Lia The Cat

Lia The Cat
chp-6


__ADS_3

Sore itu andra nampak menggendong lia keluar dari tempat dokter. Syukurlah lia tidak perlu rawat inap.


“ apa motivasi mu pergi sekolah hari ini?” andra bertanya sambil melanjutkan langkah kaki nya.


“ rumah mu membosankan.” Lia menjawab cepat.


Lia celingak-celinguk see seperti sedang mencari sesuatu.


“ hei mana sepeda mu?” lia lanjut bertanya.


Rupanya Lia mencari sepeda yang Andra biasa gunakan


“ ku tinggalkan di sekolah,kita berjalan atau mungkin order gojek?” andra menanggapi sambil terus berjalan.


Lia mendengar itu terkadang heran dengan tingkah nya, lia sendiri pun terkejut saat menyadari diri nya berada di dokter hewan. Lia bilang ia tidak terlalu kejadian nya, tapi yang penting ini tidak membuat nya hilang ingatan untuk ke dua kali nya. kalau iya mungkin akan sulit mengingat untuk kedua kali.


Lia kembali mengedarkan pandangan dan menyadari sebuah taman berada dekat dengan nya. taman itu ramai,banyak anak-anak yang bermain disana.


Tanpa pikir panjang lia melompat dan berjalan. Andra melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala.


“hidung mimisan mau jalan kemana?” andra berteriak dan mengejar lia.


Lia merasakan rumput taman di kaki nya, banyak sekali anak kecil disana. Lia melanjutkan langkah nya, lia suka bermain di taman. Menurut lia taman itu tempat yang punya banyak kenangan. Suasana bahagia dan tawa selalu menghiasi taman.


Lia kecil suka bermain di taman, terutama bermain jungkat-jungkit.


Saat bermain jungkat-jungkit keseimbangan antara dua pemain sangat di perhatikan. Tapi itu tidak berlaku saat kau bermain jungkat-jungkit dengan orang yang lebuh besar atau orang dewasa.


Lia ingat dulu pernah merengek minta di turunkan karena teman nya lebih berat dan membuat lia berdiam di atas.


“ mau kabur meng?” andra menangkap basah lia dan membuyarkan lamunan lia.


“ kau memang membosankan,hidup mu kaku sekali ya?” lia berbicara sedikit menyindir.


“ keluar lah dan lihat dunia luar yang indah ini.” lia medongakkan kepala ke atas.


“ dunia kejam” andra membalas.


“ cih.” Lia membalas dan kembali melepaskan diri.


andra mengejar lia. kucing dan tikus, bukan ini raksasa dan tikus.


Lia berlari semakn cepat. Inilah keuntungan menjadi kucing,di berkahi tubuh lincah dan kaki panjang yang cepat.


Namun lia mengehentikan langkah nya, andra yang berhasil menyusul lia tanpa menunggu membawa lia.


“ lihat tuh, anak kecil jatuh nangis kayak nya.” lia menunjuk anak kecil yang berada sekitar 50 meter di hadapan nya.


Andra menatap anak yang di maksud lia dan mengangguk paham.


“ mana orang tua nya?’ andra bertanya dan menyisir kanan-kiri.


Lia menunjuk seorang ibu yang sibuk dengan handphone di tangan nya.


“ ibu itu saja yang duduk manis.” Andra menanggapi.


Memang benar,saat kebanyakan ibu bahkan babysitter bermain bersama anak-anak, ibu itu nampak duduk dan sibuk mengerjakan sesuatu.


“ persis ayah.” Celetuk andra. lalu berjalan mendekati anak itu.

__ADS_1


Lia yang mendengar andra ber-celetuk hanya bisa bertanya-tanya dalam pikiran nya.


Andra mendekati bocah itu, bocah itu berhenti menangis dan memperhatikan andra dengan seksama.


Begitu pun andra, bocah laki-laki itu memakai kaos lengan pendek dan celana yang melebihi lutut dan topi hitam.


Topi itu nampak sedikit kebesaran hingga menutup wajah nya, andra melihat itu tentu tertawa meledek.


Bocah terjatuh itu menatap andra tajam,mungkin karena sadar di tertawakan.


Andra menatap bocah itu dan mengulurkan tangan. Lia sejak tadi hanya menyimak peristiwa yang terjadi di hadapan nya. bagi lia,ini adalah pengetahuan tentang sikap andra lia belum pernah melihat andra membantu orang lain.


"om siapa?" tanya anak itu dan menerima uluran tangan andra.


Lia mendengar itu membelakkan mata nya dan menatap andra yang diam membeku kaku seribu bahasa.


Andra tidak menjawab dan membantu bocah itu berdiri.


"om?" tanya anak itu lagi.


"kak,bukan om." Andra menjawab dan barengi anggukan kepala sang bocah.


"kucing itu kenapa hitam sekali bulu nya?" anak itu kembali bertanya,namun kali ini ia menanyakan lia.


Andra menyodorkan lia kehadapan bocah itu dan


" ya sudah takdir dan karunia tuhan." Andra menanggapi pertanyaan itu.


Bocah itu menyentuh lia sambil sedikit ragu lalu kembali mengatakan


"seperti penyihir."


Memang benar, hitam legam seperti kucing di film penyihir setidak nya bulu lia lebat dan lembut.


Andra mengangguk dan menatap luka bocah itu. seolah paham maksud nya bocah itu menanggapi


" luka kecil kak, nanti pulang pasti di obati" bocah itu menjawab.


"aku dio,kakak siapa?" kemudian bertanya dengan tersenyum.


"andra."


" mau kakak ajari naik sepeda?" andra menawarkan diri.


Lia agak terkejut andra menawarkan bantuan pada orang lain,padahal tadi siang lia ingat betul andra ingin memukul atau mungkin membunuh seseorang.


"kakak bisa naik sepeda?" dio bertanya pada andra.


Bukan nya merespon andra malah membawa sepeda itu mendekat ke arah dio dan menyuruh nya naik. Dio pun naik,walau wajah nya terlihat was-was dan khawatir.


Andra menyuruh dio untuk memegang setir kendali,sedangkan andra mendorong sepeda itu perlahan. Andra juga menyuruh dio untuk meletakkan kaki nya di pedal dan percaya bahwa andra memagangi dio.


Perlahan dio mengikuti perkataan andra,kaki nya yang semula menyentuh tanah kini berpindah menyentuh pedal.


Andra mulai mendorong perlahan dan menyuruh dio untuk mengayuh pedal nya.


Lia duduk di sebuah bangku tak jauh dari situ. Pandangan lia masih terkunci pada seorang wanita yakni ibu dio yang masih fokus bermain handphone,padahal anak nya sedang bermain bersama om yang emosi nya mudah di sulut.


Lia hanya bisa menggelengkan kepala.

__ADS_1


Lia kembali menatap mereka dan tak lama melihat dio jatuh. Lia panik dan hendak menghampiri andra dan dio. Tapi baru saja berdiri,lia melihat dio tertawa dan menatap andra dengan tatapan meledek seolah mengatakan 'kakak bilang megangin aku'.


Andra yang panik dan dio yang justru tertawa membuat andra melayangkan pukulan kecil di kepala dio.


Tak lama Andra dan dio menghampiri lia yang duduk merenung, bukan ralat lia tidur. Andra menghampiri lia dan menggoyangkan tubuh lia.


Dio duduk di sebelah lia dan mulai melakukan hal yang sama. Lia terbangun menatap bingung kemudian berpaling malas. Lalu mata nya kembali berbinar saat melihat es krim di tangan andra.


Andra menatap lia lalu kembali menuju tukang es krim dan membawa plastik. Andra menaruh seperempat es krim itu di plastik,lagipula siapa yang mau makan bersama kucing.


Lia mulai menatap es krim dengan wajah berbinar dan mulai menjilat nya. lia nampak begitu bahagia saat memakan es krim itu dan sangat menikmati sensasi dingin dan manis yang di berikan makanan itu.


Dio menatap heran dan bertanya


"kucing bisa makan es krim kak?" dengan raut keheranan.


"itu karena lia sudah terbiasa sejak kecil." Andra mencoba tenang meski wajah nya sedikit pucat.


"kucing itu nama nya lia ya, salam kenal lia,aku dio." Dio menarik salah satu kaki lia dan hampir


menjatuhkan lia menuju plastik berisi es krim.


Hari mulai menggelap langit yang awal nya kuning dengan sedikit jingga mulai sedikit memancarkan warna ungu.


Andra melihat ibu dio mulai mencari anak nya, andra melihat ke arah dio. dio melihat ibu nya mencari diri nya. dio menggeleng dan masih ingin bermain,seperti nya pelajaran bersepeda sore ini belm tuntas.


" kamu sudah di cari lo." Andra berjongkok dan mengelap es krim yang menyisa di mulut dio.


" mama susah di ajak main kak."


" mama juga sibuk terus,padahal dio enggak butuh uang yang banyak."


"padahal hari ini mama sama papa janji ngajarin dio sepeda ."


Sorot mata dio nampak sedih, andra mengelus perlahan rambut dio dan mengulurkan kelingking nya.


"dio,kalau dio bisa ketemu kakak lagi sudah harus lancar ya sepeda nya." mereka menautkan kelingking.


Dio melepas topi yang kebesaran itu dan mengulurkan tangan nya,pertanda bahwa ia ingin memberikan topi itu.


Andra menunduk kan kepalanya,dio dengan cepat memakaikan topi itu. Andra tersenyum menatap dio yang berjalan membawa sepeda nya setelah memakaikan topi itu kepada andra. dio berhenti dan melambaikan tangan nya.


"dadah kak andra sama kucing lia. "


Andra membalas lambaian itu.


Andra terdiam dan terlihat seperti akan menceritakan sesuatu.


"Lia,anak itu orang tua nya, sudah bercerai. Itu ibu angkat nya, saat aku membeli es krim penjual nya bilang, setiap hari anak itu bermain sendiri." andra mengatakan itu sambil menatap langit yang mulai menggelap.


"aku bersyukur bermain bersama dio hari ini dan membantu dio belajar bersepeda." Andra terkekeh.


"padahal aku sudah khawatir saat dio jatuh tadi."


"Kapan-kapan kita pergi kesini lagi ya lia." andra tersenyum dan menatap lia.


" Lets go. "


"Ayo pulang lia. "

__ADS_1


Sore itu suasana tetap terasa hangat meski udara malam mulai menerobos masuk.


" kuharap kau belajar cara berjalan lebih cepat. " Ucap Andra mengangkat tubuh lia dan mengangkat lia.


__ADS_2