Lia The Cat

Lia The Cat
chp-22


__ADS_3

Andra terdiam dengan wajah kaku. Rambut nya acak-acakan.


Andra berdiri dan melihat pria dewasa duduk di hadapan nya dengan kaki bersilang. Pria itu menatap andra dan levino dengan mata tajam seperti elang.


Kemudian pria itu bangun dan menggebrak meja, membuyarkan lamunan andra. pria itu berdiri kemudian mengacung kan kedua jari nya.


“ kalian,nambahin kerjaan saja.” Ucap pria itu mengacungkan jari telunjuk ke arah andra.


“ kok bisa bertengkar padahal satu regu itu lo, saya gak paham.”


“ sejauh ini dion aman saja,lha kok di ganti kamu jadi ribut.” Pria itu kembali mengeluh.


“ masa bonyok,acak-acakan kan gini gentle.”


“ gini laki banget ta?”


“ rambut mu itu, kamu ini bocah SMA lo.”


“ sok-sokan pake tinju


Lalu pria ini menggenggam kedua tangan pemuda itu.


“ ndang jabat tangan,baikan.” Ujar pria itu mendekatkan tangan mereka.


Andra mengulurkan tangan nya terlebih dahulu, tidak mau memperpanjang masalah. Diri nya memilih untuk mengalah.


“ nah yo gitu.” Pria itu kembali berucap saat melihat kedua nya berjabat tangan.


“ sudah sudah jabat tangan nya.”


“ kalian bersihin itu ruangan di lantai 3 sama bantu cuci piring dan baskom bekas game kemarin.”


“ tolong di anter nggih mas.” Pria itu menoleh menatap salah satu pembina andra.


pembina itu membalas dengan senyuman ramah.


Andra sedari tadi hanya diam dan malas merespon.


Diri nya terlalu malas membuang tenaga untuk berdebat dengan dua orang ini. di tambah andra sadar bertengkar dengan levino pilihan buruk memang, tapi harga diri nya tidak bisa diam saja melihat bocah itu meledek ibu nya dan terus menyambungkan dengan masalah dan sikap andra. padahal itu salah besar.


Pembina itu melangkah kan kaki nya berjalan keluar di ikuti andra dan levino di belakang nya.


Mereka berjlan hingga tiba di sebuah ruangan besar di sekolah itu. besar dan terkunci.

__ADS_1


Sudah bisa di tebak,ini ruangan tidak pernah di sentuh apalagi di bersihkan. Lagipula ini memang ruangan tidak terpakai,tidak ada gunanya membersihkan ini. sejak awal memang mereka di hukum membersihkan ruangan yang tidak mungkin bisa bersih, hanya untuk memperlama waktu mereka mengerjakan agar nanti nya mereka tidak perlu ikut kegiatan lagi.


“ pel,baskom sapu,kemoceng semua di kamar mandi lantai bawah.” Kakak pembina itu menatap andra sembari menjelaskan tugas nya.


“intinya bersihin aja, aku tau ini berat semangat deh.” Ujar nya lagi dan menepuk pundak andra.


Meninggalkan andra sendiri di lantai itu. levino dan andra di tugaskan hal yang berbeda. Sudah jadi hal umum dan semua tau levino memang bawaan nya kurang ajar.


Ketika ada kabar levino bertengkar,semua tau siapa yang bertengkar dengan levino. Andra.


Hanya andra yang bisa bertengkar dengan levino jika mereka berpapasan.bukan tanpa sebab, levino sering mengganggu andra, sejak pertama kali kenal dan sekelas.entah kenapa hati nya begitu hitam.


Andra berjalan menuruni tangga, ia menggulung lengan baju pramuka nya dan mengangkat sebuah ember berisi air. Dan kembali turun untuk mengambil sapu pel dan kemoceng. Andra merogoh sedikit saku nya. sebuah masker yang andra sempat andra gunakan tadi sempat tersimpan di saku nya.


Andra menggunakan masker itu dan masih terbatuk dengan debu ruangan ini. andra menggelengkan kepala melihat sekeliling ruangan dan menghela nafas.


Andra mengambil kemoceng dan menyingkap jaring laba-laba yang bertebaran. Kemudian menggunakan sapu untuk membersihkan debu di lantai semaksimal mungkin. Walau andra tau debu ini sudah mendarah daging,hingga terlihat tebal.


Andra melanjutkan itu hingga sebuah suara datang.


Tok tok


pintu di ketuk


Andra menggangguk dengan peluh penuh keringat.


Andra berjalan keluar dan pergi ke kamar mandi. Ia mencuci tangan berdebu nya. dan melanjutkan langkah nya kembali.


Andra membuka minuman yang di berikan kakak pembina itu. andra meneguk minuman itu dan melihat ruangan yang ia bersihkan tadi.


“ gila debu mangkak.” Ucap nya keherenan dan bersender di tembok.


Andra menatap keluar, seisi sekolah seolah bisa di pantau oleh nya. langit berubah warna dan andra tidak menyadari perubahan waktu itu. pantas saja tenggorokan nya terasa begitu kering tadi, rupa nya hari sudah mulai sore.


Andra kembali bangun dan mengambil ember itu, lalu diri nya melanjutkan membasuh ruangan berdebu itu dengan air dan pel. Lebih cepat daripada menggunakan sapu.


Andra fokus mengerjakan hingga diri nya Cahaya yng masuk di ruangan itu berkurang dan menggelap. Andra mengelap keringat nya dengan lengan baju. Ia melepas masker yang membuat nya sesak bernafas dan beberbut udara dengan debu yang berterbangan.


Andra mengacak pinggang dan menatap ruangan yang akhirnya bisa bersih, setelah berlari bolak-balik menuruni tangga ribuan kali sambil membawa ember dan menguras pel yang basah.


Andra berjalan keluar dan menenteng sampah botol bekas yang ia minum. Tidak lupa dirinya mengunci ruangan itu.


Andra menatap keluar,langit memang menggelap sinar keemasan nya mulai menghilang.

__ADS_1


Andra berjalan dan keluar ruangan itu,lampu di sekitar nya mulai di nyalakan.


Andra mengentikan langkah, membuat diri nya semakin dekat.


Andra berdiri di ujung ruangan, menatap langsung pemandangan.


Mata nya menangkap sesuatu,sebuah tangga.Tangga yang cukup panjang itu mengarah ke atas. Sebuah rooftop.


Andra menaiki tangga itu dan sesuai dugaan nya, rooftop adalah tempat ini. dirijen tempat air,hanya ada itu disana. Andra berjalan tidak tau kemana arah nya.


Andra hanya berjalan dan menatap sekelilingnya. kemudian duduk di sana.


Andra menggantung kaki nya di ujung bangunan itu. ia memejamkan mata, menikmati hembusan angin yang semakin kencang.Mata nya terpejam, langit kini benar-benar gelap.


Bintang malam ini bersinar terang, memantulkan Cahaya bulan. Andra membuka mata nya, menatap Bintang-bintang itu.


Tiba-tiba diri nya berceletuk


“ seperti kemarin.” ujar nya tertawa kecil.


Andra mengulurkan tangan nya,seolah berusaha menggapai sesuatu. Andra mengulurkan tangan, menggapai Bintang dan langit, seolah ada sesuatu disana.


Andra masih mengulurkan tangan, tangan itu berusaha begitu keras. Ia menggapai dengan sekuat tenaga, tangan nya memanjang berusaha menarik sesuatu. Tangis nya pecah, seiring dengan lepas nya uluran itu. bulir mata kembali membasahi mata nya.


“ma..” ucap nya lirih dan memeluk erat tubuh nya. menenggelamkan kepala nya dan menutup tangis nya.


Andra memeluk tubuh nya, tangan nya mencoba menggapai punggung nya. tubuh nya gemetar. Tangan itu meremas kedua lengan nya menahan sesenggukan. mata nya masih setia memandang bintang-bintang itu.


“ mama,mama dimana.. andra…” suara nya terpotong, anak itu tidak sanggup melanjutkan nya. tangis nya runtuh.air mata itu mengalir deras.


“ ma,kesini..ma.”


“ andra pengin di peluk lagi, bintang nya mirip mama.”


“ kalo andra coba gapai,”


“ andra,bisa dapet mama lagi?”


“ mama,andra mau hidup ma,”


“tapi kalau mama..”


Andra menenggelamkan kepala nya kedalam pelukan nya, menggenggam erat seluruh tubuh nya. memberi efek fana, berharap kehadiran nya. andra tau ini fana, tau kalau semua nya ilusi. Membuat nya merasa seolah ini nyata.

__ADS_1


“andra sayang mama.”’


__ADS_2