Lentera Pengganti

Lentera Pengganti
Bab 11. Lentera Pengganti


__ADS_3

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya tidak penting jika mengetahui alasan sebenarnya dibalik hancurnya persahabatan Boy dan Elvan. Lentera saja tidak begitu mengenal mereka. Permasalahan mereka juga tidak akan berpengaruh pada kehidupannya.


Namun anehnya, Lengkara justru nekat menghampiri Boy yang masih duduk di dekat jendela. Sementara Bagas dan Haris yang terlambat mencegah, memilih menunggu di dekat kolam. Boy masih memejamkan mata ketika Lentera meneliti wajahnya yang mendongak ke atas.


Hidungnya mancung, struktur wajahnya terpahat dengan sempurna. Bibirnya tebal dengan warna pink natural. Dan matanya? Sampai sekarang masih terpejam, menikmati alunan musik di balik earphone yang menempel di telinga. Soal tampan, Mark dari boy grup NCT kalah! Begitu menurut pendapat Lentera sendiri.


"Gue tau gue ganteng!"


Bibir itu tiba-tiba bergerak, mengalunkan suara yang justru mengagetkan Lentera. Gadis itu pikir Boy masih tidur, sehingga tidak akan menyadari kedatangannya. Namun ternyata salah, cowok itu sudah menangkap basah dirinya.


Bodoh dan sangat memalukan! Lentera merutuk, setelah ketahuan memandangi wajah Boy secara diam-diam. Berteriak saja tidak akan bisa menebus rasa malunya. Demi mengalihkan rasa malu, ia memutuskan duduk kursi kosong yang tersedia di samping Boy.


"Aku kira kamu tidur tadi!" ucapnya basa-basi. Dengan mengakrabkan diri mungkin Boy tidak akan salah paham lebih jauh mengenai dirinya.


"Siapa yang nyuruh lo duduk di situ?"


Nada bicaranya sedingin lautan Antartika, sedikit menyadarkan Lentera yang ternyata salah  dalam mengambil tindakan. Bukannya menjawab, Lentera justru bingung melihatnya yang selalu bersikap tidak bersahabat. Boy berbicara dengan mata tertutup, earphone di telinga masih tersambung pada ponsel di dalam saku.


Ternyata benar kata beberapa siswa di kelas. Boy memang cowok pendiam yang tidak suka diganggu, dan suka menyembunyikan diri. Keberadaannya seakan masih menjadi misteri di sekolah ini. Begitu menurut sebagian siswa yang tidak pernah melihat Boy, tapi sering mendengar namanya.


"Ini tempat umum, siapapun boleh duduk di sini!" Lentera mencoba bersikap santai, meskipun sebenarnya ia sudah mulai merasa gugup. Ia tahu betul bahwa kehadirannya saja sudah cukup mengganggu kenyamanan Boy.


"Kalau gitu duduk sepuas lo!" Boy melepas earphone di kedua telinga, lalu beranjak hendak pergi.


"Kamu kenapa sih?" Pertanyaan Lengkara berhasil menghentikan Boy yang hendak lewat di depannya. "Susah benget dideketin?"


Salah satu alis Boy terangkat, ketika melihat wajah Lentera yang sedikit kesal. Lalu ia membungkuk, memegang kedua sisi tempat duduk Lentera dan mendekatkan wajah. "Lo suka sama gue?"


"Hah?"


Pertanyaan macam apa itu? Lentera mematung, baru kali ini ada cowok yang berani memotong jarak hingga kurang dari 30 centimeter di depan wajah. Embusan angin beraroma mint menerpa wajah ketika Boy berbicara lirih. Mendesak denyut jantung Lentera, untuk berpacu lebih cepat dari biasanya.


"Lo suka sama gue?" ulang Boy.


"Eng—enggak!"


Suaranya terbata, sarat akan keraguan di dalam jawabannya. Atmosfer di sekitarnya mendadak terasa panas, memancing semburat merah yang perlahan muncul di wajah Lentera. Untunglah Boy segera menjauh, sebelum Lentera benar-benar kehabisan nafas.


"Kalau gitu pergi, jangan ikut campur urusan gue!"

__ADS_1


Sikapnya kembali dingin, didukung kedua tangan yang kembali masuk ke dalam kantung celana. Lentera menyesal setelah hampir terperdaya oleh aura mendominasi pada diri cowok itu. Ternyata Boy tidak sependiam dugaannya.


Jangan-jangan sudah banyak cewek yang jadi korbannya?


Tindakannya tadi memang terlampau berani, apalagi pada cewek yang baru dikenal. Bisa saja kan, Boy sering melakukannya pada cewek lain? Namun tidak bisa dipungkiri, semua cewek pasti akan menyukainya, sama seperti Lentera tadi. Istilahnya, pacarable banget lah.


"Tunggu!" Lentera berdiri ketika Boy sudah melangkah lebih jauh, "Apa kamu sering melakukannya pada cewek lain?"


Langkah Boy terhenti di dekat Bagas dan Haris yang sedang malu-malu kucing, setelah melihat insiden tadi. Siapa yang mengira Boy bisa melakukan hal itu pada seorang perempuan. Mereka bahkan sempat mengira kalau Boy sedang kerasukan setan paling romantis yang ada di sekolah.


Tanpa membalikkan badan, Boy menjawab dengan enteng, "Kenapa enggak?"


Cowok itu kemudian pergi, membawa senyum tipis di bibirnya. Meninggalkan Bagas dan Haris yang tercengang mendengar jawaban penuh kebohongan itu. Sementara Lentera? Ia mengepalkan tangan, ternyata Boy sama saja seperti cowok playboy lainnya.


"Haish pendiam dari mananya?" Lentera bergumam kesal ketika berjalan melewati Bagas dan Haris. Jelas saja kedua cowok itu mendengarnya.


"Jangan percaya! Dia nggak seperti yang lo duga!" sahut Haris. Bagas ikut mengangguk setuju, meskipun Lentera tidak melihatnya.


"Lebih playboy dari yang aku lihat gitu?" Lentera tercengang, lalu geleng-geleng kepala.


"Dia bukan cowok playboy! Gimana mau dibilang playboy kalau pacaran aja nggak pernah!"


Lentera mengernyit, setengah tidak percaya dengan pernyataan Haris. Dengan pawakan tinggi, atletis, pandai berenang, pandai bermain alat musik dan padai dalam mata pelajaran, tidak mungkin seorang Boy tidak pernah pacaran. Wajahnya pun tampan meski dilihat dari sisi manapun, eh!


Haris mengangguk mantap. "Banyak cewek yang suka sama Boy, tapi semua ditolak. Mungkin rumor kalau dia suka sama Vanessa itu emang bener!"


"Sebenarnya kalian itu sahabatnya bukan sih? Masa siapa yang dia suka aja kalian nggak tau?"


"Eh bukan gitu! Boy terlalu pendiam orangnya," kata Bagas. "Kalau ada masalah, dia selalu menyimpan semuanya sendiri."


Masih banyak yang ingin Lentera tanyakan, tapi bell jam pelajaran sudah terdengar memenuhi seantero sekolah. Ia juga tidak mengerti, mengapa begitu penasaran dengan kehidupan Boy. Cowok pendiam yang baru dua hari ia temui.


Sementara di belakang tembok pembatas ruang kolam renang, seorang perempuan sejak tadi masih mengawasi. Rona kekesalan masih menyelimuti sejak melihat Boy dan Lentera berbicara dalam jarak yang sangat dekat. Rekam jejak tindakan mereka terus berseliweran di pikiran, dan itu membuatnya sangat kesal.


"Gue mencium aroma daging panggang di sekitar sini!" Dari arah belakang, terdengar Elvan menghirup udara dalam-dalam. Lalu tersenyum, mengejek gadis cantik yang ada di depannya, Jasmine Oirlyn.


"Diam lo!" Jasmine masih melihat ke arah koridor,  tempat dimana Lentera, Bagas dan Haris mulai menghilang ditelan jarak. Tidak yakin harus menunjukkan wajah cemburu di hadapan Elvan, cowok paling menyebalkan di sekolah menurutnya.


"Gue nggak nyangka kalau Boy beneran suka sama Vanes!"

__ADS_1


Sebelumnya Elvan memang sempat melihat apa yang dilakukan Boy pada Lentera. Kali ini bukan karena cemburu, tapi Elvan cukup tertarik untuk melakukan satu hal. Sejak persahabatannya hancur, ia memang selalu ingin mencari masalah dengan Boy. Mungkin sampai rasa kecewa itu benar-benar terbalaskan, sampai Boy bisa merasakan apa yang ia rasakan.


"Dia bukan Vanes, namanya Lentera!"


Di awal kedatangan Lentera, sebenarnya Jasmine tidak peduli. Bahkan untuk berkenalan saja ia tidak mau, apalagi untuk mengingat namanya. Namun sejak kejadian tadi, entah bagaimana caranya ia bisa ingat betul dengan nama Lentera. Seolah nama itu sudah tercatat di barisan orang yang paling ia benci di sekolah. Satu list dengan Elvan lah kira-kira.


"Lentera?"


"Anak baru!" sahut Jasmine malas.


"Kenapa mukanya sebelas dua belas sama Vanes?"


"Lo pikir gue peduli?" Jasmine memutar bola matanya, jengah. Lalu melipat tangan sambil menatap Elvan. "Sebenarnya lo mau apa sih di sini?"


"Pengen liat mantan!"


Elvan mengerlingkan mata, yang seketika membuat Jasmine ingin muntah. Mereka memang pernah sempat berpacaran, mungkin hanya sekitar dua minggu. Dan sekarang Jasmine menyesal karena pernah terperdaya oleh rayuannya. Padahal Elvan sengaja ingin membuat Boy tidak disukai oleh siapapun di sekolah ini. Begitulah yang ia lakukan pada perempuan lain yang menyukai Boy, selama beberapa waktu belakangan.


"Jijik gue!" sinis Jasmine. "Jauh-jauh sana!"


Elvan terkekeh. "Gimana kalau kita balikan? Gue masih sayang banget sama lo!" Nada bicaranya jelas hanya main-main, dan itu semakin membuat Jasmine naik pitam.


"Naj*s! Jauh-jauh dari hidup gue!"


"Kayaknya cinta lo buat Boy udah besar banget ya! Pantes aja kita cuma pacaran sebentar doang!"


Tanpa rasa bersalah, Elvan kembali mengingatkan Jasmine pada cintanya yang masih tersembunyi dalam diam. Semua itu karena Elvan. Seandainya Jasmine tidak pernah terpengaruh oleh rayuannya, mungkin ia sudah mengatakan isi hatinya pada Boy sejak lama. Dan sekarang, Jasmine sudah terlanjur malu untuk mengungkapkannya.


"Nggak usah ikut campur urusan gue!"


"Tapi sebagai mantan yang baik, udah seharusnya gue bantuin lo, dong!" Elvan tersenyum penuh misteri. "Namanya Lentera, kan?"


"Mau ngapain lo?" Jika sudah menunjukkan senyum seperti itu, sudah dipastikan Elvan akan membuat masalah lagi dengan Boy.


Elvan terkekeh. "Sedikit pertunjukan mungkin bakal seru!"


"Jangan macam-macam!"


Elvan memegang kedua bahu Jasmine yang langsung ditepis olehnya. "Gue cuma penasaran aja, gimana reaksi Boy kalau gue ganggu Lentera. Dengan begitu, lo bisa tau gimana perasaan Boy ke Lentera sebenarnya."

__ADS_1


🎀🎀🎀


...Sampai bertemu di cerita Lentera Pengganti selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2