
Jam makan malam telah usai
Aku merebahkan diri di kasur dan menarik ekor ku mendekat agar tubuh ku bisa terselimuti. Andra sudah tidur setengah jam yang lalu. Denting jam terdengar nyaring di sunyi nya malam. Aku bisa mendengar nafas tidur Andra, mungkin karena malam sangat sunyi.
Aku terdiam dan berpikir. Siapa yang Andra temui sampai saat pulang tubuh nya babak belur seperti habis tawuran. Sejak awal aku sudah curiga,mana ada bimbingan belajar lebih dari jam 7 malam? Andra juga tidak mengambil intensif.
Kalau melihat wajah nya,aku jadi tidak tega. Kadang-kadang aku merasa Andra itu seperti benteng yang di bangun dengan kokoh oleh pekerja yang terampil. Namun pekerja itu membangun benteng itu di tanah rapuh yang bisa roboh sewaktu-waktu.
Kadang pun manusia yang sempurna selalu mempunyai celah tak terduga. Andra terlihat sempurna, walau tidak secara terang-terangan. Aku merasa keluarga Andra ini cukup kaya dan lebih dari kata berkecukupan.
Andra pintar,dan sekolah nya mahal. Rajin olahraga dan walau bersepeda. Sekilas aura tajir nya terpancar.
Aku menatap Andra dan merasa 'cara bernafas nya sedikit berbeda' ritme nafas nya terlihat seperti tersendat-sendat. Semakin ku perhatikan, Andra terlihat semakin kesulitan bernafas. Bahkan Andra terlihat seperti membuka mulut nya? Untuk mendapatkan oksigen.
Brak
Aku panik. Gimana enggak?
Andra beneran ngik-ngik, dia kelihatan kayak mau mati serius.gaduh gimana inii
Aku mendekat ke Andra dan mengguncang tubuh nya sekuat tenaga,tenaga kucing. Tubuh nya hanya bergerak beberapa inci dari tempat awal. Dan masih terlihat sulit bernafas.
Aku kembali melihat Andra dan mencoba menggelitik leher nya,tapi Andra masih tetap terlihat kesulitan bernafas,sulit sekali.
Sudah di toel,sudah di guncang kenapa tidak bangun-bangun sih? Gimana kalo nanti kebablasan meninggal di depan ku? Aku gak mau liat orang mati dulu, aku masih remaja ayolah!
" Bi... Bibi..sesak Bi." Igau Andra.
" Dingin.." Andra masih tetap mengigau,kali ini bibir nya tampak gemetar.
Ku sentuh tangan Andra, dingin seperti es batu. Anak ini kalau memang kedinginan tidur dengan jaket atau selimut tebal.bukan dengan kaos dan celana pendek,apa yang ada di benak mu an.
Aku berusaha naik ke dada Andra dan berniat mengguncang tubuh nya, mungkin dengan begitu dia bisa bangun.
Aku mengguncang tubuh Andra dengan tangan ku,tepat sebelum aku merasa kalau aku punya tangan?
"Ini ngik-ngik gini gimana??!" Racau ku tak jelas.
" Lah ini tangan siapa?" Ujar ku bertanya keberadaan tangan yang tiba-tiba muncul di depan ku, dan lagi tangan itu mengguncang tubuh Andra?
__ADS_1
Sebentar seharusnya ini kan aku yang mengguncang Andra ya? Kenapa kok jadi manusia? Ini tangan punya siapa? Bukan nya harusnya kucing ya?
" Loh he? Aku jadi manusia ya?"
Ku tatap tajam sendiri tangan ku, ku coba gerak kan jemari ku. Jemari ku yang awal nya sebuah paw kucing, sekarang kembali punya 5 jari. Mudah nya aku kembali menjadi manusia.
" Argh why have to be now?" Ucap ku kesal sendiri sejak tadi,rasa nya kesialan terus berdatangan.
Aku diam sejenak dan menyadari kalau kucing itu tidak memakai baju apapun. Tanpa ba-bi-bu ku raba tubuh ku. Tapi aneh nya ini tekstur pakaian, bukan tekstur kulit?
Rasa nya aku mengenakan baju, padahal sebelum ini aku seekor kucing kan?
Dengan segera aku berdiri dan berlari keluar mencari kaca. Aku harus segera memastikan apa ada baju yang ku kenakan atau tidak ada atau mungkin bulu kucing itu menempel pada ku sehingga aku mirip manusia setengah kucing?
Aku berdiri di kaca dan menatap pantulan tubuh ku, ini baju terakhir yang aku gunakan sebelum menjadi kucing, maksud nya bertukar posisi dengan seekor kucing?
Aku terus menatap pantulan di cermin. Ada banyak pertanyaan di benak ku. Contohnya saja, kenapa tiba-tiba aku menjadi manusia?
Bukankah aneh? Apa aku bisa berubah secepat ini. Tiba-tiba bertukar menjadi kucing lalu kembali menjadi manusia di saat yang tidak terduga.
hah hah hah
" UDAH UDAH STOP BERHENTI..."
" mama..."
Apalagi ini.. ayolah kumohon jangan meninggal di hadapan ku Andra...
Ku hampiri Andra yang ayolah kondisi nya membuat jantung ku hampir lepas.
beberapa saat yang lalu aku yakin Andra kedinginan dan sekarang kenapa dia berkeringat banyak sekali?
" hey hey katakan pada ku aku harus bagaimana an? "
" bisakah kamu berhenti ngik-ngik dan katakan beberapa huruf atau suruh aku ambil apa di laci mu."
" jangan cuma diam saja! Hah."
" ini benar-benar membuat ingin pulang."
__ADS_1
" ma?" suara andra terdengar pelan, namun sepertinya terlihat bahwa Andra mengeluarkan banyak tenaga untuk mengungkapkan satu kata itu.
" ya ya ya apa yang kau butuh kan? Cepat katakan?" ucap ku memegang kedua telapak tangan Andra.
" di..ngin.."
" hah lalu apa mau mu?????"
" kau butuh selimut?" jawab ku cepat dan mengambil selimut lebih tebal untuk menutupi tubuh nya.
Namun reaksinya tidak seperti yang aku inginkan. Andra tetap menggigil.
Omong-omong apa Andra punya asma? Itu tidak di sebutkan di dalam biodata waktu itu. dasar kucing aneh.
ku rogoh nakas yang terletak di sebelah tempat tidur Andra,berusaha mencari inhaler atau apa pun obat semprot yang biasa di gunakan atus mungkin tablet yang biasa dia minum.
Belum selesai pencarian ku,anak itu kembali mengigau dan meracau tidak jelas. aku berharap orang yang Andra panggil 'bibi' itu benar-benar datang dan membantu ku. Karena aku sudah tidak tau bagaimana cara mengatasi anak ini.
ide yang ada di pikiran ku saat itu hanya. bagaimanapun Andra harus bangun, tidak peduli dengan cara apapun.
Jadi kalau Andra kedinginan maka aku pasti akan membuat nya merasakan kehangatan lagi.
Kalau memang yang Andra inginkan adalah kehangatan,baiklah aku akan berusaha.
Ku dekati Andra, menipis jarak kami. Melihat keringat sudah bercucuran di pelipis dan turun jauh lewati pipi hingga leher nya.
" dia benar-benar kesulitan bernafas ya."
ku julurkan tangan ku agar bisa menyentuh Andra dan.
plak.
Aku menampar andra.aku berharap mata nya terbuka setelah merasakan rasa terbakar di pipi nya itu. Itu juga termasuk kehangatan.
Aku juga mengguncangkan badan nya, dengan tenaga yang lebih kuat. Mungkin aku juga harus memukul perut nya?
tepat ketika mata Andra terbuka, aku meraih obat itu dan membuka paksa mulut Andra dan menyemprot tenggorokan nya dengan inhealer. sebelum dia sempat bereaksi.
" syukurlah gak kebablasan."
__ADS_1