Lentera Pengganti

Lentera Pengganti
Bab 05. Lentera Pengganti


__ADS_3

"Sedang apa kamu di sini?"


Suara bariton seorang pria menggema memenuhi seantero ruangan. Mengejutkan Kenzo yang masih memegang erat tangan Vanessa, dengan pandang terus menatap wajah pucat gadis di atas brankar itu. Tidak ada kesempatan bagi Kenzo untuk menjawab. Papa Kenzie sudah lebih dulu mencengkram kerah baju Kenzo dan menariknya ke luar ruangan.


"Pah! Dengarkan aku dulu—"


Bugh!


Kenzo tersungkur di lantai, Papa Kenzie baru saja memukul wajahnya tanpa rasa kasihan. Luka di bibir Kenzo tampak kembali mengeluarkan darah. Padahal baru beberapa menit yang lalu, Kenzo mengoleskan obat pada bibirnya, atas desakan Asistennya.


"Sudah saya katakan! Jauhi putri saya! Apa kamu tuli?" bentak Papa Kenzie, marah.


Kenzo mengusap darah segar yang keluar di sudut bibirnya. "Maaf, Pah! Tapi Kenzo nggak bisa tinggalin Vanessa!" Kenzo beranjak berdiri.


"Pergi dari sini!" usir Papa Kenzie dengan penuh penekanan.


Tampak beberapa pria berpakaian serba hitam datang membantu Kenzo dan berdiri di belakangnya. Hal itu justru semakin menambah api amarah dalam diri Papa Kenzie. Pria paruh baya itu merasa, ini adalah sebuah perlawanan yang Kenzo lakukan.


"Kamu yakin ingin membuat keributan di sini?" tantang Papa Kenzie. Sama halnya dengan Kenzo, beberapa anak buah Papa Kenzie pun sudah siap berdiri di belakangnya.


"Aku datang bukan untuk membuat keributan, akuu datang hanya untuk menemui Vanessa!" jawab Kenzo.


"Sudah cukup! Selama ini saya selalu diam, membiarkan putriku merubah sifat dan sikapnya hanya untuk pria sepertimu. Tapi sekarang, saya tidak akan tinggal diam lagi! Kehadiranmu di sini hanya akan membuat keluargaku semakin hancur berantakan!" kata Papa Kenzie pedas.


"Jangan pernah dekati Vanessa lagi! Jika benar kalian memang saling mencintai, maka buang jauh-jauh rasa cinta itu di hatimu. Karena aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian sampai kapanpun!" lanjutnya.


Deg!


Detak jantungnya seolah berhenti. Kenzo terpaku di tempat, kalimat itulah yang paling ia takutkan. Dan benar, itu terdengar sangat menyakitkan. Tiba-tiba dadanya terasa begitu sesak. Haruskah ia merelakan hubungan itu sekarang? Kenzo tahu betul bagaimana teguhnya pendirian Papa Kenzie. Jika sudah berkata demikian, maka tidak akan ada kesempatan lagi bagi Kenzo untuk melawan.


"Pergilah! Sebelum semuanya semakin tidak terkendali!"


Kembali terulang, Kenzo hanya mampu menatap kepergian Papa Kenzie dalam ketidakberdayaan. Bersamaan dengan itu, Jeff datang membawa sebungkus makanan. Ia tahu, secuil makanan pun belum sempat masuk ke perut Kenzo sejak pagi tadi.


"Anda baik-baik saja, Tuan?" Jeff bingung. Lagi-lagi luka di bibir Kenzo kembali mengeluarkan darah. Tiga bodyguard itu hanya mampu menunduk, menyadari tatapan penuh pertanyaan di mata Jeff.


Kenzo mengibaskan tangan. Bahkan untuk menjawab pertanyaan Jeff pun ia sudah malas. Kata-kata Papa Kenzie masih terngiang di kepala. Kenzo berlalu pergi, sebelum pikirannya semakin tidak karuan.

__ADS_1


Kenzo melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu sudah menunjukkan pukul setelah tiga sore. Biasanya Vanessa baru akan pulang sekolah sekitar setengah jam lagi. Dan saat itu, Kenzo pasti sedang dalam perjalanan untuk menjemput gadisnya itu.


"Kita ke sekolah Vanes sekarang!" titah Kenzo.


Sejenak Jeff menoleh, menatap Kenzo dengan penuh pertanyaan. Langkahnya bahkan sempat tertahan sejenak karena merasa aneh. Kenzo memang biasa datang ke sekolah itu, tapi itu hanya untuk mengantar jemput Vanessa. Lalu untuk apa lagi sekarang? Sementara Vanessa saja masih dalam penanganan medis.


"Untuk apa datang ke sana lagi, Tuan?"


"Memberikan pelajaran! Apa kau pikir aku akan diam saja, membiarkan gadis itu hidup dengan bebas. Sementara Vanessaku harus hidup dibawah pengawasan medis!"


Tatapan Kenzo menajam, tangannya terkepal kuat. Mengingat Vanessa sedang bertahan hidup dengan bantuan alat medis, membuat amarah Kenzo semakin memuncak. Gadis itu harus merasakan apa yang Vanessa rasakan saat ini.


Baiklah! Terserah Anda saja, Tuan!


Jeff tahu ini bukan kesalahan gadis itu, tapi apa boleh buat? Mana mungkin ia membantah perintah atasannya. Karena bagi Jeff, setiap kata yang Kenzo ucapkan adalah sebuah perintah yang harus ia lakukan. Meskipun terkadang ia sedikit melakukan kecurangan, tapi semua itu ia lakukan hanya demi kebaikan Kenzo.


Selama yang Anda lakukan itu membuat Anda merasa lebih tenang, maka saya pasti akan melakukannya.


Sampai di dalam mobil, Jeff langsung tancap gas menuju SMA Galaxy. Sepenjang perjalanan, Kenzo hanya diam menatap keluar mobil. Sama halnya dengan Jeff yang masih fokus dengan tugasnya sebagai supir.


"Hentikan mobilnya!"


Tanpa bertanya, Jeff menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Tatapan Kenzo masih tertuju pada gadis itu, gadis yang tengah membeli cilok tidak jauh dari gerbang sekolah. Tingkah gadis itu kembali mengingatkannya pada Vanessa. Namun mengingat perbuatan gadis itu, kembali membuat amarah di hati Kenzo.


"Bisa-bisanya dia tersenyum seperti itu!" ucap Kenzo marah.


"Dia memang sangat mirip dengan Nona Vanessa," ucap Jeff tanpa sadar.


"Jangan pernah samakan Vanessaku dengan gadis tidak jelas itu!" ancam Kenzo.


Seketika Jeff menutup mulutnya. "Maaf Tuan!"


Tanpa mendengar ucapan asistennya, Kenzo beranjak keluar dari mobil. Berjalan menghampiri gadis yang kini sedang makan cilok di pinggir jalan. Sementara penjual cilok sudah pergi entah kemana. Kini gadis itu hanya duduk seorang diri, sambil sibuk menikmati cilok.


Lentera? Jelas saja gadis itu terkejut dan bingung dengan kehadiran dua pria yang ditemuinya pagi tadi. Mulut gadis itu berhenti mengunyah, meski masih menyimpan beberapa butir cilok pedas di mulutnya. Seperti biasa, Lentera memang suka menyimpan makanan di dalam mulut. Mirip seperti seekor tupai yang menyimpan biji-bijian di dalam mulutnya.


"Owm lwagwi? Kwenapwa Owm dwi swini?" Lentera bertanya dengan mulut penuh makanan, hingga terdengar tidak jelas. Wajahnya tampak memarah, akibat sensasi pedas yang menjalar di rongga mulutnya.

__ADS_1


Kali ini Kenzo baru menemukan perbedaan antara gadis itu dengan Vanessa. Selama ini Vanessa selalu makan dengan elegan, bahkan sedikit saus tidak akan Vanes biarkan menempel lama di bibirnya. Sangat berbeda dengan gadis dihadapannya itu. Namun, melihat tingkah gadis itu, justru kembali mengingatkan Kenzo pada Vincie.


Dulu Vincie memang sangat suka menyimpan makanan di dalam mulut, ia bahkan tidak peduli dengan sisa makanan yang sudah belepotan ke mana-mana di area mulut. Siapapun yang menyuapi Vincie, pasti tidak akan sabar dengan keleletan gadis itu dalam hal makan. Kecuali Kenzo dan mendiang Mama Shena.


"Telan dulu, baru bicara!" ucap Kenzo setengah membentak.


Mendengar bentakan itu, dengan cepat Lentera mengunyah. Tatapan tajam mata Kenzo membuat Lentera langsung menelan sisa cilok di dalam mulutnya. Padahal, masih ada cilok berukuran besar yang belum sempat dikunyah olehnya. Seketika hal itu membuat Lentera tersedak. Gadis itu hampir terbatuk karenanya.


Dengan cepat ia membuka botol air miliknya, lalu meminumnya dengan rakus. Berharap rasa pedas juga ikut larut bersama air ke dalam perutnya. Butuh berapa kali tegukan hingga membuat cilok berhasil masuk ke dalam perut. Lentera menghirup udara banyak-banyak, setelah hampir saja mati karena tersedak cilok. Tidak lucu bukan? Masa iya harus mati hanya karena tersedak sebutir cilok?


"Sudah selesai?" tanya Kenzo datar. "Kalau begitu ayok pergi!"


"Tunggu dulu! Emang mau ke mana? Om nggak liat aku hampir mati tadi?" Lentera mengibas tangan di depan mulut dengan nafas terengah. Rupanya air minum saja tidak mampu menuntaskan segalanya, karena rasa pedas itu ternyata masih bersarang di mulutnya.


"Bukannya lebih bagus kalau kamu biarkan cilok itu menghambat pernafasan mu?" ujar Kenzo bertanya.


"Hah?"


"Om mau liat saya mati sia-sia?" Ucapan Kenzo bahkan jauh lebih pedas dari cilok yang baru ia makan. Lentera sampai syok, bisa-bisanya pria itu bercanda soal kematian.


"Benar juga! Mana mungkin ku biarkan kau mati sia-sia?" Kenzo menyeringai, menatap penuh misteri pada Lentera.


"Maksud Om apa?" Melihat seringaian itu seketika membuat Lentera bergidik ngeri.


"Kau tidak ingin mati sia-sia, bukan? Maka aku akan mewujudkan keinginanmu itu!" Kenzo meraih tangan kanan Lentera, lalu menariknya pergi menuju mobil.


"Lepas! Om mau apa?" Lentera tidak tinggal diam. Meskipun seluruh tubuhnya masih terasa sakit, tapi ia tetap berusaha memberontak. Keadaan ini begitu cepat, membuat Lentera tidak bisa berpikir sama sekali.


Sebuah ide jahat terlintas dipikiran Lentera. Saat sudah sampai di mobil, gadis itu langsung menggigit lengan tangan Kenzo tanpa ampun, hingga cengkraman itu terlepas. Kenzo berteriak kesakitan, bersamaan dengan itu, Lentera langsung berlari meninggalkan dua pria yang ingin menculik dirinya.


Menyadari hal itu, Kenzo langsung ikut berlari mengejar. Kondisi kakinya yang masih dalam proses penyembuhan membuat Lentera tidak bisa berlari dengan cepat. Dalam beberapa meter saja, Kenzo sudah bisa menangkap kembali Lentera. Menggendongnya ala karung beras, dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"TOLOOOONNNNNGGGGGG!"


🎀🎀🎀


...Sampai bertemu di cerita Lentera Pengganti selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2