Lentera Pengganti

Lentera Pengganti
Bab 06. Lentera Pengganti


__ADS_3

"Aaaaaaaa... toloooonnnggggg! Saya mau diculik, toloooonnnggggg!"


Baru saja keluar dari mobil, Lentera kembali berteriak. Kenzo seketika menatap tajam padanya. Ternyata tidak mudah membawa gadis itu dalam keadaan sadar. Ingin rasanya Kenzo memukul kepalanya hingga pingsan, atau menutup jalur pernafasannya hingga tidak sadarkan diri. Bahkan itu mungkin jauh lebih baik ia lakukan sejak tadi.


"Diam atau akan ku robek mulutmu!" ancam Kenzo.


Awalnya, Lentera hendak berteriak lagi. Namun seketika ia menutup mulut rapat-rapat, setelah mendengar ancaman itu. Sampai Kenzo kembali melangkahkan kaki menuju sebuah rumah berukuran besar, bahkan empat kali lebih besar dari rumah Lentera yang ada di kampung. Ah tidak, mungkin rumah itu jauh lebih besar dari yang ia duga.


"Om Om, jangan culik aku doonnnnggggg!" Lentera bersenandung. Ia masih tidak mengerti dengan situasi. Entah harus merasa senang karena diculik dua Om ganteng, atau justru harus merasa takut karena bisa saja nyawanya sedang dalam bahaya.


"Jangan panggil saya Om! Memangnya sejak kapan saya menikah dengan Tante mu!" tegur Kenzo. Suara gadis itu memang indah, tapi liriknya sangat tidak enak di dengar. Namun tidak bisa dipungkiri, sebenarnya Kenzo merasa tenang ketika mendengar suara itu. Keberadaan gadis itu membuatnya merasa sedang bersama Vanessa.


"Aneh! Dipanggil Om kok nggak mau, padahal kan Om Om pasti banyak duitnya," gumam Lentera.


"Saya bisa mendengarnya, bodoh!" sahut Kenzo. Menarik kembali Lentera menuju pintu utama rumahnya.


"Terus mau dipanggil apa? Paman?" tanya Lentera baik-baik.


"Apa kamu pikir saya adik Ayahmu?"


"Bukan lah! Om aja nggak seganteng Ayah saya." Lentera masih berusaha menahan rasa sakit di kaki, karena Kenzo masih saja menarik tangan kanannya sambil berjalan cepat. Perutnya pun mulai terasa perih, mungkin karena cilok pedas yang ia makan sebelumya.


"Oh ya? Apa kamu yakin Ibumu tidak akan selingkuh dari Ayahmu setelah bertemu denganku?" tantang Kenzo. Baru kali ini ada seorang gadis yang jujur mengatakan bahwa dirinya tidak tampan. Ia jadi penasaran, seberapa ganteng ayah gadis itu.


"Yakin! Ibuku itu wanita yang setia!" jawab Lentera menggebu. "Kalau tidak, mana mungkin dia memilih pergi bersama Ayahku!"


"Maka pertemukan aku dengan Ibumu, setelah itu kita akan buktikan seberapa setianya Ibumu itu!" ucap Kenzo. Masih belum mengerti dengan apa yang Lentera maksud. Bodohnya, ia tetap menanggapi semua yang Lentera katakan.


"Tidak bisa!" lirih Lentera. Gadis itu menghentikan langkah. Lelah, sudah cukup lama ia berjalan hingga membuat kakinya terasa nyut-nyutan.


"Maksudnya?"


"Aku tidak bisa!"


"Tidak bisa kenapa?"

__ADS_1


"Karena Ayah dan Ibuku sudah meninggal!"


Deg


Semua orang terdiam, menatap Lentera dengan wajah menggambarkan keterkejutan. Mudah sekali gadis itu mengatakan kalimat kematian. Dengan raut wajah tanpa beban kesedihan sedikitpun. Kini Lentera bahkan menunjukkan senyuman di hadapan Kenzo.


"Om? Kenapa diam?" Lentera bingung, semua orang malah terdiam menatap dirinya.


"Apa itu pintu masuknya?" Lentera menunjuk pintu masuk, lalu kembali melangkahkan kaki. "Kita mau masuk, 'kan? Kalau gitu ayok!" teriaknya.


"Bisa-bisanya dia masih bisa tersenyum seperti itu!" Kenzo masih terheran dengan sikap Lentera yang seakan tidak merasa sedih. Padahal, gadis itu sudah kehilangan dua orang yang paling berarti dalam hidupnya.


Sampai di ruang tengah, Kenzo mendekati Lentera yang tengah mengedarkan pandangan. "Kamu bilang Ayah dan Ibumu sudah meninggal?"


β€œIya,” Lentera mengangguk dengan cepat.


"Lalu kenapa kamu terlihat baik-baik saja?" Kenzo sangat perasaan. Wajah gadis itu tidak menunjukkan kesedihan sama sekali. Berbeda dengan Kenzo saat kehilangan Vincie dan Mama Shena dulu.


Mendengar pertanyaan itu, seketika Lentera tertawa. "Om gimana, sih? Yang meninggal itu Ayah dan Ibuku, bukan aku!" ucapnya.


"Sedih? Pertanyaan macam apa itu?" Lentera terkekeh, "Memang siapa yang tidak sedih saat ditinggal oleh seseorang yang disayanginya untuk selama lama lamanya?"


β€œLalu kenapa kau malah tertawa?” tanya Kenzo heran.


"Aku sudah berdamai dengan keadaan. Dulu aku adalah orang yang paling terluka setelah mendengar berita kematian mereka." Lentera terdiam sejenak, tiba-tiba sorot matanya menunjukkan kesedihan. "Sampai aku menyadari, berduka tidak akan mungkin membuat mereka hidup kembali. Sedih boleh, tapi hidup akan tetap berlanjut, walaupun semenderita apapun aku waktu itu. Ah sial, kejam memang!" katanya menyumpah.


"Karena itu aku berusaha melanjutkan hidup tanpa mereka, mengejar cita-cita ku hingga sampai di sini, dan bertemu denganmu."


Lentera menoleh sambil tersenyum, lalu menatap dalam mata Kenzo. Keheningan tercipta selama beberapa detik. Jeff dan para bodyguard yang ada di sana bahkan ikut terdiam, terbawa suasana. Pandangan keduanya masih saling bertegur sapa, membuat jantung Lentera mulai berdetak tidak teratur.


Beberapa detik kemudian, Kenzo mengalihkan pandangan. Ia sadar menatap mata gadis itu hanya akan membuatnya terhipnotis. Sorot matanya benar-benar mirip dengan Vanessa dan Vincie. Hampir saja Kenzo lupa bahwa gadis itu adalah penyebab Vanessa mengalami koma.


Sebuah foto berukuran besar yang terpajang di dinding, mengalihkan perhatian Lentera. Gadis itu perlahan mendekat, ia merasa seperti pernah melihat wajah itu sebelumnya. Ah benar, setelah diteliti, wajah itu sangat mirip dengan wajahnya.


"Dia Vanessa!" kata Kenzo, menjawab rasa penasaran gadis itu.

__ADS_1


"Vanessa?" Lentera masih tidak percaya, foto itu benar-benar mirip dengannya. "Apa itu sebabnya, pagi tadi kalian semua mengira aku adalah Vanessa?"


Kenzo mengangguk. Setelah melihat gadis itu berdiri di samping foto Vanessa dua tahun yang lalu, ia bisa mengatakan dengan percaya diri bahwa keduanya memang memiliki kemiripan hampir 99 persen.


"Lalu apa maksud kalian membawaku ke sini?"


Tadinya Lentera tidak ingin terlalu memusingkan soal ini. Ia merasa harus menjalani takdir yang memang harus dilewati, yaitu mengikuti dua pria asing itu. Sejak kepergian kedua orangtuanya, Lentera memang sudah memasrahkan diri pada takdir. Namun setelah melihat foto itu, Lentera jadi bertanya-tanya. Takdir macam apa lagi yang harus ia hadapi?


"Karena kamu memang harus melihat semua ini!"


Awalnya Kenzo sangat ingin memberikan pelajaran pada gadis itu. Namun ia mengurungkan niat. Kenzo tidak bisa menyiksa mata yang sangat mirip dengan Vanessa itu. Kenzo tidak bisa menyakiti semua yang ada pada gadis itu, karena kemiripannya dengan sang kekasih.


"Sudah cukup! Namaku adalah Lentera! Jika kalian datang hanya untuk menyamakan aku dengan Vanessa, maka lebih baik aku pergi. Karena aku, Lentera, bukan Vanessa!"


Menyadari semua ini ada hubungannya dengan Vanessa, Lentera jadi sangat kesal. Seharian ini semua orang yang ditemui selalu menganggap dirinya adalah Vanessa. Bagaimana tidak kesal? Lentera merasa tidak akan dianggap siapa-siapa jika wajahnya tidak mirip dengan Vanessa, seseorang yang belum pernah ia temui sebelumnya.


"Tunggu! Biar aku jelaskan padamu!"


Melihat Lentera hendak pergi, reflek Kenzo berjalan mengejar. Entah mengapa ia merasa tidak rela jika Lentera pergi meninggalkannya. Dadanya terasa sesak ketika mendengar Lentera akan pergi. Perasaan macam apa ini? Kenzo dengan cepat mengejar, dan meraih tangan kiri Lentera. Namun hal itu justru membuat Lentera tiba-tiba merintih kesakitan.


"Awh sssshhhh sakit!"


Lentera memegangi bahu kirinya yang terasa mau putus, sakitnya luar biasa. Lututnya mendadak goyah, terasa melemas membuat Lentera terjatuh dalam sekejap. Rasa sakit itu tak tertahankan, hingga pandangan Lentera mulai buram, hingga akhirnya tidak sadarkan diri di pangkuan Kenzo.


"Hey, bangun! Buka matamu!" Kenzo menepuk pipi Lentera, rasa khawatir tiba-tiba merasuk dalam dirinya. "Bangun!"


Kenzo mengalihkan atensi, menatap bahu yang sejak tadi membuat Lentera meringis kesakitan. Tanpa pikir panjang, ia hendak membuka seragam sekolah Lentera. Namun mengingat saat ini masih banyak orang di ruang tengah itu, Kenzo langsung menatap semua anak buahnya dengan tatapan tajam. Dalam sekejap, semua orang berdiri membelakangi Kenzo dan Lentera.


"Bengkak?"


Dapat terlihat, bahu sebelah kiri Lentera sedikit membengkak. Namun bukan itu yang menjadi pusat perhatian Kenzo sekarang. Di dekat bahu itu terdapat bekas luka yang tampaknya cukup dalam. Kenzo kembali teringat pada Vincie, saat kecil dulu, Vincie pernah terluka di tempat yang sama seperti gadis itu. Mungkinkah dia benar-benar Vincie?


"JEFF, SIAPKAN MOBIL! KITA KE RUMAH SAKIT SEKARANG!"


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€

__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita Lentera Pengganti selanjutnya πŸ‘‹πŸ»...


__ADS_2