
Sebuah rumah yang terletak tak jauh dari pandangan lia dan andra. rumah itu berada hanya beberapa langkah dari tempat mereka beridiri.
Terlihat sepi,dan di huni oleh sedikit orang. Udara malam yang terasa menusuk, menyertai kedatangan andra dan lia di rumah itu. nuansa coklat yang mendominasi rumah itu. terdengar kicauan burung dan suara angin yang mengehenpas lembut lahan kosong yang berisi bambu di sekitar nya.
Andra menurunkan lia dari gendongan kedua tangan nya, andra mengambil sebuah amplop dan memberi lia instruksi untuk menggigit amplop itu. lalu tangan nya merogoh sebuah kalung kecil, lebih tepat nya kalung untuk peliharaan. Andra menunjukkan kalung itu di hadapan lia.
Lia menatap kalung itu dengan mimik keheranan. Lia menjulurkan tangan nya penasaran ingin menyentuh kalung itu. tidak pernah terlintas di benak nya,ia akan benar-benar menjadi kucing. Wujud manusia nya masih menolak.
Andra berjongkok,mengarahkan tangan nya bergerak untuk memasang kalung itu. hanya kalung biasa,tidak ada nama siapapun yang terukir disana. Hanya sebuah kalung putih polo. Kalau di padukan dengan warna bulu milik lia, itu akan terlihat kontras, hitam dan putih.
Lalu andra memberi isyarat agar lia masuk ke dalam rumah itu bersamaan dengan amplop yang lia gigit. Lia berjalan dan mengikuti kata-kataa andra. beridiri di depan pintu, diam dan tertib. Menoleh ke belakang untuk menlihat andra. seperti anak-anak yang melihat ibu nya.
Andra memberi satu tangan nya sebagai tanda ‘tunggu sebentar’. Dan kembali di sibukkan handphone yang andra bawa. Andra terlihat mengetik sebuah pesan lalu menganggkat panggilan telepon dari seseorang.
Tak lama setelah itu, terdengar suara pintu terbuka. Keluar lah wanita dari dalam rumah coklat itu. wanita dengan jedai dan daster se-lutut itu terlihat celingak-celinguk mengarahkan pandangan nya kesana-kemari mencari sesuatu.
Kemudian mengangkap basah seekor kucing yang berdiri tegak dengan amplop yang sedikit basah karena di gigit. Pandangan mereka bertemu. Lia menyipitkan mata nya, berusaha mengingat wajah yang lia rasa pernah lia temui sebelum nya. lia menatap agak lama wajah itu.
“ hei bi lin.” Seru wanita di depan pintu itu.
Senyum merekah di wajah lia, akhirnya mereka bertemu.
Lia menunggu bibi lin sejak tadi dan memakan waktu yang lama. Namun tetap saja, lia masih menatap bibi lin dengan tatapan aneh sekaligus heran.
“ bibi tau kamu terkejut melihat bibi.”
“ karena penampilan bibi aneh ya kan?” bibi lin menebak arti dari wajah lia.
Lia membalas anggukan pelan mendengar ucapan bibi barusan.kini bibi lin bergantian memandang sekeliling rumah nya.
__ADS_1
“ an langsung ke kemah pake motor.” Kini lia menebak apa yang bibi lin cari.
Bibi lin mengiyakan dan membuka pintu rumah nya. lia mengikuti langkah bibi lin dari belakang. Hingga bibi lin menghentikan langkah kaki nya dan memutar tubuh nya ke arah lia. Bibi lin melihat kalung yang terpasang di leher lia. Bibi mengangkat tubuh lia dan melihat baik-baik kalung itu.
Tak ada nama yang terukir dan warna kontras. Bibi lin melihat kalung putih itu dan memukul pelan kepala nya.
“ padahal nge-jreng banget bibi ndak sadar lo ya.”
“ ini baru mesti, andra kapan beli nya?” bibi in bertanya lagi.
lia mengangkat kedua bahu nya sebagai balasam. Seperti nya energi nya masih belum terisi.
“ bi laper.” Lia spontan.
Bibi lin melihat lia yang datang pagi buta, bahkan hawa malam masih terasa.
Di dalam bibi terlihat menuju dapur dan menyuruh lia duduk di salah satu kursi besi yang ada di sana. Lia duduk dan meliat bibi lin memilih bahan-bahan dan rempah. Bibi lin melihat rempah itu dengan teratur dan teliti. Pantas saja, andra bisa memasak. Kalau bibi nya nya punya begitu banyak bahan mentah di dapur dan memasak makanan enak setiap hari, siapa yang tidak mau duduk dan makan.
Lia melihat satu rak sedang, terletak di bawah wastafel. Berisi banyak rempah-rempah yang tersimpan rapi di sana. Di atas kompor juga terdapat rak-rak bumbu masak. Juga beberapa toples berukuran sedang terletak di dekat tempat piring.
“ lia bisa makan cendol?” bibi lin bertanya sambil memilih baskom.
“ hmm mungkin bisa kalau di pisah.”
“ atau lia makan kuah aja, atau isian sama kuah di pisah.” Lanjut lia.
Bibi menggangguk dan mengeluarkan panci sedang, meletakkan panci itu dan bergerak menuju kompor. Bibi mengambil ayam beku, lalu mengambil panci dan di isi dengan air. Panci itu bibi lin gunakan untuk mencairkan beku nya ayam.
Bibi merendam ayam beku itu sambil mulai mengukur beras. Bibi lin memasukkan beras dan mencelupkan satu jari di dalam untuk mengukur. Sejak dulu inilah cara mengukur yang di percaya paling akurat, perasaan, gunakan perasaan untuk mengukur.
__ADS_1
“ tadi emang andra ninggalin kamu di depan?” bibi lin bertanya penasaran.
“ iya bi ,tadi sarapan nya aja susu sekotak. mana kenyang.”
“ lia inget, tadi pagi andra grusak grusuk nyiapin baju padahal ini udah di ingetin berrkali-kalii.” Lia melampiaskan kekesalan nya pada manusia yang membuat nya harus bangun membuka mata di pagi hari karena kapasitas fisik dan memori otak yang minim.
Bibi lin tertawa mendengar curhatan hat ilia saat itu.
“ andra memang pinter di luar,gitu-gitu kalau soal barang sendiri sering lupa.” Bibi lin menjelaskan dan melanjutkan memasak nasi.
“ bibi punya suami?” lia tidak dapat membendung lagi rasa penasaran nya, rumah ini terlihat di huni satu orang saja. Tidak mungkin,tidak ada yang suka pada bibi lin.
“ memang tidak ada.” bibi lin membalas dengan senyum kecil.
“ kamu tau ibu andra, kami dulu kaka adik, hubungan kami juga seperti sahabat.”
“ lia tau bibi sayang andra?” bibi lin bertanya pada lia.
“ bibi juga sayang ibu nya andra.”
“ lebih dari rasa sayang bibi pada andra.” bibi lin melanjutkan kalimat nya.
Lia menatap bibi lin dengan fokus, banyak yang masih belum lia ketahui. Siapa ayah andra? ibu andra orang yang seperti apa? Gadis yang andra mungkin pernah di sukai dulu? Banyak pertanyaan terlintas di otak lia.
Hingga tak sadar lia larut dalam pikiran nya.
“ kadang melihat andra, bibi ingat ibu nya.”
“ lia mau tau seberani apa ibu andra?”
__ADS_1