
Mobil sport hitam milik Kenzo berhenti di depan area rumah sakit. Di susul tiga ambulance yang sepertinya sedang membawa pasien gawat darurat, sirine terdengar berulang-ulang dan sangat kencang. Di dalam gendongan Kenzo, Lentera yang sudah setengah sadar hanya bisa diam menahan rasa sakit.
"DOKTEEEERRRRRRR!"
Teriakan Kenzo terdengar menggelegar. Dari arah dalam, petugas rumah sakit datang membawa tiga brankar medis. Para dokter dengan sigap menjemput pasien gawat darurat masing-masing. Mereka saling bahu-membahu memindahkan pasien dari ambulans, lalu membawanya masuk ke dalam.
Herannya, tidak ada satupun petugas rumah sakit yang mendatangi Kenzo untuk membantu. Pria itu masih menggendong tubuh lemah Lentera. Padahal ia sudah lebih dulu datang sebelum mobil ambulance itu. Terpaksa Kenzo menghalangi salah satu dokter yang hendak masuk ke dalam.
"Permisi! Saya harus menangani pasien!" Kening dokter itu tampak berkerut, merasa terganggu oleh pria yang berdiri di hadapannya sambil menggendong seorang gadis itu.
"APA KALIAN BUTA? MASIH ADA PASIEN KALIAN DI SINI!" balas Kenzo dengan tajam.
Dokter itu sekilas menatap Lentera yang sedang menahan rasa sakit. Tidak ada yang darurat, ia merasa pasien sebelumnya jauh lebih membutuhkan penanganan. Apalagi, pasien tadi mengalami luka yang sangat parah akibat kecelakaan lalulintas.
"Maaf Tuan! Petugas akan datang sebentar lagi, pasien sebelumnya jauh lebih membutuhkan saya. Permisi!" kata sang Dokter.
"Apa Anda pikir dia tidak membutuhkan penanganan, sekarang? Anda tidak lihat dia kesakitan?" Bentakan Kenzo kembali menghentikan langkah dokter pria itu. "Dia tidak bisa menunggu lagi!"
Hentikanlah Tuan, tidak biasanya Anda bodoh seperti ini! Kenapa Anda jadi tidak sabaran?
Jeff hendak melerai. Terkadang Kenzo memang tidak bisa berpikir jernih saat keadaan darurat. Namun tampak dari dalam seorang dokter dan perawat datang membawa brankar mengurungkan niat Jeff.
Tampak dari raut wajahnya, Dokter Pria itu hendak kembali menjawab Kenzo. Sedikit kesal karena pria itu tidak sabaran. Namun, terdengar suara perempuan menepis tatapan panas mereka.
"Biar saya yang menanganinya, Dokter Reza masuk saja!" ucap Dokter Findri. Datang bersama seorang perawat sambil mendorong brankar.
"Terimakasih Dokter Findri." Sekilas Dokter Reza menoleh sinis pada Kenzo, lalu berlari pergi menuju ruang IGD.
"Sombong sekali dia!" gumam Kenzo sambil meletakkan Lentera di atas brankar.
"Dok, sakit!" lirih Lentera, bahkan hampir tidak terdengar ditelinga Dokter Findri.
"Itu sebabnya saya memintamu untuk mendalami pemeriksaan tadi pagi," ucap Dokter Findri.
Dapat Lentera rasakan, brankar bergerak cepat menuju ruang UGD. Tatapan lemahnya menangkap sosok Kenzo ikut mendorong. Sampai sekarang Lentera memang tidak tahu siapa namanya. Namun jika saja bibir masih bisa berucap, Lentera ingin mengatakan terimakasih padanya.
Pintu ruang IGD tertutup, sesaat setelah brankar milik Lentera sudah masuk. Hampir saja Kenzo ikut masuk jika tidak ada perawat yang menghalangi langkahnya. Kenzo masih berdiri di depan pintu, dengan hati gelisah tanpa tahu apa penyebabnya.
__ADS_1
"Argh sial!" Bahkan umpatan itu sudah tidak ada artinya. "Kenapa penanganan di sini begitu lamban? Bagaimana kalau dia dalam bahaya?"
"Apa Anda sedang mengkhawatirkannya sekarang?"
Pertanyaan Jeff sedikit menggugah kesadaran Kenzo. Mereka baru bertemu pagi ini, bahkan perkenalan saja belum sempat terjadi. Lalu kenapa begitu mengkhawatirkannya? Kenzo membuang muka dan menggertakkan gigi. Lalu duduk di kursi yang tersedia.
"Aku bukan khawatir padanya! Hanya merasa kasihan saja melihat dia kesakitan seperti itu!" kilah Kenzo.
"Jika Anda tidak khawatir, maka lebih baik kita kembali ke perusahaan, Tuan. Tuan Malik membutuhkan tanda tangan Anda, untuk proyek selanjutnya."
Salah satu anak buah Kenzo datang dan menyerahkan tas kecil berwarna hitam. Jeff menerimanya, lalu duduk di samping Kenzo. Masih ada pekerjaan urgent yang harus diselesaikan. Jeff memang tipikal pria yang tidak suka bertele-tele dalam pekerjaan.
"Masukkan kembali netbookmu itu!" Kenzo tahu Jeff hendak membahas tentang pekerjaan. Di saat gelisah seperti ini, mana mungkin Kenzo bisa melakukannya. "Lalu ambil ponselmu!"
"Untuk apa, Tuan?"
"Cepatlah!" titah Kenzo. "Katakan pada Malik untuk menunggu besok, aku sedang tidak ingin bekerja!"
Jeff menarik sudut bibirnya. Ia tahu Kenzo sedang mencoba menyembunyikan kegelisahan. "Apa Anda perlu obat penenang, Tuan?"
"Jeff!" Kenzo mendelik tajam, merasa sedang mendapat ejekan dari asistennya itu.
Kenzo mengepalkan tangan setelah melihat kakinya masih cukup tenang untuk dikatakan bergetar. Seketika ia melempar tatapan tajam. Jika pintu ruang UGD tidak terbuka lebih dulu, mungkin Kenzo sudah menendang asistennya itu sampai jadi gelandangan.
"Bagaimana keadaannya Dok? Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia bisa kesakitan seperti itu?" Rentetan pertanyaan Kenzo lontarkan. Seolah tidak mengizinkan Dokter Findri untuk bernafas barang sejenak. Seolah tidak ingin satu hal kecil terlewat dari penjelasan Dokter wanita itu.
"Tenang Tuan, Lentera baik-baik saja. Dia hanya mengalami dislokasi ringan pada bahunya. Saya sudah melakukan reduksi, mengembalikan tulang ke posisi semula."
Mendengar Lentera sudah baik-baik saja ternyata sudah cukup membuat Kenzo merasa lega. Senyum tipis sempat tercetak sebelum Kenzo termangu karena menyadarinya. Kenapa begitu lega? Padahal sebelumnya ia sangat gelisah, seakan rasa takut akan kehilangan terus menghantui pikirannya.
Benar! Selama ini ia selalu kehilangan semua orang yang dicintai. Dari ibu kandung, cinta pertama, lalu kasih sayang dari keluarga dan Vanessa. Mungkin kali ini ia hanya merasa gelisah karena traumatik itu. Kepergian dan kehilangan sudah terlalu banyak mengombang-ambingkan kehidupan Kenzo.
"Anda bilang ringan? Lalu kenapa dia bisa sampai pingsan?"
"Saya pikir itu karena dia tidak mengisi perutnya sejak kecelakaan tadi pagi. Dia bahkan tidak mengambil obat yang sudah saya resepkan," ucap Dokter Findri. Saat di dalam tadi, Lentera memang sudah berkata jujur padanya.
Kenzo berjalan masuk, sesaat setelah kepergian Dokter Findri. Terlihat Lentera sedang bersandar pada bantal di atas brankar. Mata gadis itu masih terpejam, sampai terdengar langkah kaki membuatnya tersadar. Lentera menoleh.
__ADS_1
"Om masih di sini?" Pertanyaan polos Lentera ucapkan. Ia tidak tahu harus mengatakan apa untuk menyapa dia pria tampan berwibawa itu.
"Bodoh!" Satu kata terdengar menyakitkan di telinga. Kenzo masih menatap Lentera sambil mendekat. "Jika tidak bisa menjaga diri sendiri, setidaknya jangan merepotkan orang lain!"
Sekali lagi, kalimat itu terdengar menyakitkan setelah terucap. Kenzo bahkan cukup menyesalinya. Ia hanya ingin tahu bagaimana keadaan gadis itu, tapi tidak mudah untuk bertanya secara langsung.
"Siapa juga yang ingin merepotkan orang lain! Kalau tidak ingin direpotkan, kenapa harus membawaku ke rumahnya tadi." Lentera bergumam, terdengar sedikit tidak jelas memang. Namun telinga tajam Kenzo masih bisa menangkapnya. Tidak dengan Jeff yang posisinya berada di belakang Kenzo.
"Saya dengar!" Kenzo ingin marah, tapi sedikit merasa kasihan saat melihat kondisinya yang sedang sakit. "Apa kamu pikir biaya rumah sakit ini murah?"
Tiba-tiba kalimat itu terucap, padahal Kenzo tidak bermaksud untuk mengatakannya. Hanya saja ia kesal dengan Lentera yang seolah tidak peduli pada tubuhnya yang terluka bahkan sampai kelaparan.
"Om sudah membayarnya?" tanya Lentera lirih. Ia ragu untuk mendengar jawabannya. Sebenarnya akan jauh lebih baik jika tidak menanyakannya tadi.
"Menurutmu? Memang siapa lagi yang akan membayarnya?"
"Maaf, Om!"
"Jangan panggil saya, Om!"
"Ah iya, maaf. Saya janji akan menggantinya nanti," ralat Lentera. Ia bingung harus mengatakan apa.
"Menggantinya? Dengan apa?" Kenzo ragu, apa gadis itu benar-benar punya uang atau tidak. "Perutmu saja hanya diisi dengan cilok! Lalu mau diganti dengan apa uangku itu?"
Lentera hanya mampu diam. Ia juga tidak tahu harus menggantinya dengan apa. Untuk makan saja sudah susah, apalagi harus mengganti uang itu. "Saya akan mengusahakannya!" lirihnya.
"Usaha apa?" Kenzo menatap Lentera dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Ah benar! Namamu Lentera kan? Bagaimana kalau menggantinya dengan salah satu organ tubuhmu?"
Seringai Kenzo terlihat sangat mengerikan. Walaupun sebenarnya ia hanya ingin menakut-nakuti gadis itu. "Ginjalmu ada dua kan?"
Seketika Lentera menekuk lutut, mencoba melindungi ginjalnya yang hanya tersisa dua. Ah tidak, bukannya ginjal memang hanya ada dua? Ah masa bodo, yang penting ia harus melindungi dua aset berharganya itu sekarang.
Kenzo bergerak semakin mendekat sekarang. Rasanya sangat menyenangkan mengerjai gadis itu. "Biar saya lihat, apa salah satunya masih sehat?"
"JANGGGAAAAANNNN! GINJAL SAYA CUMA PUNYA DUA!"
🎀🎀🎀
__ADS_1
Follow Ig : @smiling_srn27
...Sampai bertemu di cerita Lentera Pengganti selanjutnya 👋🏻...