Lentera Pengganti

Lentera Pengganti
Bab 10. Lentera Pengganti


__ADS_3

Di pinggir kolam renang, Lentera masih duduk diam dengan pikiran berkelana. Pandangannya sesekali tertuju pada cowok yang tengah duduk di dekat jendela. Sudah setengah jam berlalu, dan cowok itu masih menyendiri di sana. Padahal, jam istirahat sebentar lagi akan selesai.


"Woy, ngapain lo ngelamun di sini? Kesambet reog tau rasa lo!"


Lentera terlonjak dari tempatnya. Hampir saja jatuh ke dalam kolam, jika saja Bagas tidak menahan dengan memegang tangannya. Bukannya apa! Hanya saja saat ini ia sedang mengenakan seragam lengkap, bukan baju renang. Tidak mungkin juga ia harus bermain air, sementara jam pelajaran sebentar lagi akan dimulai. Ia pun hanya membawa satu seragam saja.


"Nah, 'kan! Apa gue bilang?" Bagas memasang wajah songong, merasa sudah seperti spiderman karena menyelamatkan Lentera. Padahal ia dan Haris sendiri yang menjadi pelakunya.


Lengkara memasang wajah kesal, lalu menepis tangan Bagas. "Kalau kalian nggak ngagetin juga aku nggak akan jatuh!"


"Siapa suruh bengong sendirian? Jangan bilang lo lagi mikirin gue lagi?" Haris menyengir kuda, bersikap sok ganteng seperti biasa. "Tapi sorry aja nih, lo bukan tipe gue!"


Lentera memutar bola matanya, malas. "Siapa juga yang mau sama kamu?"


Sebenarnya, Haris tidak jelek-jelek amat. Anaknya humoris meskipun sedikit pelit—kata beberapa anak yang terang-terangan menyidirnya. Meskipun begitu, setidaknya sudah ada dua gadis yang sudah menyatakan cinta padanya, dan semuanya ia tampik. Lengkara menyaksikan secara langsung setelah briefing bersama Pak Rudy tadi.


Haris manggut-manggut, kemudian tersenyum lebar. "Bagus deh kalau gitu, soalnya cinta gue cuma buat Jasmine seorang."


Pantas saja, rupanya Jasmine yang disukai Haris. Gadis cantik dari kelas IPA 3, masih satu kelas dengan Lentera. Jasmine juga salah satu anggota kelas renang. Lentera sempat berpapasan dengannya saat di kelas tadi. Sikapnya sedikit jutek. Meskipun begitu, ia masuk salah satu cewek famous di sekolah. Vibes kakak kelas idaman banget.


"Ya elah udah ditolak berkali-kali masih aja ngejar lo, kepala melinjo!" Bagas menoyor kepala Haris karena saking gemasnya. Kebodohan cowok itu sudah mencapai tahap kronis, sehingga ditolak berkali-kali saja tidak akan membuatnya menyerah. "Gini-gini Lentera juga cantik, sebelas dua belas lah sama Eunchae Le Sserafim. Ya walaupun badannya lebih montok, tapi boleh lah jadi cadangan."


Bagas tertawa kecil, tanpa menyadari sebuah tangan sedang melayang cepat ke arahnya. Detik berikutnya, bunyi nyaring menggema ketika tangan itu tepat mendarat di kepala. Bukan hanya Bagas, Haris pun bernasib sama, karena ikutan menertawakan Lentera.


"Anjrit pedes banget tangan lo!" Seketika Haris mengusap kepalanya yang terasa perih.


"Makan tuh montok! Nih montok lagi, nih!" Sekali lagi, Lentera memukul bahu dua cowok itu dengan kuat.


"Stop stop! Sakit ege!" Bagas dengan cepat menangkap tangan Lentera. "Tangan lo, astaga!"


"Baru kali ini ada cewek yang berani mukul gue, anjir!" Haris masih meringis memegangi bahu. "Mana sakit beut lagi! Itu tangan apa besi?"


"Kaliannya aja yang klemar-klemer! Baru dipukul doang udah meringis! Badannya doang gede, tapi lembek, kayak bandeng presto!" ejek Lentera.


"Eh mulut!" Haris syok, tidak menyangka Lentera juga bisa berkata pedas.


"Tetap slay bestie!" Bagas menepuk halus bahu Haris, menggoyangkan tangan seperti pria tulang lunak pada umumnya.


"Lucu lo begitu lo!" bentak Haris. Tingkah freak Bagas membuatnya ingin muntah seketika.


"Iya elah, gitu aja marah lo!"

__ADS_1


"Jijik gue, nyet!"


"Eh btw tangan lo putih juga ya, mulus lagi!" Tanpa disadari, Bagas masih menggenggam tangan Lentera, lalu membandingkannya dengan tangan Haris yang sedikit cokelat. "Padahal lo bilang dari kampung!"


"Hubungannya apa, anjrit?" Haris menarik tangannya dengan cepat. Malu juga kali membandingkan warna kulitnya yang sedikit cokelat dengan kulit Lentera yang putih bersih. Meskipun begitu, Haris tetap terkenal dengan wajahnya yang manis. Si hitam manis dari kelas XII IPA 3.


"Katanya orang kampung banyak yang item, terus dek—"


"STOP!" Lentera mengangkat tangan di depan Bagas, sebelum kesalahan persepsi ini semakin melebar ke mana-mana. "Perlu diingat, nggak semua orang di kampung itu hitam dan dekil seperti yang kamu bilang itu!" Nada bicaranya terdengar marah.


"Denger tuh belek orca!" Haris menggeleng tidak habis pikir. Bisa-bisanya Bagas memiliki pemikiran bodoh seperti itu. Sementara Bagas menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedikit merasa bersalah karena kata-katanya sudah keterlaluan.


"Jam istirahat udah mau selesai kok lo masih di sini? Emang lo nggak laper?"


Haris tahu kalau Lentera belum ke kantin sejak jam istirahat dimulai. Sebenarnya Haris tidak terlalu peduli. Selama ini ia cukup cuek dengan apa yang dilakukan orang lain. Hanya kebetulan saja ia tahu, kerena sebelumnya sempat diperintah oleh guru untuk membawa tumpukan buku ke perpustakaan bersama Lentera.


"Males, lagi nggak pengen makan."


Bohong jika Lentera mengatakan tidak lapar, tapi ia juga tidak bisa membeli makanan. Uang simpanannya semakin hari semakin menipis, ia harus pandai-pandai mengatur pengeluaran. Kemaren ia memang sudah mulai bekerja part time di toserba, tapi masih harus menunggu satu minggu untuk mendapatkan hasilnya.


"Lo tau, Har? Semales-malesnya orang males, adalah orang yang males makan! Nimbang ngunyah aja dia males, apalagi buat melakukan pekerjaan lain? Padahal makan juga buat perut sendiri!" Bagas geleng-geleng kepala, masih terukir tanda tanya di kepalanya. Bagaimana bisa ada orang yang malas dalam hal makan, sedangkan makan sendiri kebutuhan pokok makhluk hidup. "Alasan aja 'kan, lo?"


"Kenapa sih, dari tadi liatin Boy terus? Lo suka?"


Ah sial! Ketahuan juga pada akhirnya. Rupanya sejak tadi, Haris memperhatikan arah pandang Lentera. Memang sejak tadi Lentera diam-diam mencuri pandang ke arah Boy yang masih duduk di dekat jendela seorang diri.


"Apa kamu juga bakal mengira aku suka Jasmine kalau aku liatin dia terus menerus?" Nadanya sedikit meninggi, karena kesal dengan pertanyaan  bodoh Haris.


"Ya nggak juga sih?" Haris menyengir bodoh. "Lagian lo dari tadi liatin Boy terus!"


Lentera menggeleng perlahan. "Aku cuma penasaran aja, kenapa dia suka menyendiri. Pakai earphone sambil merem deket jendela gitu."


Arah pandang Haris dan Bagas kini tertuju pada Boy yang masih bertahan di tempatnya. Kepalanya manggut-manggut sambil tersenyum penuh misteri. Cukup bersemangat setelah menemukan topik pembicaraan, untuk bahan gosip yang sudah menjadi rutinitasnya. "Karena lo udah sekolah di sini, jadi seenggaknya lo harus tau sedikit."


"Lo tau Elvan, anak IPA 2?" 


Tiba-tiba Haris menyenggol siku Bagas, dengan tatapan memberikan isyarat. Sementara Bagas hanya mengangguk meyakinkan. Semua itu tidak luput dari perhatian Lentera.


"Pernah denger namanya, tapi nggak yakin juga, sih! Banyak anak cewek yang bicarain nama itu dari kemarin!" jawab Lentera ragu. Sejak kemarin ia tidak melihat seperti apa sosok Elvan yang dibicarakan anak-anak cewek di kelas. Tidak jarang, ia juga mendengar anak cowok membicarakan nama itu.


"Cuma ada satu pemilik nama Elvan di sekolah ini, namanya emang cukup populer. Gimana enggak? Dia most wanted di sekolah ini." Lentera manggut-manggut, sambil mendengarkan cerita Bagas yang baru dimulai. "Dulu kita berempat sahabatan. Tapi karena suatu masalah, persahabatan kita hancur! Sejak saat itu, sikap Boy berubah. Jadi cowok pendiam dan suka menyendiri."

__ADS_1


"Kenapa bisa?" Entah mengapa, Lentera jadi tertarik dengan cerita persahabatan mereka. Padahal tidak ada pentingnya juga jika mengetahuinya.


"Nggak ada yang tau masalah yang terjadi sebenarnya, gue dan Haris juga nggak tau persisnya kenapa. Akhirnya beredar rumor kalau semua itu karena Vanessa," jelas Bagas. Meskipun sedikit ragu akan masalah yang terjadi sebenarnya. "Apalagi Boy sama Elvan nggak mau kralifirasi!"


"Klarifikasi!" ralat Haris.


"Klasifikasi."


"KLA-RI-FI-KA-SI!"


"Yaitu deh pokoknya!" Bagas malas berdebat.


"Begini nih kalau punya mulut nggak pernah diurut! Typonya bukan cuma di ketikan!" ejek Haris, sedikit kesal.


"Bacot!"


"Emang ada apa dengan Vanessa?" Lentera masih penasaran, lagi-lagi masalahnya karena perempuan. Di sekolah lama, ia juga pernah menjadi bahan rebutan dua cowok yang katanya sama-sama menyukai dirinya. Bukannya sombong, di sekolah lama Lentera memang cukup populer karena kecantikannya.


"Waktu kelas sebelas Elvan suka sama Vanessa, tapi kabarnya Vanessa malah suka sama Boy. Lo paham kan gimana akhirnya?"


Bagas kembali meneruskan cerita. Semua anak di sekolah mengira Elvan dan Boy bertengkar karena cinta segitiga. Namun menurut Bagas dan Haris yang sangat dekat dengan keduanya, sepertinya bukan hanya karena hal itu mereka bertengkar. Apalagi perpecahan itu terjadi setelah mereka kelas dua belas. Tepatnya setelah beredar kabar bahwa Vanessa sudah memiliki kekasih diluar sekolah.


"Jadi mereka masih berantem, meskipun Vanessa sudah punya pacar?"


"Kok lo bisa tau kalau Vanessa udah punya pacar?" tanya Haris heran.


"Kebetulan aja gue denger anak-anak ngobrolin Vanessa." Bohong! Sebenarnya Lentera tahu karena sudah bertemu dengan pria yang mengaku sebagai pacar Vanessa. Kemarin ia tidak sengaja mendengar saat di rumah sakit, pria itu sendiri yang mengatakannya. Sayang sekali ia lupa namanya.


"Itulah sebabnya Boy sempat marah sama lo kemarin, karena mengira elo itu Vanessa. Mungkin karena Boy juga suka sama Vanessa, tapi bertepuk sebelah tangan." Haris mengangkat tangan, yang segera disambut telapak tangan Bagas. "Boy pun nggak pernah mau menyangkal berita simpang siur itu. Nggak penting katanya."


"Banci banget sih, cuma gara-gara cinta aja sampai berantem gitu!"


Lentera malah gemas sendiri mendengar cerita dari Bagas dan Haris tentang kisah Boy dan Elvan. Ia jadi penasaran, bagaimana cerita versi Boy sendiri, tentang kisah persahabatannya yang hancur. Tanpa mengatakan apapun lagi, ia mendekati Boy yang masih bertahan ditempatnya. Meninggalkan Bagas dan Haris yang gagal mencegah Lentera dan kini memasang wajah cengo.


"Harusnya dari awal lo peringatkan dia, buat jangan ganggu Boy kalau lagi menyendiri." Nada suara Haris sedikit merendah, sedikit mengkhawatirkan nasib Lentera setelah dengan berani mendekati Boy.


"Mana gue tau kalau dia bakal senekat itu!"


🎀🎀🎀


...Sampai bertemu di cerita Lentera Pengganti selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2