
Aku ingat betul kejadian kemarin malam. Bahkan aku ingat tidur di dekat lia. Memalukan.
Aku bangun dan kembali melanjutkan rutinitas sekolah ku.bangun,mandi,membuat sarapan untuk kami dan berangkat.
Sarapan hari ini sangat sunyi. Karena tentu siapa yang tidak canggung setelah kejadian seperti itu. lagi pun hari ini aku berangkat dengan gojek dan pulang ku juga pasti malam dan jangan lupa ayah memintaku datang hari ini
" nanti pulang ku lama."
" gak usah kemana-mana."
Lia hanya membalas dengan anggukan,entah dia dengar atau tidak.
Aku berdiri sambil membawa piring kotor menuju tempat piring kotor.
Mengambil tas dan merogoh handphone, gojek yang ku pesan sudah tiba. Berjalan melewati lia dan ah lupakan lia masih sibuk minum.
Memastikan pintu rumah sudah benar-benar terkunci dan memakai helm lalu rumah ku terlihat semakin kecil. Aku tidak bilang akan bertemu ayah, kalau lia peka dan ingat aku membalas pesan dari ayah di depan mata nya.
Gojek itu berhenti tepat di gerbang sekolah, aku turun dan membungkukkan badan ku sebagai simbol berterimakasih. Berjalan masuk dan mengikuti pelajaran.
16.00
Hari sudah mulai sore,aku menatap minimarket di sisi kiri ku. aku belokkan langkah ku 'beli roti dan susu bentar.'
Dan memasuki minimarket itu. mengambil beberapa makanan seperti roti dan susu.
Terlintas wajah lia saat sedang memakan es krim. Ku belikan satu untuk nya.
Susu di tanganku dan aku berjalan keluar. Berjalan lagi menuju tempat les ku sambil menyeruput susu. Aku berhenti dan masuk ke dalam.
19.00
Aku duduk menunggu di depan sebuah ruangan. Map berukuran A4 sedang ku genggam.
Aku melihat beberapa karyawan berlalu-lalang di hadapan ku, mereka tampak lelah.
Yah aku tidak heran, sosok 'pemilik ruangan' ini memang terkenal mudah emosi.
Pandangan ku tertuju pada seorang wanita yang mempersilahkan ku masuk. aku berdiri dan membuka perlahan pintu itu. terlihat sebuah sosok yang cukup lama tak ku jumpai tengah duduk.
Wajah ini kudapat dari dia, warna kulit ku juga sifat buruk nya. sesuatu yang dia wariskan tidak ada yang baik kecuali tubuh atletik dan hobi olahraga nya. yang dia tinggalkan juga selalu hancur.
Lelaki itu duduk di kursi dan kami bertatapan. Tatapan yang aku yakin tidak pernah ku lupakan.
Aku mendekat dan menyerahkan map berukuran A4 itu, lelaki itu menggangguk kan kepala nya.
membuka lembar-lembar kertas itu.
Lalu dahi nya berkerut, entah apa maksud nya mungkin aku bisa menebak. Ah jelas saja andra, pasti dia marah.
Dia mulai bertanya.
" kenapa turun?" pertanyaan yang sesuai dugaan ku.
" ada beberapa kendala ayah."
" kendala apa, apa uang les mu belum ayah bayar?"
" bukan itu."
__ADS_1
" apa kamu bekerja? Uang mu kurang?"
" cukup ayah."
" apa karena kucing kucingan mu itu atau badminton itu?"
Aku terdiam,aku tidak tau kalau dia tau tentang lia.
" kamu mau mati muda?"
" pelihara kucing?"
" kamu pikir asma mu hilang kalau ada kucing?"
Tidak ada jawaban yang bisa ku gunakan.
" kucing itu untuk apa?"
" seperti ibu mu, hobi mengurus hal yang tidak perlu."
Dia berjalan kembali ke tempat awal dan duduk dengan kaki satu di atas meja.
" aku ingat nama teman mu dulu."
" siapa nama nya andra, dia seumuran kan."
" waktu itu harus nya jangan kamu ajak dia main, ada ada saja."
" jadi susah kalau orang tua nya tidak terima."
Aku benci sifat pemarah ini, tapi kata-katanya benar-benar berlebihan.
" bukan kah ayah yang tidak bertanggung jawab dan kabur."
" ayah selalu menutupi saat hal itu membahayakan ayah." Aku tersenyum miring, miris memang tpi itu faktanya.
Urat dahi nya kembali terlihat, tangan nya juga mengepal.
Lia benar kalau aku marah persis seperti ini, melihat cerminan diri mu dari orang tua mu?.
Plak
" emosi anda cepat sekali tersulut."
" TAU APA KAMU TENTANG HIDUP ANDRA??"
" tidak ada, aku tidak mau tau apapun kalau itu berasal dari mulut mu." Ku katakan itu sambil mengarahkan jari telunjuk ku.
" kalian berdua kenapa mirip sekali,kau dan ibu mu andra."
" suka sekali menyulut emosi ayah."
" BIAR KU BERI TAU, SATU-SATUNYA HAL YANG BERHASIL KAMU LAKUKAN CUMA MEMBERI NILAI INI PADA AYAH."
" SETIDAK NYA BAYAR BIAYA MEMBESARKAN MU DARI NILAI ANDRA."
" KAMU PIKIR AYAH MEMBESARKAN MU HANYA UNTUK MENJADI LEMAH SEPERTI IBU MU?"
" ASMA ITU JUGA DARI IBU MU, SEKARANG JUGA MAU IKUT-IKUT SEPERTI IBU MU?"
__ADS_1
" cukup, jangan bawa-bawa mama."
" AYAH TAU APA?"
" PEMBUNUH, HATI MU ITU MASIH ADA?"
Sret
Ayah menarik tangan ku dan membanting ku, kemudian tangan nya melayang tepat di pipi ku.
" inilah kenapa daridulu ayah bilang jadi anak yang patuh."
" Ucap seorang ayah yang sedang memukuli anak nya."
Sudah ku duga. Ayah mengeluarkan sabuk nya lalu ya dari luar seragam ku aku bisa merasakan sabuk itu mengenai permukaan kulit ku dengan cepat.
Kadang aku bertanya apa aku di lahirkan supaya dia bisa membanggakan sesuatu, apa aku objek pelampiasan? Apa aku di lahirkan untuk di pukuli? Apa aku di lahirkan karena aku harus membanggakan ayah? Apa aku harus menanggung semua harapan yang ayah berikan?
Hanya mama yang bilang kalau mama sayang pada ku karena aku anak nya, karena mama bilang mama ingin melahirkan ku, baru kali ini ada yang mengatakan itu dengan tulus. Andra tidak pernah bosan mendengar nya.
Waktu dia akan memukul ku mama pasti mencoba membela anak nya.
Dia berhenti dan melihat ku.
" minta maaf." Ucap nya.
" untuk? Semua benar kan." Sebuah pukulan kembali ku dapat.
Jujur saja,sakit.
Mama, pasti sakit ya di pukul. Kenapa mama tidak bilang ke andra kalau sakit ma, kenapa? Kenapa? Apa yang mama pertahankan? Kalau andra tau mama kesakitan pasti andra bawa mama pergi. Kenapa mama harus menahan nya,padahal kita bisa kabur ma.
Maaf ma, andra tidak mengatakan lebih awal.
Andra mau kita pergi ma, jangan disini, dimana saja tapi jangan sini.
Sakit, apa ini yang mama rasakan? Maaf karena harus menggantikan andra.
" kertas ini andra? tidak ada nilai nya."dia merobek kertas ujian itu dan menghamburkan nya di hadapan ku.
" yang ayah lihat itu nilai mu, ini yng penting." Ujar nya menunjuk-nunjuk kolom nilai.
Aku tidak punya energi lagi, bahkan dia tidak bertanya apa aku sudah makan malam tadi? Jangan kan makan malam, makan siang saja belum.
Tapi entah kenapa dada ku terasa lebih sakit. Apa mama selalu begini?
Kriek.
Oh ada yang datang, pasti karyawan yang muak mendengarkan pertengkaran kami.
" pak sudah pak. Ini anak bapak ." nya Dia berhenti mengayunkan sabuk itu,seorang karyawan menahan tangan nya.
mereka pasti tidak tahan dengan bunyi berisik nya haha.
Seorang lagi datang dan membantu ku berdiri, dan bergegas memgotong ku keluar.
Tatapan karyawan itu, mereka pasti mengasihani ku. beberapa bagian baju ku robek.Karyawan itu memberi sebuah jaket untuk menutup seragam ku. aku mengambil tas ku dan membungkukkan sedikut badan ku, dan berterimakasih.
" kalau ibu liana masih hidup ayah mu pasti lebih baik." Karyawan itu mengatakan lalu pergi.
__ADS_1
Aku merogoh saku ku dan melihat sebuah foto kecil, mama benar mama selalu bersama ku. kalau mama lihat dari atas andra selalu minta maaf,
mama... tau?