
Andra kembali membereskan barang nya. hari ini ia akan kembali pulang ke rumah. Lupakan membersihkan ruangan berdebu yang tidak ada habis nya itu.
“ pindah rumah kayak levino kamu?” andra bertanya pada Dion.
“ hah?” dion membalas dengan raut kebingungan.
“ barang mu banyak, emang di sini berapa hari kamu?” andra kembali membalas.
“ liat itu, dia beneran pindah rumah.” Kini andra menunjuk levino.
“ kamu dendam ya dra?” dion mengangguk paham dan menepuk pundak andra.
Penutupan di lakukan, semua peserta duduk dan menyimak penutupan itu. lalu acara berakhir. Andra berjalan menuju parkiran bersama dion. Kemudian langkah nya terhenti,seolah mencari sesuatu sambil merogoh kasarsaku di jaket nya.
“ apaan?” dion bertanya dan ikut melirik kesana-kemari.
“ kunci motor.” Andra membalas singkat.
Dion terdiam kemudian
“ hah gile lo, kunci motor? Kesini pake apaan u?” dion bertanya dan memicingkan mata. Seorang andra tidak mungkin boleh membawa motor.
“ lah aku ada SIM?” andra membalas.
“ tau gue, emang bapak mu aman? OH diem-diem kan.” Sambung dion.
“ sst berisik.” Andra membalas singkat dan mengeluarkan kunci motor itu.
“ dra.” Dion mendekati andra, tangan nya menyelip di lengan andra, seperti koala dion bergelantungan.
“ jijik. Aku normal.” Andra menendang lutut dion, membuat dion menjauh beberapa langkah.
“ gr lo.”
“ u bawa motor kan?” dion bertanya, andra hanya menggangguk kan kepala.
“ nebeng?” andra bertanya dengan wajah aneh, seperti heran melihat dion menebeng pada nya.
“ gak, gila kali. U kalo bawa motor ngajak pergi ke dunia lain.” Dion menyahut dan merinding sendiri.
“ lebay.” Balas andra.
“ u tau es buah deket kantor bapak mu? Eh es puter maksud nya.” dion bertanya. Andra mengangguk.
“ mampir lah, enak itu. u jarang keluar susah ngajak nya. jadi wacana kan.” Dion menggerutu tepat di telinga andra, membicarakan keluhan langsung di hadapan sang empu.
“ ok.”
Begitulah mereka memulai perjalanan mengunjungi es puter di dekat kantor ayah andra. ternyata disana sudah banyak yang mengantri. Mereka datang jam 10 pagi, bisa di bilang tergolong pagi dan udara masih cukup sejuk, meski bercampur asap kendaraan. Namun antrean disini sudah mengekor saja.
“ rame dion.” Kata pertama yang andra ucapkan ketika tiba di kedai es puter itu. ia bahkan sudah bersia memakai helm nya lagi dan tancap gas.
__ADS_1
“ heh, enak aja u. antri dikit its oke lah.” Dion membujuk andra dan menahan pergelangan tangan nya.
“ bahasa mu berantakan banget. Gak enak di denger.” Andra akhir nya mengeluarkan protes.
“ hah, maksud u? ini udah jadi logat,bukan bahasa ku lagi.”
“ kamu tadi juga protes soal bawa motor.” Andra kembali mengungkit persoalan tadi pagi.
“ emang fakta nya u bawa motor gitu.” Dion bersih keras.
“ dion, kamu laki. Badan gym mu itu gak cocok sama logat akulturasi mu.” Andra kembali menatap tajam mat adion. Seolah hal ini sudah di pendam nya sejak dulu.
“ terus hubungan nya apa?. U mau gue pake bahasa indo-baku kayak u?”
“ apa hubungan nya dengan saya?” dion langsung mencontoh kan di tempat.
“ bukan, jangan akulturasi. Jaksel ya jaksel aja. Jangan kamu doang yang di ganti u.”
“ fine then, we talk in English.”
“ alright, im ok with it.” mereka berdua seolah mengganti settingan bahasa untuk berbicara.
Hingga tanpa sadar mereka sedari berdebat menunggu antrean itu. hingga tiba giliran mereka memesan.
Andra dan dion melihat es puter itu. rasa yang di sajikan cukup beragam dan membuat mata berbinar. Dion meminta rasa original dari es putar itu. andra masih terlihat bingung dan terdiam memikirkan rasa apa yang hendak di beli nya.
“ durian satu pak.” Andra berucap seraya menyodorkan selembar uang 20 ribu.
“ duren? What?” dion berbisik tepat di kuping andra.
“ berisik.” Andra menjawab cepat ucapan dion.
“ since when dude?” ucap dion dan duduk kembali di motor nya.
“ nyoba aja.” Andra mengambil sesendok es itu dan memasukkan ke dalam mulut nya.
“ yah rasa durian.” Ucap nya.
Dion menatap andra keheranan.
Andra menjulurkan sendok nya, dion melihat itu juga menyodorkan es putar milik nya. andra kemudian mencoba milik dion, dion juga merebut milik andra dari tangan nya dan mencoba juga.
“ not bad.” Andra berucap
“ yours not good.” Dion terlihat seperti mual.padahal baru mencoba satu sendok teh.
“ pacaran, lagi viral lgbt.” Seseorang melintasi mereka berdua dan secara tiba-tiba berceletuk seperti itu.
Dion langsung membelak.
“ homo? Lgbt? Siapa?” andra yang mendengar celetukan itu mencari siapa orang yang mereka maksud.
__ADS_1
“ were u dummy head.” Dion membalas dengan menoyor kepala andra.
“ no,gross.” Andra menjawab.
“ itu kamu dion, the way u talk. Bikin orang mikir kita pacaran. Logat mu itu.” andra kembali protes.
“ hah?sama-sama manly, how can?” dion mengkerut kan kening nya.
“ kamu boti dion,ngaca.”
“ freak, lebih boti kamu.” Dion tak terima mendengar pernyataan andra.
“ logat mu,kayak boti. Don’t u get it?”
Dion tak membalas, malah fokus memperhatikan andra, kemudian melihat diri nya sendiri.
“ mungkin, iya?” dion secara mendadak terlihat setuju.
“ iya, apa nya?” andra ganti bertanya.
“ kita kayak pacaran.”
“ kita tukeran es tadi.” Dion menjelaskan.
“ inget cewek lu.” Andra bergidik ngeri.
“ oh, dia suka bl, aman.” Ucap dion menyambung ucapan nya.
“ bl?”
“ boy lovers, komik gay dan homo lah.”
“ ah,terserah kamu.” Andra berdiri dengan sampah dan terlihat frustasi.
“ pulang dra?” dion menyusul langkah andra.
“ yah, kalau udahan. Mau kemana emang?” andra bertanya pada dion.
“ Sungai deket sekolah itu. mau deep talk.” Dion mengubah nada bicara nya.
“ pantes di kira homo.” Andra menimpali.
“ take or leave?” ucap dion langsung pada intinya.
“ siang ke Sungai? Yang bener lah. Tapi oke, bosen juga.” Andra terdengar plin plan.
Dion dan andra menancap gas menuju Sungai. Bukan andra kalau normal. Andra membelokkan motor nya secara dadakan. Dion melihat tingkah nya, hanya bisa mengikuti andra sambil menghela nafas. Andra memilih jalan sempit yang bisa di bilang lebih banyak pemukiman padat dan tak berjarak.
Pemandangan jalan itu di penuhi dengan rumah tanpa jarak, banyak anak-anak yang mengganggu mereka saat lewat.
Berbeda dengan dion yang sudah kewalahan dan sedikit kesal. Andra terlihat menikmati gangguan dari bocah-bocah itu. ia bahkan sempat bertanya dan menyapa mereka.
__ADS_1
Mungkin saja jika harus mematikan mesin motor nya dan menuntut motor nya, andra tidak keberatan. Itu malah membuat nya semakin dekat dengan bocah-bocah itu.