Lentera Pengganti

Lentera Pengganti
Bab 09. Lentera Pengganti


__ADS_3

"Hentikan Tuan! Semua itu bukan salah, Anda!"


Kenzo menghentikan pergerakan, sedikit tersadar dengan apa yang telah dilakukan. Karena rasa penyesalan itu, pikiran Kenzo kembali saling berkecamuk. Baru ia menyadari, semua benda yang tertata rapi di atas meja, kini berserakan di lantai. Kenzo baru saja mengamuk.


"AAAAARRRRRRGGGGGGGHHHHHH SIALAN!"


Cangkir berisi air putih melayang di udara, lalu membentur dinding. Bunyi nyaring seketika memenuhi ruangan. Puing-puing kaca kini berserakan di lantai. Kenzo mengepalkan tangan dengan erat. Tidak cukup baginya melakukan hal itu, ia ingin lagi dan lagi.


Kini hanya tersisa bingkai foto di atas meja kerja. Tanpa pikir panjang, Kenzo langsung mengambilnya. Tidak peduli bagaimana Jeff berusaha menahan segala tindakannya. Jika sedang di luar kendali, Kenzo memang selalu mengamuk, dan menghancurkan segalanya.


"Hentikan Tuan!"


Sejauh ini hanya Jeff yang mampu menghadapinya. Bahkan tuan Gara pun lebih sering menyerah dalam menghadapi aksi brutal Kenzo ini. Selama ini tidak ada orang yang tahu kegilaan Kenzo yang satu ini, selain Jeff dan tuan Gara. Orang lain pasti akan menganggapnya sudah gila jika melihatnya dalam keadaan seperti ini.


"Hentikan?"


Kenzo menggertakkan gigi, menatap Jeff dengan tajam. Tidak tahukah Jeff, bagaimana perasaannya ketika mengingat penyebab hancurnya keluarga Halian? Itu karena dirinya. Memang tidak semua orang menyalahkan Kenzo. Namun Kenzo cukup sadar bahwa itu adalah kesalahannya. Dan itu menjadi trauma besar dalam hidupnya hingga sekarang.


"Berhenti menyalahkan diri sendiri, Tuan!" Jeff mengambil foto itu, lalu meletakkannya di atas meja.


"Haruskah aku menyalahkannya? Pria tua itu?" Kenzo menatap sinis secarik kertas berisi tanda tangan ayah kandungnya. "Cih, bahkan sudah bertahun-tahun lamanya, dan aku masih sangat membencinya!"


Sudah sebelas tahun sejak kematian Vincie dan Mama Shena, tetap saja Kenzo masih sangat membenci Ayahnya. Semua berawal ketika Ayah Gara ingin merebut Kenzo dari Papa Kenzie, secara paksa. Berbeda dengan Papa Kenzie, Mama Shena masih ingin mempertahankan Kenzo. Sampai ketika Ayah Gara marah besar, dan membuat tragedi kecelakaan itu terjadi. Hingga Mama Shena dan Vincie menjadi korbannya.


"Anda masih belum bisa memaafkannya?" Jeff memunguti satu persatu berkas yang berceceran di lantai. Lalu menata kembali di meja kerja Kenzo. "Saya mengerti, Tuan. Tapi tidakkah Anda lihat, selama ini beliau selalu ingin yang terbaik untuk Anda."


Kenzo menyeringai. "Terbaik? Dengan membunuh Mama dan Vincie?" Tatapannya begitu tajam. "Itu terbalik lebih tepatnya!'


"Dia menelantarkan ibuku, membiarkannya berjuang hidup sendirian dalam keadaan hamil dan membiarkan aku terlahir tanpa kedua orang tua!"


Kabarnya, Ibu kandung Kenzo meninggal setelah melahirkannya. Saat itu Papa Kenzie, selaku sahabat Ibunya, memutuskan untuk mengangkat Kenzo sebagai anak. Hingga Kenzo tumbuh bahagia, meski tanpa kehadiran ibu dan ayah kandung.

__ADS_1


Hidup Kenzo semakin terasa sempurna setelah memiliki ibu angkat yang begitu baik seperti Mama Shena, dan memiliki dua adik kembar yang begitu lucu, Vanessa dan Vincie. Kenzo sangat menyayangi mereka semua. Namun dalam sekejap mata, Ayah Gara datang dan menghancurkan kebahagiaan mereka semua.


"Pengecut sialan!"


"Hentikan Tuan!" sahut Jeff.


Jeff mengerti, ucapan Kenzo terdengar semacam ungkapan rasa kecewa. Sebagai anak yang sama-sama dibuang, Jeff paham dengan sikap Kenzo. Penghinaan itu terdengar biasa memang. Semua orang juga akan melakukan hal yang sama.


Namun bagi Jeff, seorang anak yang telah diasuh dari kecil oleh Tuan Gara, itu terdengar sangat menyakitkan. Jeff sangat menghormati Tuan Gara, karena semua jasa yang telah beliau lakukan padanya.


"Sebentar lagi ada meeting, lebih baik Anda bersiap diri." Tadinya Jeff ingin marah. Namun mengingat posisinya hanya seorang asisten, ia mengurungkan niat. Lebih baik menahan diri, daripada melanggar janji.


Layar minipad masih menyala, menampilkan foto Lentera ketika masih kecil. Sulit untuk tidak mengakui bahwa Lentera sangat mirip dengan Vincie. Bahkan setitik kerinduan di hati Kenzo kini berangsur menghilang ketika menatap wajah manis gadis itu.


"Aku masih yakin kalau di benar-benar Vincie," gumam Kenzo. "Ah ya, hampir saja lupa! Bagaimana dengan hasil tes DNA?"


Saat di rumah sakit kemarin, Kenzo sempat mengambil sampel darah Lentera secara diam-diam, untuk memastikan dugaannya. Hasil penyelidikannya jelas akan lebih akurat melalui tes DNA. Jika Lentera benar-benar Vincie, sudah pasti DNA-nya akan cocok dengan Vanessa.


"Kenapa lama sekali?" Kenzo menggerutu. "Baiklah, tidak perlu terburu-buru. Sementara itu, buatkan data palsu tentang gadis itu."


Jemari Jeff seketika tertahan, pandangannya beralih dari layar ponsel ditangannya. "Maksud Anda?"


"Buat Lentera menjadi Vincie, bagaimanapun caranya!" titah Kenzo. "Kita akan mendatanginya sore ini."


"Untuk apa, Tuan?" Jeff masih tidak mengerti. Membuat data palsu bukan sesuatu yang mudah. Pekerjaannya saja sudah banyak, bisa-bisanya Kenzo meminta hal tersebut dengan gampangnya.


"Tidak akan aku biarkan dia lolos begitu saja! Selagi menunggu hasil tes DNA, kita akan membuatnya menjadi Vincie. Bukan tidak mungkin kalau dia benar-benar Vincie, dan aku tidak ingin kehilangannya lagi."


"Lalu bagaimana jika dia memang bukan Vincie?" tanya Jeff. "Semua orang tahu bahwa Vincie sudah tidak ada. Lalu bagaimana bisa, seseorang yang sudah mati dapat hidup kembali? Jika memang Lentera adalah Vincie, lalu kenapa dia tidak kembali setelah sebelas tahun berlalu?"


Sejenak Kenzo terdiam, berfikir sejenak lalu berkata, "Mungkin saja tidak ada kesempatan baginya untuk kembali!"

__ADS_1


Suara Kenzo terdengar merendah. Rupanya masih ada sedikit keraguan di hatinya. Meskipun begitu, Kenzo sangat berharap semua dugaannya itu benar adanya. Setidaknya itu akan sedikit mengurangi rasa bersalahnya pada keluarga Halian.


Sayup-sayup terdengar dering ponsel di dalam saku, Jeff segera mengambilnya. Nama Chika tertera di layar.


"Ada apa?" Sejenak Jeff terdiam, menyimak apa yang ingin disampaikan Chika. "Jangan biarkan dia masuk!"


"Siapa?" Kenzo bertanya, setelah Jeff memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


"Nona Anjani!"


Seketika Kenzo membuang nafas. "Sampai kapan wanita itu akan berhenti datang?"


Sudah hampir dua tahun berlalu, tapi Anjani masih saja berusaha mengejar cinta Kenzo. Padahal selama itu Kenzo selalu menolaknya secara terang-terangan. Pernah satu kali Vanessa hampir berkelahi karena kesal dengan kegenitan wanita itu.


"Sampai Anda menikah, Tuan!" Hampir saja Jeff terkekeh melihat raut wajah Kenzo yang berubah. "Menikah, lalu memiliki anak yang lucu. Pewaris perusahaan Viance Grup."


"Diamlah!" Kenzo berdecak kesal, lalu merapikan jasnya. "Kenapa tidak kau saja!"


"Tapi saya 'kan sudah menikah, Tuan."


Ucapan Jeff memang biasa, tapi terdengar menjengkelkan di telinga Kenzo. Karena pernikahan Jeff, Ayah Gara jadi selalu mendorongnya untuk segera menikah. Bahkan tidak jarang Ayah Gara mengirim wanita cantik untuk mendatangi Kenzo di perusahaan. Anjani contohnya.


Usaha untuk menjodohkan Kenzo semakin menjadi-jadi ketika Jeff memiliki seorang putri yang begitu lucu. Padahal usia Jeff lebih tua dua tahun dari Kenzo. Lagipula Kenzo belum berfikir untuk menikah, karena masih harus menunggu Vanessa hingga dewasa dan siap menikah.


"Kalau begitu menikah lagi saja!"


🎀🎀🎀


...Sampai bertemu di cerita Lentera Pengganti selanjutnya 👋🏻...


 

__ADS_1


__ADS_2