
Andra terlihat berjalan kesana-kemari membereskan tenda yang mirip kapal pecah sangking berantakan nya. andra membangun kan dion, ketua tim regu itu sekaligus teman dekat atau satu-satu nya teman andra?
Andra menggoncang hebat tubuh laki-laki itu, di goncang nya dengan kuat. Namun respond ion di luar dugaan, lelaki itu tetap diam dan hanya tubuh nya yang ikut tergucang, tidak degan nyawa nya. mata ny masih memejam menempel seperti lem.
Andra berdiri dan menampar dion. Tangan nya sudah siap mengayunkan sebuah tamparan di kedua pipi teman dekat nya itu.
Plak
Suara tamparan dan aduhan dion terdengar. Andra berdiri puas.
“ beresin.” Ucap andra berdiri dan mengatakan itu dengan puas.
Andra mengambil semua barang dan tas ransel di meja. Bisa di bilang tidur pagi total. Waktu istirahat malah di gunakan untuk mebereskan kekacauan di tenda nya.
Bagaimana tidak, tadi pagi saat andra menggantikan dion untuk laporan pagi. Andra malah mendengar keluhan kakak Pembina membahas kebersihan tenda andra. terlebih lagi di bandingkan dengan tenda lain.
Andra dasar nya mudah panas, sudah pasti terbakar kuping nya saat mendengar perkataan kakak Pembina itu. di tambah lagi, laporan pagi ini mengevaluasi semua kebersihan tenda. Dari ujung pintu hingga semua pojok kamar.
Andra mendengar itu hanya terpelongo memikirkan bagaimana cara dion mendengar semua perkataan Pembina lagi, dan juga mengerti alasan dion setiap malam terlihat frustasi mengingatkan kebersihan tenda kepada teman sekamar nya. tapi yang paling anehvadalah, bagaimana cara Pembina ini mengecek ke seluruh tenda dalam waktu bersamaan,mereka mengetahui hingga sudut terkecil yang ayolah andra sendiri baru tau.
Andra kembali ke kamar dengan wajah lelah.
Semalam tidak tidur kini ia harus membereskan kekacauan regu nya dan melihat dion tidur dengan pulas. Kalau andra ketua nya jelas sapu itu melayang ke wajah seluruh anggota regu yang tidur, paling penting dion.
Anak itu tidur tanpa dosa, seolah lupa kalau diri nya ketua. Andra yang terbangun karena alarm yang dion pasang dan menggantikan dion pergi untuk laporan pagi tentu endapat sindiran dari kakak Pembina.
‘ dion tidur ya? regu mu itu hah tebal telinga memang.’
Kakak Pembina mengatakan sambil menerima absensi pagi dari andra.
Diri nya mengambil semua tas ransel dan menendang satu persatu punggung teman nya. satu demi satu anak itu menendang cukup keras. Dion mengerjap kan mata nya, masih belum mengerti kondisi situasi. Dion menyipitkan sedikit mata nya, berusaha melihat apa yang andra kerjakan.
“ udah lah andra, pagi ini lo.” Dion mengatakan sambil menepuk lemas pundak andra.
Andra membalas dengan senyuman dan satu kaki nya menendang barang milik dion. Dion memelototi andra,mata sipit nya tadi membuka lebar dan meringis kesakita, dion mundur beberapa langkah dan memegang barang milik nya.
“c**.” Dion berteriak membuat beberapa orang bangun.
Andra melihat teman sekamar nya mulai terbangun.
“ semua kasur itu gulung.” Andra menunjuk kasur lipat yang mereka gunakan untuk tidur.
“ bangun atau.” Andra menunjuk dion yang memegang barang milik nya.seperti nya tendangan tadi sekuat tenaga.
“ gila.” Dion berucap dan mulai menggulung kasur.
Keluar dan mengambil sapu di depan tenda. Saat diri nya kembali masuk, andra melihat stu orang, satu orang yang masih tidur dengan nyenyak nya. andra memicingkan mata menatap heran bocah itu.
‘ nyali nya besar ya.’ andra membatin sambil melihat lelaki itu.
Andra tidak heran dengan sikap levino. Bagaiamana pun andra pernah bersitegang hingga harus mendapat pengurangan poin. Yah melihat wajah nya saja andra rasa ingin memukul nya.
Andra mendekati levino, masih memejamkan mata di Tengah kesibukan membereskan kamar.
“ biarin aja.” Dion menyahut sambil membawa beberapa kasur untuk di bersihkan di luar.
Andra seolah tidak peduli, melanutkan langkah nya mendekati levino. Di ambil nya segelas botol minum. Andra buka perlahan dan menadahi air itu dengan tangan nya. kemudian menciprati levino dengan air itu.
__ADS_1
Prat prat
Andra melanjutkan lagi beberapa cipratan.
“ ci*” umpat levino.
Andra tidak peduli dan mengguncang tubuh levino dengan kaki nya.
“ bangun, kasur lo apa banget.” Andra menyindir levino.
“ rese.” Levino menjawab.
Meski tau ending nya begini andra tetap tidak terima levino diam saja.
Kaki nya kembali menoel levino, kali ini agak keras. Levino terlihat mulai geram dengan tindakan andra. levino bangun dan mulai membereskan kasur nya.
Levino mengangkat kasur yang ia tiduri dan membawa kasur itu keluar untuk di jemur sebentar.
Benar memang levino menjemur kasur nya. namun setelah itu ia sengaja menjegal kaki andra saat lewat di hadapan nya. andra tau tapi memilih kembali fokus.
Kemudian levino berdecak melihat respon andra. ia merogoh tas ransel nya dan mengeluarkan sebungkus makanan ringan atau chiki. Levino membukan keripik itu dan memakan di dalam tenda.
Saat itu andra baru saja selesai menyapu semua kotoran di dalam tenda. Ia bahkan baru mmebuang nya ke dapan. Namun levino makan seolah tidak mempertimbangkan fakta itu.
Ia mengunyah keripik itu dengan sembrono. Remahan keripik menyebar dimana-mana. Dan lagi dia baru saja bangun saat mereka semu selesai menyapu lantai. Dion menatap levino dan memberi tatapan tajam sebagai peringatan. Namun nama nya dionm hanya sebatas itu.
Andra yang baru saja masuk tenda, melihat bagaimana cara leino memakan keripik itu. semua perhatian tertuju pada levino. Bahkan dia tidak membantu. Semua menatap levino sinis. Tatapan tidak suka dan geram. Tapi hanya menatap nya.
Tidak ada yang menegur karena levino terkenal suka memperpanjang masalah. Jadi lebih baik cari aman. Dan juga orang tua nya bukan orang biasa. Ah tapi apa peduli andra.
Ia berjalan mendekati levino dan merampas paksa keripik di tangan nya. dengan cepat andra membawa bungkus keripik yang masih banyak it uke dapan melempar nya tepat ke dalam tong sampah.
“ jangan cari masalah.” Levino berkata dengan nada menekan, mengingatkan andra.
“ bukan waktu nya cari masalah atau makan.” Andra membalas menatap levino tepat di kedua bola mata nya.
“ andra jangan bertengkar, bertengkar di luar.” Dion maju.
dion mendekati mereka berdua. lalu berdiri tepat di antara mereka.
“ siapa suruh dia makan sekarang.” andra terdengar marah.
“ kata nya bapak lo tajir ya? tapi anak nya gini amat. Low attidude.” Levino menekan telunjuk nya pada dada andra.
“ atau nyokap lo kali yang gagal.” Levino melanjutkan.
“ dra udah.” Dion kini menatap andra.seolah tau ibu nha adalah isu negatif bagi Andra.
Hawa udara semakin terasa tidak enak. Andra menahan amarah nya dengan susah payah, ia mengepalkan kedua telapak tangan nya.
Sesaat sebelum meliihat levino tertawa kencang.
“ santai kali dion.” Ujar levino menepuk ringan pundak dion lalu tertawa kencang.
Levino membalik kan badan nya saat andra menendang kaki andra. membuat andra tersungkur terjatuh.
Dion menghampiri andra dengan tergesa-gesa. Dion menatap wajah andra yang sudah seperti akan meledak.
__ADS_1
‘ sabar.’ Ucap dion pelan menatap lekat mata andra.
Andra bangun dan membersihkan baju nya. andra berjalan dan melayangkan satu pukulan mentah di pipi kiri levino.
Pukulan itu menyebabkan levino oleng beberapa langkah. Sebuah senyum terukir di wajah nya.
Levino menstablkan langkah nya. menatap andra. lalu dengan cepat melayangkan pukulan balasan.
Levino berjalan mendekat.
“ ini yang kemarin sempet lo tunda gara-gara kucin lewat itu kan? Haha”
“ berapa kali harus saya bilang, jangan bawa-bawa orang yang gak terlibat.” Andra menendang lutut levino.
Bruk
Levino kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
“ orang? Nyokap lo?”
Bruk
Sebuah pukulan kembali andra layangkan sebelum levio sempat berdiri.
Andra menendang kaki kiri levino. Andra mengangkat satu kaki nya dan menyasar wajah levino.
“ CUKUP.”
Dion berteriak dan menahan tendangan andra. dion menendang andra. tendangan itu berakibat pada goyah nya tubuh andra.
tendangan lurus yang dion berikan membuat andra mundur dan terhentak ke tembok.
Plak
Tamparan dion mengenai pipi andra. amdra menatap buas ke arah dion, seolah ingin memangsa dion yang menghalangi urusan nya.
“ bukan urusan anda.” Andra bercuap lirih.
plak
“ urusan gue.” Dion membalas pekataan andra. tangan nya melayangkan satu pukulan mentap,bukan tamparan lagi.
Pukulan dion membuat wajah Andra berpaling. Garis merah terlihat di kedua pipi nya.
Andra bangun dan menatap dion. Tatapan andra terlihat sangat marah. Andra mengepalkan kedua tangan nya,menatap dion tajam.
Mereka bertatapan. Dion membalas tatapan andra dengan wajah tenang. Berusaha bersikap tenang. Meski, mungkin saja mereka bisa bertengkar.
Tapi andra berlari melewati tubuh dion yang terbeku melihat nya. kepalan tangan nya mantap memukul levino. Kepalan tangan yang dari tadi sudah terkepal sempurna.
Buk
“bangsa*.” Levino menyeka darah yang mengalir dari hidung nya.
Sebuah suara terdengar memecah keriuhan itu.
“ semua, bubar.” Suara itu membuat semua orang mencari darimana sumber suara itu berasal.
__ADS_1
“ andra levino, KELUAR SEKARANG.” suara itu kembali membentak andra dan levino. Dion hanya menggelangkan kepala melihat andra.