentur pintu kulas yang tiba-tiba tertutup. Sambil menahan sakit, Lentera menyembunyikan anggur sembari membalikkan badan. Seorang pria paruh baya kini berdiri di hadapannya, sedang membawa sebungkus kantung belanja.
"Anu, itu ...." Lentera mengusap kepala yang masih terasa sakit, tidak yakin harus menjawab apa.
"Anda baik-baik saja?" Pria itu mendekat, "Nama saya Didi, Nona bisa panggil saya jika membutuhkan sesuatu. Apa Anda lapar, Nona?"
Lentera menyengir kaku, perutnya tiba-tiba berbunyi dengan sangat keras. Pak Didi hanya terkekeh, membiarkan Lentera pergi dengan rasa malunya.
Sampai di dalam kamar, Lentera membanting pintu. Menjatuhkan anggur lalu menutup wajah dengan kedua tangan.
"Huuaaa... aku malu!"
Setelah hampir terpergok mencuri anggur, ia juga ketahuan datang ke dapur lantaran kelaparan. Sudah seperti tikus mencuri makanan saja. Lalu bagaimana jika ada yang menyadari sebungkus anggur telah hilang dicuri?
__ADS_1
🎀🎀🎀
...Sampai bertemu di cerita Lentera Pengganti selanjutnya 👋🏻...